<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>KISAH: Raja Portugal Gali Jasad Istri demi Balas Dendam</title><description>Kisah cinta Raja Pedro dari Portugal dengan seorang perempuan Castilla, Ines de Castro, tak ubahnya sebuah tragedi.</description><link>https://news.okezone.com/read/2017/05/31/18/1703662/kisah-raja-portugal-gali-jasad-istri-demi-balas-dendam</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2017/05/31/18/1703662/kisah-raja-portugal-gali-jasad-istri-demi-balas-dendam"/><item><title>KISAH: Raja Portugal Gali Jasad Istri demi Balas Dendam</title><link>https://news.okezone.com/read/2017/05/31/18/1703662/kisah-raja-portugal-gali-jasad-istri-demi-balas-dendam</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2017/05/31/18/1703662/kisah-raja-portugal-gali-jasad-istri-demi-balas-dendam</guid><pubDate>Rabu 31 Mei 2017 08:01 WIB</pubDate><dc:creator>Rahman Asmardika</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2017/05/30/18/1703662/kisah-raja-portugal-gali-jasad-istri-demi-balas-dendam-JmUpGfzSbM.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Patung yang menggambarkan Ines de Castro, Ratu Portugal. (Foto: Wikipedia)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2017/05/30/18/1703662/kisah-raja-portugal-gali-jasad-istri-demi-balas-dendam-JmUpGfzSbM.jpg</image><title>Patung yang menggambarkan Ines de Castro, Ratu Portugal. (Foto: Wikipedia)</title></images><description>KISAH cinta Raja Pedro dari Portugal dengan seorang perempuan Castilla, Ines de Castro, tak ubahnya sebuah tragedi.
Ines de Castro adalah seorang dayang dari Castilla, Spanyol yang berada di Istana Portugis pada abad ke-14. Di samping itu, rupanya dia juga putri dari Pedro Fernandes de Castro, cucu haram dari Raja Sancho IV dari Castilla.
Di kerajaan tersebut, Ines dan Dom Pedro, pewaris takhta kerajaan Portugal bertemu dan saling jatuh cinta. Ines adalah gadis muda yang sangat elegan dan cantik. Kulitnya begitu putih dan matanya biru seperti langit saat sedang cerah. &amp;nbsp;
Saat itu, hubungan antara Spanyol dan Portugal kurang akur dan seringkali berselisih. Banyak permasalahan akhirnya diselesaikan dengan pernikahan antara bangsawan dari kedua kerajaan.
Pada 1340, Ines pergi ke Portugal bersama dengan sepupunya, Constanza. Sepupunya itu kemudian menikahi putra tertua Raja Afonso IV, Pedro. &amp;nbsp;
Meski menikah dengan Constanza, Pedro muda tidak mencintai istrinya. Dia telah jatuh cinta pada perempuan lain, yang tak lain adalah dayang istrinya, Ines de Castro.
Hubungan Ines dengan Pedro ditentang keras oleh Raja Afonso IV. Cinta   terlarang membuat Sang Raja lantas mengusir dayang itu dari istana dan   membuangnya ke pengasingan di Kastil Albuquerque. Ines tinggal di sana   sampai Constanza meninggal dunia saat melahirkan pada 1345.Dengan meninggalnya Constanza, Pedro akhirnya dapat menikahi pujaan  hatinya. Ayahnya, Raja Afonso IV mencoba menyodorkan nama-nama putri  yang menurutnya layak dinikahi putranya. Akan tetapi, semua nama itu  ditolak oleh Pedro.
Ines akhirnya kembali ke istana dan hubungan asmara sejoli itu  menjadi jauh lebih mesra. Pedro dan Ines memadu kasih dan dikaruniai  empat anak, yakni Afonso, Beatriz, Joao dan Diniz.
Namun hubungan itu masih tidak mendapat restu dari Raja Afonso. Dia  yakin bahwa hubungan mereka hanya akan mengancam hubungan antara  Portugal degan Castilla dan perang pun akan pecah antara kedua kerajaan  tersebut. Tiga bangsawan Portugal lalu menyarankan Sang Raja untuk  membunuh Ines guna mencegah perang.
Pada 7 Januari 1355, saat Dom Pedro tidak berada di rumahnya, Raja  Afonso IV mengirim tiga orang untuk membunuh Ines. Mereka menemukan Ines  bersama salah seorang anaknya dan membunuh dia di depan anaknya  sendiri.
Ketika Pedro kembali dan mengetahui ayahnya berada di belakang  kematian kekasihnya, dia menjadi murka. Pedro kemudian mengumumkan  perang melawan Sang Raja dan membawa Portugal ke dalam kancah perang  saudara.
Saat Raja Afonso IV meninggal dunia pada 1357, Pedro mewarisi takhta  dan memulai pembalasan dendamnya. Perintah pertamanya sebagai raja  adalah menemukan dan membawa pembunuh Ines de Castro ke hadapannya dan  membuat sarkofagus marmer putih yang indah untuk mendiang kekasihnya.
Dia  telah menukar buronan Castilla yang tinggal di Portugal dengan   tiga  bangsawan yang membunuh Ines, meski salah satu dari mereka  berhasil   lolos. Dua bangsawan yang tertangkap dieksekusi sendiri oleh  Pedro   dengan cara yang mengerikan.
