<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>KISAH: Kehilangan Identitas Asli, Kisah Pocahontas Tak Seindah Negeri Dongeng</title><description>Okezone mengulas mengenai kisah Pocahontas yang tidak seindah di dongeng.</description><link>https://news.okezone.com/read/2017/03/17/18/1644839/kisah-kehilangan-identitas-asli-kisah-pocahontas-tak-seindah-negeri-dongeng</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2017/03/17/18/1644839/kisah-kehilangan-identitas-asli-kisah-pocahontas-tak-seindah-negeri-dongeng"/><item><title>KISAH: Kehilangan Identitas Asli, Kisah Pocahontas Tak Seindah Negeri Dongeng</title><link>https://news.okezone.com/read/2017/03/17/18/1644839/kisah-kehilangan-identitas-asli-kisah-pocahontas-tak-seindah-negeri-dongeng</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2017/03/17/18/1644839/kisah-kehilangan-identitas-asli-kisah-pocahontas-tak-seindah-negeri-dongeng</guid><pubDate>Jum'at 17 Maret 2017 08:03 WIB</pubDate><dc:creator>Silviana Dharma</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2017/03/16/18/1644839/kisah-kehilangan-identitas-asli-kisah-pocahontas-tak-seindah-negeri-dongeng-UpOSum0fof.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi Pocahontas (Foto: The Atlantic)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2017/03/16/18/1644839/kisah-kehilangan-identitas-asli-kisah-pocahontas-tak-seindah-negeri-dongeng-UpOSum0fof.jpg</image><title>Ilustrasi Pocahontas (Foto: The Atlantic)</title></images><description>GRAVESEND - Jika Anda lahir di tahun 90-an atau setidaknya menyukai film-film Disney, Anda pasti tahu Pohacontas. Ya, dia adalah perempuan berambut panjang, bermata tajam, bibirnya penuh dan kulit coklat kemerahan khas suku Indian asli Amerika. Di negeri dongeng, perempuan berhati mulia itu jatuh cinta kepada pria pendatang dari Inggris, John Smith. Kekuatan cinta mereka lah yang menjembatani antara suku Indian dan penjajah kulit putih yang ingin menguasai kekayaan alam Desa Tsenacomoco (sekarang masuk negara bagian Virginia).
Namun demikian, itu semua hanya cerita karangan untuk memperkaya daya khayal anak-anak saja. Disney selalu menawarkan kisah yang indah dan berakhir bahagia, sayangnya fakta sejarah mencatat hidup Pocahontas tidak seberbunga yang ada dalam film.
Pocahontas adalah nama panggilan yang berarti si tukang main. Dia lahir dalam suku Powhatan, sebagai anak bungsu. Ayahnya, Wahunsenaca menjabat kepala suku. Ibunya diduga sudah meninggal saat melahirkannya, tetapi ada juga yang mengatakan kalau dia ditinggal di desa lain kemudian menikah lagi.
Perempuan Indian paling terkenal itu lahir pada 1596 dan dinamai Amonute. Dia juga punya nama pribadi, yakni Matoaka. Terlahir sebagai anak terakhir dalam keluarga, Pocahontas tumbuh besar dengan penuh kasih sayang. Bahkan dia adalah buah hati kesayangan ayahnya. Karena statusnya yang cukup tinggi, Pocahontas belajar lebih banyak hal, punya lebih banyak kebebasan dan saat musim dingin memakai baju hangat.
Melansir NPS.Gov, Jumat (17/3/2017), Pocahontas berusia 11 tahun   ketika Inggris datang menjajah Tanah Airnya pada Mei 1607. Saat itu,   Amerika Serikat masih terdiri dari konfederasi, belum bersatu dan   menjadi negara serikat federal.
Hampir mirip dengan filmnya, bangsa Inggris datang ke sana untuk   menguasai belahan dunia baru yang masih primitif dan belum terjamah   modernitas. Mereka bermukim di Jamestown dekat sungai Suku Powhatan   jelas tak bisa menerima keberadaan orang asing ini, yang datang dengan   senapan dan tanpa permisi mengacak-acak alam mereka.
Singkat cerita, Kapten John Smith ditangkap oleh kakak laki-laki   Pocahontas, Opechancanough. Pria kulit putih itu diarak keliling kampung   sebelum kepalanya disajikan di atas dua buah batu yang tumpang tindih.   Kepalanya hampir saja dipenggal, kalau bukan Pocahontas lari  melindungi  Smith dengan kepalanya. Ketua suku tak sampai hati memancung  kepala  putrinya sendiri.Namun sekali lagi, perlu diketahui, Pocahontas hanya gadis kecil yang  lugu dan cinta damai kala itu. Dia baru 11 tahun dan John Smith yang  berumur 27 tahun bukan paedofil. Jadi walaupun mereka selanjutnya dekat,  tetapi tidak terlibat jalinan asmara sama sekali.
Bicara soal asmara justru kisah Pocahontas agak miris. Jika dalam  film, dia memutuskan memilih desanya dan jatuh cinta dengan Smith  seorang, dalam kenyataan, Matoaka diculik dengan cara yang amat licik  ketika usianya beranjak dewasa, 14 tahun. Pada masa itu, usia 14 tahun  berarti seorang perempuan sudah siap untuk dinikahkan.
