<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Wow! Guru SMP Ini Koleksi Lukisan Hingga Ratusan</title><description>Guru SMP bernama Mahmud Yunus bahkan sudah menyulap rumahnya menjadi rumah seni untuk publik.</description><link>https://news.okezone.com/read/2017/02/15/519/1619198/wow-guru-smp-ini-koleksi-lukisan-hingga-ratusan</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2017/02/15/519/1619198/wow-guru-smp-ini-koleksi-lukisan-hingga-ratusan"/><item><title>Wow! Guru SMP Ini Koleksi Lukisan Hingga Ratusan</title><link>https://news.okezone.com/read/2017/02/15/519/1619198/wow-guru-smp-ini-koleksi-lukisan-hingga-ratusan</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2017/02/15/519/1619198/wow-guru-smp-ini-koleksi-lukisan-hingga-ratusan</guid><pubDate>Rabu 15 Februari 2017 16:05 WIB</pubDate><dc:creator>Agregasi Jawapos.com</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2017/02/15/519/1619198/wow-guru-smp-ini-koleksi-lukisan-hingga-ratusan-jefFR6TbD7.jpeg" expression="full" type="image/jpeg">Mahmud Yunus, guru SMP yang koleksi ratusan lukisan (Foto: Jos Rizal/Jawa Pos)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2017/02/15/519/1619198/wow-guru-smp-ini-koleksi-lukisan-hingga-ratusan-jefFR6TbD7.jpeg</image><title>Mahmud Yunus, guru SMP yang koleksi ratusan lukisan (Foto: Jos Rizal/Jawa Pos)</title></images><description>SIDOARJO - Demi hobi dan kecintaannya terhadap seni, seorang guru SMP bersedia merogoh kocek begitu dalam untuk menggelontorkan banyak uang demi koleksi ratusan lukisan.
Guru SMP bernama Mahmud Yunus bahkan sudah menyulap rumahnya menjadi rumah seni untuk publik. Sehingga tak hanya dirinya seorang yang bisa menikmati hobinya, tapi juga orang-orang yang memiliki minat serupa dengannya.
Di bawah rindangnya pepohonan bambu, di belakang permukiman Pondok Mutiara, berdiri rumah Mahmud Yunus yang elok. Bukan hanya dekorasinya yang terlihat berbeda dari rumah-rumah lain di blok CG. Namun, lukisan-lukisan yang terpampang di dinding rumah tersebut membuatnya terlihat memiliki nilai lebih. Ukiran kayu yang membalut rumah itu semakin menambah nuansa artistik.
&amp;ldquo;Selamat datang di padepokan saya. Memang saya desain klasik seperti ini karena saya suka seni,&amp;rsquo;&amp;rsquo; kata Willy, panggilan Mahmud Yunus, saat menyambut Jawa Pos.
Dia sengaja menjadikan rumahnya sebagai galeri. Dia kemudian menunjukkan galeri itu. Ada banyak sekali lukisan. Besar dan lebarnya beragam. Aliran lukisannya pun berwarna. Mulai lukisan realis yang berhubungan dengan kehidupan sehari-hari, hiperealis yang memiliki resolusi tinggi, lukisan abstrak yang menggunakan warna dan bentuk tidak wajar, hingga lukisan ekspresionis yang menggunakan gambaran emosi kejiwaan pada setiap goresannya. &amp;ldquo;Dari semua lukisan itu, ada tiga yang paling saya suka,&amp;rsquo;&amp;rsquo; ungkapnya.
Pertama, lukisan kali pertama yang dibeli pada 1989 karya Jansen Jasien. Lukisan itu menggambarkan sesuatu dengan segala aktivitas masyarakat di mulut bangunan. Mulai masyarakat biasa yang berlalu-lalang hingga petani yang membopong pancing dan ikan. Hitam putih warnanya. Bukan tanpa sebab lukisan itu menjadi salah satu yang disukai. &amp;ldquo;Ini kisah pertama saya mencintai seni rupa,&amp;rsquo;&amp;rsquo; ungkapnya.
