<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Siti Aisyah, Tersangka Pembunuh Kakak Tiri Kim Jong-un Pernah Tinggal di Jakarta Barat</title><description>Tersangka pembunuh kakak tiri Presiden Korut, Siti Aisyah pernah tinggal di Jalan Angke Indah, Kecamatan Tambora, Jakarta Barat.</description><link>https://news.okezone.com/read/2017/02/17/18/1620816/siti-aisyah-tersangka-pembunuh-kakak-tiri-kim-jong-un-pernah-tinggal-di-jakarta-barat</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2017/02/17/18/1620816/siti-aisyah-tersangka-pembunuh-kakak-tiri-kim-jong-un-pernah-tinggal-di-jakarta-barat"/><item><title>Siti Aisyah, Tersangka Pembunuh Kakak Tiri Kim Jong-un Pernah Tinggal di Jakarta Barat</title><link>https://news.okezone.com/read/2017/02/17/18/1620816/siti-aisyah-tersangka-pembunuh-kakak-tiri-kim-jong-un-pernah-tinggal-di-jakarta-barat</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2017/02/17/18/1620816/siti-aisyah-tersangka-pembunuh-kakak-tiri-kim-jong-un-pernah-tinggal-di-jakarta-barat</guid><pubDate>Jum'at 17 Februari 2017 10:28 WIB</pubDate><dc:creator>Agregasi Jawapos.com</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2017/02/17/18/1620816/siti-aisyah-tersangka-pembunuh-kakak-tiri-kim-jong-un-pernah-tinggal-di-jakarta-barat-DVFCaazpZS.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Siti Aisyah, diduga pelaku kedua pembunuhan Kim Jong-nam. (Foto: Jawa Pos/CCTV)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2017/02/17/18/1620816/siti-aisyah-tersangka-pembunuh-kakak-tiri-kim-jong-un-pernah-tinggal-di-jakarta-barat-DVFCaazpZS.jpg</image><title>Siti Aisyah, diduga pelaku kedua pembunuhan Kim Jong-nam. (Foto: Jawa Pos/CCTV)</title></images><description>JAKARTA - Kematian Kim Jong-nam, kakak tiri pemimpin tertinggi Korea Utara Kim Jong-un, menyeret nama perempuan asal Indonesia, Siti Aishah. Belum jelas apakah pelaku kedua yang ditangkap memang WNI bernama Siti ini atau bukan. Sebab bisa saja dia memakai data palsu.
Namun dari data diri yang termuat dalam paspornya, pihak imigrasi membenarkan adanya profil tersebut. Seorang wartawan Jawa Pos kemudian berhasil menelusuri jejak Siti Aisyah hingga ke mantan rumah majikan sekaligus orangtua suaminya.
Menelusuri jejak Siti Aisyah bukan perkara mudah. Masalahnya, nama yang dirilis pihak kepolisian Malaysia awalnya menyebut Siti Aishah, bukan Siti Aisyah. Oleh karena itu, ketika ditelusuri melalui data kependudukan di Serang, nama Siti Aishah tak ditemukan.
Beruntung, wartawan Jawa Pos Andra Nur Oktaviani yang berada di Malaysia bisa mendapatkan copy paspor warga negara Indonesia (WNI) yang ditangkap di sebuah hotel di Ampang, Kuala Lumpur, Malaysia pada Kamis 16 Februari.

Rumah yang pernah ditinggali Siti Aisyah. (Foto: Jawa Pos)
Di paspor tersebut tertulis nama SITI AISYAH, kelahiran Serang (Jabar), 11 Februari 1992. Dari paspor itu pula diketahui alamat terakhir yang bersangkutan sebelum pergi ke negeri jiran. Dia pernah tinggal di Jalan Angke Indah, Kelurahan Angke, Kecamatan Tambora, Jakarta Barat.
