<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Dr Soetomo, Tokoh Pergerakan yang Cinta Dunia Pers hingga Akhir Hayat</title><description>Kecintaan dr Soetomo pada bidang jurnalistik patut diacungi jempol, sekalipun ia sibuk menjadi tokoh pergerakan. Hingga akhir hayatnya, ia yang menakhodai sederet surat kabar di Indonesia agar tetap aktif dengan dunia pers.</description><link>https://news.okezone.com/read/2017/02/08/337/1613077/dr-soetomo-tokoh-pergerakan-yang-cinta-dunia-pers-hingga-akhir-hayat</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2017/02/08/337/1613077/dr-soetomo-tokoh-pergerakan-yang-cinta-dunia-pers-hingga-akhir-hayat"/><item><title>Dr Soetomo, Tokoh Pergerakan yang Cinta Dunia Pers hingga Akhir Hayat</title><link>https://news.okezone.com/read/2017/02/08/337/1613077/dr-soetomo-tokoh-pergerakan-yang-cinta-dunia-pers-hingga-akhir-hayat</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2017/02/08/337/1613077/dr-soetomo-tokoh-pergerakan-yang-cinta-dunia-pers-hingga-akhir-hayat</guid><pubDate>Rabu 08 Februari 2017 19:04 WIB</pubDate><dc:creator>Tuty Ocktaviany</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2017/02/08/337/1613077/dr-soetomo-tokoh-pergerakan-yang-cinta-dunia-pers-hingga-akhir-hayat-f8TubyNtt6.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Dr Soetomo (Foto: Okezone/Ist)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2017/02/08/337/1613077/dr-soetomo-tokoh-pergerakan-yang-cinta-dunia-pers-hingga-akhir-hayat-f8TubyNtt6.jpg</image><title>Dr Soetomo (Foto: Okezone/Ist)</title></images><description>KECINTAAN dr Soetomo pada bidang jurnalistik patut diacungi jempol, sekalipun ia sibuk menjadi tokoh pergerakan. Hingga akhir hayatnya, ia yang menakhodai sederet surat kabar di Indonesia agar tetap aktif dengan dunia pers.
Ketika sudah cinta dengan bidang yang digelutinya, seseorang akan total melakukan banyak gebrakan. Semangat itu juga menggambarkan sosok dr Soetomo yang tidak hanya dikenal sebagai tokoh pergerakan Indonesia, tetapi juga pers.
Ya, dr Soetomo rupanya juga aktif di bidang jurnalistik. Banyak surat kabar yang lahir berkat tangan dinginnya. Ia juga dikenal sebagai jurnalis yang memiliki tulisan tajam dan jitu, serta tersusun dengan baik.
Sebagai aktivis pergerakan, dr Soetomo sadar betul bahwa media, khususnya surat kabar, memegang peranan penting dalam usaha memperjuangkan Indonesia. Wajar jika kemudian, ia termotivasi untuk terus menelurkan ide guna mengembangkan surat kabar.
Dr Soetomo lahir di Ngepeh, Nganjuk, Jawa timur, pada 30 Juli 1888. Saat kecil, namanya bukan Soetomo, melainkan Soebroto.
Ketika akan masuk sekolah di Bangil, namanya diganti menjadi Soetomo. Nama tersebut kemudian ia gunakan hingga akhir hayatnya.
Soetomo sejak kecil tinggal dan dibesarkan oleh kakek dan neneknya. Setelah melanjutkan pendidikan dasar di Bangil, atas saran ayahnya, R Soewadji, Soetomo melanjutkan pendidikannya di STOVIA mulai 10 Januari 1903, dengan obsesi menjadi dokter.
Dan benar saja, cita-cita menjadi dokter akhirnya dapat diraihnya. Pada 1911, Soetomo menyelesaikan pendidikannya. Kemudian, ia diangkat menjadi stadsverband di Semarang. Berturut-turut, ia dipindahkan ke Tuban, setahun berikutnya ke Lubuk Pakam, lalu 1914 ke Kepandjen, dan Magetan pada 1916.
