<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Raja Arab dan Ikat Kepala Khasnya</title><description>Kilas balik kedatangan Raja Saudi ke Indonesia pada era Orde Baru.</description><link>https://news.okezone.com/read/2017/02/27/18/1628787/raja-arab-dan-ikat-kepala-khasnya</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2017/02/27/18/1628787/raja-arab-dan-ikat-kepala-khasnya"/><item><title>Raja Arab dan Ikat Kepala Khasnya</title><link>https://news.okezone.com/read/2017/02/27/18/1628787/raja-arab-dan-ikat-kepala-khasnya</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2017/02/27/18/1628787/raja-arab-dan-ikat-kepala-khasnya</guid><pubDate>Senin 27 Februari 2017 06:55 WIB</pubDate><dc:creator>Rifa Nadia Nurfuadah</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2017/02/27/18/1628787/raja-arab-dan-ikat-kepala-khasnya-2aRuoXqZrq.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Kakak beradik Raja Arab: Faisal dan Salman. (Foto: Istimewa)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2017/02/27/18/1628787/raja-arab-dan-ikat-kepala-khasnya-2aRuoXqZrq.jpg</image><title>Kakak beradik Raja Arab: Faisal dan Salman. (Foto: Istimewa)</title></images><description>RABU 10 Juni 1970, ribuan warga Jakarta tumpah ruah di jalan, dari Kemayoran hingga kawasan Medan Merdeka. Sepanjang Jalan Patrice Lumumba, dari Bandara Kemayoran hingga persimpangan Gunung Sahari, ribuan orang berdiri sambil memegang spanduk bertuliskan Arab. Mereka menantikan tamu agung dari belahan benua seberang, Raja Arab Saudi, Faisal bin Abdulaziz Al Saud.
Tepat pukul 11.15 WIB, pesawat Saudi Arabia Airlines yang menerbangkan sang raja mendarat di Bandara Kemayoran. Raja Faisal disambut langsung Presiden Republik Indonesia kala itu, Soeharto, di kaki tangga pesawat.
Sebagai orang berkedudukan tinggi, penampilan Raja Faisal layaknya pria Arab pada umumnya. Ia mengenakan jubah tradisional Arab Saudi, maslah,coklat. Kepalanya ditutupi surban putih, lengkap dengan iqal, ikat kepala khas pria Arab.
Raja Faisal menghabiskan tiga hari di Jakarta. Selama masa itu, jadwalnya padat. Ia mengadakan pertemuan resmi dengan Presiden Soeharto dan para pejabat negara, berpidato di depan anggota Dewan Perwakilan Rakyat Gotong Royong (DPR GR)/Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS), meninjau pembangunan Masjid Istiqlal, salat Jumat di Masjid Al Azhar hingga menghadiri berbagai jamuan makan resmi kenegaraan.
Di Jakarta, Raja Faisal menetap di Wisma Negara. Di sinilah ia menerima kunjungan para pejabat tinggi Indonesia kala itu.  Kamis, 11 Juni 1970, misalnya, Raja Faisal menyambut tiga rombongan petinggi Indonesia yang datang menemuinya. Menteri RI, pimpinan lembaga tertinggi dan anggota dewan pusat Organisasi Islam Asia Afrika (IOAA) menjadi tamunya sore itu.
Berita Yudha, melalui berita &quot;Zionisme &amp;amp; Komunisme tdk banjak berbeda&quot;, Kamis 11 Juni 1970 melaporkan, pertemuan Raja Faisal dengan para tamunya tersebut berlangsung cukup lama. Dari balik pintu kaca yang menjadi sekat antarruangan terlihat jelas, Raja Faisal mendominasi pembicaraan. Ia sering menggerakkan tangan saat berbicara.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri RI Adam Malik dan Menteri Negara Ekuin Sri Sultan Hamengkubuwono yang menjadi tamu tak memiliki kesempatan berbicara. Sesekali mereka menganggukkan kepala merespons ucapan Raja Faisal.Tawa Kecil Raja Faisal
Raja Faisal dikenal melankolik. Ia tak banyak bertanya. Pertanyaan  pertama yang diajukan kakak tiri Raja Salman, yang kini memimpin Arab  Saudi, itu saat tiba di Wisma Negara adalah ke mana arah kiblat.
