<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>HISTORIPEDIA: Raja Arab Saudi Faisal bin Abdulaziz Mengunjungi Indonesia</title><description>Pada artikel Historipedia kali ini, Okezone akan mengulas mengenai sejarah kunjungan Raja Arab Saudi ke Indonesia</description><link>https://news.okezone.com/read/2017/03/01/18/1630786/historipedia-raja-arab-saudi-faisal-bin-abdulaziz-mengunjungi-indonesia</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2017/03/01/18/1630786/historipedia-raja-arab-saudi-faisal-bin-abdulaziz-mengunjungi-indonesia"/><item><title>HISTORIPEDIA: Raja Arab Saudi Faisal bin Abdulaziz Mengunjungi Indonesia</title><link>https://news.okezone.com/read/2017/03/01/18/1630786/historipedia-raja-arab-saudi-faisal-bin-abdulaziz-mengunjungi-indonesia</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2017/03/01/18/1630786/historipedia-raja-arab-saudi-faisal-bin-abdulaziz-mengunjungi-indonesia</guid><pubDate>Rabu 01 Maret 2017 06:03 WIB</pubDate><dc:creator>Rahman Asmardika</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2017/03/01/18/1630786/historipedia-raja-arab-saudi-faisal-bin-abdulaziz-mengunjungi-indonesia-3oyuYFH0zI.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Foto presiden kedua RI Soeharto dengan Raja Faisal (Foto: M Saleh/Angkatan Bersenjata)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2017/03/01/18/1630786/historipedia-raja-arab-saudi-faisal-bin-abdulaziz-mengunjungi-indonesia-3oyuYFH0zI.jpg</image><title>Foto presiden kedua RI Soeharto dengan Raja Faisal (Foto: M Saleh/Angkatan Bersenjata)</title></images><description>EMPAT puluh tujuh tahun lalu, tepatnya pada 10 Juni 1970, Raja Arab Saudi Faisal bin Abdulaziz al Saud tiba di Bandara Internasional Kemayoran sekira pukul 11.15 waktu Indonesia Barat (WIB) untuk mengawali lawatan empat harinya di Indonesia dari 10-13 Juni 1970. Kunjungan tersebut tercatat dalam sejarah sebagai kali pertama seorang Pemimpin Dinasti Saud datang ke Bumi Nusantara.
Kedatangan Pelindung Dua Kota Suci disambut secara langsung oleh Presiden Republik Indonesia Soeharto yang menunggu di tangga pesawat. Purnawirawan Jenderal itu ditemani Menteri Luar Negeri (Menlu) Adam Malik dan Gubernur Jakarta Ali Sadikin.
Kunjungan Raja Faisal ini ditujukan untuk mempererat hubungan persahabatan kedua negara sekaligus menggalang dukungan bagi perjuangan negara-negara Arab di Timur Tengah. Beberapa topik yang menjadi pembahasan kedua kepala negara selama kunjungan tiga hari itu antara lain mengenai masalah Israel, masalah haji, dan perdagangan antara Indonesia dengan Arab Saudi.
Usai diterima dengan upacara penyambutan tamu negara, Raja Faisal bertolak ke Wisma Negara untuk beristirahat sejenak. Sepanjang perjalanan, iring-iringan tamu agung itu disambut meriah oleh rakyat Indonesia yang melambaikan panji-panji bertulis aksara Arab dan mengelukan Raja Faisal.
Di Istana Negara, Raja Faisal disambut Presiden Soeharto dan Ibu Negara Ny. Tien, Menlu Adam Malik, Sekretaris Negara Alamsyah dan Menteri Idham Chalid. Pada sore hari, Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin mempersembahkan sebuah kendi keemasan lambang kota sebagai tanda selamat datang di ibu kota.
