<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Luar Biasa! Masjid di Malaysia Buka Pintu untuk Rayakan Imlek</title><description>Sebuah masjid di Bangsar, Kuala Lumpur, Malaysia memutuskan untuk membuka pintunya dan merayakan Tahun Baru China.</description><link>https://news.okezone.com/read/2017/02/05/18/1610079/luar-biasa-masjid-di-malaysia-buka-pintu-untuk-rayakan-imlek</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2017/02/05/18/1610079/luar-biasa-masjid-di-malaysia-buka-pintu-untuk-rayakan-imlek"/><item><title>Luar Biasa! Masjid di Malaysia Buka Pintu untuk Rayakan Imlek</title><link>https://news.okezone.com/read/2017/02/05/18/1610079/luar-biasa-masjid-di-malaysia-buka-pintu-untuk-rayakan-imlek</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2017/02/05/18/1610079/luar-biasa-masjid-di-malaysia-buka-pintu-untuk-rayakan-imlek</guid><pubDate>Minggu 05 Februari 2017 22:02 WIB</pubDate><dc:creator>Silviana Dharma</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2017/02/05/18/1610079/luar-biasa-masjid-di-malaysia-buka-pintu-untuk-rayakan-imlek-XwQCQnrXNx.JPG" expression="full" type="image/jpeg">Perayaan Imlek di Masjid Saidina, Malaysia. (Foto: Azhar Mahrof/The Star Online)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2017/02/05/18/1610079/luar-biasa-masjid-di-malaysia-buka-pintu-untuk-rayakan-imlek-XwQCQnrXNx.JPG</image><title>Perayaan Imlek di Masjid Saidina, Malaysia. (Foto: Azhar Mahrof/The Star Online)</title></images><description>BANGSAR - Sebuah masjid di Bangsar, Kuala Lumpur, Malaysia memutuskan untuk membuka pintunya dan merayakan Tahun Baru China. Sontak, tempat ibadah umat Islam itu berubah menjadi lautan merah.
Meski para pria tetap mengenakan peci, dan perempuan berhijab, mereka kompak mengenakan batik, pakaian adat dan kaus berwarna merah. Tidak hanya wajah-wajah oriental, perayaan Imlek di masjid Bangsar juga dihadiri oleh roman-roman India, Melayu dan Arab.

Masjid Saidina Abu Bakar As Sidiq di Bangsar, Kuala Lumpur. (Foto: The Star Online)
Perayaan ini menunjukkan sisi terbaik kerukunan dan toleransi kemajemukan di Malaysia. Open House diadakan selama dua jam. Di meja makan tersaji berbagai hidangan favorit, seperti rendang, ketupat dan nasi lemak. Tak lupa, pengelola masjid juga menyediakan jeruk mandarin sebagai pencuci mulutnya.
Imam Masjid Saidina Abu Bakar As Sidiq, Datuk Ibrahim Thambychik mengungkapkan alasannya untuk menggelar perayaan Imlek di masjid. Maksudnya ialah menunjukkan kepada dunia bahwa masjid merupakan tempat yang terbuka dan menyambut semua orang tanpa memandang latar belakangnya.
&quot;Jika Anda menilik sejarah Islam, masjid punya banyak fungsi. Selain untuk beribadah, masjid juga bisa memfasilitasi pelayanan sosial bagi Muslim maupun non-Muslim,&quot; terangnya, seperti dikutip dari The Star, Minggu (5/2/2017).