Perjumpaan Willy pada seni rupa terjadi sejak menempuh kuliah di jurusan Sejarah Antropologi IKIP Surabaya (kini Unesa, Red). Tepatnya pada 1984. Bukan suasana kampus yang membawanya pada seni rupa, tetapi kawan-kawannya di Balai Pemuda. &amp;ldquo;Karena sering kumpul dengan seniman dan melihat pameran di sana, saya jadi kepincut dengan lukisan,&amp;rsquo;&amp;rsquo; tuturnya.
Willy selalu meluangkan waktu dengan kerabat dan koleganya sesama penyuka seni. Dari beberapa kesenian seperti musik dan sastra, bagi dia, seni rupa lebih berkesan. Sejak 1984 dia mengamati beragam seni hingga akhirnya pada 1989 memutuskan membeli lukisan Jansen Jasien.
&amp;ldquo;Awalnya lihat-lihat lukisan dan butuh lama untuk memberanikan diri meluangkan uang dan membeli lukisan. Ternyata ada kesenangan dan kepuasan sendiri.&amp;rsquo;&amp;rsquo; ungkapnya. Willy pun membeli lukisan itu dengan dua kali cicilan.
Lukisan kedua yang paling disuka adalah hasil goresan Andy Solaz pada 1992. Lukisan Andy bergaya realis. Yang dimiliki Willy adalah gambar seorang seniman ludruk ternama, Cak Markeso. Dia begitu menggemari Cak Markeso. Selain itu, dia begitu menggemari karya-karya Andy Solaz dalam setiap pameran seni rupa yang pernah diikuti. Karena itu, dia membelinya. &amp;ldquo;Meski dilukis pada 1992, saya baru bisa mendapatkannya dari sang pelukis pada 2001 dan langsung saya beli dengan harga yang sudah ditawarkan,&amp;rsquo;&amp;rsquo; jelasnya.
Selanjutnya, Willy melangkah menuju ruang tidurnya. Dia membuka pintu yang bersebelahan dengan pintu galeri itu. Merangkak naik ke dipan tidurnya, kemudian meraih lukisan pria tua yang tengah duduk menyamping. Itulah lukisan sosok Cak Markeso. Dia bercerita, usaha untuk mendapatkan lukisan itu sedikit susah. Sama seperti lukisan pertamanya, dia membeli lukisan tersebut dengan mencicil dua kali. Dia merasa beruntung bisa memperoleh lukisan itu.
&amp;ldquo;Tentang harga? Yang jelas, saya harus mencicil untuk mendapatkan lukisan ini,&amp;rsquo;&amp;rsquo; katanya, lantas tersenyum.
Lukisan yang menggambarkan seniman Cak Markeso itu berukuran 1 x 1,5 meter. Dia memajangnya baik-baik di dinding kamarnya. Lukisan tersebut masih terbungkus plastik dan tampak terawat dengan baik. &amp;rsquo;&amp;rsquo;Ditawar berapa pun nggak akan saya jual,&amp;rsquo;&amp;rsquo; ucapnya.
Karya ketiga yang disukai adalah lukisan Cak Kandar. Seorang perupa yang namanya menggema hingga tingkat internasional. Dia merupakan perupa yang menggunakan bulu binatang sebagai media lukisnya. &amp;ldquo;Ini lukisannya,&amp;rsquo;&amp;rsquo; tambah Willy sambil menunjukkan lukisan itu dari bilik kamarnya.
Willy memang sengaja menyimpan lukisan-lukisan yang dianggap paling baik dan berkesan di dalam kamarnya. Kenapa, takut dicuri? Willy hanya ngakak tanpa memberikan jawaban.
