<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Ini Nih, Asal-usul Pertanyaan 'Mana Lebih Dulu Ayam Atau Telur?'</title><description>Ini merupakan pertanyaan klasik, tetapi sejak ribuan tahun lalu sampai sekarang masih juga menyenangkan untuk diperdebatkan.</description><link>https://news.okezone.com/read/2017/03/24/18/1648259/ini-nih-asal-usul-pertanyaan-mana-lebih-dulu-ayam-atau-telur</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2017/03/24/18/1648259/ini-nih-asal-usul-pertanyaan-mana-lebih-dulu-ayam-atau-telur"/><item><title>Ini Nih, Asal-usul Pertanyaan 'Mana Lebih Dulu Ayam Atau Telur?'</title><link>https://news.okezone.com/read/2017/03/24/18/1648259/ini-nih-asal-usul-pertanyaan-mana-lebih-dulu-ayam-atau-telur</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2017/03/24/18/1648259/ini-nih-asal-usul-pertanyaan-mana-lebih-dulu-ayam-atau-telur</guid><pubDate>Jum'at 24 Maret 2017 14:01 WIB</pubDate><dc:creator>Silviana Dharma</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2017/03/21/18/1648259/ini-nih-asal-usul-pertanyaan-mana-lebih-dulu-ayam-atau-telur-T368fjGx5u.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Mana lebih dulu, ayam atau telur? (Foto: Vladimir Prusakov/Shutterstock)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2017/03/21/18/1648259/ini-nih-asal-usul-pertanyaan-mana-lebih-dulu-ayam-atau-telur-T368fjGx5u.jpg</image><title>Mana lebih dulu, ayam atau telur? (Foto: Vladimir Prusakov/Shutterstock)</title></images><description>MANA lebih dulu, ayam atau telur? Ini merupakan pertanyaan klasik, tetapi sejak ribuan tahun lalu sampai sekarang masih juga menyenangkan untuk diperdebatkan.
Cara mudah menjawabnya adalah berdasarkan alfabet. Maka ayam yang lebih dulu, karena dalam bahasa Indonesia A adalah huruf pertama, sementara telur muncul belakangan.
Tetapi metode ini jelas tidak menjawab pertanyaan sesungguhnya. Karena dalam bahasa lain, seperti Inggris, Hen (ayam betina) muncul setelah Egg (telur).
Sebelum menjawabnya secara ilmiah, mari kita cari tahu lebih dulu asal usul pertanyaan aneh ini.
Usut punya usut, pertanyaan tersebut pertama kali dipopulerkan pada zaman Yunani Kuno. Seorang filsuf terkenal bernama Aristoteles mencetuskan pertanyaan tersebut.
Adalah Francois Fenelon pada 1825 membuat terjemahan pandangan Aristoteles itu dalam bahasa Inggris. &quot;Adakah sebuah telur memberi permulaan kehidupan bagi seekor burung, atau yang ada adalah seekor burung memulai keberadaan telur, mengingat burung lahir dari telur,&quot; demikian seperti dikutip dari Time, Jumat (24/3/2017).
Sayangnya murid Plato sekaligus guru Alexander The Great itu terkesan mengelak dengan jawabannya. Dia hanya menyimpulkan bahwa keduanya bergerak maju mundur tak terhingga dan selalu ada.Dalam perkembangannya, pertanyaan tersebut dibuat menjadi lebih  sederhana oleh filsuf Yunani lain, Plutarkhos. Sebagaimana yang kita  kenal sekarang, pertanyaannya menjadi, &quot;Mana lebih dulu, ayam atau  telur?&quot;
Pertanyaan sederhana, tetapi mengguncang dunia. Lebih dalam, kalimat  tersebut seolah mempertanyakan asal usul penciptaan segala kehidupan di  jagat raya. Walaupun pada abad kelima, seorang cendekiawan Romawi,  Macrobius bergurau bahwa manusia memang suka memikirkan hal sepele,  contohnya menanyakan soal mana yang lebih dulu ayam apa telur. Tetapi  dia tidak memungkiri bahwa pertanyaan itu sebenarnya cukup penting untuk  dipikirkan.
