<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>KISAH: Teobert Maler, Profesor Asal Jerman yang Menjadi Penjelajah Situs Peninggalan Suku Maya</title><description>Teobert Maler merupakan seorang pria asal Jerman yang   mendedikasikan hidupnya untuk mendokumentasikan reruntuhan peradaban Maya.</description><link>https://news.okezone.com/read/2017/05/21/18/1696032/kisah-teobert-maler-profesor-asal-jerman-yang-menjadi-penjelajah-situs-peninggalan-suku-maya</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2017/05/21/18/1696032/kisah-teobert-maler-profesor-asal-jerman-yang-menjadi-penjelajah-situs-peninggalan-suku-maya"/><item><title>KISAH: Teobert Maler, Profesor Asal Jerman yang Menjadi Penjelajah Situs Peninggalan Suku Maya</title><link>https://news.okezone.com/read/2017/05/21/18/1696032/kisah-teobert-maler-profesor-asal-jerman-yang-menjadi-penjelajah-situs-peninggalan-suku-maya</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2017/05/21/18/1696032/kisah-teobert-maler-profesor-asal-jerman-yang-menjadi-penjelajah-situs-peninggalan-suku-maya</guid><pubDate>Minggu 21 Mei 2017 08:00 WIB</pubDate><dc:creator>Rufki Ade Vinanda</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2017/05/20/18/1696032/kisah-teobert-maler-profesor-asal-jerman-yang-menjadi-penjelajah-situs-peninggalan-suku-maya-7mvPgPKAos.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Teoberto Maler dan Situs peninggalan Suku Maya. (Foto: The Vintagenews)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2017/05/20/18/1696032/kisah-teobert-maler-profesor-asal-jerman-yang-menjadi-penjelajah-situs-peninggalan-suku-maya-7mvPgPKAos.jpg</image><title>Teoberto Maler dan Situs peninggalan Suku Maya. (Foto: The Vintagenews)</title></images><description>TEOBERT Maler merupakan seorang pria asal Jerman yang menyukai petualangan. Pria Jerman yang juga dikenal sebagai Teoberto juga diketahui menyukai fotografi. Hobinya inilah yang kemudian membuat Maler   mendedikasikan hidupnya untuk mendokumentasikan reruntuhan peradaban Maya dan memberikan kontribusi besar pada pengetahuan tentang budaya Mesoamerika.

Ayah Maler adalah seorang diplomat Jerman untuk Duchy of Baden dan tengah bertugas di Roma ketika Maler lahir pada 1842. Teoberto tumbuh dewasa dengan belajar teknik dan arsitektur di Karlsruhe. Di usianya yang menginjak 21 tahun, Maler pindah ke Wina, Austria, untuk bekerja sebagai arsitek dan profesor. Kariernya di Austria sangat gemilang dan ia pun menjadi terkenal hingga setelah beberapa tahun, Maler mendapat kewarganegaraan Austria.

Rasa penasarannya yang besar membuat Maler memutuskan untuk menjelajah. Ia kemudian pergi ke Meksiko dengan menjadi tentara dan tergabung dalam pasukan Emperor Maximilian. Baru saja bergabung, Maler dipercayai untuk menempati posisi kapten. Namun setelah pasukannya menyerah kepada pasukan Republik Meksiko, Maler memilih untuk tinggal di Meksiko ketimbang kembali ke Eropa.

Ia kemudian menjadi warga negara Meksiko dan resmi mengganti namanya menjadi &quot;Teoberto&quot; karena lebih mudah diucapkan dalam bahasa Spanyol. Setelah menetap di Meksiko, Maler kemudian tertarik pada barang-barang antik Mesoamerika. Pada  1876, ia mengunjungi situs arkeologi terpenting dari budaya Zapotec, Mitla, di negara bagian Oaxaca dan mengambil foto rinci tentang strukturnya.