Dilansir dari Vintage News, Rabu (31/5/2017), Pedro    mengoyak jantung mereka hidup-hidup, seorang dari dadanya sedangkan    seorang lagi dari punggungnya. Tetapi, kematian mereka tidak mengakhiri    pembalasan Pedro. &amp;nbsp;
Dia menggali kembali jasad Ines dari kuburnya di Gereja Santa Clara    dan meletakkannya di atas takhta. Pedro kemudian memaksa para  bangsawan,   pendeta, dan petani untuk membungkuk di depan ratu yang  telah  meninggal  dan mencium tangannya.
Selama memerintah, Pedro dikenal sebagai raja yang memberi keadilan    dengan cara paling brutal. Dia juga seringkali melakukan eksekusi  dengan   tangannya sendiri dibandingkan menyerahkannya kepada para  pelayannya.
Tindakannya itulah yang membuatnya mendapatkan dua gelar: Pedro o Justiceiro (Pedro si Adil) dan Pedro o Cruel (Pedro si Kejam).</description><content:encoded>KISAH cinta Raja Pedro dari Portugal dengan seorang perempuan Castilla, Ines de Castro, tak ubahnya sebuah tragedi.
Ines de Castro adalah seorang dayang dari Castilla, Spanyol yang berada di Istana Portugis pada abad ke-14. Di samping itu, rupanya dia juga putri dari Pedro Fernandes de Castro, cucu haram dari Raja Sancho IV dari Castilla.
Di kerajaan tersebut, Ines dan Dom Pedro, pewaris takhta kerajaan Portugal bertemu dan saling jatuh cinta. Ines adalah gadis muda yang sangat elegan dan cantik. Kulitnya begitu putih dan matanya biru seperti langit saat sedang cerah. &amp;nbsp;
Saat itu, hubungan antara Spanyol dan Portugal kurang akur dan seringkali berselisih. Banyak permasalahan akhirnya diselesaikan dengan pernikahan antara bangsawan dari kedua kerajaan.
Pada 1340, Ines pergi ke Portugal bersama dengan sepupunya, Constanza. Sepupunya itu kemudian menikahi putra tertua Raja Afonso IV, Pedro. &amp;nbsp;
Meski menikah dengan Constanza, Pedro muda tidak mencintai istrinya. Dia telah jatuh cinta pada perempuan lain, yang tak lain adalah dayang istrinya, Ines de Castro.
Hubungan Ines dengan Pedro ditentang keras oleh Raja Afonso IV. Cinta   terlarang membuat Sang Raja lantas mengusir dayang itu dari istana dan   membuangnya ke pengasingan di Kastil Albuquerque. Ines tinggal di sana   sampai Constanza meninggal dunia saat melahirkan pada 1345.Dengan meninggalnya Constanza, Pedro akhirnya dapat menikahi pujaan  hatinya. Ayahnya, Raja Afonso IV mencoba menyodorkan nama-nama putri  yang menurutnya layak dinikahi putranya. Akan tetapi, semua nama itu  ditolak oleh Pedro.
Ines akhirnya kembali ke istana dan hubungan asmara sejoli itu  menjadi jauh lebih mesra. Pedro dan Ines memadu kasih dan dikaruniai  empat anak, yakni Afonso, Beatriz, Joao dan Diniz.
Namun hubungan itu masih tidak mendapat restu dari Raja Afonso. Dia  yakin bahwa hubungan mereka hanya akan mengancam hubungan antara  Portugal degan Castilla dan perang pun akan pecah antara kedua kerajaan  tersebut. Tiga bangsawan Portugal lalu menyarankan Sang Raja untuk  membunuh Ines guna mencegah perang.
Pada 7 Januari 1355, saat Dom Pedro tidak berada di rumahnya, Raja  Afonso IV mengirim tiga orang untuk membunuh Ines. Mereka menemukan Ines  bersama salah seorang anaknya dan membunuh dia di depan anaknya  sendiri.
Ketika Pedro kembali dan mengetahui ayahnya berada di belakang  kematian kekasihnya, dia menjadi murka. Pedro kemudian mengumumkan  perang melawan Sang Raja dan membawa Portugal ke dalam kancah perang  saudara.
Saat Raja Afonso IV meninggal dunia pada 1357, Pedro mewarisi takhta  dan memulai pembalasan dendamnya. Perintah pertamanya sebagai raja  adalah menemukan dan membawa pembunuh Ines de Castro ke hadapannya dan  membuat sarkofagus marmer putih yang indah untuk mendiang kekasihnya.
Dia  telah menukar buronan Castilla yang tinggal di Portugal dengan   tiga  bangsawan yang membunuh Ines, meski salah satu dari mereka  berhasil   lolos. Dua bangsawan yang tertangkap dieksekusi sendiri oleh  Pedro   dengan cara yang mengerikan.
Dilansir dari Vintage News, Rabu (31/5/2017), Pedro    mengoyak jantung mereka hidup-hidup, seorang dari dadanya sedangkan    seorang lagi dari punggungnya. Tetapi, kematian mereka tidak mengakhiri    pembalasan Pedro. &amp;nbsp;
Dia menggali kembali jasad Ines dari kuburnya di Gereja Santa Clara    dan meletakkannya di atas takhta. Pedro kemudian memaksa para  bangsawan,   pendeta, dan petani untuk membungkuk di depan ratu yang  telah  meninggal  dan mencium tangannya.
Selama memerintah, Pedro dikenal sebagai raja yang memberi keadilan    dengan cara paling brutal. Dia juga seringkali melakukan eksekusi  dengan   tangannya sendiri dibandingkan menyerahkannya kepada para  pelayannya.
Tindakannya itulah yang membuatnya mendapatkan dua gelar: Pedro o Justiceiro (Pedro si Adil) dan Pedro o Cruel (Pedro si Kejam).</content:encoded></item></channel></rss>