Lukisan Cak Kandar menggambarkan empat burung yang beterbangan di ranting. Sang pelukis tidak menggunakan tinta maupun perwarnaan dalam melukisnya. Sang pelukis lebih memadukan dan menyusun warna-warna bulu hingga membentuk gambaran burung itu sendiri. Ada beragam warna bulu yang digunakan. &amp;ldquo;Jadi, lukisan ini tidak dilukis, tetapi disusun dari warna-warna bulu burung yang ada. Asyik bukan?&amp;rsquo;&amp;rsquo; ungkapnya.
Willy menyebut dua digit ketika ditanya harga lukisan itu. Sebab, selain tua, lukisan itu didapat dengan susah payah. Lukisan tersebut sejatinya dipersembahkan sang pelukis bagi Warsitao Rasman, gubernur Kalteng saat itu. Namun, keluarga sang gubernur melelangnya saat tutup usia beberapa tahun silam. Dari pelelangan itulah Willy berhasil membelinya. &amp;ldquo;Susah sekali dapatkan lukisan ini,&amp;rsquo;&amp;rsquo; tuturnya.
Hingga kini, ada lebih dari 300 koleksi lukisan yang dimiliki. Lukisan-lukisan tersebut terdiri atas beragam aliran dan dilukis sejumlah perupa tanah air. Medianya pun beragam. Mulai lukisan yang digores dengan cat minyak, akrilik, hingga bulu hewan.
Selain penikmat, sejak 2004 Willy mengakomodasi para pelukis untuk mengadakan pameran di sejumlah daerah. Mulai di Graha Pena, Balai Pemuda, House of Sampoerna, Gedung Bank Indonesia Surabaya dan Bank Indonesia Jakarta, hingga sejumlah kota di tanah air.
Pada sekitar 2000&amp;ndash;2004 Willy mendirikan kampung seni di Pondok Mutiara bersama beberapa seniman lainnya. Mulai seniman tarik suara, pelukis, hingga pemahat.
Sejak saat itu dia mendedikasikan halaman rumahnya bersama perupa lainnya untuk membantu mengenalkan karya-karya seni warga Sidoarjo. Untuk memperingati hari jadi Sidoarjo, misalnya. Sabtu, 11 Februari 2017 malam dia dan Amdo Brada, seorang pelukis sekaligus tetangga sebelahnya, menyisihkan sebagian rumahnya untuk tempat berkunjung bagi warga. Festival seni tengah dihelat di kampung itu hingga 25 Februari mendatang.
Sebagian rumahnya dijadikan tempat untuk memajang lukisan seniman-seniman asal Jawa Timur. Di antaranya, karya Moses Rusdi dan Bagas Karuniaputra. &amp;ldquo;Yang jelas, saya ingin melihat, membeli, menikmati, dan memperkenalkan seni buatan anak bangsa,&amp;rsquo;&amp;rsquo; papar pria yang juga seorang guru itu. (Jos Rizal)</description><content:encoded>SIDOARJO - Demi hobi dan kecintaannya terhadap seni, seorang guru SMP bersedia merogoh kocek begitu dalam untuk menggelontorkan banyak uang demi koleksi ratusan lukisan.
Guru SMP bernama Mahmud Yunus bahkan sudah menyulap rumahnya menjadi rumah seni untuk publik. Sehingga tak hanya dirinya seorang yang bisa menikmati hobinya, tapi juga orang-orang yang memiliki minat serupa dengannya.
Di bawah rindangnya pepohonan bambu, di belakang permukiman Pondok Mutiara, berdiri rumah Mahmud Yunus yang elok. Bukan hanya dekorasinya yang terlihat berbeda dari rumah-rumah lain di blok CG. Namun, lukisan-lukisan yang terpampang di dinding rumah tersebut membuatnya terlihat memiliki nilai lebih. Ukiran kayu yang membalut rumah itu semakin menambah nuansa artistik.
&amp;ldquo;Selamat datang di padepokan saya. Memang saya desain klasik seperti ini karena saya suka seni,&amp;rsquo;&amp;rsquo; kata Willy, panggilan Mahmud Yunus, saat menyambut Jawa Pos.
