<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Inspiratif! Kisah Pensiunan TNI Lima Tahun Hafalkan Alquran di Pos Satpam</title><description>Tekad kuat dan semangatnya dalam belajar agama membuatnya mampu menghafalkan 30 juz ayat-ayat Alquran.</description><link>https://news.okezone.com/read/2017/02/03/519/1608278/inspiratif-kisah-pensiunan-tni-lima-tahun-hafalkan-alquran-di-pos-satpam</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2017/02/03/519/1608278/inspiratif-kisah-pensiunan-tni-lima-tahun-hafalkan-alquran-di-pos-satpam"/><item><title>Inspiratif! Kisah Pensiunan TNI Lima Tahun Hafalkan Alquran di Pos Satpam</title><link>https://news.okezone.com/read/2017/02/03/519/1608278/inspiratif-kisah-pensiunan-tni-lima-tahun-hafalkan-alquran-di-pos-satpam</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2017/02/03/519/1608278/inspiratif-kisah-pensiunan-tni-lima-tahun-hafalkan-alquran-di-pos-satpam</guid><pubDate>Jum'at 03 Februari 2017 08:31 WIB</pubDate><dc:creator>Zen Arivin</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2017/02/03/519/1608278/inspiratif-kisah-pensiunan-tni-lima-tahun-hafalkan-alquran-di-pos-satpam-uNmoH0kMJa.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Serma (Purn) Mohammad Masruchin menjadi seoran hafiz usai menghafalnya selama lima tahun di sekal-sela kesibukan menjadi satpam di pondok pesantren Madrasatul Quran Tebuireng, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang, Jawa Timur. (Foto: Zen Arivin/Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2017/02/03/519/1608278/inspiratif-kisah-pensiunan-tni-lima-tahun-hafalkan-alquran-di-pos-satpam-uNmoH0kMJa.jpg</image><title>Serma (Purn) Mohammad Masruchin menjadi seoran hafiz usai menghafalnya selama lima tahun di sekal-sela kesibukan menjadi satpam di pondok pesantren Madrasatul Quran Tebuireng, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang, Jawa Timur. (Foto: Zen Arivin/Okezone)</title></images><description>JOMBANG &amp;ndash; Tidak ada kata terlambat untuk belajar. Kata bijak itulah yang selama ini membakar semangat Sersan Mayor (Serma) Purnawirawan (Purn) Mohammad Masruchin. Mantan prajurit tempur TNI Batalyon Yonif Lintas Udara 503 Mayangkara itu kini menjadi seorang penghafal Alquran atau hafiz.

Tekad kuat dan semangatnya dalam belajar agama membuatnya mampu menghafalkan 30 juz ayat-ayat Alquran. Bahkan, pria yang kini berusia 60 tahun itu mendapat bonus pergi ke Tanah Suci dan melihat Baitullah. Tak hanya itu, Masruchin juga dinobatkan sebagai wisudawan penghafal Alquran tertua di Kabupaten Jombang, Jawa Timur.

Pagi itu, usai menjalankan salat duha di masjid dekat rumahnya, di Dusun Jasem Desa Watugaluh Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang, Masruchin tak lantas melakukan rutinitasnya layaknya seorang kepala rumah tangga. Kendati sudah hafal 30 juz bilghoib, ia tetap menjaga keilmuannya itu.

Tangan keriputnya itu lantas mengambil kitab suci umat Islam yang tertata rapi di almari ruang tamu rumahnya. Selanjutnya, lantunan merdu ayat-ayat Alquran menggema di seluruh ruangan 3x4 itu. Bacaannya pun fasih. Meski usianya tak lagi muda, nafas pria tua itu mampu membuat alunan ayat-ayat Tuhan itu terdengar begitu sempurna.

&quot;Saya mulai belajar menghafal Alquran sejak pensiun dari prajurit TNI. Alhamdulillah, karena rida Allah kini saya sudah bisa menghafal 30 juz,&quot; kata Serma Purn Masruchin, mengawali ceritanya menjadi seorang hafiz, Sabtu (28/1/2017).

Usai pensiun sebagai prajurit TNI pada 2004, Masruchin lantas mengabdikan diri sebagai staf keamanan di Pondok Pesantren Madrasatul Quran Tebuireng, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang. Di pondok itulah ia menjalankan aktivitas sehari-hari sebagai seorang satpam penjaga pondok pesantren.

&quot;Saat menjadi satpam itu, saya melihat para santri yang usianya masih belasan tahun, tapi sudah hafal Alquran. Dari itulah tergerak hati saya untuk belajar menghafal Alquran. Waktu itu sekitar tahun 2011,&quot; tutur bapak yang dikaruniai empat anak ini.