Tugas berpindah-pindah masih terus berlanjut. Pada 1917, ia dipindahtugaskan ke Blora. Di kota ini, Soetomo mempersunting seorang noni Belanda, yang setia menjadi istrinya hingga maut memisahkan. Istri dr Soetomo meninggal pada 1934.
Pada 1918, dr Soetomo harus pindah kembali ke Baturaja. Kemudian pada 1919, ia melanjutkan studi ke negara Belanda.
Dr Soetomo tumbuh tatkala pemerintah kolonial telah memberlakukan Agrarische Wet 1970, yang memungkinkan pihak swasta lebih leluasa menjalankan usaha di bidang perkebunan dan industri.
Di berbagai tempat yang pernah ditinggali, ia melihat langsung bagaimana rakyat Hindia Belanda telah sedemikian sengsara akibat jeratan para pengusaha partikelir yang mendapat perlindungan pemerintah dalam melakukan berbagai kegiatan eksploitasi ekonomi.
Inilah salah satu faktor yang membuat rasa kemanusiaan dr Soetomo tergugah. Perkenalannya dengan dr Wahidin Soediro Hoesodo menambah pencerahan dan semangatnya. Kala itu, dr wahidin tengah berkampanye untuk menggalang dana guna memberi donasi kepada para pelajar bumiputra, terutama yang sekolah di STOVIA.
Soetomo bersama rekan-rekannya, berinspirasi oleh hal-hal yang dilakukan dr Wahidin. Ia pun kemudian berinisiatif membentuk sebuah organisasi bernama Boedi Oetomo (BO) pada 20 Mei 1908, dengan dr Soetomo sebagai ketua. Tujuan pembentukan organisasi tersebut adalah memajukan nusa dan bangsa Jawa dan Madura. Organisasi ini menyelenggarakan kongres pertama di Yogyakarta pada 5 Oktober di tahun yang sama dengan deklarasinya.
Ruang gerak BO terbatas hanya pada sosial, sementara aktivitas jurnalistik terbatas pada beberapa terbitan internal. Salah satunya adalah majalah bulanan Goeroe Desa yang digagas oleh dr Soetomo. Terbitan lainnya adalah beberapa petisi kepada pemerintah yang meminta kesediaannya untuk meningkatkan mutu pendidikan sekolah dasar dan menengah.
Baru ketika BO memutuskan untuk terjun ke dunia politik, sekira 1915, organisasi ini memiliki organ pers yang solid. Dr Soetomo yang menjadi Ketua BO pun merangkap sebagai ketua atau pemimpin umum dalam beberapa koran terbitannya, antara lain surat kabar Boedi Oetomo, terbitan sekira 1920 di Bandung dan Yogyakarta.
Kecuali di BO, dr Soetomo terlibat dalam organisasi Indonesische Studieclub Surabaja (ISC) yang dibentuk di Surabaya pada 27 Juli 1924. Awalnya, kelompok studi ini ditujukan khusus bagi para cendekiawan yang berada di Surabaya. Selanjutnya, bermunculan kelompok studie sejenis sebagai afdeeling (cabang) di kota-kota, seperti Bandung, Yogyakarta, Semarang, dan Solo.
Keteguhan dr Soetomo untuk konsen pada ide-ide nasionalis dalam Indonesische Studieclub dibuktikan dengan hengkang dari Boedi Oetomo yang dinilai makin bercorak primordial kejawa-jawaan pada 1925.
Dalam sebuah rapat yang diadakan pada 24 Januari 1926, bestuur (pemimpin) ISC mengeluarkan putusan untuk menerbitkan surat kabar bulanan, Soeloeh Indonesia, dengan dr Soetomo sebagai pemimpin umum koran tersebut. Ia dibantu oleh sejawatnya, antara lain RT Tjindarboemi, RP Mr Singgih, M Soenjoto, RMH Soedjono, dan Mr M Soewono. Mereka inilah pengurus inti dari ISC maupun Soeloeh Indonesia.
