<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Ziarah ke Makam Tuanku Imam Bonjol di Minahasa</title><description>Makam Tuanku Imam Bonjol berada di atas lahan seluas  75 meter x 20 meter.</description><link>https://news.okezone.com/read/2017/05/26/340/1700441/ziarah-ke-makam-tuanku-imam-bonjol-di-minahasa</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2017/05/26/340/1700441/ziarah-ke-makam-tuanku-imam-bonjol-di-minahasa"/><item><title>Ziarah ke Makam Tuanku Imam Bonjol di Minahasa</title><link>https://news.okezone.com/read/2017/05/26/340/1700441/ziarah-ke-makam-tuanku-imam-bonjol-di-minahasa</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2017/05/26/340/1700441/ziarah-ke-makam-tuanku-imam-bonjol-di-minahasa</guid><pubDate>Jum'at 26 Mei 2017 14:58 WIB</pubDate><dc:creator>Subhan Sabu</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2017/05/26/340/1700441/ziarah-ke-makam-tuanku-imam-bonjol-di-minahasa-cm0GW1lM8r.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Makam Tuanku Imam Bonjol di Minahasa (foto: Subhan Sabu/Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2017/05/26/340/1700441/ziarah-ke-makam-tuanku-imam-bonjol-di-minahasa-cm0GW1lM8r.jpg</image><title>Makam Tuanku Imam Bonjol di Minahasa (foto: Subhan Sabu/Okezone)</title></images><description>MINAHASA - Peto Syarif Ibnu Pandito Bayanuddin Gelar Tuanku Imam Bonjol, Pahlawan Nasional, lahir pada tahun 1774 di Tanjung Bungo, Bonjol, Sumatera Barat. Wafat pada 6 November 1854 di Lota Minahasa dalam pengasingan Pemerintah Kolonial Belanda karena berperang menentang penjajahan untuk kemerdekaan Tanah Air, Bangsa dan Negara.

Begitulah tulisan di batu nisan makam Tuanku Imam Bonjol dengan keramik putih yang berada dalam sebuah bagonjong -seperti rumah adat minang- bercat putih berukuran 15 meter x 7 meter. Makam Tuanku Imam Bonjol berada di atas lahan seluas  75 meter x 20 meter. Suasana di makam ini sejuk karena terlindung oleh pepohonan rimbun dengan taman yang cukup luas.
&amp;nbsp;
Di salah satu dinding bangunan terdapat lukisan Tuanku Imam Bonjol berjubah putih dan sorban putih, sedang menaiki seekor kuda putih sambil mengacungkan pedang. Di sisi kiri bangunan terdapat kompleks makam tua tempat para pengikut Tuanku Imam Bonjol.

Di bagian belakang makam, sekitar 100 meter menuruni anak tangga terdapat sebuah batu besar dengan permukaan rata yang diyakini sebagai tempat salat Tuanku Imam Bonjol. Untuk menuju tempat ibadah Tuanku Imam Bonjol tersebut, pengunjung akan melewati pepohonan jati dan bambu yang rimbun, serta beberapa anak tangga, tapi untuk menuruni anak tangga harus ekstra hati-hati, selain licin dan berlumut, banyak anak tangga yang sudah retak dan miring.

Batu besar tempat Tuanku Imam Bonjol salat berada dalam bangunan yang dijadikan musala. Terletak persis di sebelah aliran Sungai Malalayang yang jernih dengan bebatuan yang indah. Di atas batu terdapat jejak kaki berukuran besar yang diyakini merupakan jejak kaki dari salah satu penyiar agama Islam ini. Selain batu, terdapat sumur yang airnya sangat dangkal dan dapat diraih dengan gayung. Di sumur ini, Tuanku Imam Bonjol biasa mengambil air wudu.

