<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>MUI Ingatkan Umat Islam Tak Belajar Agama dari Medsos</title><description>MUI Kota Palu, Sulawesi Tengah melarang umat  Islam di daerah tersebut belajar tentang agama lewat media sosial.</description><link>https://news.okezone.com/read/2017/04/23/340/1674724/mui-ingatkan-umat-islam-tak-belajar-agama-dari-medsos</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2017/04/23/340/1674724/mui-ingatkan-umat-islam-tak-belajar-agama-dari-medsos"/><item><title>MUI Ingatkan Umat Islam Tak Belajar Agama dari Medsos</title><link>https://news.okezone.com/read/2017/04/23/340/1674724/mui-ingatkan-umat-islam-tak-belajar-agama-dari-medsos</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2017/04/23/340/1674724/mui-ingatkan-umat-islam-tak-belajar-agama-dari-medsos</guid><pubDate>Minggu 23 April 2017 15:05 WIB</pubDate><dc:creator>Antara</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2017/04/23/340/1674724/mui-ingatkan-umat-islam-tak-belajar-agama-dari-medsos-ARBSQBLT6b.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi.</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2017/04/23/340/1674724/mui-ingatkan-umat-islam-tak-belajar-agama-dari-medsos-ARBSQBLT6b.jpg</image><title>Ilustrasi.</title></images><description>PALU - Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Palu, Sulawesi Tengah melarang umat  Islam di daerah tersebut belajar tentang agama lewat media sosial  (medsos). Ketua MUI Palu, Prof Zainal Abidin M.Ag menyatakan  bahwa informasi di media sosial yang disebarkan oleh oknum-oknum  tertentu tidak dapat dijadikan referensi sepenuhnya. &quot;Umat  Islam jangan belajar tentang Islam lewat media sosial seperti dari WhatsApp, BBM, Facebook, Instagram dan sebagainya,&quot; katanya di  Palu, Minggu (23/4/2017). Ia mencontohkan, akhir-akhir ini umat Islam  cenderung menulis kalimat Insya Allah yang dimaksudkan sebagai &quot;jika  Allah mengizinkan&quot; atau &quot;kehendak Allah&quot;, sedikit berubah menjadi 'In  Sha Allah'. Namun, sebut dia, menurut informasi yang  beredar, penulisan yang benar yaitu &quot;In Sha Allah&quot;, dan &quot;Insya Allah&quot;  adalah salah, karena jika menggunakan huruf &quot;sy&quot; maka diartikan  menciptakan Allah.Ia menyebut bahwa hal itu adalah keliru karena  huruf &quot;syin&quot; dalam kalimat tersebut jika ditulis dalam bahasa Indonesia  maka menggunakan 'sy', bukan sh. Karena itu, ia membantah  keras jika seorang ulama dunia mengurus tentang penulisan kalimat tersebut dalam  bahasa Indonesia. &quot;Apa kapasitasnya mengurus bahasa  Indonesia? Saya yakin informasi yang beredar tersebut bukan darinya, tetapi oknum-oknum tertentu yang  membawa-bawa namanya (Zakir Naik),&quot;  sebutnya. Namun demikian ia menganggap bahwa persoalan  tersebut bukanlah hal yang prinsip di dalam Islam. Akan tetapi, ia  menekankan agar Islam tidak serta merta langsung menjadikan referensi,  patokan dan pedoman informasi dari media sosial. &quot;Jangan  jadikan informasi di media sosial sebagai rujukan dan landasan kalian.  Tetapi carilah guru atau seseorang yang berpengetahuan tentang Islam  kemudian bertanya langsung, agar kalian tidak keliru,&quot; ujarnya.</description><content:encoded>PALU - Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Palu, Sulawesi Tengah melarang umat  Islam di daerah tersebut belajar tentang agama lewat media sosial  (medsos). Ketua MUI Palu, Prof Zainal Abidin M.Ag menyatakan  bahwa informasi di media sosial yang disebarkan oleh oknum-oknum  tertentu tidak dapat dijadikan referensi sepenuhnya. &quot;Umat  Islam jangan belajar tentang Islam lewat media sosial seperti dari WhatsApp, BBM, Facebook, Instagram dan sebagainya,&quot; katanya di  Palu, Minggu (23/4/2017). Ia mencontohkan, akhir-akhir ini umat Islam  cenderung menulis kalimat Insya Allah yang dimaksudkan sebagai &quot;jika  Allah mengizinkan&quot; atau &quot;kehendak Allah&quot;, sedikit berubah menjadi 'In  Sha Allah'. Namun, sebut dia, menurut informasi yang  beredar, penulisan yang benar yaitu &quot;In Sha Allah&quot;, dan &quot;Insya Allah&quot;  adalah salah, karena jika menggunakan huruf &quot;sy&quot; maka diartikan  menciptakan Allah.Ia menyebut bahwa hal itu adalah keliru karena  huruf &quot;syin&quot; dalam kalimat tersebut jika ditulis dalam bahasa Indonesia  maka menggunakan 'sy', bukan sh. Karena itu, ia membantah  keras jika seorang ulama dunia mengurus tentang penulisan kalimat tersebut dalam  bahasa Indonesia. &quot;Apa kapasitasnya mengurus bahasa  Indonesia? Saya yakin informasi yang beredar tersebut bukan darinya, tetapi oknum-oknum tertentu yang  membawa-bawa namanya (Zakir Naik),&quot;  sebutnya. Namun demikian ia menganggap bahwa persoalan  tersebut bukanlah hal yang prinsip di dalam Islam. Akan tetapi, ia  menekankan agar Islam tidak serta merta langsung menjadikan referensi,  patokan dan pedoman informasi dari media sosial. &quot;Jangan  jadikan informasi di media sosial sebagai rujukan dan landasan kalian.  Tetapi carilah guru atau seseorang yang berpengetahuan tentang Islam  kemudian bertanya langsung, agar kalian tidak keliru,&quot; ujarnya.</content:encoded></item></channel></rss>
