<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Anak-Anak di Kuwait Sambut Ramadan dengan Bernyanyi agar Dapat Permen</title><description>Salah satu tradisi penuh berkah Ramadan tercermin di Kuwait.</description><link>https://news.okezone.com/read/2017/06/01/18/1704662/anak-anak-di-kuwait-sambut-ramadan-dengan-bernyanyi-agar-dapat-permen</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2017/06/01/18/1704662/anak-anak-di-kuwait-sambut-ramadan-dengan-bernyanyi-agar-dapat-permen"/><item><title>Anak-Anak di Kuwait Sambut Ramadan dengan Bernyanyi agar Dapat Permen</title><link>https://news.okezone.com/read/2017/06/01/18/1704662/anak-anak-di-kuwait-sambut-ramadan-dengan-bernyanyi-agar-dapat-permen</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2017/06/01/18/1704662/anak-anak-di-kuwait-sambut-ramadan-dengan-bernyanyi-agar-dapat-permen</guid><pubDate>Kamis 01 Juni 2017 07:04 WIB</pubDate><dc:creator>Silviana Dharma</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2017/05/31/18/1704662/anak-anak-di-kuwait-sambut-ramadan-dengan-bernyanyi-agar-dapat-permen-KgyBY7KZWv.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi. Perayaan Gerga'aan atau Girgain di Kuwait. (Foto: The Times of Kuwait)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2017/05/31/18/1704662/anak-anak-di-kuwait-sambut-ramadan-dengan-bernyanyi-agar-dapat-permen-KgyBY7KZWv.jpg</image><title>Ilustrasi. Perayaan Gerga'aan atau Girgain di Kuwait. (Foto: The Times of Kuwait)</title></images><description>UMAT Islam meyakini Ramadan sebagai bulan penuh berkah. Pada masa ini, para Muslim akan berpuasa dan menguji diri dengan menahan rasa lapar dan haus juga nafsu.
Namun begitu, makna berpuasa tidak sekadar pantang makan dan minum. Berkumpul bersama keluarga, kerabat, dan kawan-kawan menjadi momen yang paling ditunggu. Khususnya untuk menghabiskan waktu berbuka puasa bersama.
Salah satu tradisi penuh berkah Ramadan tercermin di Kuwait. Negara di Timur Tengah ini punya kebiasaan saling mengunjungi rumah tetangga, teman, dan keluarga menjelang jam iftar.
Akan tetapi, memasuki dua pekan sebelum Ramadan, kunjungan itu bisa menjadi seperti perayaan Halloween. Semua anak keluar, memakai kostum terbaik mereka. Bedanya, mereka tidak memakai kostum seram seperti saat perayaan 31 Oktober itu, yang ada mereka mengenakan baju tradisional dan didandani agar cantik dan tampan.
Mirip dengan perayaan Halloween, anak-anak Kuwait akan mengetuk atau membunyikan bel pintu rumah untuk meminta permen dan atau cokelat. Hanya saja, sebelum meminta berkah, mereka akan terlebih dulu menyanyikan sebuah lagu. Tradisi ini di Kuwait disebut Girgain atau Gerga&amp;rsquo;aan.Asal Usul Nama Gerga&amp;rsquo;aan atau Girgain
Melansir The National, Kamis (1/6/2017), kata Gerga&amp;rsquo;aan pada  dasarnya masih menimbulkan polemik di Kuwait. Ada yang mengatakan frasa  itu merupakan akronim untuk sebuah pepatah yang berarti &amp;lsquo;berkat pada  bulan&amp;rsquo;, tetapi ada juga yang menceritakan kalau nama itu diambil dari  bahasa Bedouin yang artinya, &amp;lsquo;campuran&amp;rsquo;.
Meskipun asal katanya tidak jelas, seorang perempuan bernama Um Hamed  meyakini kalau kosakata &amp;lsquo;gerga&amp;rsquo;aan&amp;rsquo; adalah akar kata dari &amp;lsquo;gerga&amp;rsquo;ah&amp;rsquo;,  yang berarti &amp;lsquo;suara berdentang&amp;rsquo;. Ibu empat anak tersebut percaya, itu  lebih tepat karena mencerminkan suara anak-anak yang mengetuk pintu  rumah, bernyanyi, dan meminta permen.
&amp;ldquo;Terhadap semua kata yang tidak memiliki pijakan yang kuat dalam  bahasa Arab, orang-orang menciptakan teori mereka sendiri tentang arti  dan asal katanya,&amp;rdquo; ujar Hamed.
Ada dua lagu daerah yang bisa dinyanyikan. Satu lagu untuk anak  perempuan dan satu lagu untuk dinyanyikan anak laki-laki. Supaya bisa  mendapat permen dan cokelat lebih banyak, biasanya anak-anak ini akan  memamerkan suara paling lantang, merdu, dan keras.
Tradisi girgain sejatinya dirayakan di hampir seluruh negara Teluk  Arab. Namun penyebutan dan praktiknya dalam beberapa hal sedikit  berbeda. Di Uni Emirat Arab misalnya, girgain dikenal sebagai Haq Laila.
Praktik dari meminta permen dalam gerga&amp;rsquo;an pun punya rekam jejak  sejarah. Tercatat dalam salah satu kisah Ramadan pertama dalam dunia  Islam, putri Nabi Muhammad, Fatima, pernah membagi-bagikan permen kepada  orang-orang. Seperti anak-anak di Kuwait, Fatima juga bagi-bagi permen  tepat dua pekan sebelum bulan suci.