Di hari itu juga Raja Faisal menerima undangan jamuan kenegaraan bersama di Istana Negara di mana Presiden Soeharto menyampaikan dukungan Indonesia terhadap perjuangan negara-negara Arab dalam konflik di Timur Tengah.Pada hari kedua kunjungannya di Indonesia, Kamis, 11 Juni 1970, Raja  Faisal dan Presiden Soeharto melangsungkan pertemuan selama satu  setengah jam di Istana Negara untuk membahas serangkaian isu. Dalam  pertemuan itu, Presiden Soeharto secara resmi kembali menegaskan  komitmen Indonesia untuk mendukung perjuangan Bangsa Arab menghadapi  Israel.
Setelah pertemuan terebut, pada siang harinya Raja Faisal  melakukan kunjungan ke Masjid Istiqlal yang saat itu masih belum rampung  dibangun. Kehadiran Raja Faisal disambut gemuruh takbir dari ribuan  warga yang menyambut kedatangannya. Penyambutan sang tamu agung juga  dimeriahkan dengan barisan anak-anak memainkan rebana dan melantunkan  lagu kasidah. Dikutip dari Antara, 11 Juni 1970, barisan penyambut Raja  Faisal ini dikumpulkan dari 50 unit kasidah rebana dari penjuru Ibu  Kota.
Raja juga dibawa berkeliling masjid dan sempat menyambangi  ruangan utama salah satu masjid terbesar di Asia Tenggara itu. Selama  dibawa berkeliling bangunan Masjid, Raja Faisal sekali-kali memberikan  informasi mengenai hal-hal yang perlu diperhatikan saat membangun  masjid.
Padatnya aktivitas yang dilakukan Raja Faisal hari itu  membuat sang tamu agung jatuh sakit dan terpaksa membatalkan sejumlah  acara hari itu. Acara pertama yang dibatalkan adalah pertemuan yang  merupakan kunjungan balasan Presiden Soeharto di Wisma Negara dan yang  kedua adalah konferensi pers di tempat yang sama pada sore hari.
Meski  begitu, Raja Faisal tidak melewatkan undangan santap malam bersama  Presiden Soeharto di Hotel Indonesia. Jamuan makan malam ini terbilang  unik karena dibuka tanpa bersulang seperti yang biasanya dilakukan para  pemuka negara pada acara resmi.
Kebiasaan bersulang itu ditiadakan  oleh Presiden Soeharto untuk menghormati Raja Faisal yang menganggap  tata cara itu tidak Islai. Sebagai gantinya Presiden Seoharto meminta  hadirin berdiri dan bersama-sama memanjatkan doa menurut kepercayaannya  masing-masing.Sebelum jamuan makan malam dimulai, Presiden  Soeharto dan Raja  Faisal menggelar tukar menukar cinderamata. Raja Saudi  mendapat  kenang-kenangan berupa keris buatan Yogyakarta dan macan yang  telah  diawetkan.
Begitu juga sebaliknya, Raja Faisal menyerahkan  tanda mata sebilah  pedang yang disepuh emas kepada Presiden Indonesia.  Bentuknya  menyerupai pedang yang tertera dalam lambang kenegaraan dan  bendera  kebangsaan Saudi.
Kegiatan kunjungan Raja Faisal, pada  Jumat, 12 Juni 1970, diisi  pidato persahabatan di depan rapat pleno  Dewan Perwakilan Rakyat Gotong  Royong (DPRGR). Dalam pidato berbahasa  Arab yang disampaikan tanpa  menggunakan naskah tersebut, Raja Faisal  menyinggung beberapa persoalan  yang tengah dihadapi dunia saat itu di  antaranya mengenai persatuan  umat beragama, perlawanan terhadap zionisme  dan keadaan keamanan di  wilayah Indochina.
Dari DPRGR, Raja  Faisal kemudian melakukan salat Jumat di Masjid Al  Azhar, Kebayoran  Baru, Jakarta Pusat. Prof. Dr. H. Hamka bertindak  sebagai imam salat  sedangkan khatib diisi oleh Menteri Sekretaris  Negara Alamsyah  Perwiranegara.