Selama di Jakarta, Raja Faisal juga tidak pernah terlambat menghadiri  berbagai acara yang sudah disiapkan. Bahkan, ia selalu datang lebih  awal, paling lambat 10 menit sebelum acara dimulai.
Sebagai tamu negara, Raja Faisal juga tidak menyusahkan. Saat  ditawari untuk berjalan-jalan ke Bogor dan melihat Kebun Raya, ia  menolak. Bagi Raja Faisal, ia sudah cukup puas bisa melihat-lihat  berbagai masjid di Jakarta.
Untuk melayani keperluannya selama tiga hari jauh dari Istana  Kerajaan Arab Saudi, Raja Faisal membawa serta para pembantunya. Namun,  rombongannya tidaklah sebesar yang akan diboyong Raja Salman. Raja  Faisal hanya membawa 58 anggota rombongan, termasuk delapan anggota inti  seperti penasihatnya Pangeran Nawaf dan kepala kabinet kerajaan, Dr  Richard Faroun.
Sehari-hari, ada dua pelayan yang selalu siap sedia mengurusi  kebutuhan Raja Faisal. Satu orang memastikan kebutuhan pakaian sang  raja, sementara satu pelayan lainnya bertugas menyediakan teh (shai) dan  kopi (kahwah) Arab.
Para pembantu Raja Faisal, seperti dikisahkan dalam berita &quot;Radja  Faisal bisa ketawa ketika dengar gadis2 ketjil menjanji Arab&quot;, yang  diterbitkan Berita Yudha, Kamis 11 Juni 1970, menyebut, sang raja amat  jarang tertawa. Namun, nampaknya ia cukup terhibur hingga tertawa kecil  saat menghadiri jamuan makan malam kenegaraan di Istana Negara, Rabu 10  Juni 1970 malam.  Kala itu, Raja Faisal menonton pertunjukan gadis-gadis  kecil mempersembahkan nyanyian-nyanyian Arab, lengkap dengan tabuhan  rebana.Sisi Lain Raja Salman
Empat puluh tujuh tahun berlalu sejak kunjungan Raja Faisal ke   Indonesia. Kini, adik tiri yang menggantikan posisinya di takhta   Kerajaan Arab Saudi, Salman bin Abdulaziz Al-Saud akan mengobati   kerinduan publik Indonesia setelah hampir setengah abad tidak mendapat   kunjungan Raja Arab Saudi, Pelayan Dua Kota Suci. Ya, Raja Salman diagendakan mengunjungi Indonesia pada 1-9 Maret.
Memimpin sejak 2005 pasca-kematian saudaranya, Raja Abdullah, sosok   Raja Salman lebih dari sekadar pemegang kekuasaan tertinggi di tanah   Arab.
Pria 81 tahun itu telah menghafal Alquran sejak usia 10 tahun.   Bahkan, ia membaca kitab suci dengan bacaan sempurna dan lagu seperti   para qari. Sang raja sering memimpin doa pada berbagai kesempatan,   termasuk upacara pemakaman.
Sebelum naik takhta, Raja Salman memimpin Riyadh sebagai gubernur   selama sekira lima dekade. Rekam jejak kepemimpinannya amat bersih.   Bahkan ia mendapat banyak penghargaan karena bisa memberantas korupsi.
Di sisi lain, Raja Salman juga merupakan pemimpin yang adil. Ia   meminta siapa saja yang telah melakukan pelanggaran untuk mengaku dan   akan diberi pengampunan. Sebab baginya, rakyat adalah anak dan cucunya   sendiri. Bahkan, ia pernah mengampuni siapa saja yang memiliki denda di   bawah setengah juta Riyal.Sebagai pemimpin, Raja Salman dikenal tegas dan tidak tebang pilih.    Saat seorang pangeran melakukan tindak kriminal, titah Raja Salman,  maka   status si pangeran sama di mata hukum.

Perlakuan sama ini pulalah yang ia terapkan saat beribadah. Sebagai    penguasa tanah Arab, tentu akan mudah bagi Raja Salman meminta  penjagaan   khusus saat melakukan tawaf mengitari Kakbah. Sebaliknya, ia  tidak   memakai pengamanan ekstra. Raja Salman justru berbaur dengan  jamaah   lainnya.