Sebagai organisasi milik ISC, Soeloeh Indonesia menjadi tempat para anggota dan simpatisan menuangkan ide-ide nasionalisme dalam bentuk tulisan serta memuat warta dan keputusan-keputusan perkumpulan.
Untuk menciptakan kekompakan dan kesatuan dalam organisasi, Soeloeh Indonesia dilebur dengan majalah milik Indonesiasische Studie Club Bandung. Majalah hasil merger ini diberi nama Soeloeh Indonesia Moeda. Majalah ini menjadi mimbar propaganda idealisme kedua studie club itu dan studieclub afdeeling lainnya.
Perubahan arah perjuangan dan politik di Nusantara membawa perubahan dalam bentuk perjuangan, dari nonkooperatif menjadi kooperatif. Soeloeh Indonesia Moeda menjadi salah satu surat kabar yang memelopori hal ini.
Menyikapi keadaan tersebut dan perluasan jangkauan anggota organisasi, pada 16 Oktober 1930, dr Soetomo beserta para pengurus dan anggota sepakat menghapus ISC dan mengubahnya menjadi Persatoean Bangsa Indonesia (PBI). Lalu pada 30 Agustus 1931, harian Soeara Oemoem terbit, menggantikan Soeloeh Indonesia Moeda.
Majalah ini terbit di bawah bendera NV Handel Mij dan Drukerij &amp;lsquo;Indonesia&amp;rsquo;. Dr Soetomo, Ketua PBI, bertindak sebaga commissarissen bersama Mr Ng Soebroto RPS Gondokoesoemo sebagai  directeur, sedangkan posisi hoofdredacteur diserahkan kepada RT Tjindarboemi.
Di bawah kepemimpian dr Soetomo, mereka tidak hanya menerbitkan Soeara Oemoem, tetapi juga beberapa surat kabar lainnya, yaitu Tempo di Yogyakarta, Panjebar Semangat, dan Pedoman, sekira 1936. Dr Soetomo pun memegang jabatan sebagai voorzitter perkumpulan dagbladdirecteure (perkumpulan para pengelola surat kabar). Ia banyak menyampaikan apa yang diinginkan berbagai surat kabar kepada pemerintah, walaupun mereka selalu keukeuh dengan pendiriannya.
Meski sering berperan sebagai direktur di berbagai koran, dr Soetomo adalah seorang jurnalis juga. Ia banyak mengisi rubrik dalam berbagai terbitan. Ketika berada di luar negeri, ia rajin mengirimkan tulisan kepada surat kabar yang terbit di Indonesia. Tulisannya terkenal tajam dan jitu, serta tersusun dengan baik. Hingga akhir hayatnya, dr Soetomo masih aktif bergelut dengan dunia pers. Setelah menderita sakit beberapa bulan, ia mengembuskan napas terakhir pada 30 Mei 1938 dini hari. Demikian dikutip dari buku &amp;lsquo;Tanah Air Bahasa, Seratus Jejak Pers Indonesia&amp;rsquo;.</description><content:encoded>KECINTAAN dr Soetomo pada bidang jurnalistik patut diacungi jempol, sekalipun ia sibuk menjadi tokoh pergerakan. Hingga akhir hayatnya, ia yang menakhodai sederet surat kabar di Indonesia agar tetap aktif dengan dunia pers.
Ketika sudah cinta dengan bidang yang digelutinya, seseorang akan total melakukan banyak gebrakan. Semangat itu juga menggambarkan sosok dr Soetomo yang tidak hanya dikenal sebagai tokoh pergerakan Indonesia, tetapi juga pers.
Ya, dr Soetomo rupanya juga aktif di bidang jurnalistik. Banyak surat kabar yang lahir berkat tangan dinginnya. Ia juga dikenal sebagai jurnalis yang memiliki tulisan tajam dan jitu, serta tersusun dengan baik.
Sebagai aktivis pergerakan, dr Soetomo sadar betul bahwa media, khususnya surat kabar, memegang peranan penting dalam usaha memperjuangkan Indonesia. Wajar jika kemudian, ia termotivasi untuk terus menelurkan ide guna mengembangkan surat kabar.
