<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Kisah Tragis Pengungsi Iran, &quot;Saya Tahu Mereka Akan Bunuh Saya&quot;</title><description>Melarikan diri dari negara yang berkecamuk akibat perang, Sawari tak kunjung merasa aman di negara lain. Tidak di Australia, PNG atau Fiji.</description><link>https://news.okezone.com/read/2017/02/03/18/1608497/kisah-tragis-pengungsi-iran-saya-tahu-mereka-akan-bunuh-saya</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2017/02/03/18/1608497/kisah-tragis-pengungsi-iran-saya-tahu-mereka-akan-bunuh-saya"/><item><title>Kisah Tragis Pengungsi Iran, &quot;Saya Tahu Mereka Akan Bunuh Saya&quot;</title><link>https://news.okezone.com/read/2017/02/03/18/1608497/kisah-tragis-pengungsi-iran-saya-tahu-mereka-akan-bunuh-saya</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2017/02/03/18/1608497/kisah-tragis-pengungsi-iran-saya-tahu-mereka-akan-bunuh-saya</guid><pubDate>Jum'at 03 Februari 2017 14:02 WIB</pubDate><dc:creator>Silviana Dharma</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2017/02/03/18/1608497/kisah-tragis-pengungsi-iran-saya-tahu-mereka-akan-bunuh-saya-wt0r2eb5Hy.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Sawari ketika dideportasi dari Fiji ke Papua Nugini. (Foto: Twitter)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2017/02/03/18/1608497/kisah-tragis-pengungsi-iran-saya-tahu-mereka-akan-bunuh-saya-wt0r2eb5Hy.jpg</image><title>Sawari ketika dideportasi dari Fiji ke Papua Nugini. (Foto: Twitter)</title></images><description>NADI &amp;ndash; Pengungsi masih menjadi persoalan dunia saat ini. Ke mana pun mereka berlari, seolah ketakutan, penganiayaan dan kegelisahan selalu menyertai. Demikian juga yang dirasakan oleh Loghman Sawari, seorang pengungsi berdarah Iran yang baru saja kabur dari Papua Nugini ke Fiji.
Melarikan diri dari negaranya yang berkecamuk akibat perang, Sawari tak kunjung merasa aman di negara lain. Pergi ke Australia, remaja yang belum genap 17 tahun itu malah dimasukkan ke pusat detensi imigran dewasa di Pulau Manus, Papua Nugini.
Status imigrasinya dikabulkan dan ia sempat bebas berkeliaran di Papua Nugini. Namun tak berapa lama, dia harus menggelandang tanpa tujuan di Kota Lae. Diduga, dia juga menderita perlakuan kasar dari penjaga selama tinggal di pusat detensi setempat.

Loghman Sawari diapit petugas. (Foto: Twitter)
Mencoba bertahan hidup, Sawari pun nekat kabur ke Fiji. Bermodalkan dokumen palsu, dia menjejak di negara Oseania tersebut dan mencari pertolongan. Akan tetapi, sekali lagi kehadirannya tidak diinginkan. Dia berakhir ditangkap polisi setempat dan dideportasi ke Papua Nugini.
Dalam salah satu sambungan telefon yang Sawari buat kepada The Guardian Australia, ia menceritakan betapa penganiayaan juga terjadi selama proses pemulangannya dari Nadi ke Port Moresby. Hal yang sama telah ia wartakan kepada temannya.
&amp;ldquo;Saya berada di atas pesawat dan mereka mengirim saya balik. Mereka menahan dan memukul saya. Orang-orang berbahaya ini berusaha menyakiti saya. Tolong beri tahu semua orang,&amp;rdquo; ujarnya kepada seorang teman di Farsi melalui sambungan telefon, seperti disitat dari The Guardian, Jumat (3/2/2017).Foto-foto yang diunggah media di Fiji menampilkan pemuda itu menangis  dalam apitan dua petugas berbadan besar. Memakai kacamata, dia digiring  ke pesawat.