Menutup kegiatan hari itu, Raja Faisal mengadakan  jamuan makan malam  untuk menghormati Presiden Soeharto dan Ibu Negara  Ny. Tien Soeharto.  Seperti juga jamuan makan sebelumnya, acara yang  digelar di Bali Room  Hotel Indonesia itu juga tidak diisi dengan toast  atau bersulang, tanpa  musik dan tanpa minuman beralkohol.
Setelah  empat dekade berlalu, Raja Arab Saudi yang kini dijabat oleh  Salman bin  Abdulaziz al Saud kembali berkunjung ke Indonesia. Meski  membawa misi  yang sedikit berbeda, diharapkan kedatangannya dapat  memperkuat hubungan  Saunesia yang telah terbina sejak lama.</description><content:encoded>EMPAT puluh tujuh tahun lalu, tepatnya pada 10 Juni 1970, Raja Arab Saudi Faisal bin Abdulaziz al Saud tiba di Bandara Internasional Kemayoran sekira pukul 11.15 waktu Indonesia Barat (WIB) untuk mengawali lawatan empat harinya di Indonesia dari 10-13 Juni 1970. Kunjungan tersebut tercatat dalam sejarah sebagai kali pertama seorang Pemimpin Dinasti Saud datang ke Bumi Nusantara.
Kedatangan Pelindung Dua Kota Suci disambut secara langsung oleh Presiden Republik Indonesia Soeharto yang menunggu di tangga pesawat. Purnawirawan Jenderal itu ditemani Menteri Luar Negeri (Menlu) Adam Malik dan Gubernur Jakarta Ali Sadikin.
Kunjungan Raja Faisal ini ditujukan untuk mempererat hubungan persahabatan kedua negara sekaligus menggalang dukungan bagi perjuangan negara-negara Arab di Timur Tengah. Beberapa topik yang menjadi pembahasan kedua kepala negara selama kunjungan tiga hari itu antara lain mengenai masalah Israel, masalah haji, dan perdagangan antara Indonesia dengan Arab Saudi.
Usai diterima dengan upacara penyambutan tamu negara, Raja Faisal bertolak ke Wisma Negara untuk beristirahat sejenak. Sepanjang perjalanan, iring-iringan tamu agung itu disambut meriah oleh rakyat Indonesia yang melambaikan panji-panji bertulis aksara Arab dan mengelukan Raja Faisal.
Di Istana Negara, Raja Faisal disambut Presiden Soeharto dan Ibu Negara Ny. Tien, Menlu Adam Malik, Sekretaris Negara Alamsyah dan Menteri Idham Chalid. Pada sore hari, Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin mempersembahkan sebuah kendi keemasan lambang kota sebagai tanda selamat datang di ibu kota.
Di hari itu juga Raja Faisal menerima undangan jamuan kenegaraan bersama di Istana Negara di mana Presiden Soeharto menyampaikan dukungan Indonesia terhadap perjuangan negara-negara Arab dalam konflik di Timur Tengah.Pada hari kedua kunjungannya di Indonesia, Kamis, 11 Juni 1970, Raja  Faisal dan Presiden Soeharto melangsungkan pertemuan selama satu  setengah jam di Istana Negara untuk membahas serangkaian isu. Dalam  pertemuan itu, Presiden Soeharto secara resmi kembali menegaskan  komitmen Indonesia untuk mendukung perjuangan Bangsa Arab menghadapi  Israel.
Setelah pertemuan terebut, pada siang harinya Raja Faisal  melakukan kunjungan ke Masjid Istiqlal yang saat itu masih belum rampung  dibangun. Kehadiran Raja Faisal disambut gemuruh takbir dari ribuan  warga yang menyambut kedatangannya. Penyambutan sang tamu agung juga  dimeriahkan dengan barisan anak-anak memainkan rebana dan melantunkan  lagu kasidah. Dikutip dari Antara, 11 Juni 1970, barisan penyambut Raja  Faisal ini dikumpulkan dari 50 unit kasidah rebana dari penjuru Ibu  Kota.