Dari situlah penelusuran jejak Siti Aisyah dimulai. Namun, alamat yang tersebut di paspor itu cukup sulit ditemukan. Pasalnya, alamat rumah tiga lantai tersebut ternyata berada di dalam gang sempit yang hanya bisa dilewati satu sepeda motor.
Setelah bertanya ke sana-kemari, Jawa Pos berhasil menemukan alamat rumah warna merah tersebut. Namun, rupanya, rumah berukuran sekitar 12 x 5 meter itu telah berpindah tangan. Rumah itu dulu adalah milik majikan Aisyah, Liang Kiong, tapi kini sudah menjadi milik orang lain.
&amp;rsquo;&amp;rsquo;Ini sekarang tempat konfeksi. Bos saya kontrak rumah ini sejak tiga tahun lalu,&amp;rsquo;&amp;rsquo; kata Anas, 23, salah seorang pekerja di tempat itu, yang menemui wartawan.Anas menyatakan tidak mengenal Siti Aisyah yang paspornya beralamat  di rumah itu. Namun, dia tahu bahwa pemilik rumah tersebut sebelumnya  adalah Liang Kiong.
Penelusuran berlanjut ke ketua RT setempat, Rahmat Yusri. Rahmat  tidak hanya membenarkan keberadaan Siti Aisyah di rumah itu. Dia juga  tahu hubungan Siti dengan Liang Kiong, sang pemilik rumah.
Menurut dia, Liang Kiong merupakan pengusaha konfeksi sekaligus  makelar rumah yang sudah 19 tahun tinggal di rumah gang sempit itu.  Sedangkan Siti merupakan gadis desa yang pernah menjadi pembantu rumah  tangga di rumah tersebut.
&amp;rsquo;&amp;rsquo;Memang (Siti) orangnya cantik. Putranya Pak Liang Kiong, namanya  Gunawan Hasyim, jadi tertarik. Mereka akhirnya menikah. Saya tidak ingat  persis kapan nikahnya, tapi sekitar pertengahan 2000-an,&amp;rsquo;&amp;rsquo; ungkap pria  48 tahun itu.
Hanya, Rahmat mengaku tidak mengenal dengan baik keluarga Liang Kiong  maupun pribadi Siti Aisyah. Keluarga Tionghoa asal Pontianak tersebut  jarang bergaul dengan warga sekitar. Mereka hanya berhubungan dengan  Rahmat bila ada keperluan administrasi kependudukan.
&amp;rsquo;&amp;rsquo;Siti juga jarang keluar dari rumah. Keluarnya kalau pas belanja ke pasar,&amp;rsquo;&amp;rsquo; ucapnya.
Pada 2009, kata Rahmat, Siti dan sang suami sempat berangkat ke  Malaysia untuk bekerja di sana. Namun, setelah itu hubungan rumah tangga  mereka mulai retak.
&amp;rsquo;&amp;rsquo;Malah, yang saya tahu, mereka sudah cerai. Anak mereka yang mengurus  keluarga mantan suaminya,&amp;rsquo;&amp;rsquo; tutur ketua RT yang sudah menjabat selama 21 tahun  itu.Tak berapa lama, bisnis konfeksi Liang Kiong pun bangkrut. Dia lalu   menjual rumah yang sudah ditinggali selama 19 tahun tersebut. Sejak itu   Rahmat kehilangan kontak dengan keluarga Liang Kiong. Dia hanya sempat   bertemu beberapa kali saat mereka mengurus surat pindah.
Rahmat juga mengantarkan Jawa Pos menemui kerabat Liang Kiong yang   pernah tinggal di rumah Tambora. Dia bernama Tjhai Hon Sin. Rumahnya tak   terlalu jauh, sekira10 menit dari rumah lama Liang Kiong.
Setelah beberapa kali pintu pagar besi rumah itu diketuk, seorang   pria membuka dengan ekspresi ketus. &amp;rsquo;&amp;rsquo;Ada apa ya?&amp;rsquo;&amp;rsquo; katanya singkat.