&amp;ldquo;Dia membuat sambungan telefon singkat dari atas pesawat. Penjaga  membiarkan dia menghubungi seseorang hanya sekali. Pengacaranya  menjemput, lalu melakukan pertemuan dengan pihak imigrasi untuk  menjelaskan statusnya sebagai pengungsi. Mereka kemudian berangkat ke  Suva, ketika mobilnya dihentikan polisi. Petugas langsung menariknya  keluar dan membekuknya masuk ke dalam mobil polisi,&amp;rdquo; tutur Janet  Galbraith, advokat pengungsi yang berbasis di Australia.

Loghman Sawari diapit petugas. (Foto: Twitter)
Pengacara Sawari berusaha mengejar dan mendapatkan kliennya kembali,  tetapi gagal. Setibanya di Bandara, anak itu sudah melewati gerbang  keberangkatan. Pemuda itu mengaku dirinya menjadi sasaran pukul seorang  pria Fiji.
&amp;ldquo;Pria itu bilang tidak ada yang namanya kemanusiaan di dunia ini dan  saya lebih baik mati di tanah air sendiri. Dia juga mengatakan ini akan  jadi akhir hidup saya, ini terakhir kali saya akan mendengar suaranya.  Saat itu juga, saya tahu mereka akan membunuh saya,&amp;rdquo; ujar Sawari kepada  Galbraith.
Menurut pengakuannya yang lain, Sawari awalnya merasa sangat senang  bisa berada di Fiji. Dia merasa aman di negara kepulauan tersebut,  dibanding sebelumnya ketika mengungsi di Papua Nugini maupun Australia.
&amp;ldquo;Selama beberapa hari pertama itu, dia sangat positif. Katanya,  orang-orang Fiji itu baik dan dia merasa aman. Dia yakin bisa  berkontribusi untuk mereka. Tetapi ketika kisahnya tersebar dan media  menulis tentangnya, bahwa dia masuk secara ilegal, Arab dikaitkan dengan  teroris, segalanya berubah jadi sulit baginya,&amp;rdquo; tambah Galbraith.
Tujuannya datang ke Fiji hanyalah meminta perlindungan dan suaka.  Walaupun dia tidak langsung mengajukannya ke pemerintah sejak awal.  Melainkan, mencoba peruntungan dengan bekerja di bawah arahan pengacara  hak asasi manusia, Aman Ravindra-Singh dan untuk Komisi HAM dan  anti-diskriminasi Fiji.
Direktur Human Right Watch Australia, Elaine Pearson menyebut  pemulangan paksa Sawari dari Fiji itu jelas-jelas pelanggaran terhadap  konvensi pengungsi. Kasus Sawari terus bergulir, sementara nasibnya  semakin tidak jelas.</description><content:encoded>NADI &amp;ndash; Pengungsi masih menjadi persoalan dunia saat ini. Ke mana pun mereka berlari, seolah ketakutan, penganiayaan dan kegelisahan selalu menyertai. Demikian juga yang dirasakan oleh Loghman Sawari, seorang pengungsi berdarah Iran yang baru saja kabur dari Papua Nugini ke Fiji.
Melarikan diri dari negaranya yang berkecamuk akibat perang, Sawari tak kunjung merasa aman di negara lain. Pergi ke Australia, remaja yang belum genap 17 tahun itu malah dimasukkan ke pusat detensi imigran dewasa di Pulau Manus, Papua Nugini.
Status imigrasinya dikabulkan dan ia sempat bebas berkeliaran di Papua Nugini. Namun tak berapa lama, dia harus menggelandang tanpa tujuan di Kota Lae. Diduga, dia juga menderita perlakuan kasar dari penjaga selama tinggal di pusat detensi setempat.