Dr Soetomo lahir di Ngepeh, Nganjuk, Jawa timur, pada 30 Juli 1888. Saat kecil, namanya bukan Soetomo, melainkan Soebroto.
Ketika akan masuk sekolah di Bangil, namanya diganti menjadi Soetomo. Nama tersebut kemudian ia gunakan hingga akhir hayatnya.
Soetomo sejak kecil tinggal dan dibesarkan oleh kakek dan neneknya. Setelah melanjutkan pendidikan dasar di Bangil, atas saran ayahnya, R Soewadji, Soetomo melanjutkan pendidikannya di STOVIA mulai 10 Januari 1903, dengan obsesi menjadi dokter.
Dan benar saja, cita-cita menjadi dokter akhirnya dapat diraihnya. Pada 1911, Soetomo menyelesaikan pendidikannya. Kemudian, ia diangkat menjadi stadsverband di Semarang. Berturut-turut, ia dipindahkan ke Tuban, setahun berikutnya ke Lubuk Pakam, lalu 1914 ke Kepandjen, dan Magetan pada 1916.
Tugas berpindah-pindah masih terus berlanjut. Pada 1917, ia dipindahtugaskan ke Blora. Di kota ini, Soetomo mempersunting seorang noni Belanda, yang setia menjadi istrinya hingga maut memisahkan. Istri dr Soetomo meninggal pada 1934.
Pada 1918, dr Soetomo harus pindah kembali ke Baturaja. Kemudian pada 1919, ia melanjutkan studi ke negara Belanda.
Dr Soetomo tumbuh tatkala pemerintah kolonial telah memberlakukan Agrarische Wet 1970, yang memungkinkan pihak swasta lebih leluasa menjalankan usaha di bidang perkebunan dan industri.
Di berbagai tempat yang pernah ditinggali, ia melihat langsung bagaimana rakyat Hindia Belanda telah sedemikian sengsara akibat jeratan para pengusaha partikelir yang mendapat perlindungan pemerintah dalam melakukan berbagai kegiatan eksploitasi ekonomi.
Inilah salah satu faktor yang membuat rasa kemanusiaan dr Soetomo tergugah. Perkenalannya dengan dr Wahidin Soediro Hoesodo menambah pencerahan dan semangatnya. Kala itu, dr wahidin tengah berkampanye untuk menggalang dana guna memberi donasi kepada para pelajar bumiputra, terutama yang sekolah di STOVIA.
Soetomo bersama rekan-rekannya, berinspirasi oleh hal-hal yang dilakukan dr Wahidin. Ia pun kemudian berinisiatif membentuk sebuah organisasi bernama Boedi Oetomo (BO) pada 20 Mei 1908, dengan dr Soetomo sebagai ketua. Tujuan pembentukan organisasi tersebut adalah memajukan nusa dan bangsa Jawa dan Madura. Organisasi ini menyelenggarakan kongres pertama di Yogyakarta pada 5 Oktober di tahun yang sama dengan deklarasinya.
Ruang gerak BO terbatas hanya pada sosial, sementara aktivitas jurnalistik terbatas pada beberapa terbitan internal. Salah satunya adalah majalah bulanan Goeroe Desa yang digagas oleh dr Soetomo. Terbitan lainnya adalah beberapa petisi kepada pemerintah yang meminta kesediaannya untuk meningkatkan mutu pendidikan sekolah dasar dan menengah.
Baru ketika BO memutuskan untuk terjun ke dunia politik, sekira 1915, organisasi ini memiliki organ pers yang solid. Dr Soetomo yang menjadi Ketua BO pun merangkap sebagai ketua atau pemimpin umum dalam beberapa koran terbitannya, antara lain surat kabar Boedi Oetomo, terbitan sekira 1920 di Bandung dan Yogyakarta.
Kecuali di BO, dr Soetomo terlibat dalam organisasi Indonesische Studieclub Surabaja (ISC) yang dibentuk di Surabaya pada 27 Juli 1924. Awalnya, kelompok studi ini ditujukan khusus bagi para cendekiawan yang berada di Surabaya. Selanjutnya, bermunculan kelompok studie sejenis sebagai afdeeling (cabang) di kota-kota, seperti Bandung, Yogyakarta, Semarang, dan Solo.
