<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Kakek Miswan Lumpuh, Ditinggal Anak-Istri &amp; Hidup di Kandang Ayam</title><description>Miswan (75), warga Kelurahan Kauman, Kecamatan Srengat, Kabupaten Blitar  menjalani hidup di sebuah gubuk reyot bekas kandang ayam.</description><link>https://news.okezone.com/read/2017/02/27/519/1628825/kakek-miswan-lumpuh-ditinggal-anak-istri-hidup-di-kandang-ayam</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2017/02/27/519/1628825/kakek-miswan-lumpuh-ditinggal-anak-istri-hidup-di-kandang-ayam"/><item><title>Kakek Miswan Lumpuh, Ditinggal Anak-Istri &amp; Hidup di Kandang Ayam</title><link>https://news.okezone.com/read/2017/02/27/519/1628825/kakek-miswan-lumpuh-ditinggal-anak-istri-hidup-di-kandang-ayam</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2017/02/27/519/1628825/kakek-miswan-lumpuh-ditinggal-anak-istri-hidup-di-kandang-ayam</guid><pubDate>Senin 27 Februari 2017 05:45 WIB</pubDate><dc:creator>Solichan Arif</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2017/02/27/519/1628825/kakek-miswan-lumpuh-ditinggal-anak-istri-hidup-di-kandang-ayam-DGukUHQWvu.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Kakek yang hidup di kandang ayam. (Foto: Solichan Arief/Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2017/02/27/519/1628825/kakek-miswan-lumpuh-ditinggal-anak-istri-hidup-di-kandang-ayam-DGukUHQWvu.jpg</image><title>Kakek yang hidup di kandang ayam. (Foto: Solichan Arief/Okezone)</title></images><description>BLITAR &amp;ndash; Miswan (75), warga Kelurahan Kauman, Kecamatan Srengat, Kabupaten Blitar menjalani hidup di sebuah gubuk reyot bekas kandang ayam.
Tubuhnya tak bisa digerakkan alias lumpuh. Lelaki berbadan kurus ceking itu pasrah tidur terlentang di atas kasur sederhananya.
&quot;Sudah enam tahun kakak saya menjalani hidup seperti ini (di bekas kandang ayam),&amp;rdquo; tutur Katminah, adik kandung Miswan kepada wartawan.
Miswan selalu terharu jika ada yang menjenguknya. Kedua matanya tampak berkaca kaca. Miswan selama ini hidup dari uluran tangan masyarakat sekitar.
Untuk&amp;nbsp; segala urusan dari makan, minum, mandi hingga buang air besar maupun kecil, Katminah yang melakukan semuanya. Pasalnya, sejak penyakit lumpur menderanya, istri dan anaknya justru pergi meninggalkan Miswan.
&quot;Saya sudah berusaha berkali-kali menghubungi anak dan istrinya. Tapi tidak ada yang mau mengunjungi,&quot; terangnya.
Awal petaka itu ketika Miswan terpeleset jatuh dari pohon nangka. Keluarga sempat membawanya ke mantri kesehatan dan ke dukun pijat.
Namun hidup dengan kelumpuhan seperti sudah menjadi takdirnya. Merasa segan dengan bau&amp;nbsp;tak sedap tubuhnya, Miswan meminta Katminah menempatkanya di gubuk bekas kandang ayam.Karena bekas kandang masih mengeluarkan bau busuk dari kotoran ayam,  warga setempat kemudian membantu memperbaiki gubuk, termasuk memperbaiki  atap yang bocor. Warga juga bergiliran memberi bantuan makanan karena  Katminah juga sulit ekonomi.
Wakil Bupati Blitar Marhaenis Urip Widodo merasa berdosa melihat  kenyataan ini. Dia tidak menyangka Kabupaten Blitar yang memiliki  kekuatan anggaran hingga triliunan rupiah masih memiliki warga yang  hidup begitu susahnya.
&quot;Ini tidak bisa dibiarkan. Harus segera ada langkah konkret dari  pemerintah. Sebagai pimpinan saya merasa telah berdosa,&amp;rdquo; ujar Marheinis  sedih.&amp;nbsp;
Dia berjanji akan berkoordinasi dengan dinas terkait, khususnya  menyediakan hunian yang layak untuk Miswan. &quot;Kami juga akan cek, apakah  yang bersangkutan sudah terdaftar dalam program pengentasan kemiskinan  seperti PKH atau BPJS atau belum,&quot; ujarnya.</description><content:encoded>BLITAR &amp;ndash; Miswan (75), warga Kelurahan Kauman, Kecamatan Srengat, Kabupaten Blitar menjalani hidup di sebuah gubuk reyot bekas kandang ayam.
Tubuhnya tak bisa digerakkan alias lumpuh. Lelaki berbadan kurus ceking itu pasrah tidur terlentang di atas kasur sederhananya.
&quot;Sudah enam tahun kakak saya menjalani hidup seperti ini (di bekas kandang ayam),&amp;rdquo; tutur Katminah, adik kandung Miswan kepada wartawan.
Miswan selalu terharu jika ada yang menjenguknya. Kedua matanya tampak berkaca kaca. Miswan selama ini hidup dari uluran tangan masyarakat sekitar.
Untuk&amp;nbsp; segala urusan dari makan, minum, mandi hingga buang air besar maupun kecil, Katminah yang melakukan semuanya. Pasalnya, sejak penyakit lumpur menderanya, istri dan anaknya justru pergi meninggalkan Miswan.
&quot;Saya sudah berusaha berkali-kali menghubungi anak dan istrinya. Tapi tidak ada yang mau mengunjungi,&quot; terangnya.
Awal petaka itu ketika Miswan terpeleset jatuh dari pohon nangka. Keluarga sempat membawanya ke mantri kesehatan dan ke dukun pijat.
Namun hidup dengan kelumpuhan seperti sudah menjadi takdirnya. Merasa segan dengan bau&amp;nbsp;tak sedap tubuhnya, Miswan meminta Katminah menempatkanya di gubuk bekas kandang ayam.Karena bekas kandang masih mengeluarkan bau busuk dari kotoran ayam,  warga setempat kemudian membantu memperbaiki gubuk, termasuk memperbaiki  atap yang bocor. Warga juga bergiliran memberi bantuan makanan karena  Katminah juga sulit ekonomi.
Wakil Bupati Blitar Marhaenis Urip Widodo merasa berdosa melihat  kenyataan ini. Dia tidak menyangka Kabupaten Blitar yang memiliki  kekuatan anggaran hingga triliunan rupiah masih memiliki warga yang  hidup begitu susahnya.
&quot;Ini tidak bisa dibiarkan. Harus segera ada langkah konkret dari  pemerintah. Sebagai pimpinan saya merasa telah berdosa,&amp;rdquo; ujar Marheinis  sedih.&amp;nbsp;
Dia berjanji akan berkoordinasi dengan dinas terkait, khususnya  menyediakan hunian yang layak untuk Miswan. &quot;Kami juga akan cek, apakah  yang bersangkutan sudah terdaftar dalam program pengentasan kemiskinan  seperti PKH atau BPJS atau belum,&quot; ujarnya.</content:encoded></item></channel></rss>