Dia beberapa kali terlihat emosional saat Jawa Pos berusaha   menjelaskan maksud menemui dirinya. Namun, ekspresinya perlahan melunak.   &amp;rsquo;&amp;rsquo;Maaf, tadi sedikit emosi. Saya kira ada apa kok malam begini datang   ke rumah saya,&amp;rsquo;&amp;rsquo; ujar pria yang mengaku bernama Hendra Gunawan itu.
Setelah tenang, dia pun mulai bercerita soal Siti Aisyah. Hendra tahu   banyak tentang Aisyah karena dirinya juga menantu Liang Kiong. &amp;rsquo;&amp;rsquo;Siti   Aisyah itu pegawai mertua saya yang akhirnya dinikahi Koko (Gunawan   Hasyim),&amp;rsquo;&amp;rsquo; tutur Hendra.
Namun, keluarga Liang Kiong sudah putus hubungan dengan Aisyah sejak     enam tahun lalu. Tepatnya setelah Gunawan Hasyim mengatakan kepada     ayahnya (Liang Kiong) bahwa Aisyah punya pria selingkuhan saat bekerja     di Malaysia.
&amp;rsquo;&amp;rsquo;Jadi, mereka emang sudah cerai saat anaknya masih satu tahun.     Setelah itu (Siti Aisyah) sama sekali tidak pernah ke sini,&amp;rsquo;&amp;rsquo; ungkap     pria yang akrab disapa Abe itu.Rio Hasyim, anak Aisyah dan Gunawan Hasyim, diurus kakeknya karena    rasa sayangnya kepada cucu pertamanya tersebut. Namun, karena beberapa    kali gagal berbisnis, Liang Kiong menjadi nomaden. Sekarang tinggal bersama menantunya, Hendra.
&amp;rsquo;&amp;rsquo;Sekarang Papa (Liang Kiong) lagi ke rumah sakit. Kalau Koko    (Gunawan Hasyim), sekarang kerja di Bangkok, Thailand,&amp;rsquo;&amp;rsquo; ungkapnya.
Sementara itu, pencarian data melalui Direktorat Jenderal Imigrasi    Kemenkum HAM membuahkan informasi seputar identitas dan aktivitas Siti    Aisyah. Kemarin Ditjen Imigrasi Kemenkum HAM langsung berkoordinasi    dengan KBRI di Malaysia untuk memperjelas identitas Aisyah.
KBRI sudah meminta bantuan Ditjen Imigrasi untuk mengecek keaslian    paspor bernomor A 9601796 yang diduga milik Aisyah. Sebab, ada    kekhawatiran paspor yang digunakan Aisyah itu berisi data palsu seperti    dalam film-film bertema spionase.
Kepala Bagian Humas dan Umum Ditjen Imigrasi Agung Sampurno    mengungkapkan, dari hasil pengecekan nomor paspor, data dalam dokumen    tersebut valid. Data itu merujuk pada seorang perempuan bernama Siti    Aisyah, kelahiran Serang, 11 Februari 1992. Sesuai dengan data, Aisyah    beralamat di Jalan Angke Indah Gang I, Tambora, Jakarta Barat.
&amp;rsquo;&amp;rsquo;Data yang bersangkutan identik. Iya, rumahnya di Tambora itu,&amp;rsquo;&amp;rsquo; ujar Agung yang dimintai konfirmasi kemarin.Imigrasi memang hanya bertugas memastikan asli tidaknya paspor     Aisyah. Dari catatan imigrasi, paspor tersebut ternyata merupakan yang     kedua. Aisyah tercatat memiliki paspor sejak 2009. Lantas, dia membuat     paspor perpanjangan pada 17 November 2014.
Agung menuturkan, data alamat di paspor pertama juga sama persis     dengan paspor kedua. Foto paspor yang pertama dan kedua juga identik.     Namun, ada perubahan penampilan Aisyah. &amp;rsquo;&amp;rsquo;Yang kedua terlihat lebih  ayu.    Mungkin karena dandan,&amp;rsquo;&amp;rsquo; imbuh Agung.