Raja juga dibawa berkeliling masjid dan sempat menyambangi  ruangan utama salah satu masjid terbesar di Asia Tenggara itu. Selama  dibawa berkeliling bangunan Masjid, Raja Faisal sekali-kali memberikan  informasi mengenai hal-hal yang perlu diperhatikan saat membangun  masjid.
Padatnya aktivitas yang dilakukan Raja Faisal hari itu  membuat sang tamu agung jatuh sakit dan terpaksa membatalkan sejumlah  acara hari itu. Acara pertama yang dibatalkan adalah pertemuan yang  merupakan kunjungan balasan Presiden Soeharto di Wisma Negara dan yang  kedua adalah konferensi pers di tempat yang sama pada sore hari.
Meski  begitu, Raja Faisal tidak melewatkan undangan santap malam bersama  Presiden Soeharto di Hotel Indonesia. Jamuan makan malam ini terbilang  unik karena dibuka tanpa bersulang seperti yang biasanya dilakukan para  pemuka negara pada acara resmi.
Kebiasaan bersulang itu ditiadakan  oleh Presiden Soeharto untuk menghormati Raja Faisal yang menganggap  tata cara itu tidak Islai. Sebagai gantinya Presiden Seoharto meminta  hadirin berdiri dan bersama-sama memanjatkan doa menurut kepercayaannya  masing-masing.Sebelum jamuan makan malam dimulai, Presiden  Soeharto dan Raja  Faisal menggelar tukar menukar cinderamata. Raja Saudi  mendapat  kenang-kenangan berupa keris buatan Yogyakarta dan macan yang  telah  diawetkan.
Begitu juga sebaliknya, Raja Faisal menyerahkan  tanda mata sebilah  pedang yang disepuh emas kepada Presiden Indonesia.  Bentuknya  menyerupai pedang yang tertera dalam lambang kenegaraan dan  bendera  kebangsaan Saudi.
Kegiatan kunjungan Raja Faisal, pada  Jumat, 12 Juni 1970, diisi  pidato persahabatan di depan rapat pleno  Dewan Perwakilan Rakyat Gotong  Royong (DPRGR). Dalam pidato berbahasa  Arab yang disampaikan tanpa  menggunakan naskah tersebut, Raja Faisal  menyinggung beberapa persoalan  yang tengah dihadapi dunia saat itu di  antaranya mengenai persatuan  umat beragama, perlawanan terhadap zionisme  dan keadaan keamanan di  wilayah Indochina.
Dari DPRGR, Raja  Faisal kemudian melakukan salat Jumat di Masjid Al  Azhar, Kebayoran  Baru, Jakarta Pusat. Prof. Dr. H. Hamka bertindak  sebagai imam salat  sedangkan khatib diisi oleh Menteri Sekretaris  Negara Alamsyah  Perwiranegara.
Menutup kegiatan hari itu, Raja Faisal mengadakan  jamuan makan malam  untuk menghormati Presiden Soeharto dan Ibu Negara  Ny. Tien Soeharto.  Seperti juga jamuan makan sebelumnya, acara yang  digelar di Bali Room  Hotel Indonesia itu juga tidak diisi dengan toast  atau bersulang, tanpa  musik dan tanpa minuman beralkohol.
Setelah  empat dekade berlalu, Raja Arab Saudi yang kini dijabat oleh  Salman bin  Abdulaziz al Saud kembali berkunjung ke Indonesia. Meski  membawa misi  yang sedikit berbeda, diharapkan kedatangannya dapat  memperkuat hubungan  Saunesia yang telah terbina sejak lama.</content:encoded></item></channel></rss>