Imam Masjid, Datuk Ibrahim Thambychik. (Foto: The Star Online)Datuk Ibrahim Thambychik menyatakan, ini adalah pertama kalinya  masjid dibuka untuk merayakan Tahun Baru China. Menurutnya, waktu  seperti ini adalah kesempatan bagus untuk Muslim dan para tetangganya  yang non-Muslim berbaur dan mengenal satu sama lain.
&amp;lt;iframe  width=&quot;560&quot; height=&quot;315&quot; src=&quot;https://www.youtube.com/embed/0EQ1UHK9rwI&quot;  frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;
Ketika rencana ini diumumkan, pihak masjid menargetkan 100-150  pengunjung saja. Alhamdullilah, pada hari H, mereka yang tertarik datang  lebih dari 400 orang. Dengan begitu besarnya respon positif dari  masyarakat,  Thambychik cs berjanji akan mengadakannya lagi tahun depan.
Seorang pemuda berdarah Tionghoa yang mualaf, Mohd Willieuddin Lim  menuturkan, teman-temannya yang non-Muslim tercengang ketika dia  menyampaikan undangan perayaan Imlek dari masjid. &quot;Benarkah kami boleh  masuk?&quot; tanya mereka pada saya.
Lim sendiri mengaku tetap merayakan Imlek setiap tahunnya, meskipun  dirinya telah menganut ajaran Islam. Baginya, perayaan ini bukan soal  agama, tetapi kebudayaan.
Tamu lain, Collin Swee (49) menyebut perayaan ini sangat bermakna  baginya. &quot;Saya rasa ini luar biasa indah. Kegiatan seperti ini sangat  diperlukan di era sekarang, mengingat orang-orang yang berbeda ras dan  agama semakin menjauh dibanding dulu. Langkah yang masjid ini ambil  benar-benar tepat waktu. Kita butuh lebih banyak gerakan semacam ini  untuk menyatukan orang-orang,&quot; usulnya.</description><content:encoded>BANGSAR - Sebuah masjid di Bangsar, Kuala Lumpur, Malaysia memutuskan untuk membuka pintunya dan merayakan Tahun Baru China. Sontak, tempat ibadah umat Islam itu berubah menjadi lautan merah.
Meski para pria tetap mengenakan peci, dan perempuan berhijab, mereka kompak mengenakan batik, pakaian adat dan kaus berwarna merah. Tidak hanya wajah-wajah oriental, perayaan Imlek di masjid Bangsar juga dihadiri oleh roman-roman India, Melayu dan Arab.

Masjid Saidina Abu Bakar As Sidiq di Bangsar, Kuala Lumpur. (Foto: The Star Online)
Perayaan ini menunjukkan sisi terbaik kerukunan dan toleransi kemajemukan di Malaysia. Open House diadakan selama dua jam. Di meja makan tersaji berbagai hidangan favorit, seperti rendang, ketupat dan nasi lemak. Tak lupa, pengelola masjid juga menyediakan jeruk mandarin sebagai pencuci mulutnya.
Imam Masjid Saidina Abu Bakar As Sidiq, Datuk Ibrahim Thambychik mengungkapkan alasannya untuk menggelar perayaan Imlek di masjid. Maksudnya ialah menunjukkan kepada dunia bahwa masjid merupakan tempat yang terbuka dan menyambut semua orang tanpa memandang latar belakangnya.
&quot;Jika Anda menilik sejarah Islam, masjid punya banyak fungsi. Selain untuk beribadah, masjid juga bisa memfasilitasi pelayanan sosial bagi Muslim maupun non-Muslim,&quot; terangnya, seperti dikutip dari The Star, Minggu (5/2/2017).

Imam Masjid, Datuk Ibrahim Thambychik. (Foto: The Star Online)Datuk Ibrahim Thambychik menyatakan, ini adalah pertama kalinya  masjid dibuka untuk merayakan Tahun Baru China. Menurutnya, waktu  seperti ini adalah kesempatan bagus untuk Muslim dan para tetangganya  yang non-Muslim berbaur dan mengenal satu sama lain.
&amp;lt;iframe  width=&quot;560&quot; height=&quot;315&quot; src=&quot;https://www.youtube.com/embed/0EQ1UHK9rwI&quot;  frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;
Ketika rencana ini diumumkan, pihak masjid menargetkan 100-150  pengunjung saja. Alhamdullilah, pada hari H, mereka yang tertarik datang  lebih dari 400 orang. Dengan begitu besarnya respon positif dari  masyarakat,  Thambychik cs berjanji akan mengadakannya lagi tahun depan.
Seorang pemuda berdarah Tionghoa yang mualaf, Mohd Willieuddin Lim  menuturkan, teman-temannya yang non-Muslim tercengang ketika dia  menyampaikan undangan perayaan Imlek dari masjid. &quot;Benarkah kami boleh  masuk?&quot; tanya mereka pada saya.
Lim sendiri mengaku tetap merayakan Imlek setiap tahunnya, meskipun  dirinya telah menganut ajaran Islam. Baginya, perayaan ini bukan soal  agama, tetapi kebudayaan.
Tamu lain, Collin Swee (49) menyebut perayaan ini sangat bermakna  baginya. &quot;Saya rasa ini luar biasa indah. Kegiatan seperti ini sangat  diperlukan di era sekarang, mengingat orang-orang yang berbeda ras dan  agama semakin menjauh dibanding dulu. Langkah yang masjid ini ambil  benar-benar tepat waktu. Kita butuh lebih banyak gerakan semacam ini  untuk menyatukan orang-orang,&quot; usulnya.</content:encoded></item></channel></rss>
