<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>KISAH: Dianggap Jadi Penyebab Kelaparan, Mao Zedong Musnahkan Ratusan Juta Burung Gereja</title><description>Pendiri RRC Mao Zedong memiliki cara ekstrem  untuk menangani krisis pangan yang pernah melanda Negeri Tirai Bambu  pada 1958.</description><link>https://news.okezone.com/read/2017/06/07/18/1709067/kisah-dianggap-jadi-penyebab-kelaparan-mao-zedong-musnahkan-ratusan-juta-burung-gereja</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2017/06/07/18/1709067/kisah-dianggap-jadi-penyebab-kelaparan-mao-zedong-musnahkan-ratusan-juta-burung-gereja"/><item><title>KISAH: Dianggap Jadi Penyebab Kelaparan, Mao Zedong Musnahkan Ratusan Juta Burung Gereja</title><link>https://news.okezone.com/read/2017/06/07/18/1709067/kisah-dianggap-jadi-penyebab-kelaparan-mao-zedong-musnahkan-ratusan-juta-burung-gereja</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2017/06/07/18/1709067/kisah-dianggap-jadi-penyebab-kelaparan-mao-zedong-musnahkan-ratusan-juta-burung-gereja</guid><pubDate>Rabu 07 Juni 2017 08:00 WIB</pubDate><dc:creator>Rufki Ade Vinanda</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2017/06/06/18/1709067/kisah-dianggap-jadi-penyebab-kelaparan-mao-zedong-musnahkan-ratusan-juta-burung-gereja-6OUkIpcMwL.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Pendiri RRC, Mao Zedong perintahkan pemunahan masal burung gereja untuk atasi kelaparan. (Foto: The Vintage News)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2017/06/06/18/1709067/kisah-dianggap-jadi-penyebab-kelaparan-mao-zedong-musnahkan-ratusan-juta-burung-gereja-6OUkIpcMwL.jpg</image><title>Pendiri RRC, Mao Zedong perintahkan pemunahan masal burung gereja untuk atasi kelaparan. (Foto: The Vintage News)</title></images><description>BENCANA kemanusiaan seperti kekurangan pangan tentunya umum terjadi dalam sejarah umat manusia. Tetapi dari sekian bencana kemanusiaan yang terjadi tersebut, pendiri Republik Rakyat China (RRC), Mao Zedong memiliki cara ekstrem untuk menangani krisis pangan yang pernah melanda Negeri Tirai Bambu pada 1958. Mantan Ketua Partai Komunis Tiongkok itu  memerintahkan pemusnahan burung gereja di seluruh negeri.

Ia menganggap bahwa burung gereja merupakan hama. Mao menilai, burung yang dikenal juga sebagai burung pipit itu terlalu banyak memakan gandum dan membuat warga China kelaparan. Selain itu, menurutnya burung gereja juga telah menghalangi perkembangan ekonomi Republik Rakyat China.

Dalam kurun waktu tiga tahun ke depan, 45 juta warga China meninggal karena kelaparan yang juga disebabkan karena kesalahan manajemen ekonomi, bencana lingkungan, dan teror. Mao kala itu melakukan beberapa kampanye besar-besaran dalam upaya untuk memodernisasi dan memperbaiki kehidupan di China. Membunuh seluruh burung gereja jugamerupakan bagian dari kampanye besar ini.

Masyarakat China dimobilisasi untuk membasmi semua burung. Mereka menabuh drum hingga menimbulkan suara bising untuk menakut-nakuti burung-burung agar tidak mendarat. Cara itu memaksa para burung untuk terbang sampai mereka mati karena kelelahan. Selain itu, warga juga menembaki burung gereja yang tengah terbang.

Alhasil kampanye tersebut membuat populasi burung gereja hampir punah   di China. Kala itu, tak ada yang tahu berapa jumlah burung gereja di   Tiongkok. Tetapi diperkirakan mereka mencapai lebih dari 600 juta ekor.   Setelah ratusan juta ekor burung terbunuh, muncullah masalah baru pada   tahun berikutnya.