Sebelum diculik, Pocahontas sempat menikah dengan penjaga ayahnya,  Kocoum. Namun segera ketika Powhatan menerima kabar kalau Pocahontas  diculik, pernikahan mereka bisa dianggap selesai.
Penculik licik itu adalah Kapten Samuel Argall. Dia menculik  Pocahontas setelah mengetahui kalau remaja itu adalah jantung hati ayah  dan sukunya. Argall pun membujuk suku lain yang masih berkerabat dekat  dengan Powhatan, Patawomeck, merancang perangkap untuk membawa kabur  Pocahontas.
Sungguh malang, meski menyadari ada yang tidak beres ketika diajak  berlayar, Pocahontas akhirnya terjebak juga. Penculikannya kemudian  memudahkan jalan Inggris merampas segalanya dari suku Indian.
Pocahontas pernah menolong orang kulit putih yang justru datang untuk  menjajahnya. Namun keserakahan orang lain menjatuhkannya ke jurang yang  gelap. Setibanya di Henrico, Pocahontas diajarkan bahasa Inggris, agama  Kristen dan kebudayaan Eropa.

Pada 1614, Pocahontas dibaptis menjadi Kristen. Namanya diperbaharui   menjadi Rebecca. Dia kemudian jatuh hati dengan pria Inggris, John   Rolfe. Pernikahan mereka dikaruniai seorang putra bernama Thomas.
Menjelang akhir hidupnya, Nyonya Rebecca Rolfe menjadi tontonan orang Inggris. Contoh orang Indian yang sudah dimodernkan.
Pada Maret 1617, keluarga Rolfe kembali ke Virginia. Saat melintasi   Sungai Thames, Pocahontas sakit keras. Kapal pun ditepikan. Di Kota   Gravesend, Pocahontas menghembuskan napas terakhirnya. Tidak jelas apa   sakitnya, diduga TBC atau pneumonia. Ada juga yang mengatakan disentri.
Usianya baru 21 tahun ketika meninggal dunia. Jasadnya dikubur di   Gereja St George pada 21 Maret 1617. Suaminya kembali ke Virginia tanpa   sang istri, meninggalkan Thomas muda dalam perawatan kerabatnya di   Inggris. Setahun setelah kematiannya, hubungan antara Indian Amerika dan   Inggris tak ubahnya benang kusut. Kepergian Pocahontas membawa   perubahan besar dalam kehidupan suku Indian untuk selama-lamanya. Sekira   90% suku Indian dibantai, genosida terbesar dalam sejarah.
Kini 400 tahun berlalu sejak Pocahontas si pembawa kedamaian   meninggal dunia. Kendati begitu, namanya tetap mewangi. Patungnya   berdiri tegak di pelataran Gereja St George di Gravesend, Kent, Inggris.   Tahun ini, patungnya masuk dalam daftar monumen penting yang akan   diperbaiki.
Terlepas dari segala intrik dalam kehidupannya, anak-anak di Negeri   Ratu Elizabeth mempelajari Pocahontas sebagai kisah kepahlawanan yang   sederhana. Contoh dari pertemuan antara penjajah dan suku Indian yang   membawa bencana.</description><content:encoded>GRAVESEND - Jika Anda lahir di tahun 90-an atau setidaknya menyukai film-film Disney, Anda pasti tahu Pohacontas. Ya, dia adalah perempuan berambut panjang, bermata tajam, bibirnya penuh dan kulit coklat kemerahan khas suku Indian asli Amerika. Di negeri dongeng, perempuan berhati mulia itu jatuh cinta kepada pria pendatang dari Inggris, John Smith. Kekuatan cinta mereka lah yang menjembatani antara suku Indian dan penjajah kulit putih yang ingin menguasai kekayaan alam Desa Tsenacomoco (sekarang masuk negara bagian Virginia).
Namun demikian, itu semua hanya cerita karangan untuk memperkaya daya khayal anak-anak saja. Disney selalu menawarkan kisah yang indah dan berakhir bahagia, sayangnya fakta sejarah mencatat hidup Pocahontas tidak seberbunga yang ada dalam film.
Pocahontas adalah nama panggilan yang berarti si tukang main. Dia lahir dalam suku Powhatan, sebagai anak bungsu. Ayahnya, Wahunsenaca menjabat kepala suku. Ibunya diduga sudah meninggal saat melahirkannya, tetapi ada juga yang mengatakan kalau dia ditinggal di desa lain kemudian menikah lagi.
Perempuan Indian paling terkenal itu lahir pada 1596 dan dinamai Amonute. Dia juga punya nama pribadi, yakni Matoaka. Terlahir sebagai anak terakhir dalam keluarga, Pocahontas tumbuh besar dengan penuh kasih sayang. Bahkan dia adalah buah hati kesayangan ayahnya. Karena statusnya yang cukup tinggi, Pocahontas belajar lebih banyak hal, punya lebih banyak kebebasan dan saat musim dingin memakai baju hangat.
