<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>TOP FILES: Suntuk? Main Gaple Seraya Intip Sejarahnya Yuk!</title><description>Permainan ini biasa jadi pengusir rasa bosan di kala &amp;lsquo;ngeronda&amp;rsquo;, kumpul-kumpul malam sambil berkemah sehabis menggelar api unggun.</description><link>https://news.okezone.com/read/2017/05/02/337/1680643/top-files-suntuk-main-gaple-seraya-intip-sejarahnya-yuk</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2017/05/02/337/1680643/top-files-suntuk-main-gaple-seraya-intip-sejarahnya-yuk"/><item><title>TOP FILES: Suntuk? Main Gaple Seraya Intip Sejarahnya Yuk!</title><link>https://news.okezone.com/read/2017/05/02/337/1680643/top-files-suntuk-main-gaple-seraya-intip-sejarahnya-yuk</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2017/05/02/337/1680643/top-files-suntuk-main-gaple-seraya-intip-sejarahnya-yuk</guid><pubDate>Selasa 02 Mei 2017 08:22 WIB</pubDate><dc:creator>Randy Wirayudha</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2017/05/01/337/1680643/top-files-suntuk-main-gaple-seraya-intip-sejarahnya-yuk-5b4bHmucwc.png" expression="full" type="image/jpeg">Permainan gaple atau domino (Foto: Youtube)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2017/05/01/337/1680643/top-files-suntuk-main-gaple-seraya-intip-sejarahnya-yuk-5b4bHmucwc.png</image><title>Permainan gaple atau domino (Foto: Youtube)</title></images><description>EMPAT pemuda pada suatu malam yang sunyi di sebuah pos ronda, suntuk karena bingung bagaimana menghabiskan waktu ronda malam di kampungnya sekaligus mengusir kantuk. Tiba-tiba salah satunya &amp;lsquo;nyeletuk&amp;rsquo;,: &amp;ldquo;Main gaple yuk!,&amp;rdquo;

Ya, permainan gaple atau nama &amp;ldquo;formalnya&amp;rdquo; domino, kini jadi salah satu permainan paling populer, tidak hanya di Indonesia tapi juga dunia di berbagai lapisan masyarakat. Permainan dengan &amp;lsquo;segepok&amp;rsquo; kartu mini persegi panjang yang berhiaskan bulatan-bulatan berwarna merah dengan jumlah tertentu di tiap kartunya.

Permainan ini biasa jadi pengusir rasa bosan di kala &amp;lsquo;ngeronda&amp;rsquo;, kumpul-kumpul malam sambil berkemah sehabis menggelar api unggun, atau saat &amp;lsquo;ngeguyub&amp;rsquo; di kosan/kontrakan/rumah teman. Permainan yang justru bisa dimainkan semua umur- mulai anak-anak sampai yang tua-tua.

Empat pemain tinggal menyamakan masing-masing jumlah bulatan di kartu tiap-tiap players-nya. Biasanya saat baru memulai, yang diturunkan adalah kartu balak nol alias kartu yang kosong tanpa bulatan-bulatan.

Penentu pemenangnya ya kalau salah satu pemainnya sudah habis menaruh kartu di penghujung rangkaian kartu yang ditaruh. Atau enggak seandainya permainan sudah &amp;ldquo;mati&amp;rdquo; tanpa ada pemain yang belum habis kartu, ya masing-masing menghitung jumlah kartu tersisa.

Yang paling sedikit yang menang dan yang paling banyak jadi pemain yang kalah. Hukuman lazimnya ya yang kalah harus mengocok ulang kartu sebelum bermain di &amp;ldquo;ronde&amp;rdquo; berikutnya.

Bicara asal-usulnya, ada beragam versi. Tapi beberapa peneliti dan sejarawan, akhirnya menyepakati bahwa permainan ini asalnya tercipta dari Negeri China oleh &amp;ldquo;Mr X&amp;rdquo; alias tidak diketahui pada abad ke-12 atau sekira tahun 1120 Masehi.

Dari catatan yang berasal dari Dinasti Yuan, permainan ini awalnya merupakan persembahan dari seorang pegawai kekaisaran untuk Kaisar Hui Tsung. Permainan yang sekiranya disebut &amp;ldquo;Pupai&amp;rdquo; yang lantas jadi kegemaran para bangsawan.

Persembahan itu bahannya awalnya tidak seperti kartu gaple seperti sekarang. Melainkan berasal dari bahan porselain. Ya, mirip sekali seperti permainan Mahjong.

Berangsur-angsur, permainan ini menyebar ke Eropa. Michael Drummet dalam bukunya &amp;lsquo;Game of Tarot&amp;rsquo;, menyebutkan permainan gaple atau domino ini pertama kali muncul di Eropa pada awal abad ke-18, tepatnya di Napoli dan Venezia (dua kota di Italia).