Musim panas berikutnya ia pindah ke San Cristobal de las Casas dan mengunjungi reruntuhan Kota Palenque, tempat tinggal suku Maya. Meski situs itu sudah diketahui sebelumnya, namun belum ada yang mengeksplorasi secara mendalam. Maler kemudian mempekerjakan sekelompok warga lokal untuk membuka jalan menuju situs tersebut dengan menggunakan parang.
Hari-hari Maler di Palenque dihabiskan untuk mengukur, membuat sketsa,  dan memotret situs tersebut. Setelah itu, Maler barulah menyadari bahwa  informasi yang ada sebelumnya tentang situs Suku Maya tersebut tidak  memadai dan sebagian besar hanya menggambarkan bagian bangunan yang  terbatas. Tak hanya Maler, petualang lain juga mengunjungi situs  tersebut. Salah satunya yaitu ahli botani Swiss Gustave Bernoulli, yang  memiliki ketertarikan yang sama dengan Maler terhadap budaya dan situs  Maya.

Pada 1878, Maler kembali ke Paris karena harus menyelesaikan masalah  terkait harta ayahnya. Maler kemudian menyewa pengacara untuk  menyelesaikan masalah ini, dan ia menghabiskan waktunya untuk memberikan  ceramah tentang barang antik yang ditemukan di Meksiko. Di waktu  luangnya, Maler memeriksa dan mempelajari semua dokumen yang ia temukan  di Mesoamerika.
&amp;nbsp;
(Foto: The Vintagenews)
Setelah enam tahun berlalu atau tepatnya  pada 1884, Maler dengan  warisan kecilnya kembali ke Meksiko untuk mengabdikan dirinya  mempelajari budaya Maya. Ia diketahui menetap di Kota Ticul, Yucatan. Di  rumah barunya ini, ia mendirikan sebuah studio foto kecil dan  mempelajari bahasa Maya. Namun, karena ia masih ingin menemukan lebih  banyak hal tentang Suku Maya, Maler banyak menghabiskan waktunya untuk  menjelajahi hutan.

Maler lalu mengunjungi situs Uxmal dan Chichen Itza yang kemudian ia  tinggali selama tiga bulan untuk mendokumentasikan reruntuhan itu. Tidak  pernah ada penjelajah lain yang melakukan hal tersebut dan Maler pun  menjadi yang pertama yang berhasil mencatat banyak situs Maya kuno.  Selama tahun-tahun berikutnya, ia mengeksplorasilokasi-lokasi di wilayah  El Peten di Guatemala dan sepanjang Sungai Usumacinta.

Di tengah penjelajahannya, Maler merasa kecewa dengan perilaku para  penjelajah dan arkeolog abad 19 yang akan menghapus patung dan karya  arsitektur dari situs asli mereka kemudian membawanya ke Eropa dan  Amerika Utara. Ia lalu kerap mencatat kerusakan yang terjadi. Maler  mendedikasikan dirinya untuk menulis surat kepada pemerintah Meksiko  tentang perubahan dalam pendekatan hukum terhadap masalah ini. Ia juga  merinci topik ini secara lebih luas (Pandangannya terkait penjelajah  agar tidak merusak situs).Pada 1898, Maler mulai menerbitkan laporannya melalui Peabody   Institute of Harvard University. Laporan ini menghasilkan serangkaian   buku penting yang diterbitkan oleh Harvard. Sayangnya hubungan pihak   Harvard dan Maler menjadi tegang karena perbedaan pendapat mengenai apa   yang harus dipublikasikan dan apa yang seharusnya tidak.

Penulis memerlukan laporan rinci tentang karyanya yang akan   dipublikasikan sementara editor Peabody memasukkan lebih sedikit   darinya. Komunikasi mereka juga menjadi sulit karena ketika melakuka   ekspedisi ke dalam hutam, Maler kerap sulit dihubungi. Institut Peabody   mengakhiri kesepakatan mereka dengan Maler pada 1909. Namun, bukunya   yang tak lengkap ini tetap diterbitkan dan dibutuhkan waktu sampai 1912   untuk menyelesaikan penerbitan materi Maler itu. Buku-buku Maler ini   menjadi referensi penting dalam studi tentang Suku Maya hingga kini.
&amp;nbsp;
(Foto: The Vintagenews)
Kemudian pada 1905, Maler pensiun dari ekspedisi hutan ke rumahnya di   Merida, Yucatan. Lima tahun kemudian atau pada 1910, ia melakukan   perjalanan kembali ke Eropa dengan harapan institusi-institusi itu   bersedia menerbitkan laporannya, namun keberhasilan terbesarnya adalah   menjual foto-fotonya ke Bibliotheque Nationale di Paris.