Ketaatan Raja Salman saat beribadah tidak diragukan lagi. Saat    Presiden Amerika Serikat (AS) Barack Obama datang berkunjung, Raja    Salman langsung berpamitan untuk salat ketika mendengarkan suara azan.    Obama pun menyaksikan sang raja menunaikan salat Ashar berjamaah di    karpet merah.
Raja Salman juga pemimpin yang melek teknologi. Seperti pemimpin di    era milenium saat ini, Raja Salman memiliki akun Twitter.  Saat baru    dibuat, akun tersebut langsung diikuti 200 ribu orang. Kicauan    perdananya adalah doa bagi seluruh kaum Muslim.</description><content:encoded>RABU 10 Juni 1970, ribuan warga Jakarta tumpah ruah di jalan, dari Kemayoran hingga kawasan Medan Merdeka. Sepanjang Jalan Patrice Lumumba, dari Bandara Kemayoran hingga persimpangan Gunung Sahari, ribuan orang berdiri sambil memegang spanduk bertuliskan Arab. Mereka menantikan tamu agung dari belahan benua seberang, Raja Arab Saudi, Faisal bin Abdulaziz Al Saud.
Tepat pukul 11.15 WIB, pesawat Saudi Arabia Airlines yang menerbangkan sang raja mendarat di Bandara Kemayoran. Raja Faisal disambut langsung Presiden Republik Indonesia kala itu, Soeharto, di kaki tangga pesawat.
Sebagai orang berkedudukan tinggi, penampilan Raja Faisal layaknya pria Arab pada umumnya. Ia mengenakan jubah tradisional Arab Saudi, maslah,coklat. Kepalanya ditutupi surban putih, lengkap dengan iqal, ikat kepala khas pria Arab.
Raja Faisal menghabiskan tiga hari di Jakarta. Selama masa itu, jadwalnya padat. Ia mengadakan pertemuan resmi dengan Presiden Soeharto dan para pejabat negara, berpidato di depan anggota Dewan Perwakilan Rakyat Gotong Royong (DPR GR)/Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS), meninjau pembangunan Masjid Istiqlal, salat Jumat di Masjid Al Azhar hingga menghadiri berbagai jamuan makan resmi kenegaraan.
Di Jakarta, Raja Faisal menetap di Wisma Negara. Di sinilah ia menerima kunjungan para pejabat tinggi Indonesia kala itu.  Kamis, 11 Juni 1970, misalnya, Raja Faisal menyambut tiga rombongan petinggi Indonesia yang datang menemuinya. Menteri RI, pimpinan lembaga tertinggi dan anggota dewan pusat Organisasi Islam Asia Afrika (IOAA) menjadi tamunya sore itu.
Berita Yudha, melalui berita &quot;Zionisme &amp;amp; Komunisme tdk banjak berbeda&quot;, Kamis 11 Juni 1970 melaporkan, pertemuan Raja Faisal dengan para tamunya tersebut berlangsung cukup lama. Dari balik pintu kaca yang menjadi sekat antarruangan terlihat jelas, Raja Faisal mendominasi pembicaraan. Ia sering menggerakkan tangan saat berbicara.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri RI Adam Malik dan Menteri Negara Ekuin Sri Sultan Hamengkubuwono yang menjadi tamu tak memiliki kesempatan berbicara. Sesekali mereka menganggukkan kepala merespons ucapan Raja Faisal.Tawa Kecil Raja Faisal
Raja Faisal dikenal melankolik. Ia tak banyak bertanya. Pertanyaan  pertama yang diajukan kakak tiri Raja Salman, yang kini memimpin Arab  Saudi, itu saat tiba di Wisma Negara adalah ke mana arah kiblat.
Selama di Jakarta, Raja Faisal juga tidak pernah terlambat menghadiri  berbagai acara yang sudah disiapkan. Bahkan, ia selalu datang lebih  awal, paling lambat 10 menit sebelum acara dimulai.
Sebagai tamu negara, Raja Faisal juga tidak menyusahkan. Saat  ditawari untuk berjalan-jalan ke Bogor dan melihat Kebun Raya, ia  menolak. Bagi Raja Faisal, ia sudah cukup puas bisa melihat-lihat  berbagai masjid di Jakarta.