&quot;Batu itu dulu berada di tengah-tengah sungai, pada 13 Februari 2006, batu itu dihantam banjir, untung saja ada peziarah yang dengan rela menyumbangkan uangnya untuk menarik batu itu ke pinggiran sungai, dekat dengan sumur tempat Tuanku Imam Bonjol mengambil air wudu,&quot; ujar Nurdin Popa, salah satu penjaga makam kepada Okezone.
&amp;nbsp;
Sebelum dijadikan musala, batu itu dahulunya berada di ruang terbuka. Usai diterjang banjir, barulah dibuat bangunan musala dan bangunan pelindung air yang dananya berasal dari swadaya para peziarah yang berkunjung ke makam maupun lewat kotak sumbangan yang diletakkan di pintu masuk makam dan tempat ibadah Tuanku Imam Bonjol.

&quot;Dulu tempat ini terbuka, 2006 baru saya bikin ini, tapi dananya cuma dari tamu-tamu yang ziarah ke sini, bantu-bantu, makanya tegel-tegelnya berbeda-beda warna, karena masing-masing orang yang sumbang. Kalau khusus dari pemerintah daerah sendiri belum ada bantuan,&quot; jelas Nurdin.

Tuanku Imam Bonjol diasingkan ke Desa Lota, Pineleng, Kabupaten Minahasa pada tahun 1839 bersama satu orang pengawal setianya bernama Apolos Minggu. Sampai dengan akhir hidupnya, Tuanku Imam Bonjol tidak menikah sehingga tidak mempunyai keturunan, yang menikah hanyalah pengawal setianya yang menikahi gadis Minahasa bernama Mency Parengkuan. Mency masuk Islam dan terjadilah penyebaran agama Islam di Minahasa.

&quot;Waktu zaman Imam Bonjol, daerah sini jadi kampung Islam, Islam sudah berkembang di sini. Setelah Imam Bonjol meninggal, kampung ini kena wabah penyakit malaria, sehingga penduduk yang kena wabah memilih pindah ke daerah Pineleng yang jaraknya sekitar 1,5 km dari Desa Lota, di situlah mayoritas penduduk muslim yang lain pindah. Ada Masjid besar di situ, sementara Islam yang ada di sini, kita di sini sekarang sekitar 45 KK,&quot; pungkas Nurdin yang merupakan keturunan dari pengawal setia Tuanku Imam Bonjol.

Makam Tuanku Imam Bonjol tak sulit dijangkau. Sekitar 30 menit perjalanan dari Kota Manado, menuju ke jalan raya Tomohon. Setelah menempuh jarak sekitar 9 Km akan menenui gapura bertuliskan Makam Pahlawan Nasional Tuanku Imam Bonjol di sebelah kiri jalan, sekitar 1 km dari gapura tersebut kita akan menemukan lokasi makam Tuanku Imam Bonjol yang berada di sisi kiri jalan.
</description><content:encoded>MINAHASA - Peto Syarif Ibnu Pandito Bayanuddin Gelar Tuanku Imam Bonjol, Pahlawan Nasional, lahir pada tahun 1774 di Tanjung Bungo, Bonjol, Sumatera Barat. Wafat pada 6 November 1854 di Lota Minahasa dalam pengasingan Pemerintah Kolonial Belanda karena berperang menentang penjajahan untuk kemerdekaan Tanah Air, Bangsa dan Negara.

Begitulah tulisan di batu nisan makam Tuanku Imam Bonjol dengan keramik putih yang berada dalam sebuah bagonjong -seperti rumah adat minang- bercat putih berukuran 15 meter x 7 meter. Makam Tuanku Imam Bonjol berada di atas lahan seluas  75 meter x 20 meter. Suasana di makam ini sejuk karena terlindung oleh pepohonan rimbun dengan taman yang cukup luas.
&amp;nbsp;
Di salah satu dinding bangunan terdapat lukisan Tuanku Imam Bonjol berjubah putih dan sorban putih, sedang menaiki seekor kuda putih sambil mengacungkan pedang. Di sisi kiri bangunan terdapat kompleks makam tua tempat para pengikut Tuanku Imam Bonjol.

