<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>&quot;SBY Pakai Bahasa Perasaan, Bukan Bahasa Pikiran&quot;</title><description>SBY dinilai lebih banyak menggunakan bahasa perasaan, dibandingkan bahasa pikiran di media sosialnya.</description><link>https://news.okezone.com/read/2017/02/11/337/1615601/sby-pakai-bahasa-perasaan-bukan-bahasa-pikiran</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2017/02/11/337/1615601/sby-pakai-bahasa-perasaan-bukan-bahasa-pikiran"/><item><title>&quot;SBY Pakai Bahasa Perasaan, Bukan Bahasa Pikiran&quot;</title><link>https://news.okezone.com/read/2017/02/11/337/1615601/sby-pakai-bahasa-perasaan-bukan-bahasa-pikiran</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2017/02/11/337/1615601/sby-pakai-bahasa-perasaan-bukan-bahasa-pikiran</guid><pubDate>Sabtu 11 Februari 2017 07:31 WIB</pubDate><dc:creator>Puteranegara Batubara</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2017/02/11/337/1615601/sby-pakai-bahasa-perasaan-bukan-bahasa-pikiran-sykAumRQ7s.jpg" expression="full" type="image/jpeg"></media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2017/02/11/337/1615601/sby-pakai-bahasa-perasaan-bukan-bahasa-pikiran-sykAumRQ7s.jpg</image><title></title></images><description>JAKARTA - Sosiolog Universitas Nasional (Unas) Sigit Rochadi menilai, menggunakan medsos bagi pejabat dan mantan   pejabat, memang tidak ada masalah. Namun, akan menjadi masalah karena   dua hal, isi percakapan dan bahasa yang digunakan.
Hal ini terkait dengan aksi Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang  Yudhoyono (SBY) belakangan  ini memang agak sensitif, hal itu dapat  dilihat dari semakin intensnya  dirinya mencurahkan isi hatinya di media  sosial (medsos) khususnya di  akun Twitter-nya.
&quot;Isi percakapan pak SBY kebanyakan mengenai diri sendiri dan  paling  luas kepentingan partainya. Sedangkan bahasa yang digunakan  merupakan  bahasa perasaan, bukan bahasa pikiran atau filosofi. Bahasa  perasaan  itu terlalu personal dan secara tidak langsung mendikotomi  dengan  subyek lain. Sedang bahasa pikiran apalagi filosofi, bicara  tentang  humanisme dan atau moralitas,&quot; kata Sigit kepada Okezone di Jakarta, Jumat 10 Februari 2017.
Cuitannya itu dimulai dari maraknya penyebar berita bohong atau  hoax. Disusul dengan dugaan penyadapan terhadap dirinya dengan Ketua  Umum MUI Ma'aruf Amin sampai terakhir dengan kediamannya yang didemo  sekelompok yang mengatasnamakan mahasiswa.

Sigit Rochadi mengungkapkan SBY sedang memainkan perannya sebagai Playing The Victim atau mencitrakan dirinya sebagai korban.
&quot;Playing The Victim, mencitrakan diri sebagai korban  seperti tahun 2003 lalu. Pencitraan, bahwa yang bersangkutan merasa  dizolimi,&quot; nilainya.
Menurut Sigit hal itu ketika dahulu memang dinilai efektif  sehingga mengantarkannya sebagai orang nomor satu di Indonesia. Namun,  dewasa ini, dinilai sudah tidak efektif lagi melakukan strategi  tersebut.
&quot;Dulu efektif karena yang dilawan penguasa, tapi sekarang tidak kareba rakyat melihatnya sebagai elit/penguasa,&quot; ujar Sigit.
&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAxNy8wMi8wOC8xLzg5OTg3LzAv&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;
</description><content:encoded>JAKARTA - Sosiolog Universitas Nasional (Unas) Sigit Rochadi menilai, menggunakan medsos bagi pejabat dan mantan   pejabat, memang tidak ada masalah. Namun, akan menjadi masalah karena   dua hal, isi percakapan dan bahasa yang digunakan.
Hal ini terkait dengan aksi Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang  Yudhoyono (SBY) belakangan  ini memang agak sensitif, hal itu dapat  dilihat dari semakin intensnya  dirinya mencurahkan isi hatinya di media  sosial (medsos) khususnya di  akun Twitter-nya.
&quot;Isi percakapan pak SBY kebanyakan mengenai diri sendiri dan  paling  luas kepentingan partainya. Sedangkan bahasa yang digunakan  merupakan  bahasa perasaan, bukan bahasa pikiran atau filosofi. Bahasa  perasaan  itu terlalu personal dan secara tidak langsung mendikotomi  dengan  subyek lain. Sedang bahasa pikiran apalagi filosofi, bicara  tentang  humanisme dan atau moralitas,&quot; kata Sigit kepada Okezone di Jakarta, Jumat 10 Februari 2017.
Cuitannya itu dimulai dari maraknya penyebar berita bohong atau  hoax. Disusul dengan dugaan penyadapan terhadap dirinya dengan Ketua  Umum MUI Ma'aruf Amin sampai terakhir dengan kediamannya yang didemo  sekelompok yang mengatasnamakan mahasiswa.

Sigit Rochadi mengungkapkan SBY sedang memainkan perannya sebagai Playing The Victim atau mencitrakan dirinya sebagai korban.
&quot;Playing The Victim, mencitrakan diri sebagai korban  seperti tahun 2003 lalu. Pencitraan, bahwa yang bersangkutan merasa  dizolimi,&quot; nilainya.
Menurut Sigit hal itu ketika dahulu memang dinilai efektif  sehingga mengantarkannya sebagai orang nomor satu di Indonesia. Namun,  dewasa ini, dinilai sudah tidak efektif lagi melakukan strategi  tersebut.
&quot;Dulu efektif karena yang dilawan penguasa, tapi sekarang tidak kareba rakyat melihatnya sebagai elit/penguasa,&quot; ujar Sigit.
&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAxNy8wMi8wOC8xLzg5OTg3LzAv&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;
</content:encoded></item></channel></rss>