Gejolak dalam hati itu begitu kuat. Namun, semangatnya untuk  mendekatkan diri kepada Sang Kholik mampu mengalahkan segalanya.  Masruchin lantas mengutarakan keinginannya kepada para guru pembimbing  di pondok pensantren tersebut. Di luar dugaan, respons yang didapatnya  begitu baik. Atas saran para guru, ia kemudian mendaftar sebagai calon  hafiz.

Layaknya santri pada umumnya, berbagai tahapan ia ikuti dengan baik.  Setiap hari, ia berbaur dengan santri-santri yang usianya sama dengan  anak-anaknya untuk mengikuti setoran hafalan. Tak pernah sedikit pun  terbersit rasa malu dalam dirinya. Keinginannya untuk bisa menjadi  seorang hafiz menepiskan segala rasa itu.

&quot;Tidak ada pengecualian, meskipun sudah tua, saya harus mengikuti  proses itu sama dengan santri-santri lainnya. Para santri juga sangat  baik dan sering memberikan dukungan kepada saya agar bisa wisuda bersama  nanti,&quot; terangnya saat mengingat momentum-momentum manis ketika menjadi  santri penghafal Alquran.

Di luar setoran hafalan, sembari berjaga di Pos Satpam, Masruchin tak  henti membaca kitab. Alquran kecil selalu tersedia di tempat kerjanya  itu. Rekan-rekan kerjanya juga mendukung Masruchin untuk bisa menjadi  hafiz. Ayat demi ayat mulai ditanamkannya di dalam memori otaknya.  Hingga akhirnya dalam kurun waktu 5 tahun, Masruchin berhasil  menyelesaikan hafalannya dan menajalani wisuda.

&quot;Alhamdulillah, ini semua hidayah dari Allah. Tanpa hidayahnya, saya  tidak mungkin bisa menghafal seluruh ayat-ayat Alquran. Selain itu  dukungan keluarga, teman-teman satpam, santri, dan para guru juga sangat  besar. Saya sangat berterima kasih kepada mereka,&quot; papar Masruchin  sembari mengusap cairan bening di pelupuk mata yang tak terasa mengalir.
Tak hanya berhasil di wisuda, Masruchin juga mendapatkan hadiah yang  tak terduga dari pihak pondok pesantren. Selain dinobatkan sebagai  wisudawan tertua, atas kerja kerasnya menghafal Alquran, Masruchin  akhirnya dapat pergi ke Tanah Suci. Ia diberangkatkan umrah oleh  keluarga besar Pondok Pesantren Madrasatul Quran Tebuireng, Jombang.
&quot;Masyaallah, saya benar-benar beruntung karena bisa menunaikan ibadah  umrah dan menjalankan ibadah di depan Ka'bah. Ini benar-benar hidayah  yang tak terduga bagi saya,&quot; pungkasnya.

Meski menjadi seorang hafiz, Masruchin tetap menjalani aktivitasnya  sehari-hari sebagai satpam di Pondok Pensantren Madrasatul Quran. Meski  sudah hafal 30 juz bilghoib, ia tetap membawa dan membaca kitab suci  Alquran untuk memperkuat hafalannya. Selain itu, Masruchin mengamalkan  ilmunya dengan menjadi guru mengaji di TPQ di desanya.

&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAxNi8wNi8yNC8yMi83NzQ3Ni8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;</description><content:encoded>JOMBANG &amp;ndash; Tidak ada kata terlambat untuk belajar. Kata bijak itulah yang selama ini membakar semangat Sersan Mayor (Serma) Purnawirawan (Purn) Mohammad Masruchin. Mantan prajurit tempur TNI Batalyon Yonif Lintas Udara 503 Mayangkara itu kini menjadi seorang penghafal Alquran atau hafiz.

Tekad kuat dan semangatnya dalam belajar agama membuatnya mampu menghafalkan 30 juz ayat-ayat Alquran. Bahkan, pria yang kini berusia 60 tahun itu mendapat bonus pergi ke Tanah Suci dan melihat Baitullah. Tak hanya itu, Masruchin juga dinobatkan sebagai wisudawan penghafal Alquran tertua di Kabupaten Jombang, Jawa Timur.

Pagi itu, usai menjalankan salat duha di masjid dekat rumahnya, di Dusun Jasem Desa Watugaluh Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang, Masruchin tak lantas melakukan rutinitasnya layaknya seorang kepala rumah tangga. Kendati sudah hafal 30 juz bilghoib, ia tetap menjaga keilmuannya itu.