Hal itulah yang menjadi cikal bakal perayaan ini, sama sekali tidak  ada kaitannya dengan Halloween. Lagipula, berbeda dengan perayaan hantu  yang populer di Barat itu, kalau setelah mengetuk pintu dan bernyanyi  mereka tidak dapat permen, ya sudah. Rumah Anda tidak akan dirusak.
Hanya saja, kalau pemilik rumah cuma memberi sedikit atau malah tidak  memberikan. Siap-siap ada rombongan anak-anak yang kecewa dan sambil  berjalan menjauh mereka akan menyanyikan atau membacakan sajak yang  mendoakan rumah Anda diserang kotoran. Hahaha&amp;hellip;</description><content:encoded>UMAT Islam meyakini Ramadan sebagai bulan penuh berkah. Pada masa ini, para Muslim akan berpuasa dan menguji diri dengan menahan rasa lapar dan haus juga nafsu.
Namun begitu, makna berpuasa tidak sekadar pantang makan dan minum. Berkumpul bersama keluarga, kerabat, dan kawan-kawan menjadi momen yang paling ditunggu. Khususnya untuk menghabiskan waktu berbuka puasa bersama.
Salah satu tradisi penuh berkah Ramadan tercermin di Kuwait. Negara di Timur Tengah ini punya kebiasaan saling mengunjungi rumah tetangga, teman, dan keluarga menjelang jam iftar.
Akan tetapi, memasuki dua pekan sebelum Ramadan, kunjungan itu bisa menjadi seperti perayaan Halloween. Semua anak keluar, memakai kostum terbaik mereka. Bedanya, mereka tidak memakai kostum seram seperti saat perayaan 31 Oktober itu, yang ada mereka mengenakan baju tradisional dan didandani agar cantik dan tampan.
Mirip dengan perayaan Halloween, anak-anak Kuwait akan mengetuk atau membunyikan bel pintu rumah untuk meminta permen dan atau cokelat. Hanya saja, sebelum meminta berkah, mereka akan terlebih dulu menyanyikan sebuah lagu. Tradisi ini di Kuwait disebut Girgain atau Gerga&amp;rsquo;aan.Asal Usul Nama Gerga&amp;rsquo;aan atau Girgain
Melansir The National, Kamis (1/6/2017), kata Gerga&amp;rsquo;aan pada  dasarnya masih menimbulkan polemik di Kuwait. Ada yang mengatakan frasa  itu merupakan akronim untuk sebuah pepatah yang berarti &amp;lsquo;berkat pada  bulan&amp;rsquo;, tetapi ada juga yang menceritakan kalau nama itu diambil dari  bahasa Bedouin yang artinya, &amp;lsquo;campuran&amp;rsquo;.
Meskipun asal katanya tidak jelas, seorang perempuan bernama Um Hamed  meyakini kalau kosakata &amp;lsquo;gerga&amp;rsquo;aan&amp;rsquo; adalah akar kata dari &amp;lsquo;gerga&amp;rsquo;ah&amp;rsquo;,  yang berarti &amp;lsquo;suara berdentang&amp;rsquo;. Ibu empat anak tersebut percaya, itu  lebih tepat karena mencerminkan suara anak-anak yang mengetuk pintu  rumah, bernyanyi, dan meminta permen.
&amp;ldquo;Terhadap semua kata yang tidak memiliki pijakan yang kuat dalam  bahasa Arab, orang-orang menciptakan teori mereka sendiri tentang arti  dan asal katanya,&amp;rdquo; ujar Hamed.
Ada dua lagu daerah yang bisa dinyanyikan. Satu lagu untuk anak  perempuan dan satu lagu untuk dinyanyikan anak laki-laki. Supaya bisa  mendapat permen dan cokelat lebih banyak, biasanya anak-anak ini akan  memamerkan suara paling lantang, merdu, dan keras.
Tradisi girgain sejatinya dirayakan di hampir seluruh negara Teluk  Arab. Namun penyebutan dan praktiknya dalam beberapa hal sedikit  berbeda. Di Uni Emirat Arab misalnya, girgain dikenal sebagai Haq Laila.
Praktik dari meminta permen dalam gerga&amp;rsquo;an pun punya rekam jejak  sejarah. Tercatat dalam salah satu kisah Ramadan pertama dalam dunia  Islam, putri Nabi Muhammad, Fatima, pernah membagi-bagikan permen kepada  orang-orang. Seperti anak-anak di Kuwait, Fatima juga bagi-bagi permen  tepat dua pekan sebelum bulan suci.
Hal itulah yang menjadi cikal bakal perayaan ini, sama sekali tidak  ada kaitannya dengan Halloween. Lagipula, berbeda dengan perayaan hantu  yang populer di Barat itu, kalau setelah mengetuk pintu dan bernyanyi  mereka tidak dapat permen, ya sudah. Rumah Anda tidak akan dirusak.
Hanya saja, kalau pemilik rumah cuma memberi sedikit atau malah tidak  memberikan. Siap-siap ada rombongan anak-anak yang kecewa dan sambil  berjalan menjauh mereka akan menyanyikan atau membacakan sajak yang  mendoakan rumah Anda diserang kotoran. Hahaha&amp;hellip;</content:encoded></item></channel></rss>