Dia sengaja menjadikan rumahnya sebagai galeri. Dia kemudian menunjukkan galeri itu. Ada banyak sekali lukisan. Besar dan lebarnya beragam. Aliran lukisannya pun berwarna. Mulai lukisan realis yang berhubungan dengan kehidupan sehari-hari, hiperealis yang memiliki resolusi tinggi, lukisan abstrak yang menggunakan warna dan bentuk tidak wajar, hingga lukisan ekspresionis yang menggunakan gambaran emosi kejiwaan pada setiap goresannya. &amp;ldquo;Dari semua lukisan itu, ada tiga yang paling saya suka,&amp;rsquo;&amp;rsquo; ungkapnya.
Pertama, lukisan kali pertama yang dibeli pada 1989 karya Jansen Jasien. Lukisan itu menggambarkan sesuatu dengan segala aktivitas masyarakat di mulut bangunan. Mulai masyarakat biasa yang berlalu-lalang hingga petani yang membopong pancing dan ikan. Hitam putih warnanya. Bukan tanpa sebab lukisan itu menjadi salah satu yang disukai. &amp;ldquo;Ini kisah pertama saya mencintai seni rupa,&amp;rsquo;&amp;rsquo; ungkapnya.
Perjumpaan Willy pada seni rupa terjadi sejak menempuh kuliah di jurusan Sejarah Antropologi IKIP Surabaya (kini Unesa, Red). Tepatnya pada 1984. Bukan suasana kampus yang membawanya pada seni rupa, tetapi kawan-kawannya di Balai Pemuda. &amp;ldquo;Karena sering kumpul dengan seniman dan melihat pameran di sana, saya jadi kepincut dengan lukisan,&amp;rsquo;&amp;rsquo; tuturnya.
Willy selalu meluangkan waktu dengan kerabat dan koleganya sesama penyuka seni. Dari beberapa kesenian seperti musik dan sastra, bagi dia, seni rupa lebih berkesan. Sejak 1984 dia mengamati beragam seni hingga akhirnya pada 1989 memutuskan membeli lukisan Jansen Jasien.
&amp;ldquo;Awalnya lihat-lihat lukisan dan butuh lama untuk memberanikan diri meluangkan uang dan membeli lukisan. Ternyata ada kesenangan dan kepuasan sendiri.&amp;rsquo;&amp;rsquo; ungkapnya. Willy pun membeli lukisan itu dengan dua kali cicilan.
Lukisan kedua yang paling disuka adalah hasil goresan Andy Solaz pada 1992. Lukisan Andy bergaya realis. Yang dimiliki Willy adalah gambar seorang seniman ludruk ternama, Cak Markeso. Dia begitu menggemari Cak Markeso. Selain itu, dia begitu menggemari karya-karya Andy Solaz dalam setiap pameran seni rupa yang pernah diikuti. Karena itu, dia membelinya. &amp;ldquo;Meski dilukis pada 1992, saya baru bisa mendapatkannya dari sang pelukis pada 2001 dan langsung saya beli dengan harga yang sudah ditawarkan,&amp;rsquo;&amp;rsquo; jelasnya.
Selanjutnya, Willy melangkah menuju ruang tidurnya. Dia membuka pintu yang bersebelahan dengan pintu galeri itu. Merangkak naik ke dipan tidurnya, kemudian meraih lukisan pria tua yang tengah duduk menyamping. Itulah lukisan sosok Cak Markeso. Dia bercerita, usaha untuk mendapatkan lukisan itu sedikit susah. Sama seperti lukisan pertamanya, dia membeli lukisan tersebut dengan mencicil dua kali. Dia merasa beruntung bisa memperoleh lukisan itu.
&amp;ldquo;Tentang harga? Yang jelas, saya harus mencicil untuk mendapatkan lukisan ini,&amp;rsquo;&amp;rsquo; katanya, lantas tersenyum.