Setelahnya, para ahli mulai mencoba menjawab perkara sepele itu.  Filsuf Gereja seperti Agustinus dan St Thomas Aquinas menghabiskan waktu  mereka menerka-nerka apa yang sebenarnya dipikirkan Aristoteles ketika  mencetuskan pandangan tersebut. Keduanya menyandingkan pertanyaan  tersebut dengan pandangan agama.
&quot;Jika merujuk pada kitab Kejadian dalam Alkitab, maka ayam muncul  lebih dulu,&quot; kata Roy Sorensen, Guru Besar filsafat di Washington  University, St Louis.
Berlanjut ke ratusan tahun setelah kedua filsuf Kristen itu menjawab.  Seorang ahli sejarah dari Italia, Ulysse Aldrovandi mengulas singkat  persoalan tersebut. Pada 1600 dia menyelesaikan pertanyaan itu dengan  pernyataan, &quot;Saya selesaikan perdebatan usang yang hanya bikin penasaran  itu. Dalam kitab suci, jelas kalau ayam ada lebih dulu. Kitab itu juga  mengajarkan kalau binatang diciptakan pada permulaan dunia. Maka saat  itu, ayam tidak lahir dari telur, tetapi dari ketiadaan.&quot;Pada abad ke-18, pola pikirnya berubah lagi. Denis Diderot, seorang   pemikir terkemuka sekaligus editor Encyclopedie, menilai kalau   pertanyaan klasik itu tidak sesederhana kelihatannya. Menurutnya, masa   lalu para binatang penuh ketidakpastian seperti masa depan mereka.
&quot;Jika pertanyaan mana lebih dulu ayam atau telur membuat Anda malu,   itu karena Anda membayangkan asal-usul para binatang itu seperti yang   sudah ada sekarang,&quot; ujar Diderot pada 1769.
Teori Evolusi Charles Darwin yang dibukukan dalam &amp;lsquo;On the Origin of   Species&amp;rsquo; pada 1859 membuat persoalan ini makin pelik. Demikian kata   Sorenson. &quot;Penelitian Darwin itu menjelaskan kalau pemikiran Diderot ada   benarnya juga, namun penekanan Darwin pada perubahan bertahap,  didukung  prinsip warisan genetik Gregor Mendel, menghasilkan perpaduan  antara  kepastian dan misteri yang terus berlanjut hingga hari ini.  Kalau telur  seharusnya jadi yang muncul duluan, tetapi tidak tahu  kapan,&quot; terangnya.
Sementara pertanyaan tersebut sudah cukup banyak dicari solusinya   secara ilmiah, para filsuf terus menjadikannya perdebatan tak berujung.   Sorenson berpendapat, setidaknya pertanyaan itu asyik untuk  bermeditasi.
&quot;Ini memang pertanyaan yang mengesankan. Anda ingin menganggap ini   sekadar pertanyaan bodoh, yang membuktikan kalau Anda tidak sabar.   Tetapi ini memang bukan pertanyaan bodoh,&quot; komentar Sorenson.</description><content:encoded>MANA lebih dulu, ayam atau telur? Ini merupakan pertanyaan klasik, tetapi sejak ribuan tahun lalu sampai sekarang masih juga menyenangkan untuk diperdebatkan.
Cara mudah menjawabnya adalah berdasarkan alfabet. Maka ayam yang lebih dulu, karena dalam bahasa Indonesia A adalah huruf pertama, sementara telur muncul belakangan.
Tetapi metode ini jelas tidak menjawab pertanyaan sesungguhnya. Karena dalam bahasa lain, seperti Inggris, Hen (ayam betina) muncul setelah Egg (telur).
Sebelum menjawabnya secara ilmiah, mari kita cari tahu lebih dulu asal usul pertanyaan aneh ini.
Usut punya usut, pertanyaan tersebut pertama kali dipopulerkan pada zaman Yunani Kuno. Seorang filsuf terkenal bernama Aristoteles mencetuskan pertanyaan tersebut.
Adalah Francois Fenelon pada 1825 membuat terjemahan pandangan Aristoteles itu dalam bahasa Inggris. &quot;Adakah sebuah telur memberi permulaan kehidupan bagi seekor burung, atau yang ada adalah seekor burung memulai keberadaan telur, mengingat burung lahir dari telur,&quot; demikian seperti dikutip dari Time, Jumat (24/3/2017).