Keteguhan dr Soetomo untuk konsen pada ide-ide nasionalis dalam Indonesische Studieclub dibuktikan dengan hengkang dari Boedi Oetomo yang dinilai makin bercorak primordial kejawa-jawaan pada 1925.
Dalam sebuah rapat yang diadakan pada 24 Januari 1926, bestuur (pemimpin) ISC mengeluarkan putusan untuk menerbitkan surat kabar bulanan, Soeloeh Indonesia, dengan dr Soetomo sebagai pemimpin umum koran tersebut. Ia dibantu oleh sejawatnya, antara lain RT Tjindarboemi, RP Mr Singgih, M Soenjoto, RMH Soedjono, dan Mr M Soewono. Mereka inilah pengurus inti dari ISC maupun Soeloeh Indonesia.
Sebagai organisasi milik ISC, Soeloeh Indonesia menjadi tempat para anggota dan simpatisan menuangkan ide-ide nasionalisme dalam bentuk tulisan serta memuat warta dan keputusan-keputusan perkumpulan.
Untuk menciptakan kekompakan dan kesatuan dalam organisasi, Soeloeh Indonesia dilebur dengan majalah milik Indonesiasische Studie Club Bandung. Majalah hasil merger ini diberi nama Soeloeh Indonesia Moeda. Majalah ini menjadi mimbar propaganda idealisme kedua studie club itu dan studieclub afdeeling lainnya.
Perubahan arah perjuangan dan politik di Nusantara membawa perubahan dalam bentuk perjuangan, dari nonkooperatif menjadi kooperatif. Soeloeh Indonesia Moeda menjadi salah satu surat kabar yang memelopori hal ini.
Menyikapi keadaan tersebut dan perluasan jangkauan anggota organisasi, pada 16 Oktober 1930, dr Soetomo beserta para pengurus dan anggota sepakat menghapus ISC dan mengubahnya menjadi Persatoean Bangsa Indonesia (PBI). Lalu pada 30 Agustus 1931, harian Soeara Oemoem terbit, menggantikan Soeloeh Indonesia Moeda.
Majalah ini terbit di bawah bendera NV Handel Mij dan Drukerij &amp;lsquo;Indonesia&amp;rsquo;. Dr Soetomo, Ketua PBI, bertindak sebaga commissarissen bersama Mr Ng Soebroto RPS Gondokoesoemo sebagai  directeur, sedangkan posisi hoofdredacteur diserahkan kepada RT Tjindarboemi.
Di bawah kepemimpian dr Soetomo, mereka tidak hanya menerbitkan Soeara Oemoem, tetapi juga beberapa surat kabar lainnya, yaitu Tempo di Yogyakarta, Panjebar Semangat, dan Pedoman, sekira 1936. Dr Soetomo pun memegang jabatan sebagai voorzitter perkumpulan dagbladdirecteure (perkumpulan para pengelola surat kabar). Ia banyak menyampaikan apa yang diinginkan berbagai surat kabar kepada pemerintah, walaupun mereka selalu keukeuh dengan pendiriannya.
Meski sering berperan sebagai direktur di berbagai koran, dr Soetomo adalah seorang jurnalis juga. Ia banyak mengisi rubrik dalam berbagai terbitan. Ketika berada di luar negeri, ia rajin mengirimkan tulisan kepada surat kabar yang terbit di Indonesia. Tulisannya terkenal tajam dan jitu, serta tersusun dengan baik. Hingga akhir hayatnya, dr Soetomo masih aktif bergelut dengan dunia pers. Setelah menderita sakit beberapa bulan, ia mengembuskan napas terakhir pada 30 Mei 1938 dini hari. Demikian dikutip dari buku &amp;lsquo;Tanah Air Bahasa, Seratus Jejak Pers Indonesia&amp;rsquo;.</content:encoded></item></channel></rss>