Dari hasil penelusuran imigrasi, Aisyah tercatat secara resmi     meninggalkan Indonesia pada 2 Februari 2017 sekitar pukul 08.35. Dia     keluar melalui Batam dengan menggunakan kapal feri tujuan Johor, Malaysia.     &amp;rsquo;&amp;rsquo;Catatan resmi terakhir ke Johor. Tapi, entah kalau lewat jalur     tikus,&amp;rsquo;&amp;rsquo; ungkapnya.
Saat ditanya kemungkinan Aisyah pernah terekam pergi ke Korea Utara,     Agung belum bisa memastikan. Sebab, pihaknya harus melihat lebih   dahulu   data-data perjalanan Aisyah. &amp;rsquo;&amp;rsquo;Yang jelas, dia (Aisyah)   belum   pernah ada catatan khusus di imigrasi. Misalnya, masuk daftar   cekal,&amp;rsquo;&amp;rsquo;   tandas Agung.</description><content:encoded>JAKARTA - Kematian Kim Jong-nam, kakak tiri pemimpin tertinggi Korea Utara Kim Jong-un, menyeret nama perempuan asal Indonesia, Siti Aishah. Belum jelas apakah pelaku kedua yang ditangkap memang WNI bernama Siti ini atau bukan. Sebab bisa saja dia memakai data palsu.
Namun dari data diri yang termuat dalam paspornya, pihak imigrasi membenarkan adanya profil tersebut. Seorang wartawan Jawa Pos kemudian berhasil menelusuri jejak Siti Aisyah hingga ke mantan rumah majikan sekaligus orangtua suaminya.
Menelusuri jejak Siti Aisyah bukan perkara mudah. Masalahnya, nama yang dirilis pihak kepolisian Malaysia awalnya menyebut Siti Aishah, bukan Siti Aisyah. Oleh karena itu, ketika ditelusuri melalui data kependudukan di Serang, nama Siti Aishah tak ditemukan.
Beruntung, wartawan Jawa Pos Andra Nur Oktaviani yang berada di Malaysia bisa mendapatkan copy paspor warga negara Indonesia (WNI) yang ditangkap di sebuah hotel di Ampang, Kuala Lumpur, Malaysia pada Kamis 16 Februari.

Rumah yang pernah ditinggali Siti Aisyah. (Foto: Jawa Pos)
Di paspor tersebut tertulis nama SITI AISYAH, kelahiran Serang (Jabar), 11 Februari 1992. Dari paspor itu pula diketahui alamat terakhir yang bersangkutan sebelum pergi ke negeri jiran. Dia pernah tinggal di Jalan Angke Indah, Kelurahan Angke, Kecamatan Tambora, Jakarta Barat.
Dari situlah penelusuran jejak Siti Aisyah dimulai. Namun, alamat yang tersebut di paspor itu cukup sulit ditemukan. Pasalnya, alamat rumah tiga lantai tersebut ternyata berada di dalam gang sempit yang hanya bisa dilewati satu sepeda motor.
Setelah bertanya ke sana-kemari, Jawa Pos berhasil menemukan alamat rumah warna merah tersebut. Namun, rupanya, rumah berukuran sekitar 12 x 5 meter itu telah berpindah tangan. Rumah itu dulu adalah milik majikan Aisyah, Liang Kiong, tapi kini sudah menjadi milik orang lain.
&amp;rsquo;&amp;rsquo;Ini sekarang tempat konfeksi. Bos saya kontrak rumah ini sejak tiga tahun lalu,&amp;rsquo;&amp;rsquo; kata Anas, 23, salah seorang pekerja di tempat itu, yang menemui wartawan.Anas menyatakan tidak mengenal Siti Aisyah yang paspornya beralamat  di rumah itu. Namun, dia tahu bahwa pemilik rumah tersebut sebelumnya  adalah Liang Kiong.