Tangan keriputnya itu lantas mengambil kitab suci umat Islam yang tertata rapi di almari ruang tamu rumahnya. Selanjutnya, lantunan merdu ayat-ayat Alquran menggema di seluruh ruangan 3x4 itu. Bacaannya pun fasih. Meski usianya tak lagi muda, nafas pria tua itu mampu membuat alunan ayat-ayat Tuhan itu terdengar begitu sempurna.

&quot;Saya mulai belajar menghafal Alquran sejak pensiun dari prajurit TNI. Alhamdulillah, karena rida Allah kini saya sudah bisa menghafal 30 juz,&quot; kata Serma Purn Masruchin, mengawali ceritanya menjadi seorang hafiz, Sabtu (28/1/2017).

Usai pensiun sebagai prajurit TNI pada 2004, Masruchin lantas mengabdikan diri sebagai staf keamanan di Pondok Pesantren Madrasatul Quran Tebuireng, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang. Di pondok itulah ia menjalankan aktivitas sehari-hari sebagai seorang satpam penjaga pondok pesantren.

&quot;Saat menjadi satpam itu, saya melihat para santri yang usianya masih belasan tahun, tapi sudah hafal Alquran. Dari itulah tergerak hati saya untuk belajar menghafal Alquran. Waktu itu sekitar tahun 2011,&quot; tutur bapak yang dikaruniai empat anak ini.

Gejolak dalam hati itu begitu kuat. Namun, semangatnya untuk  mendekatkan diri kepada Sang Kholik mampu mengalahkan segalanya.  Masruchin lantas mengutarakan keinginannya kepada para guru pembimbing  di pondok pensantren tersebut. Di luar dugaan, respons yang didapatnya  begitu baik. Atas saran para guru, ia kemudian mendaftar sebagai calon  hafiz.

Layaknya santri pada umumnya, berbagai tahapan ia ikuti dengan baik.  Setiap hari, ia berbaur dengan santri-santri yang usianya sama dengan  anak-anaknya untuk mengikuti setoran hafalan. Tak pernah sedikit pun  terbersit rasa malu dalam dirinya. Keinginannya untuk bisa menjadi  seorang hafiz menepiskan segala rasa itu.

&quot;Tidak ada pengecualian, meskipun sudah tua, saya harus mengikuti  proses itu sama dengan santri-santri lainnya. Para santri juga sangat  baik dan sering memberikan dukungan kepada saya agar bisa wisuda bersama  nanti,&quot; terangnya saat mengingat momentum-momentum manis ketika menjadi  santri penghafal Alquran.

Di luar setoran hafalan, sembari berjaga di Pos Satpam, Masruchin tak  henti membaca kitab. Alquran kecil selalu tersedia di tempat kerjanya  itu. Rekan-rekan kerjanya juga mendukung Masruchin untuk bisa menjadi  hafiz. Ayat demi ayat mulai ditanamkannya di dalam memori otaknya.  Hingga akhirnya dalam kurun waktu 5 tahun, Masruchin berhasil  menyelesaikan hafalannya dan menajalani wisuda.

&quot;Alhamdulillah, ini semua hidayah dari Allah. Tanpa hidayahnya, saya  tidak mungkin bisa menghafal seluruh ayat-ayat Alquran. Selain itu  dukungan keluarga, teman-teman satpam, santri, dan para guru juga sangat  besar. Saya sangat berterima kasih kepada mereka,&quot; papar Masruchin  sembari mengusap cairan bening di pelupuk mata yang tak terasa mengalir.
Tak hanya berhasil di wisuda, Masruchin juga mendapatkan hadiah yang  tak terduga dari pihak pondok pesantren. Selain dinobatkan sebagai  wisudawan tertua, atas kerja kerasnya menghafal Alquran, Masruchin  akhirnya dapat pergi ke Tanah Suci. Ia diberangkatkan umrah oleh  keluarga besar Pondok Pesantren Madrasatul Quran Tebuireng, Jombang.
&quot;Masyaallah, saya benar-benar beruntung karena bisa menunaikan ibadah  umrah dan menjalankan ibadah di depan Ka'bah. Ini benar-benar hidayah  yang tak terduga bagi saya,&quot; pungkasnya.

Meski menjadi seorang hafiz, Masruchin tetap menjalani aktivitasnya  sehari-hari sebagai satpam di Pondok Pensantren Madrasatul Quran. Meski  sudah hafal 30 juz bilghoib, ia tetap membawa dan membaca kitab suci  Alquran untuk memperkuat hafalannya. Selain itu, Masruchin mengamalkan  ilmunya dengan menjadi guru mengaji di TPQ di desanya.

&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAxNi8wNi8yNC8yMi83NzQ3Ni8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;</content:encoded></item></channel></rss>
