<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>TOP Files: Penasaran! Dari Mana Sih Istilah Bule Berasal?</title><description>Sebutan bule itu sendiri kalau merujuk pada KBBI IV, merupakan istilah slang atau istilah gaul dari kata dasar &amp;ldquo;bulai&amp;rdquo;.</description><link>https://news.okezone.com/read/2017/02/14/337/1617342/top-files-penasaran-dari-mana-sih-istilah-bule-berasal</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2017/02/14/337/1617342/top-files-penasaran-dari-mana-sih-istilah-bule-berasal"/><item><title>TOP Files: Penasaran! Dari Mana Sih Istilah Bule Berasal?</title><link>https://news.okezone.com/read/2017/02/14/337/1617342/top-files-penasaran-dari-mana-sih-istilah-bule-berasal</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2017/02/14/337/1617342/top-files-penasaran-dari-mana-sih-istilah-bule-berasal</guid><pubDate>Selasa 14 Februari 2017 07:14 WIB</pubDate><dc:creator>Randy Wirayudha</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2017/02/13/337/1617342/top-files-penasaran-dari-mana-sih-istilah-bule-berasal-HjH0l0MNya.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi bule atau orang asing berkulit putih</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2017/02/13/337/1617342/top-files-penasaran-dari-mana-sih-istilah-bule-berasal-HjH0l0MNya.jpg</image><title>Ilustrasi bule atau orang asing berkulit putih</title></images><description>BEBERAPA waktu lalu kala penulis tengah bertugas di Singapura, di suatu malam di depan hotel untuk mengisap tembakau kretek, ada seorang &amp;lsquo;bule&amp;rsquo; asal Siprus yang juga asyik merokok dan tiba-tiba menyapa. Ternyata sang bule yang namanya Valentino Lysiotis itu, lagi transit sehari menunggu pesawat untuk ke Jakarta.

Sudah beberapa kali dia mengaku ke Indonesia, baik ke Jakarta maupun Bandung. Tapi ada satu pertanyaan saat ngobrol dengan bahasa Inggris, yang cukup unik dan patut penulis cari tahu asal-usulnya. Dia nanya, kenapa orang Indonesia menyebut orang asing dengan kata-kata &amp;lsquo;bule&amp;rsquo;?

&amp;ldquo;Ya, sebutan orang bule sepertinya tidak hanya untuk menyebut orang asing berkulit putih. Kadang orang Indonesia ada yang menyebut orang asing berkulit hitam itu dengan sebutan bule juga &amp;ndash; bule Afrika,&amp;rdquo; jawab penulis sekenanya ketika itu.

Nah berangkat dari situ, tertarik pula Okezone menggali dari berbagai sumber, tentang dari mana sih sebutan bule itu? Well, istilah bule ternyata awalnya untuk membedakan orang Indonesia pribumi dengan &amp;ldquo;orang Indo&amp;rdquo; atau yang punya darah campuran Eropa-Indonesia.

Sebutan bule itu sendiri kalau merujuk pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) IV, merupakan istilah slang atau istilah gaul dari kata dasar &amp;ldquo;bulai&amp;rdquo;. Istilah bulai ini sebenarnya untuk menyebut kulit dan rambut putih sebagai kekurangan pigmen, atau dengan kata lain kelainan albinisme/albino.

Namun pada perkembangannya, istilah bule lebih sering digunakan untuk merujuk pada orang asing berkulit putih asal Australia, Eropa dan Amerika &amp;ndash; bukan lagi &amp;ldquo;orang Indo&amp;rdquo;. Penyebutan ini marak dan sudah jadi kebiasaan, lantaran simple dan gampang diingat.
&amp;nbsp;
Beberapa orang asing memang diketahui keberatan dengan penyebutan bule. Tapi justru konon istilah bule ini dipopulerkan orang asing, seorang peneliti tentang Indonesia bernama Benedict Anderson pada era 1960-an.

Dulu sebelum marak sebutan bule, untuk menyebut orang asing justru orang Indonesia menyebut &amp;ldquo;Tuan&amp;rdquo;. Buat Anderson, justru sebutan &amp;ldquo;Tuan&amp;rdquo; itu tidak mengenakkan.

Buatnya, justru orang pribumi seolah bertindak rasis jika menyebut orang kulit putih itu dengan sebutan &amp;ldquo;Tuan&amp;rdquo;. Makanya, Anderson memilih mempopulerkan kata &amp;ldquo;bule&amp;rdquo;, kendati penyebutan itu sudah lebih dulu eksis 10 tahun sebelumnya.

Memang lebih sering penyebutan bule digunakan untuk bahasa gaul atau bahasa nonformal. Namun Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) ternyata pernah menyematkan kata &amp;ldquo;bule&amp;rdquo; pada sebuah forum resmi di Istana Merdeka.

Tepatnya pada 3 Januari 2017 ketika Presiden Jokowi mengundang para pemimpin redaksi media massa nasional dalam sebuah jamuan makan siang, Presiden Jokowi menyatakan berharap ada orang bule profesional yang bisa memimpin Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

&amp;ldquo;Saya bahkan ingin ada tiga atau empat bule profesional yang pemimpin perusahaan BUMN, agar orang-orang kita belajar, serta termotivasi dan berkompetisi dengan adanya orang-orang asing itu,&amp;rdquo; cetus Presiden Jokowi.

Oke, kita takkan meneruskan urusan politik negara macam ini dan fokus kembali pada sebutan bule ya. Apalagi sebenarnya sebutan khusus untuk orang asing ini, tidak hanya marak di Indonesia, tapi juga negara-negara lain.

