<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Antara Wartawan Zaman Dulu dan Sekarang, Apa Bedanya?</title><description>Seorang jurnalis dituntut terbuka dengan hal-hal baru termasuk teknologi. Nah, apa bedanya wartawan zaman dulu dan era teknologi sekarang?</description><link>https://news.okezone.com/read/2017/02/09/525/1614146/antara-wartawan-zaman-dulu-dan-sekarang-apa-bedanya</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2017/02/09/525/1614146/antara-wartawan-zaman-dulu-dan-sekarang-apa-bedanya"/><item><title>Antara Wartawan Zaman Dulu dan Sekarang, Apa Bedanya?</title><link>https://news.okezone.com/read/2017/02/09/525/1614146/antara-wartawan-zaman-dulu-dan-sekarang-apa-bedanya</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2017/02/09/525/1614146/antara-wartawan-zaman-dulu-dan-sekarang-apa-bedanya</guid><pubDate>Kamis 09 Februari 2017 18:50 WIB</pubDate><dc:creator>Dwi Ayu Artantiani </dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2017/02/09/525/1614146/antara-wartawan-zaman-dulu-dan-sekarang-apa-bedanya-NyjGhXUZfN.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Wartawan saat meliput Presiden Joko Widodo (Antara)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2017/02/09/525/1614146/antara-wartawan-zaman-dulu-dan-sekarang-apa-bedanya-NyjGhXUZfN.jpg</image><title>Wartawan saat meliput Presiden Joko Widodo (Antara)</title></images><description>CIREBON - Menjadi seorang jurnalis bukan hanya dibutuhkan kecerdasan, kecakapan mengolah informasi, dan keberanian. Tapi juga harus terbuka dengan hal-hal baru, termasuk teknologi untuk mendukung liputan dan mengirim karya jurnalistik.
Perkembangan teknologi sekarang memang pesat. Jika zaman dulu orang mengetik dengan mesin dan mengirimnya lewat perantara kurir, sekarang jurnalis bisa langsung melaporkan peristiwa yang diliputnya dari lapangan hanya dengan bermodal telefon pintar atau gadget.
Wartawan senior di Indramayu, Jawa Barat, Udi Iswahyudi (50) menuturkan pengalamannya menjadi pewarta sejak era mesin tik berjaya. Mesin itulah yang jadi andalannya membuat berita kala itu. &quot;Dulu, saya masih menggunakan mesin tik dan hasil ketikan berita dikirim lewat faksimile,&quot; katanya kepada Okezone, Rabu (8/2/2017).
Fasilitas zaman dulu memang serba terbatas. Jumlah wartawan tidak sebanyak sekarang, organisasi pers juga sedikit. Medianya pun hanya ada beberapa koran, televisi pemerintah, dan radio.
&quot;Perjuangan saya pun tidak pada penulisan berita saja, namun pada bagian peliputan ke lapangan, dulu belum banyak sepeda motor dan mobil, kami pun kesulitan jika lokasinya cukup jauh,&quot; ujarnya.

Saat komputer mulai membumi, Udi pun beralih dari mesin tik ke komputer dalam membuat laporannya. Pekerjaannya sudah lebih mudah. Mobil dan sepeda motor kala itu sudah mulai banyak, jadi lebih leluasa ia untuk liputan ke sana ke mari.
Seiring zaman, teknologi pun berkembang pesat. Orang-orang mulai meninggalkan komputer dan beralih ke laptop, telefon pintar, gadget atau tab. Peralatan itu sangat mendukung kerja-kerja wartawan. Udi pun menyesuaikan dirinya.
&quot;Jurnalis sekarang lebih praktis dibanding perjuangan kami dulu yang serba dengan keterbatasan,&quot; ucapnya.
Kehadiran media online pun sekarang lebih mudah bagi masyarakat dalam mendapatkan informasi. Warga tak perlu harus menunggu besok, untuk mengetahui peristiwa hari ini. Wartawan sekarang pun dituntut bekerja serba cepat dengan persaingan media yang sengit.
Jurnalis senior asal Cirebon, Nurdin M Noer (63) mengatakan, pekerja media zaman dulu dan sekarang memang berbeda. Dulu, intimidasi, ancaman, dan teror kerap dialaminya karena berita.
&quot;Kami harus berjuang dan bertahan pada idealisme kami meski pun nyawa kami adalah taruhannya,&quot; terang Nurdin.</description><content:encoded>CIREBON - Menjadi seorang jurnalis bukan hanya dibutuhkan kecerdasan, kecakapan mengolah informasi, dan keberanian. Tapi juga harus terbuka dengan hal-hal baru, termasuk teknologi untuk mendukung liputan dan mengirim karya jurnalistik.
Perkembangan teknologi sekarang memang pesat. Jika zaman dulu orang mengetik dengan mesin dan mengirimnya lewat perantara kurir, sekarang jurnalis bisa langsung melaporkan peristiwa yang diliputnya dari lapangan hanya dengan bermodal telefon pintar atau gadget.
Wartawan senior di Indramayu, Jawa Barat, Udi Iswahyudi (50) menuturkan pengalamannya menjadi pewarta sejak era mesin tik berjaya. Mesin itulah yang jadi andalannya membuat berita kala itu. &quot;Dulu, saya masih menggunakan mesin tik dan hasil ketikan berita dikirim lewat faksimile,&quot; katanya kepada Okezone, Rabu (8/2/2017).
Fasilitas zaman dulu memang serba terbatas. Jumlah wartawan tidak sebanyak sekarang, organisasi pers juga sedikit. Medianya pun hanya ada beberapa koran, televisi pemerintah, dan radio.
&quot;Perjuangan saya pun tidak pada penulisan berita saja, namun pada bagian peliputan ke lapangan, dulu belum banyak sepeda motor dan mobil, kami pun kesulitan jika lokasinya cukup jauh,&quot; ujarnya.

Saat komputer mulai membumi, Udi pun beralih dari mesin tik ke komputer dalam membuat laporannya. Pekerjaannya sudah lebih mudah. Mobil dan sepeda motor kala itu sudah mulai banyak, jadi lebih leluasa ia untuk liputan ke sana ke mari.
Seiring zaman, teknologi pun berkembang pesat. Orang-orang mulai meninggalkan komputer dan beralih ke laptop, telefon pintar, gadget atau tab. Peralatan itu sangat mendukung kerja-kerja wartawan. Udi pun menyesuaikan dirinya.
&quot;Jurnalis sekarang lebih praktis dibanding perjuangan kami dulu yang serba dengan keterbatasan,&quot; ucapnya.
Kehadiran media online pun sekarang lebih mudah bagi masyarakat dalam mendapatkan informasi. Warga tak perlu harus menunggu besok, untuk mengetahui peristiwa hari ini. Wartawan sekarang pun dituntut bekerja serba cepat dengan persaingan media yang sengit.
Jurnalis senior asal Cirebon, Nurdin M Noer (63) mengatakan, pekerja media zaman dulu dan sekarang memang berbeda. Dulu, intimidasi, ancaman, dan teror kerap dialaminya karena berita.
&quot;Kami harus berjuang dan bertahan pada idealisme kami meski pun nyawa kami adalah taruhannya,&quot; terang Nurdin.</content:encoded></item></channel></rss>
