<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Jepang Selidiki Penyebab Salju Longsor yang Menewaskan 8 Orang</title><description>Kepolisian memfokuskan penyelidikan apakah pihak sponsor latihan tersebut melakukan kesalahan penilaian.&amp;nbsp;</description><link>https://news.okezone.com/read/2017/03/28/18/1652956/jepang-selidiki-penyebab-salju-longsor-yang-menewaskan-8-orang</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2017/03/28/18/1652956/jepang-selidiki-penyebab-salju-longsor-yang-menewaskan-8-orang"/><item><title>Jepang Selidiki Penyebab Salju Longsor yang Menewaskan 8 Orang</title><link>https://news.okezone.com/read/2017/03/28/18/1652956/jepang-selidiki-penyebab-salju-longsor-yang-menewaskan-8-orang</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2017/03/28/18/1652956/jepang-selidiki-penyebab-salju-longsor-yang-menewaskan-8-orang</guid><pubDate>Selasa 28 Maret 2017 16:03 WIB</pubDate><dc:creator>Wikanto Arungbudoyo</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2017/03/28/18/1652956/jepang-selidiki-penyebab-salju-longsor-yang-menewaskan-8-orang-IXV36Ryrqk.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Otoritas Jepang meneliti dengan hati-hati penyebab terjadinya longsoran salju (Foto: Kyodo/Reuters)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2017/03/28/18/1652956/jepang-selidiki-penyebab-salju-longsor-yang-menewaskan-8-orang-IXV36Ryrqk.jpg</image><title>Otoritas Jepang meneliti dengan hati-hati penyebab terjadinya longsoran salju (Foto: Kyodo/Reuters)</title></images><description>NASU &amp;ndash; Tim penyidik meneliti dengan hati-hati di seluruh area gunung tempat terjadinya longsoran salju yang menewaskan tujuh orang pelajar serta satu orang guru itu. Tim penyidik bertanya-tanya mengapa peringatan longsor salju diabaikan serta apakah para korban membawa peralatan yang memadai.
Sebagaimana diberitakan, longsoran salju terjadi di Nasu, Prefektur Tochigi, pada Senin 27 Maret. Longsoran salju menimpa sekira 48 orang di lereng curam yang berada tepat di atas area bermain ski. Puluhan orang tersebut sedang melakukan latihan memanjat tebing di musim dingin saat insiden.
Insiden longsoran salju itu juga melukai 38 orang lainnya, dengan dua di antaranya dalam kondisi kritis. Korban selamat mengatakan, mereka sedang berlatih di area hutan kayu di Nasu ketika tiba-tiba mendengar teriakan adanya longsoran salju.
&amp;ldquo;Beberapa detik kemudian salju langsung datang dan menguburku hingga sebatas dada. Untung wajahku tidak terbenam sehingga dapat langsung keluar. Sangat menakutkan,&amp;rdquo; tutur seorang pelajar berusia 16 tahun, seperti dimuat Reuters, Selasa (28/3/2017).
Para pelajar yang meninggal dunia diketahui berasal dari sebuah sekolah menengah atas setempat dan dikenal sangat kompetitif dalam lomba memanjat tebing. Mereka berada di barisan paling depan saat longsoran terjadi, tepat di hari terakhir pemusatan latihan. Peringatan longsoran salju juga diketahui berfungsi dengan normal.
Kelompok itu mengubah rencana semula untuk memanjat gunung terdekat karena hujan salju lebat dan angin kencang. Mereka kemudian memutuskan untuk berlatih berjalan menembus ketebalan salju di lereng curam tersebut. Beberapa ahli menduga temperatur udara yang berubah-ubah menjadi penyebab longsornya salju.
Kepolisian Prefektur Tochigi menuturkan, fokus penyelidikan adalah untuk mencari tahu apakah ada kesalahan penilaian, terutama yang dilakukan oleh Federasi Atletik Sekolah Menengah Tochigi, sebagai sponsor latihan tersebut. Kepala federasi tersebut, Atsuhito Masuguchi, menuturkan latihan seperti itu sudah berlangsung selama lebih dari 50 tahun. Kecelakaan tersebut merupakan yang pertama kalinya terjadi.</description><content:encoded>NASU &amp;ndash; Tim penyidik meneliti dengan hati-hati di seluruh area gunung tempat terjadinya longsoran salju yang menewaskan tujuh orang pelajar serta satu orang guru itu. Tim penyidik bertanya-tanya mengapa peringatan longsor salju diabaikan serta apakah para korban membawa peralatan yang memadai.
Sebagaimana diberitakan, longsoran salju terjadi di Nasu, Prefektur Tochigi, pada Senin 27 Maret. Longsoran salju menimpa sekira 48 orang di lereng curam yang berada tepat di atas area bermain ski. Puluhan orang tersebut sedang melakukan latihan memanjat tebing di musim dingin saat insiden.
Insiden longsoran salju itu juga melukai 38 orang lainnya, dengan dua di antaranya dalam kondisi kritis. Korban selamat mengatakan, mereka sedang berlatih di area hutan kayu di Nasu ketika tiba-tiba mendengar teriakan adanya longsoran salju.
&amp;ldquo;Beberapa detik kemudian salju langsung datang dan menguburku hingga sebatas dada. Untung wajahku tidak terbenam sehingga dapat langsung keluar. Sangat menakutkan,&amp;rdquo; tutur seorang pelajar berusia 16 tahun, seperti dimuat Reuters, Selasa (28/3/2017).
Para pelajar yang meninggal dunia diketahui berasal dari sebuah sekolah menengah atas setempat dan dikenal sangat kompetitif dalam lomba memanjat tebing. Mereka berada di barisan paling depan saat longsoran terjadi, tepat di hari terakhir pemusatan latihan. Peringatan longsoran salju juga diketahui berfungsi dengan normal.
Kelompok itu mengubah rencana semula untuk memanjat gunung terdekat karena hujan salju lebat dan angin kencang. Mereka kemudian memutuskan untuk berlatih berjalan menembus ketebalan salju di lereng curam tersebut. Beberapa ahli menduga temperatur udara yang berubah-ubah menjadi penyebab longsornya salju.
Kepolisian Prefektur Tochigi menuturkan, fokus penyelidikan adalah untuk mencari tahu apakah ada kesalahan penilaian, terutama yang dilakukan oleh Federasi Atletik Sekolah Menengah Tochigi, sebagai sponsor latihan tersebut. Kepala federasi tersebut, Atsuhito Masuguchi, menuturkan latihan seperti itu sudah berlangsung selama lebih dari 50 tahun. Kecelakaan tersebut merupakan yang pertama kalinya terjadi.</content:encoded></item></channel></rss>