Di tahun-tahun berikutnya, Maler diketahui mengalami depresi karena   kegagalannya untuk berbagi pengetahuan yang disebut sebagai misanthrope.   Meskipun ia hidup secara sederhana dari penjualan foto-fotonya ke   arkeolog dan turis, situasi keuangannya agak tidak stabil karena membuat   beberapa investasi buruk di masa lalu.

Maler di masa pensiunnya juga menghabiskan waktu untuk berbagi   pengetahuan tentang arsitektur dan seni Maya di sekolah seni rupa Merida   sampai kematiannya pada 1917 di usia 75 tahun. Banyak karyanya yang   tersisa kemudian diterbitkan pada 1930an dan lebih banyak pada 1970-an   serta 1990-an. (rav)</description><content:encoded>TEOBERT Maler merupakan seorang pria asal Jerman yang menyukai petualangan. Pria Jerman yang juga dikenal sebagai Teoberto juga diketahui menyukai fotografi. Hobinya inilah yang kemudian membuat Maler   mendedikasikan hidupnya untuk mendokumentasikan reruntuhan peradaban Maya dan memberikan kontribusi besar pada pengetahuan tentang budaya Mesoamerika.

Ayah Maler adalah seorang diplomat Jerman untuk Duchy of Baden dan tengah bertugas di Roma ketika Maler lahir pada 1842. Teoberto tumbuh dewasa dengan belajar teknik dan arsitektur di Karlsruhe. Di usianya yang menginjak 21 tahun, Maler pindah ke Wina, Austria, untuk bekerja sebagai arsitek dan profesor. Kariernya di Austria sangat gemilang dan ia pun menjadi terkenal hingga setelah beberapa tahun, Maler mendapat kewarganegaraan Austria.

Rasa penasarannya yang besar membuat Maler memutuskan untuk menjelajah. Ia kemudian pergi ke Meksiko dengan menjadi tentara dan tergabung dalam pasukan Emperor Maximilian. Baru saja bergabung, Maler dipercayai untuk menempati posisi kapten. Namun setelah pasukannya menyerah kepada pasukan Republik Meksiko, Maler memilih untuk tinggal di Meksiko ketimbang kembali ke Eropa.

Ia kemudian menjadi warga negara Meksiko dan resmi mengganti namanya menjadi &quot;Teoberto&quot; karena lebih mudah diucapkan dalam bahasa Spanyol. Setelah menetap di Meksiko, Maler kemudian tertarik pada barang-barang antik Mesoamerika. Pada  1876, ia mengunjungi situs arkeologi terpenting dari budaya Zapotec, Mitla, di negara bagian Oaxaca dan mengambil foto rinci tentang strukturnya.

Musim panas berikutnya ia pindah ke San Cristobal de las Casas dan mengunjungi reruntuhan Kota Palenque, tempat tinggal suku Maya. Meski situs itu sudah diketahui sebelumnya, namun belum ada yang mengeksplorasi secara mendalam. Maler kemudian mempekerjakan sekelompok warga lokal untuk membuka jalan menuju situs tersebut dengan menggunakan parang.
Hari-hari Maler di Palenque dihabiskan untuk mengukur, membuat sketsa,  dan memotret situs tersebut. Setelah itu, Maler barulah menyadari bahwa  informasi yang ada sebelumnya tentang situs Suku Maya tersebut tidak  memadai dan sebagian besar hanya menggambarkan bagian bangunan yang  terbatas. Tak hanya Maler, petualang lain juga mengunjungi situs  tersebut. Salah satunya yaitu ahli botani Swiss Gustave Bernoulli, yang  memiliki ketertarikan yang sama dengan Maler terhadap budaya dan situs  Maya.