Loghman Sawari diapit petugas. (Foto: Twitter)
Mencoba bertahan hidup, Sawari pun nekat kabur ke Fiji. Bermodalkan dokumen palsu, dia menjejak di negara Oseania tersebut dan mencari pertolongan. Akan tetapi, sekali lagi kehadirannya tidak diinginkan. Dia berakhir ditangkap polisi setempat dan dideportasi ke Papua Nugini.
Dalam salah satu sambungan telefon yang Sawari buat kepada The Guardian Australia, ia menceritakan betapa penganiayaan juga terjadi selama proses pemulangannya dari Nadi ke Port Moresby. Hal yang sama telah ia wartakan kepada temannya.
&amp;ldquo;Saya berada di atas pesawat dan mereka mengirim saya balik. Mereka menahan dan memukul saya. Orang-orang berbahaya ini berusaha menyakiti saya. Tolong beri tahu semua orang,&amp;rdquo; ujarnya kepada seorang teman di Farsi melalui sambungan telefon, seperti disitat dari The Guardian, Jumat (3/2/2017).Foto-foto yang diunggah media di Fiji menampilkan pemuda itu menangis  dalam apitan dua petugas berbadan besar. Memakai kacamata, dia digiring  ke pesawat.
&amp;ldquo;Dia membuat sambungan telefon singkat dari atas pesawat. Penjaga  membiarkan dia menghubungi seseorang hanya sekali. Pengacaranya  menjemput, lalu melakukan pertemuan dengan pihak imigrasi untuk  menjelaskan statusnya sebagai pengungsi. Mereka kemudian berangkat ke  Suva, ketika mobilnya dihentikan polisi. Petugas langsung menariknya  keluar dan membekuknya masuk ke dalam mobil polisi,&amp;rdquo; tutur Janet  Galbraith, advokat pengungsi yang berbasis di Australia.

Loghman Sawari diapit petugas. (Foto: Twitter)
Pengacara Sawari berusaha mengejar dan mendapatkan kliennya kembali,  tetapi gagal. Setibanya di Bandara, anak itu sudah melewati gerbang  keberangkatan. Pemuda itu mengaku dirinya menjadi sasaran pukul seorang  pria Fiji.
&amp;ldquo;Pria itu bilang tidak ada yang namanya kemanusiaan di dunia ini dan  saya lebih baik mati di tanah air sendiri. Dia juga mengatakan ini akan  jadi akhir hidup saya, ini terakhir kali saya akan mendengar suaranya.  Saat itu juga, saya tahu mereka akan membunuh saya,&amp;rdquo; ujar Sawari kepada  Galbraith.
Menurut pengakuannya yang lain, Sawari awalnya merasa sangat senang  bisa berada di Fiji. Dia merasa aman di negara kepulauan tersebut,  dibanding sebelumnya ketika mengungsi di Papua Nugini maupun Australia.
&amp;ldquo;Selama beberapa hari pertama itu, dia sangat positif. Katanya,  orang-orang Fiji itu baik dan dia merasa aman. Dia yakin bisa  berkontribusi untuk mereka. Tetapi ketika kisahnya tersebar dan media  menulis tentangnya, bahwa dia masuk secara ilegal, Arab dikaitkan dengan  teroris, segalanya berubah jadi sulit baginya,&amp;rdquo; tambah Galbraith.
Tujuannya datang ke Fiji hanyalah meminta perlindungan dan suaka.  Walaupun dia tidak langsung mengajukannya ke pemerintah sejak awal.  Melainkan, mencoba peruntungan dengan bekerja di bawah arahan pengacara  hak asasi manusia, Aman Ravindra-Singh dan untuk Komisi HAM dan  anti-diskriminasi Fiji.
Direktur Human Right Watch Australia, Elaine Pearson menyebut  pemulangan paksa Sawari dari Fiji itu jelas-jelas pelanggaran terhadap  konvensi pengungsi. Kasus Sawari terus bergulir, sementara nasibnya  semakin tidak jelas.</content:encoded></item></channel></rss>
