<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>PKS: Pilkada DKI Telah Dicemari Limbah Fitnah!</title><description>Hidayat mengatakan, fitnah yang menyeret-nyeret persoalan agama  menandakan adanya pengabaian terhadap agama serta tokoh  agama.</description><link>https://news.okezone.com/read/2017/03/19/338/1646508/pks-pilkada-dki-telah-dicemari-limbah-fitnah</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2017/03/19/338/1646508/pks-pilkada-dki-telah-dicemari-limbah-fitnah"/><item><title>PKS: Pilkada DKI Telah Dicemari Limbah Fitnah!</title><link>https://news.okezone.com/read/2017/03/19/338/1646508/pks-pilkada-dki-telah-dicemari-limbah-fitnah</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2017/03/19/338/1646508/pks-pilkada-dki-telah-dicemari-limbah-fitnah</guid><pubDate>Minggu 19 Maret 2017 11:28 WIB</pubDate><dc:creator>Bayu Septianto</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2017/03/19/338/1646508/pks-pilkada-dki-telah-dicemari-limbah-fitnah-Y4zsy5UHON.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Hidayat Nur Wahid (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2017/03/19/338/1646508/pks-pilkada-dki-telah-dicemari-limbah-fitnah-Y4zsy5UHON.jpg</image><title>Hidayat Nur Wahid (Foto: Okezone)</title></images><description>JAKARTA - Calon gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta, Anies Rasyid Baswedan dan Sandiaga Salahuddin Uno diserang kampanye hitam atau black campaign. Kali ini, beredar foto yang memperlihatkan surat kontrak berjudul &amp;lsquo;Akad Alittifaq&amp;rsquo; bertandatangan palsu yang menyatakan Anies-Sandi akan menggunakan syariat Islam di Jakarta.
Wakil Ketua Majelis Syuro Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Hidayat Nur Wahid menyayangkan adanya kampanye hitam seperti ini, apalagi menyerang Anies-Sandi sebagai pasangan calon yang diusung partainya. Menurut Hidayat, fitnah-fitnah seperti ini telah mencemari azas demokrasi dalam Pilkada DKI Jakarta.
&quot;Jadi, inilah salah satu bukti paling anyar bagaimana Pilgub DKI telah dicemari dengan limbah fitnah alias hoax,&quot; ucap Hidayat saat dihubungi Okezone, Minggu (19/3/2017).
Hidayat menambahkan, fitnah yang menyeret-nyeret persoalan agama tersebut juga menandakan adanya pengabaian terhadap agama serta tokoh agama.
&quot;Perilaku seperti ini bisa terjadi ketika prinsip penghormatan kepada agama dan tokoh agama diabaikan, malah penistaan agama dan permalukan tokoh agama dibiarkan tanpa penghukuman,&quot; ujarnya.
Akibat adanya fitnah-fitnah seperti itu, Wakil Ketua MPR itu menyebut paham machiavellisme akan merajalela. Paham tersebut diartikan sebagai segala sesuatu yang dilakukan demi pemerintahan dan negara adalah sah dan baik untuk dilakukan.
&quot;Akibatnya machiavelisme merajalela, dan fitnah yang kasar pun dilakukan juga seperti palsukan tandatangan Pak Anis dan Pak Sandi dalam apa yang disebut 'Aqad Ittifaq' itu,&quot; tukasnya.
Sebelumnya, sebuah foto berisi kontrak politik yang diteken Anies-Sandi menjadi viral sejak Sabtu 18 Maret 2017 sore. Dalam kontrak politik itu, Anies-Sandi menandatangani kontrak politik untuk menjalankan syariat Islam jika terpilih menjadi gubernur dan wakil gubernur Jakarta.
&quot;Saya Anies Baswedan dan saya Sandiaga Uno menyatakan siap memimpin DKI Jakarta dengan nilai-nilai syariat Islam dan mendengarkan nasihat para mufassir dan ulama,&quot; begitu tulisan kontrak politik yang beredar.
Kontrak politik itu ditandatangani pada 7 Februari 2017 dan diteken Anies-Sandi dengan perwakilan Forum Umat Islam (FUI) Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia dan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI).
Anies sendiri telah menegaskan, bahwa tanda tangan dalam surat tersebut adalah palsu. &quot;Tanda tangan saya tidak seperti itu,&quot; ujarnya beberapa waktu lalu.</description><content:encoded>JAKARTA - Calon gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta, Anies Rasyid Baswedan dan Sandiaga Salahuddin Uno diserang kampanye hitam atau black campaign. Kali ini, beredar foto yang memperlihatkan surat kontrak berjudul &amp;lsquo;Akad Alittifaq&amp;rsquo; bertandatangan palsu yang menyatakan Anies-Sandi akan menggunakan syariat Islam di Jakarta.
Wakil Ketua Majelis Syuro Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Hidayat Nur Wahid menyayangkan adanya kampanye hitam seperti ini, apalagi menyerang Anies-Sandi sebagai pasangan calon yang diusung partainya. Menurut Hidayat, fitnah-fitnah seperti ini telah mencemari azas demokrasi dalam Pilkada DKI Jakarta.
&quot;Jadi, inilah salah satu bukti paling anyar bagaimana Pilgub DKI telah dicemari dengan limbah fitnah alias hoax,&quot; ucap Hidayat saat dihubungi Okezone, Minggu (19/3/2017).
Hidayat menambahkan, fitnah yang menyeret-nyeret persoalan agama tersebut juga menandakan adanya pengabaian terhadap agama serta tokoh agama.
&quot;Perilaku seperti ini bisa terjadi ketika prinsip penghormatan kepada agama dan tokoh agama diabaikan, malah penistaan agama dan permalukan tokoh agama dibiarkan tanpa penghukuman,&quot; ujarnya.
Akibat adanya fitnah-fitnah seperti itu, Wakil Ketua MPR itu menyebut paham machiavellisme akan merajalela. Paham tersebut diartikan sebagai segala sesuatu yang dilakukan demi pemerintahan dan negara adalah sah dan baik untuk dilakukan.
&quot;Akibatnya machiavelisme merajalela, dan fitnah yang kasar pun dilakukan juga seperti palsukan tandatangan Pak Anis dan Pak Sandi dalam apa yang disebut 'Aqad Ittifaq' itu,&quot; tukasnya.
Sebelumnya, sebuah foto berisi kontrak politik yang diteken Anies-Sandi menjadi viral sejak Sabtu 18 Maret 2017 sore. Dalam kontrak politik itu, Anies-Sandi menandatangani kontrak politik untuk menjalankan syariat Islam jika terpilih menjadi gubernur dan wakil gubernur Jakarta.
&quot;Saya Anies Baswedan dan saya Sandiaga Uno menyatakan siap memimpin DKI Jakarta dengan nilai-nilai syariat Islam dan mendengarkan nasihat para mufassir dan ulama,&quot; begitu tulisan kontrak politik yang beredar.
Kontrak politik itu ditandatangani pada 7 Februari 2017 dan diteken Anies-Sandi dengan perwakilan Forum Umat Islam (FUI) Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia dan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI).
Anies sendiri telah menegaskan, bahwa tanda tangan dalam surat tersebut adalah palsu. &quot;Tanda tangan saya tidak seperti itu,&quot; ujarnya beberapa waktu lalu.</content:encoded></item></channel></rss>