Di bagian belakang makam, sekitar 100 meter menuruni anak tangga terdapat sebuah batu besar dengan permukaan rata yang diyakini sebagai tempat salat Tuanku Imam Bonjol. Untuk menuju tempat ibadah Tuanku Imam Bonjol tersebut, pengunjung akan melewati pepohonan jati dan bambu yang rimbun, serta beberapa anak tangga, tapi untuk menuruni anak tangga harus ekstra hati-hati, selain licin dan berlumut, banyak anak tangga yang sudah retak dan miring.

Batu besar tempat Tuanku Imam Bonjol salat berada dalam bangunan yang dijadikan musala. Terletak persis di sebelah aliran Sungai Malalayang yang jernih dengan bebatuan yang indah. Di atas batu terdapat jejak kaki berukuran besar yang diyakini merupakan jejak kaki dari salah satu penyiar agama Islam ini. Selain batu, terdapat sumur yang airnya sangat dangkal dan dapat diraih dengan gayung. Di sumur ini, Tuanku Imam Bonjol biasa mengambil air wudu.

&quot;Batu itu dulu berada di tengah-tengah sungai, pada 13 Februari 2006, batu itu dihantam banjir, untung saja ada peziarah yang dengan rela menyumbangkan uangnya untuk menarik batu itu ke pinggiran sungai, dekat dengan sumur tempat Tuanku Imam Bonjol mengambil air wudu,&quot; ujar Nurdin Popa, salah satu penjaga makam kepada Okezone.
&amp;nbsp;
Sebelum dijadikan musala, batu itu dahulunya berada di ruang terbuka. Usai diterjang banjir, barulah dibuat bangunan musala dan bangunan pelindung air yang dananya berasal dari swadaya para peziarah yang berkunjung ke makam maupun lewat kotak sumbangan yang diletakkan di pintu masuk makam dan tempat ibadah Tuanku Imam Bonjol.

&quot;Dulu tempat ini terbuka, 2006 baru saya bikin ini, tapi dananya cuma dari tamu-tamu yang ziarah ke sini, bantu-bantu, makanya tegel-tegelnya berbeda-beda warna, karena masing-masing orang yang sumbang. Kalau khusus dari pemerintah daerah sendiri belum ada bantuan,&quot; jelas Nurdin.

Tuanku Imam Bonjol diasingkan ke Desa Lota, Pineleng, Kabupaten Minahasa pada tahun 1839 bersama satu orang pengawal setianya bernama Apolos Minggu. Sampai dengan akhir hidupnya, Tuanku Imam Bonjol tidak menikah sehingga tidak mempunyai keturunan, yang menikah hanyalah pengawal setianya yang menikahi gadis Minahasa bernama Mency Parengkuan. Mency masuk Islam dan terjadilah penyebaran agama Islam di Minahasa.

&quot;Waktu zaman Imam Bonjol, daerah sini jadi kampung Islam, Islam sudah berkembang di sini. Setelah Imam Bonjol meninggal, kampung ini kena wabah penyakit malaria, sehingga penduduk yang kena wabah memilih pindah ke daerah Pineleng yang jaraknya sekitar 1,5 km dari Desa Lota, di situlah mayoritas penduduk muslim yang lain pindah. Ada Masjid besar di situ, sementara Islam yang ada di sini, kita di sini sekarang sekitar 45 KK,&quot; pungkas Nurdin yang merupakan keturunan dari pengawal setia Tuanku Imam Bonjol.

Makam Tuanku Imam Bonjol tak sulit dijangkau. Sekitar 30 menit perjalanan dari Kota Manado, menuju ke jalan raya Tomohon. Setelah menempuh jarak sekitar 9 Km akan menenui gapura bertuliskan Makam Pahlawan Nasional Tuanku Imam Bonjol di sebelah kiri jalan, sekitar 1 km dari gapura tersebut kita akan menemukan lokasi makam Tuanku Imam Bonjol yang berada di sisi kiri jalan.
</content:encoded></item></channel></rss>