Untuk melayani keperluannya selama tiga hari jauh dari Istana  Kerajaan Arab Saudi, Raja Faisal membawa serta para pembantunya. Namun,  rombongannya tidaklah sebesar yang akan diboyong Raja Salman. Raja  Faisal hanya membawa 58 anggota rombongan, termasuk delapan anggota inti  seperti penasihatnya Pangeran Nawaf dan kepala kabinet kerajaan, Dr  Richard Faroun.
Sehari-hari, ada dua pelayan yang selalu siap sedia mengurusi  kebutuhan Raja Faisal. Satu orang memastikan kebutuhan pakaian sang  raja, sementara satu pelayan lainnya bertugas menyediakan teh (shai) dan  kopi (kahwah) Arab.
Para pembantu Raja Faisal, seperti dikisahkan dalam berita &quot;Radja  Faisal bisa ketawa ketika dengar gadis2 ketjil menjanji Arab&quot;, yang  diterbitkan Berita Yudha, Kamis 11 Juni 1970, menyebut, sang raja amat  jarang tertawa. Namun, nampaknya ia cukup terhibur hingga tertawa kecil  saat menghadiri jamuan makan malam kenegaraan di Istana Negara, Rabu 10  Juni 1970 malam.  Kala itu, Raja Faisal menonton pertunjukan gadis-gadis  kecil mempersembahkan nyanyian-nyanyian Arab, lengkap dengan tabuhan  rebana.Sisi Lain Raja Salman
Empat puluh tujuh tahun berlalu sejak kunjungan Raja Faisal ke   Indonesia. Kini, adik tiri yang menggantikan posisinya di takhta   Kerajaan Arab Saudi, Salman bin Abdulaziz Al-Saud akan mengobati   kerinduan publik Indonesia setelah hampir setengah abad tidak mendapat   kunjungan Raja Arab Saudi, Pelayan Dua Kota Suci. Ya, Raja Salman diagendakan mengunjungi Indonesia pada 1-9 Maret.
Memimpin sejak 2005 pasca-kematian saudaranya, Raja Abdullah, sosok   Raja Salman lebih dari sekadar pemegang kekuasaan tertinggi di tanah   Arab.
Pria 81 tahun itu telah menghafal Alquran sejak usia 10 tahun.   Bahkan, ia membaca kitab suci dengan bacaan sempurna dan lagu seperti   para qari. Sang raja sering memimpin doa pada berbagai kesempatan,   termasuk upacara pemakaman.
Sebelum naik takhta, Raja Salman memimpin Riyadh sebagai gubernur   selama sekira lima dekade. Rekam jejak kepemimpinannya amat bersih.   Bahkan ia mendapat banyak penghargaan karena bisa memberantas korupsi.
Di sisi lain, Raja Salman juga merupakan pemimpin yang adil. Ia   meminta siapa saja yang telah melakukan pelanggaran untuk mengaku dan   akan diberi pengampunan. Sebab baginya, rakyat adalah anak dan cucunya   sendiri. Bahkan, ia pernah mengampuni siapa saja yang memiliki denda di   bawah setengah juta Riyal.Sebagai pemimpin, Raja Salman dikenal tegas dan tidak tebang pilih.    Saat seorang pangeran melakukan tindak kriminal, titah Raja Salman,  maka   status si pangeran sama di mata hukum.

Perlakuan sama ini pulalah yang ia terapkan saat beribadah. Sebagai    penguasa tanah Arab, tentu akan mudah bagi Raja Salman meminta  penjagaan   khusus saat melakukan tawaf mengitari Kakbah. Sebaliknya, ia  tidak   memakai pengamanan ekstra. Raja Salman justru berbaur dengan  jamaah   lainnya.
Ketaatan Raja Salman saat beribadah tidak diragukan lagi. Saat    Presiden Amerika Serikat (AS) Barack Obama datang berkunjung, Raja    Salman langsung berpamitan untuk salat ketika mendengarkan suara azan.    Obama pun menyaksikan sang raja menunaikan salat Ashar berjamaah di    karpet merah.
Raja Salman juga pemimpin yang melek teknologi. Seperti pemimpin di    era milenium saat ini, Raja Salman memiliki akun Twitter.  Saat baru    dibuat, akun tersebut langsung diikuti 200 ribu orang. Kicauan    perdananya adalah doa bagi seluruh kaum Muslim.</content:encoded></item></channel></rss>