Melansir NPS.Gov, Jumat (17/3/2017), Pocahontas berusia 11 tahun   ketika Inggris datang menjajah Tanah Airnya pada Mei 1607. Saat itu,   Amerika Serikat masih terdiri dari konfederasi, belum bersatu dan   menjadi negara serikat federal.
Hampir mirip dengan filmnya, bangsa Inggris datang ke sana untuk   menguasai belahan dunia baru yang masih primitif dan belum terjamah   modernitas. Mereka bermukim di Jamestown dekat sungai Suku Powhatan   jelas tak bisa menerima keberadaan orang asing ini, yang datang dengan   senapan dan tanpa permisi mengacak-acak alam mereka.
Singkat cerita, Kapten John Smith ditangkap oleh kakak laki-laki   Pocahontas, Opechancanough. Pria kulit putih itu diarak keliling kampung   sebelum kepalanya disajikan di atas dua buah batu yang tumpang tindih.   Kepalanya hampir saja dipenggal, kalau bukan Pocahontas lari  melindungi  Smith dengan kepalanya. Ketua suku tak sampai hati memancung  kepala  putrinya sendiri.Namun sekali lagi, perlu diketahui, Pocahontas hanya gadis kecil yang  lugu dan cinta damai kala itu. Dia baru 11 tahun dan John Smith yang  berumur 27 tahun bukan paedofil. Jadi walaupun mereka selanjutnya dekat,  tetapi tidak terlibat jalinan asmara sama sekali.
Bicara soal asmara justru kisah Pocahontas agak miris. Jika dalam  film, dia memutuskan memilih desanya dan jatuh cinta dengan Smith  seorang, dalam kenyataan, Matoaka diculik dengan cara yang amat licik  ketika usianya beranjak dewasa, 14 tahun. Pada masa itu, usia 14 tahun  berarti seorang perempuan sudah siap untuk dinikahkan.
Sebelum diculik, Pocahontas sempat menikah dengan penjaga ayahnya,  Kocoum. Namun segera ketika Powhatan menerima kabar kalau Pocahontas  diculik, pernikahan mereka bisa dianggap selesai.
Penculik licik itu adalah Kapten Samuel Argall. Dia menculik  Pocahontas setelah mengetahui kalau remaja itu adalah jantung hati ayah  dan sukunya. Argall pun membujuk suku lain yang masih berkerabat dekat  dengan Powhatan, Patawomeck, merancang perangkap untuk membawa kabur  Pocahontas.
Sungguh malang, meski menyadari ada yang tidak beres ketika diajak  berlayar, Pocahontas akhirnya terjebak juga. Penculikannya kemudian  memudahkan jalan Inggris merampas segalanya dari suku Indian.
Pocahontas pernah menolong orang kulit putih yang justru datang untuk  menjajahnya. Namun keserakahan orang lain menjatuhkannya ke jurang yang  gelap. Setibanya di Henrico, Pocahontas diajarkan bahasa Inggris, agama  Kristen dan kebudayaan Eropa.

Pada 1614, Pocahontas dibaptis menjadi Kristen. Namanya diperbaharui   menjadi Rebecca. Dia kemudian jatuh hati dengan pria Inggris, John   Rolfe. Pernikahan mereka dikaruniai seorang putra bernama Thomas.
Menjelang akhir hidupnya, Nyonya Rebecca Rolfe menjadi tontonan orang Inggris. Contoh orang Indian yang sudah dimodernkan.
Pada Maret 1617, keluarga Rolfe kembali ke Virginia. Saat melintasi   Sungai Thames, Pocahontas sakit keras. Kapal pun ditepikan. Di Kota   Gravesend, Pocahontas menghembuskan napas terakhirnya. Tidak jelas apa   sakitnya, diduga TBC atau pneumonia. Ada juga yang mengatakan disentri.
Usianya baru 21 tahun ketika meninggal dunia. Jasadnya dikubur di   Gereja St George pada 21 Maret 1617. Suaminya kembali ke Virginia tanpa   sang istri, meninggalkan Thomas muda dalam perawatan kerabatnya di   Inggris. Setahun setelah kematiannya, hubungan antara Indian Amerika dan   Inggris tak ubahnya benang kusut. Kepergian Pocahontas membawa   perubahan besar dalam kehidupan suku Indian untuk selama-lamanya. Sekira   90% suku Indian dibantai, genosida terbesar dalam sejarah.
Kini 400 tahun berlalu sejak Pocahontas si pembawa kedamaian   meninggal dunia. Kendati begitu, namanya tetap mewangi. Patungnya   berdiri tegak di pelataran Gereja St George di Gravesend, Kent, Inggris.   Tahun ini, patungnya masuk dalam daftar monumen penting yang akan   diperbaiki.
Terlepas dari segala intrik dalam kehidupannya, anak-anak di Negeri   Ratu Elizabeth mempelajari Pocahontas sebagai kisah kepahlawanan yang   sederhana. Contoh dari pertemuan antara penjajah dan suku Indian yang   membawa bencana.</content:encoded></item></channel></rss>