Sayangnya murid Plato sekaligus guru Alexander The Great itu terkesan mengelak dengan jawabannya. Dia hanya menyimpulkan bahwa keduanya bergerak maju mundur tak terhingga dan selalu ada.Dalam perkembangannya, pertanyaan tersebut dibuat menjadi lebih  sederhana oleh filsuf Yunani lain, Plutarkhos. Sebagaimana yang kita  kenal sekarang, pertanyaannya menjadi, &quot;Mana lebih dulu, ayam atau  telur?&quot;
Pertanyaan sederhana, tetapi mengguncang dunia. Lebih dalam, kalimat  tersebut seolah mempertanyakan asal usul penciptaan segala kehidupan di  jagat raya. Walaupun pada abad kelima, seorang cendekiawan Romawi,  Macrobius bergurau bahwa manusia memang suka memikirkan hal sepele,  contohnya menanyakan soal mana yang lebih dulu ayam apa telur. Tetapi  dia tidak memungkiri bahwa pertanyaan itu sebenarnya cukup penting untuk  dipikirkan.
Setelahnya, para ahli mulai mencoba menjawab perkara sepele itu.  Filsuf Gereja seperti Agustinus dan St Thomas Aquinas menghabiskan waktu  mereka menerka-nerka apa yang sebenarnya dipikirkan Aristoteles ketika  mencetuskan pandangan tersebut. Keduanya menyandingkan pertanyaan  tersebut dengan pandangan agama.
&quot;Jika merujuk pada kitab Kejadian dalam Alkitab, maka ayam muncul  lebih dulu,&quot; kata Roy Sorensen, Guru Besar filsafat di Washington  University, St Louis.
Berlanjut ke ratusan tahun setelah kedua filsuf Kristen itu menjawab.  Seorang ahli sejarah dari Italia, Ulysse Aldrovandi mengulas singkat  persoalan tersebut. Pada 1600 dia menyelesaikan pertanyaan itu dengan  pernyataan, &quot;Saya selesaikan perdebatan usang yang hanya bikin penasaran  itu. Dalam kitab suci, jelas kalau ayam ada lebih dulu. Kitab itu juga  mengajarkan kalau binatang diciptakan pada permulaan dunia. Maka saat  itu, ayam tidak lahir dari telur, tetapi dari ketiadaan.&quot;Pada abad ke-18, pola pikirnya berubah lagi. Denis Diderot, seorang   pemikir terkemuka sekaligus editor Encyclopedie, menilai kalau   pertanyaan klasik itu tidak sesederhana kelihatannya. Menurutnya, masa   lalu para binatang penuh ketidakpastian seperti masa depan mereka.
&quot;Jika pertanyaan mana lebih dulu ayam atau telur membuat Anda malu,   itu karena Anda membayangkan asal-usul para binatang itu seperti yang   sudah ada sekarang,&quot; ujar Diderot pada 1769.
Teori Evolusi Charles Darwin yang dibukukan dalam &amp;lsquo;On the Origin of   Species&amp;rsquo; pada 1859 membuat persoalan ini makin pelik. Demikian kata   Sorenson. &quot;Penelitian Darwin itu menjelaskan kalau pemikiran Diderot ada   benarnya juga, namun penekanan Darwin pada perubahan bertahap,  didukung  prinsip warisan genetik Gregor Mendel, menghasilkan perpaduan  antara  kepastian dan misteri yang terus berlanjut hingga hari ini.  Kalau telur  seharusnya jadi yang muncul duluan, tetapi tidak tahu  kapan,&quot; terangnya.
Sementara pertanyaan tersebut sudah cukup banyak dicari solusinya   secara ilmiah, para filsuf terus menjadikannya perdebatan tak berujung.   Sorenson berpendapat, setidaknya pertanyaan itu asyik untuk  bermeditasi.
&quot;Ini memang pertanyaan yang mengesankan. Anda ingin menganggap ini   sekadar pertanyaan bodoh, yang membuktikan kalau Anda tidak sabar.   Tetapi ini memang bukan pertanyaan bodoh,&quot; komentar Sorenson.</content:encoded></item></channel></rss>
