<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>NEWS STORY: Doktrin Pendiri Kopassus Idjon Djanbi pada Anak, &quot;Harus Bangga pada Indonesia!&quot;</title><description>Jarang bercerita tentang sepak terjangnya di militer, Idjon Djanbi lebih memilih mendoktrin keluarganya untuk selalu bangga pada Indonesia.</description><link>https://news.okezone.com/read/2017/03/19/337/1645401/news-story-doktrin-pendiri-kopassus-idjon-djanbi-pada-anak-harus-bangga-pada-indonesia</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2017/03/19/337/1645401/news-story-doktrin-pendiri-kopassus-idjon-djanbi-pada-anak-harus-bangga-pada-indonesia"/><item><title>NEWS STORY: Doktrin Pendiri Kopassus Idjon Djanbi pada Anak, &quot;Harus Bangga pada Indonesia!&quot;</title><link>https://news.okezone.com/read/2017/03/19/337/1645401/news-story-doktrin-pendiri-kopassus-idjon-djanbi-pada-anak-harus-bangga-pada-indonesia</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2017/03/19/337/1645401/news-story-doktrin-pendiri-kopassus-idjon-djanbi-pada-anak-harus-bangga-pada-indonesia</guid><pubDate>Minggu 19 Maret 2017 16:19 WIB</pubDate><dc:creator>Randy Wirayudha</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2017/03/17/337/1645401/news-story-doktrin-pendiri-kopassus-idjon-djanbi-pada-anak-harus-bangga-pada-indonesia-9PLIuZ0pMk.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Heru Sulistya Djanbi (Foto: Randy Wirayudha)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2017/03/17/337/1645401/news-story-doktrin-pendiri-kopassus-idjon-djanbi-pada-anak-harus-bangga-pada-indonesia-9PLIuZ0pMk.jpg</image><title>Heru Sulistya Djanbi (Foto: Randy Wirayudha)</title></images><description>TIDAK banyak kenangan yang tersimpan di benak Heru Djanbi tentang sang ayah, Letkol Inf (Purn) Mochammad Idjon Djanbi. Pasalnya saat sang pendiri Komando Pasukan Khusus (Kopassus) TNI AD itu &amp;ldquo;dipanggil&amp;rdquo; Allah SWT pada 1977, usia Heru masih 8 tahun.
(Baca: NEWS STORY: Kisah Idjon Djanbi Ngomelin Kopassus Jelang Ajal Menjemput)

Apalagi memang sang ayah tak pernah banyak cerita tentang pengalamannya semasa Perang Dunia II, masuk ke Indonesia sebagai instruktur Korps Speciale Troepen (KST) atau Pasukan Khusus Belanda, atau kariernya semasa jadi komandan pertama Kopassus.

Hanya saja, masih terpatri pesan sang ayah kepada Heru Djanbi sebelum menghadap Sang Khalik. Pesan untuk selalu merasa bangga terhadap negara dan bangga menjadi orang Indonesia.

&amp;ldquo;Saya dulu masih kecil ya, sekitar 8 tahun (saat Idjon Djanbi tutup usia). Yang saya ingat pesan bapak itu, ya dia intinya cinta NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia),&amp;rdquo; ungkap Heru kepada Okezone.

&amp;ldquo;Yang sering diceritakan (kepada keluarga) ya Indonesia, bukan negara lain. &amp;lsquo;Kamu harus bangga sama Indonesia&amp;rsquo;. Itu yang didoktrinkan ke kami. Kalau pribadi ke ibu, ya saya enggak tahu karena ibu enggak pernah cerita juga,&amp;rdquo; imbuh Ketua Umum Anak Korps Baret Merah (AKBM) tersebut.

Sementara tentang karakter, sifat dan keteladanan yang tentu juga masih diingat Heru untuk diikuti, adalah tentang berani karena benar dan bertanggung jawab jika melakukan kesalahan.

&amp;ldquo;Beliau banyak sekali karakter dan sifatnya. Tapi yang saya ingat: &amp;lsquo;kalau kamu di posisi yang benar, jangan takut sama siapapun juga. Tapi kalau kamu salah, kamu harus mau minta maaf sama siapapun juga&amp;rsquo;,&amp;rdquo; sambung Heru.

&amp;ldquo;Dia juga selalu bilang: &amp;lsquo;maju terus kalau kamu benar, tapi kalau salah, sama anak kecil pun kamu harus minta maaf&amp;rsquo;. Beliau pun seperti itu menyontohkannya. Dia enggak serta merta belain anak kalau kami anak-anaknya bikin salah,&amp;rdquo; tuntasnya.</description><content:encoded>TIDAK banyak kenangan yang tersimpan di benak Heru Djanbi tentang sang ayah, Letkol Inf (Purn) Mochammad Idjon Djanbi. Pasalnya saat sang pendiri Komando Pasukan Khusus (Kopassus) TNI AD itu &amp;ldquo;dipanggil&amp;rdquo; Allah SWT pada 1977, usia Heru masih 8 tahun.
(Baca: NEWS STORY: Kisah Idjon Djanbi Ngomelin Kopassus Jelang Ajal Menjemput)

Apalagi memang sang ayah tak pernah banyak cerita tentang pengalamannya semasa Perang Dunia II, masuk ke Indonesia sebagai instruktur Korps Speciale Troepen (KST) atau Pasukan Khusus Belanda, atau kariernya semasa jadi komandan pertama Kopassus.

Hanya saja, masih terpatri pesan sang ayah kepada Heru Djanbi sebelum menghadap Sang Khalik. Pesan untuk selalu merasa bangga terhadap negara dan bangga menjadi orang Indonesia.

&amp;ldquo;Saya dulu masih kecil ya, sekitar 8 tahun (saat Idjon Djanbi tutup usia). Yang saya ingat pesan bapak itu, ya dia intinya cinta NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia),&amp;rdquo; ungkap Heru kepada Okezone.

&amp;ldquo;Yang sering diceritakan (kepada keluarga) ya Indonesia, bukan negara lain. &amp;lsquo;Kamu harus bangga sama Indonesia&amp;rsquo;. Itu yang didoktrinkan ke kami. Kalau pribadi ke ibu, ya saya enggak tahu karena ibu enggak pernah cerita juga,&amp;rdquo; imbuh Ketua Umum Anak Korps Baret Merah (AKBM) tersebut.

Sementara tentang karakter, sifat dan keteladanan yang tentu juga masih diingat Heru untuk diikuti, adalah tentang berani karena benar dan bertanggung jawab jika melakukan kesalahan.

&amp;ldquo;Beliau banyak sekali karakter dan sifatnya. Tapi yang saya ingat: &amp;lsquo;kalau kamu di posisi yang benar, jangan takut sama siapapun juga. Tapi kalau kamu salah, kamu harus mau minta maaf sama siapapun juga&amp;rsquo;,&amp;rdquo; sambung Heru.

&amp;ldquo;Dia juga selalu bilang: &amp;lsquo;maju terus kalau kamu benar, tapi kalau salah, sama anak kecil pun kamu harus minta maaf&amp;rsquo;. Beliau pun seperti itu menyontohkannya. Dia enggak serta merta belain anak kalau kami anak-anaknya bikin salah,&amp;rdquo; tuntasnya.</content:encoded></item></channel></rss>