Seperti di Jepang, orang asing kulit putih disebutnya &amp;ldquo;gaijin&amp;rdquo;. Di Malaysia bahkan disebutnya &amp;ldquo;Mat Salleh&amp;rdquo;. Di Thailand &amp;ldquo;Farang&amp;rdquo;, di China &amp;ldquo;Gweilo&amp;rdquo; (bahasa Kanton) atau &amp;ldquo;Ang Moh&amp;rdquo; (bahasa Hokkian), di Korea &amp;ldquo;Kojangi&amp;rdquo;, di India &amp;ldquo;Gora&amp;rdquo;, di Arab &amp;ldquo;Khawaja&amp;rdquo;, di Meksiko juga ada sebutan &amp;ldquo;Gringo&amp;rdquo;.
&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAxNi8wOC8yOC8yMi84MDgyMi8zLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;</description><content:encoded>BEBERAPA waktu lalu kala penulis tengah bertugas di Singapura, di suatu malam di depan hotel untuk mengisap tembakau kretek, ada seorang &amp;lsquo;bule&amp;rsquo; asal Siprus yang juga asyik merokok dan tiba-tiba menyapa. Ternyata sang bule yang namanya Valentino Lysiotis itu, lagi transit sehari menunggu pesawat untuk ke Jakarta.

Sudah beberapa kali dia mengaku ke Indonesia, baik ke Jakarta maupun Bandung. Tapi ada satu pertanyaan saat ngobrol dengan bahasa Inggris, yang cukup unik dan patut penulis cari tahu asal-usulnya. Dia nanya, kenapa orang Indonesia menyebut orang asing dengan kata-kata &amp;lsquo;bule&amp;rsquo;?

&amp;ldquo;Ya, sebutan orang bule sepertinya tidak hanya untuk menyebut orang asing berkulit putih. Kadang orang Indonesia ada yang menyebut orang asing berkulit hitam itu dengan sebutan bule juga &amp;ndash; bule Afrika,&amp;rdquo; jawab penulis sekenanya ketika itu.

Nah berangkat dari situ, tertarik pula Okezone menggali dari berbagai sumber, tentang dari mana sih sebutan bule itu? Well, istilah bule ternyata awalnya untuk membedakan orang Indonesia pribumi dengan &amp;ldquo;orang Indo&amp;rdquo; atau yang punya darah campuran Eropa-Indonesia.

Sebutan bule itu sendiri kalau merujuk pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) IV, merupakan istilah slang atau istilah gaul dari kata dasar &amp;ldquo;bulai&amp;rdquo;. Istilah bulai ini sebenarnya untuk menyebut kulit dan rambut putih sebagai kekurangan pigmen, atau dengan kata lain kelainan albinisme/albino.

Namun pada perkembangannya, istilah bule lebih sering digunakan untuk merujuk pada orang asing berkulit putih asal Australia, Eropa dan Amerika &amp;ndash; bukan lagi &amp;ldquo;orang Indo&amp;rdquo;. Penyebutan ini marak dan sudah jadi kebiasaan, lantaran simple dan gampang diingat.
&amp;nbsp;
Beberapa orang asing memang diketahui keberatan dengan penyebutan bule. Tapi justru konon istilah bule ini dipopulerkan orang asing, seorang peneliti tentang Indonesia bernama Benedict Anderson pada era 1960-an.

Dulu sebelum marak sebutan bule, untuk menyebut orang asing justru orang Indonesia menyebut &amp;ldquo;Tuan&amp;rdquo;. Buat Anderson, justru sebutan &amp;ldquo;Tuan&amp;rdquo; itu tidak mengenakkan.

Buatnya, justru orang pribumi seolah bertindak rasis jika menyebut orang kulit putih itu dengan sebutan &amp;ldquo;Tuan&amp;rdquo;. Makanya, Anderson memilih mempopulerkan kata &amp;ldquo;bule&amp;rdquo;, kendati penyebutan itu sudah lebih dulu eksis 10 tahun sebelumnya.

Memang lebih sering penyebutan bule digunakan untuk bahasa gaul atau bahasa nonformal. Namun Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) ternyata pernah menyematkan kata &amp;ldquo;bule&amp;rdquo; pada sebuah forum resmi di Istana Merdeka.

Tepatnya pada 3 Januari 2017 ketika Presiden Jokowi mengundang para pemimpin redaksi media massa nasional dalam sebuah jamuan makan siang, Presiden Jokowi menyatakan berharap ada orang bule profesional yang bisa memimpin Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

&amp;ldquo;Saya bahkan ingin ada tiga atau empat bule profesional yang pemimpin perusahaan BUMN, agar orang-orang kita belajar, serta termotivasi dan berkompetisi dengan adanya orang-orang asing itu,&amp;rdquo; cetus Presiden Jokowi.

Oke, kita takkan meneruskan urusan politik negara macam ini dan fokus kembali pada sebutan bule ya. Apalagi sebenarnya sebutan khusus untuk orang asing ini, tidak hanya marak di Indonesia, tapi juga negara-negara lain.

Seperti di Jepang, orang asing kulit putih disebutnya &amp;ldquo;gaijin&amp;rdquo;. Di Malaysia bahkan disebutnya &amp;ldquo;Mat Salleh&amp;rdquo;. Di Thailand &amp;ldquo;Farang&amp;rdquo;, di China &amp;ldquo;Gweilo&amp;rdquo; (bahasa Kanton) atau &amp;ldquo;Ang Moh&amp;rdquo; (bahasa Hokkian), di Korea &amp;ldquo;Kojangi&amp;rdquo;, di India &amp;ldquo;Gora&amp;rdquo;, di Arab &amp;ldquo;Khawaja&amp;rdquo;, di Meksiko juga ada sebutan &amp;ldquo;Gringo&amp;rdquo;.
&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAxNi8wOC8yOC8yMi84MDgyMi8zLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;</content:encoded></item></channel></rss>