Penelusuran berlanjut ke ketua RT setempat, Rahmat Yusri. Rahmat  tidak hanya membenarkan keberadaan Siti Aisyah di rumah itu. Dia juga  tahu hubungan Siti dengan Liang Kiong, sang pemilik rumah.
Menurut dia, Liang Kiong merupakan pengusaha konfeksi sekaligus  makelar rumah yang sudah 19 tahun tinggal di rumah gang sempit itu.  Sedangkan Siti merupakan gadis desa yang pernah menjadi pembantu rumah  tangga di rumah tersebut.
&amp;rsquo;&amp;rsquo;Memang (Siti) orangnya cantik. Putranya Pak Liang Kiong, namanya  Gunawan Hasyim, jadi tertarik. Mereka akhirnya menikah. Saya tidak ingat  persis kapan nikahnya, tapi sekitar pertengahan 2000-an,&amp;rsquo;&amp;rsquo; ungkap pria  48 tahun itu.
Hanya, Rahmat mengaku tidak mengenal dengan baik keluarga Liang Kiong  maupun pribadi Siti Aisyah. Keluarga Tionghoa asal Pontianak tersebut  jarang bergaul dengan warga sekitar. Mereka hanya berhubungan dengan  Rahmat bila ada keperluan administrasi kependudukan.
&amp;rsquo;&amp;rsquo;Siti juga jarang keluar dari rumah. Keluarnya kalau pas belanja ke pasar,&amp;rsquo;&amp;rsquo; ucapnya.
Pada 2009, kata Rahmat, Siti dan sang suami sempat berangkat ke  Malaysia untuk bekerja di sana. Namun, setelah itu hubungan rumah tangga  mereka mulai retak.
&amp;rsquo;&amp;rsquo;Malah, yang saya tahu, mereka sudah cerai. Anak mereka yang mengurus  keluarga mantan suaminya,&amp;rsquo;&amp;rsquo; tutur ketua RT yang sudah menjabat selama 21 tahun  itu.Tak berapa lama, bisnis konfeksi Liang Kiong pun bangkrut. Dia lalu   menjual rumah yang sudah ditinggali selama 19 tahun tersebut. Sejak itu   Rahmat kehilangan kontak dengan keluarga Liang Kiong. Dia hanya sempat   bertemu beberapa kali saat mereka mengurus surat pindah.
Rahmat juga mengantarkan Jawa Pos menemui kerabat Liang Kiong yang   pernah tinggal di rumah Tambora. Dia bernama Tjhai Hon Sin. Rumahnya tak   terlalu jauh, sekira10 menit dari rumah lama Liang Kiong.
Setelah beberapa kali pintu pagar besi rumah itu diketuk, seorang   pria membuka dengan ekspresi ketus. &amp;rsquo;&amp;rsquo;Ada apa ya?&amp;rsquo;&amp;rsquo; katanya singkat.
Dia beberapa kali terlihat emosional saat Jawa Pos berusaha   menjelaskan maksud menemui dirinya. Namun, ekspresinya perlahan melunak.   &amp;rsquo;&amp;rsquo;Maaf, tadi sedikit emosi. Saya kira ada apa kok malam begini datang   ke rumah saya,&amp;rsquo;&amp;rsquo; ujar pria yang mengaku bernama Hendra Gunawan itu.
Setelah tenang, dia pun mulai bercerita soal Siti Aisyah. Hendra tahu   banyak tentang Aisyah karena dirinya juga menantu Liang Kiong. &amp;rsquo;&amp;rsquo;Siti   Aisyah itu pegawai mertua saya yang akhirnya dinikahi Koko (Gunawan   Hasyim),&amp;rsquo;&amp;rsquo; tutur Hendra.
Namun, keluarga Liang Kiong sudah putus hubungan dengan Aisyah sejak     enam tahun lalu. Tepatnya setelah Gunawan Hasyim mengatakan kepada     ayahnya (Liang Kiong) bahwa Aisyah punya pria selingkuhan saat bekerja     di Malaysia.