Pada 1878, Maler kembali ke Paris karena harus menyelesaikan masalah  terkait harta ayahnya. Maler kemudian menyewa pengacara untuk  menyelesaikan masalah ini, dan ia menghabiskan waktunya untuk memberikan  ceramah tentang barang antik yang ditemukan di Meksiko. Di waktu  luangnya, Maler memeriksa dan mempelajari semua dokumen yang ia temukan  di Mesoamerika.
&amp;nbsp;
(Foto: The Vintagenews)
Setelah enam tahun berlalu atau tepatnya  pada 1884, Maler dengan  warisan kecilnya kembali ke Meksiko untuk mengabdikan dirinya  mempelajari budaya Maya. Ia diketahui menetap di Kota Ticul, Yucatan. Di  rumah barunya ini, ia mendirikan sebuah studio foto kecil dan  mempelajari bahasa Maya. Namun, karena ia masih ingin menemukan lebih  banyak hal tentang Suku Maya, Maler banyak menghabiskan waktunya untuk  menjelajahi hutan.

Maler lalu mengunjungi situs Uxmal dan Chichen Itza yang kemudian ia  tinggali selama tiga bulan untuk mendokumentasikan reruntuhan itu. Tidak  pernah ada penjelajah lain yang melakukan hal tersebut dan Maler pun  menjadi yang pertama yang berhasil mencatat banyak situs Maya kuno.  Selama tahun-tahun berikutnya, ia mengeksplorasilokasi-lokasi di wilayah  El Peten di Guatemala dan sepanjang Sungai Usumacinta.

Di tengah penjelajahannya, Maler merasa kecewa dengan perilaku para  penjelajah dan arkeolog abad 19 yang akan menghapus patung dan karya  arsitektur dari situs asli mereka kemudian membawanya ke Eropa dan  Amerika Utara. Ia lalu kerap mencatat kerusakan yang terjadi. Maler  mendedikasikan dirinya untuk menulis surat kepada pemerintah Meksiko  tentang perubahan dalam pendekatan hukum terhadap masalah ini. Ia juga  merinci topik ini secara lebih luas (Pandangannya terkait penjelajah  agar tidak merusak situs).Pada 1898, Maler mulai menerbitkan laporannya melalui Peabody   Institute of Harvard University. Laporan ini menghasilkan serangkaian   buku penting yang diterbitkan oleh Harvard. Sayangnya hubungan pihak   Harvard dan Maler menjadi tegang karena perbedaan pendapat mengenai apa   yang harus dipublikasikan dan apa yang seharusnya tidak.

Penulis memerlukan laporan rinci tentang karyanya yang akan   dipublikasikan sementara editor Peabody memasukkan lebih sedikit   darinya. Komunikasi mereka juga menjadi sulit karena ketika melakuka   ekspedisi ke dalam hutam, Maler kerap sulit dihubungi. Institut Peabody   mengakhiri kesepakatan mereka dengan Maler pada 1909. Namun, bukunya   yang tak lengkap ini tetap diterbitkan dan dibutuhkan waktu sampai 1912   untuk menyelesaikan penerbitan materi Maler itu. Buku-buku Maler ini   menjadi referensi penting dalam studi tentang Suku Maya hingga kini.
&amp;nbsp;
(Foto: The Vintagenews)
Kemudian pada 1905, Maler pensiun dari ekspedisi hutan ke rumahnya di   Merida, Yucatan. Lima tahun kemudian atau pada 1910, ia melakukan   perjalanan kembali ke Eropa dengan harapan institusi-institusi itu   bersedia menerbitkan laporannya, namun keberhasilan terbesarnya adalah   menjual foto-fotonya ke Bibliotheque Nationale di Paris.

Di tahun-tahun berikutnya, Maler diketahui mengalami depresi karena   kegagalannya untuk berbagi pengetahuan yang disebut sebagai misanthrope.   Meskipun ia hidup secara sederhana dari penjualan foto-fotonya ke   arkeolog dan turis, situasi keuangannya agak tidak stabil karena membuat   beberapa investasi buruk di masa lalu.

Maler di masa pensiunnya juga menghabiskan waktu untuk berbagi   pengetahuan tentang arsitektur dan seni Maya di sekolah seni rupa Merida   sampai kematiannya pada 1917 di usia 75 tahun. Banyak karyanya yang   tersisa kemudian diterbitkan pada 1930an dan lebih banyak pada 1970-an   serta 1990-an. (rav)</content:encoded></item></channel></rss>