Dari situ, menyebar pula ke Prancis, Inggris dan seluruh dunia. Sementara untuk penyebutan domino, asal katanya dari bahasa Yunani, yakni &amp;lsquo;Dominus&amp;rsquo; yang artinya tuan rumah.

Ada pula yang mengatakan, kata &amp;ldquo;Domino&amp;rdquo; berasal dari kata &amp;ldquo;Domini&amp;rdquo; dari bahasa Inggris dan Skotlandia yang merujuk artinya kepala sekolah. Tapi sayangnya, seiring berjalannya waktu juga, permainan gaple atau domino ini jadi salah satu permainan yang cenderung dimanfaatkan untuk judi.
&amp;lt;iframe width=&quot;560&quot; height=&quot;315&quot; src=&quot;https://www.youtube.com/embed/6JZysacEiFk&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;</description><content:encoded>EMPAT pemuda pada suatu malam yang sunyi di sebuah pos ronda, suntuk karena bingung bagaimana menghabiskan waktu ronda malam di kampungnya sekaligus mengusir kantuk. Tiba-tiba salah satunya &amp;lsquo;nyeletuk&amp;rsquo;,: &amp;ldquo;Main gaple yuk!,&amp;rdquo;

Ya, permainan gaple atau nama &amp;ldquo;formalnya&amp;rdquo; domino, kini jadi salah satu permainan paling populer, tidak hanya di Indonesia tapi juga dunia di berbagai lapisan masyarakat. Permainan dengan &amp;lsquo;segepok&amp;rsquo; kartu mini persegi panjang yang berhiaskan bulatan-bulatan berwarna merah dengan jumlah tertentu di tiap kartunya.

Permainan ini biasa jadi pengusir rasa bosan di kala &amp;lsquo;ngeronda&amp;rsquo;, kumpul-kumpul malam sambil berkemah sehabis menggelar api unggun, atau saat &amp;lsquo;ngeguyub&amp;rsquo; di kosan/kontrakan/rumah teman. Permainan yang justru bisa dimainkan semua umur- mulai anak-anak sampai yang tua-tua.

Empat pemain tinggal menyamakan masing-masing jumlah bulatan di kartu tiap-tiap players-nya. Biasanya saat baru memulai, yang diturunkan adalah kartu balak nol alias kartu yang kosong tanpa bulatan-bulatan.

Penentu pemenangnya ya kalau salah satu pemainnya sudah habis menaruh kartu di penghujung rangkaian kartu yang ditaruh. Atau enggak seandainya permainan sudah &amp;ldquo;mati&amp;rdquo; tanpa ada pemain yang belum habis kartu, ya masing-masing menghitung jumlah kartu tersisa.

Yang paling sedikit yang menang dan yang paling banyak jadi pemain yang kalah. Hukuman lazimnya ya yang kalah harus mengocok ulang kartu sebelum bermain di &amp;ldquo;ronde&amp;rdquo; berikutnya.

Bicara asal-usulnya, ada beragam versi. Tapi beberapa peneliti dan sejarawan, akhirnya menyepakati bahwa permainan ini asalnya tercipta dari Negeri China oleh &amp;ldquo;Mr X&amp;rdquo; alias tidak diketahui pada abad ke-12 atau sekira tahun 1120 Masehi.

Dari catatan yang berasal dari Dinasti Yuan, permainan ini awalnya merupakan persembahan dari seorang pegawai kekaisaran untuk Kaisar Hui Tsung. Permainan yang sekiranya disebut &amp;ldquo;Pupai&amp;rdquo; yang lantas jadi kegemaran para bangsawan.

Persembahan itu bahannya awalnya tidak seperti kartu gaple seperti sekarang. Melainkan berasal dari bahan porselain. Ya, mirip sekali seperti permainan Mahjong.

Berangsur-angsur, permainan ini menyebar ke Eropa. Michael Drummet dalam bukunya &amp;lsquo;Game of Tarot&amp;rsquo;, menyebutkan permainan gaple atau domino ini pertama kali muncul di Eropa pada awal abad ke-18, tepatnya di Napoli dan Venezia (dua kota di Italia).

Dari situ, menyebar pula ke Prancis, Inggris dan seluruh dunia. Sementara untuk penyebutan domino, asal katanya dari bahasa Yunani, yakni &amp;lsquo;Dominus&amp;rsquo; yang artinya tuan rumah.

Ada pula yang mengatakan, kata &amp;ldquo;Domino&amp;rdquo; berasal dari kata &amp;ldquo;Domini&amp;rdquo; dari bahasa Inggris dan Skotlandia yang merujuk artinya kepala sekolah. Tapi sayangnya, seiring berjalannya waktu juga, permainan gaple atau domino ini jadi salah satu permainan yang cenderung dimanfaatkan untuk judi.
&amp;lt;iframe width=&quot;560&quot; height=&quot;315&quot; src=&quot;https://www.youtube.com/embed/6JZysacEiFk&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;</content:encoded></item></channel></rss>