&amp;rsquo;&amp;rsquo;Jadi, mereka emang sudah cerai saat anaknya masih satu tahun.     Setelah itu (Siti Aisyah) sama sekali tidak pernah ke sini,&amp;rsquo;&amp;rsquo; ungkap     pria yang akrab disapa Abe itu.Rio Hasyim, anak Aisyah dan Gunawan Hasyim, diurus kakeknya karena    rasa sayangnya kepada cucu pertamanya tersebut. Namun, karena beberapa    kali gagal berbisnis, Liang Kiong menjadi nomaden. Sekarang tinggal bersama menantunya, Hendra.
&amp;rsquo;&amp;rsquo;Sekarang Papa (Liang Kiong) lagi ke rumah sakit. Kalau Koko    (Gunawan Hasyim), sekarang kerja di Bangkok, Thailand,&amp;rsquo;&amp;rsquo; ungkapnya.
Sementara itu, pencarian data melalui Direktorat Jenderal Imigrasi    Kemenkum HAM membuahkan informasi seputar identitas dan aktivitas Siti    Aisyah. Kemarin Ditjen Imigrasi Kemenkum HAM langsung berkoordinasi    dengan KBRI di Malaysia untuk memperjelas identitas Aisyah.
KBRI sudah meminta bantuan Ditjen Imigrasi untuk mengecek keaslian    paspor bernomor A 9601796 yang diduga milik Aisyah. Sebab, ada    kekhawatiran paspor yang digunakan Aisyah itu berisi data palsu seperti    dalam film-film bertema spionase.
Kepala Bagian Humas dan Umum Ditjen Imigrasi Agung Sampurno    mengungkapkan, dari hasil pengecekan nomor paspor, data dalam dokumen    tersebut valid. Data itu merujuk pada seorang perempuan bernama Siti    Aisyah, kelahiran Serang, 11 Februari 1992. Sesuai dengan data, Aisyah    beralamat di Jalan Angke Indah Gang I, Tambora, Jakarta Barat.
&amp;rsquo;&amp;rsquo;Data yang bersangkutan identik. Iya, rumahnya di Tambora itu,&amp;rsquo;&amp;rsquo; ujar Agung yang dimintai konfirmasi kemarin.Imigrasi memang hanya bertugas memastikan asli tidaknya paspor     Aisyah. Dari catatan imigrasi, paspor tersebut ternyata merupakan yang     kedua. Aisyah tercatat memiliki paspor sejak 2009. Lantas, dia membuat     paspor perpanjangan pada 17 November 2014.
Agung menuturkan, data alamat di paspor pertama juga sama persis     dengan paspor kedua. Foto paspor yang pertama dan kedua juga identik.     Namun, ada perubahan penampilan Aisyah. &amp;rsquo;&amp;rsquo;Yang kedua terlihat lebih  ayu.    Mungkin karena dandan,&amp;rsquo;&amp;rsquo; imbuh Agung.
Dari hasil penelusuran imigrasi, Aisyah tercatat secara resmi     meninggalkan Indonesia pada 2 Februari 2017 sekitar pukul 08.35. Dia     keluar melalui Batam dengan menggunakan kapal feri tujuan Johor, Malaysia.     &amp;rsquo;&amp;rsquo;Catatan resmi terakhir ke Johor. Tapi, entah kalau lewat jalur     tikus,&amp;rsquo;&amp;rsquo; ungkapnya.
Saat ditanya kemungkinan Aisyah pernah terekam pergi ke Korea Utara,     Agung belum bisa memastikan. Sebab, pihaknya harus melihat lebih   dahulu   data-data perjalanan Aisyah. &amp;rsquo;&amp;rsquo;Yang jelas, dia (Aisyah)   belum   pernah ada catatan khusus di imigrasi. Misalnya, masuk daftar   cekal,&amp;rsquo;&amp;rsquo;   tandas Agung.</content:encoded></item></channel></rss>