Lukisan yang menggambarkan seniman Cak Markeso itu berukuran 1 x 1,5 meter. Dia memajangnya baik-baik di dinding kamarnya. Lukisan tersebut masih terbungkus plastik dan tampak terawat dengan baik. &amp;rsquo;&amp;rsquo;Ditawar berapa pun nggak akan saya jual,&amp;rsquo;&amp;rsquo; ucapnya.
Karya ketiga yang disukai adalah lukisan Cak Kandar. Seorang perupa yang namanya menggema hingga tingkat internasional. Dia merupakan perupa yang menggunakan bulu binatang sebagai media lukisnya. &amp;ldquo;Ini lukisannya,&amp;rsquo;&amp;rsquo; tambah Willy sambil menunjukkan lukisan itu dari bilik kamarnya.
Willy memang sengaja menyimpan lukisan-lukisan yang dianggap paling baik dan berkesan di dalam kamarnya. Kenapa, takut dicuri? Willy hanya ngakak tanpa memberikan jawaban.
Lukisan Cak Kandar menggambarkan empat burung yang beterbangan di ranting. Sang pelukis tidak menggunakan tinta maupun perwarnaan dalam melukisnya. Sang pelukis lebih memadukan dan menyusun warna-warna bulu hingga membentuk gambaran burung itu sendiri. Ada beragam warna bulu yang digunakan. &amp;ldquo;Jadi, lukisan ini tidak dilukis, tetapi disusun dari warna-warna bulu burung yang ada. Asyik bukan?&amp;rsquo;&amp;rsquo; ungkapnya.
Willy menyebut dua digit ketika ditanya harga lukisan itu. Sebab, selain tua, lukisan itu didapat dengan susah payah. Lukisan tersebut sejatinya dipersembahkan sang pelukis bagi Warsitao Rasman, gubernur Kalteng saat itu. Namun, keluarga sang gubernur melelangnya saat tutup usia beberapa tahun silam. Dari pelelangan itulah Willy berhasil membelinya. &amp;ldquo;Susah sekali dapatkan lukisan ini,&amp;rsquo;&amp;rsquo; tuturnya.
Hingga kini, ada lebih dari 300 koleksi lukisan yang dimiliki. Lukisan-lukisan tersebut terdiri atas beragam aliran dan dilukis sejumlah perupa tanah air. Medianya pun beragam. Mulai lukisan yang digores dengan cat minyak, akrilik, hingga bulu hewan.
Selain penikmat, sejak 2004 Willy mengakomodasi para pelukis untuk mengadakan pameran di sejumlah daerah. Mulai di Graha Pena, Balai Pemuda, House of Sampoerna, Gedung Bank Indonesia Surabaya dan Bank Indonesia Jakarta, hingga sejumlah kota di tanah air.
Pada sekitar 2000&amp;ndash;2004 Willy mendirikan kampung seni di Pondok Mutiara bersama beberapa seniman lainnya. Mulai seniman tarik suara, pelukis, hingga pemahat.
Sejak saat itu dia mendedikasikan halaman rumahnya bersama perupa lainnya untuk membantu mengenalkan karya-karya seni warga Sidoarjo. Untuk memperingati hari jadi Sidoarjo, misalnya. Sabtu, 11 Februari 2017 malam dia dan Amdo Brada, seorang pelukis sekaligus tetangga sebelahnya, menyisihkan sebagian rumahnya untuk tempat berkunjung bagi warga. Festival seni tengah dihelat di kampung itu hingga 25 Februari mendatang.
Sebagian rumahnya dijadikan tempat untuk memajang lukisan seniman-seniman asal Jawa Timur. Di antaranya, karya Moses Rusdi dan Bagas Karuniaputra. &amp;ldquo;Yang jelas, saya ingin melihat, membeli, menikmati, dan memperkenalkan seni buatan anak bangsa,&amp;rsquo;&amp;rsquo; papar pria yang juga seorang guru itu. (Jos Rizal)</content:encoded></item></channel></rss>