Saat memasuki musim panen, hama seperti belalang jumlahnya meningkat  drastis karena pemangsa alami mereka telah punah. Dan itu artinya,  kampanye membunuh burung gereja menjadi bak senajata makan tuan atau  kontra produktif. Produksi biji-bijian di sebagian besar wilayah  pedesaan anjlok dan kelaparan besar mulai terjadi. Orang-orang mulai  kehabisan makanan dan menyebabkan jutaan dari mereka kelaparan.

Jumlah korban tewas yang secara resmi dirilis Pemerintah China yaitu  mencapai 15 juta orang. Namun, beberapa ilmuwan memperkirakan, korban  jiwa sebenarnya mencapai 45 juta sampai dengan 78 juta orang. Dan 50  tahun setelah bencana itu terjadi, kelaparan di China kemudian berubah  menjadi sebuah cerita mengerikan di mana orang dikabarkan memakan orang  lain. Sedangkan orangtua memakan anak mereka atau sebaliknya.

Cerita tersebut dimuat oleh seorang  jurnalis China, Yang Jisheng  dalam bukunya Tombstone dan memperkirakan terdapat lebih dari 36 juta  kematian akibat praktik kanibalisme. Buku Yang tersebut dengan cepat  dilarang beredar di China.

Mao kemudian menghentikan kampanye pemusnahan burung gereja dan  menggantinya dengan kampanye pemusnahan hama. Tujuan dari kampanye ini  adalah untuk meningkatkan output pertanian, namun  hasil panen padi  justru menurun secara substansial. Mungkin Mao Zedong ingin menaklukkan  alam. Namun, kebijakannya itu secara tragis menyebabkan kelaparan di  mana jutaan nyawa melayang.
</description><content:encoded>BENCANA kemanusiaan seperti kekurangan pangan tentunya umum terjadi dalam sejarah umat manusia. Tetapi dari sekian bencana kemanusiaan yang terjadi tersebut, pendiri Republik Rakyat China (RRC), Mao Zedong memiliki cara ekstrem untuk menangani krisis pangan yang pernah melanda Negeri Tirai Bambu pada 1958. Mantan Ketua Partai Komunis Tiongkok itu  memerintahkan pemusnahan burung gereja di seluruh negeri.

Ia menganggap bahwa burung gereja merupakan hama. Mao menilai, burung yang dikenal juga sebagai burung pipit itu terlalu banyak memakan gandum dan membuat warga China kelaparan. Selain itu, menurutnya burung gereja juga telah menghalangi perkembangan ekonomi Republik Rakyat China.

Dalam kurun waktu tiga tahun ke depan, 45 juta warga China meninggal karena kelaparan yang juga disebabkan karena kesalahan manajemen ekonomi, bencana lingkungan, dan teror. Mao kala itu melakukan beberapa kampanye besar-besaran dalam upaya untuk memodernisasi dan memperbaiki kehidupan di China. Membunuh seluruh burung gereja jugamerupakan bagian dari kampanye besar ini.

Masyarakat China dimobilisasi untuk membasmi semua burung. Mereka menabuh drum hingga menimbulkan suara bising untuk menakut-nakuti burung-burung agar tidak mendarat. Cara itu memaksa para burung untuk terbang sampai mereka mati karena kelelahan. Selain itu, warga juga menembaki burung gereja yang tengah terbang.

Alhasil kampanye tersebut membuat populasi burung gereja hampir punah   di China. Kala itu, tak ada yang tahu berapa jumlah burung gereja di   Tiongkok. Tetapi diperkirakan mereka mencapai lebih dari 600 juta ekor.   Setelah ratusan juta ekor burung terbunuh, muncullah masalah baru pada   tahun berikutnya.

Saat memasuki musim panen, hama seperti belalang jumlahnya meningkat  drastis karena pemangsa alami mereka telah punah. Dan itu artinya,  kampanye membunuh burung gereja menjadi bak senajata makan tuan atau  kontra produktif. Produksi biji-bijian di sebagian besar wilayah  pedesaan anjlok dan kelaparan besar mulai terjadi. Orang-orang mulai  kehabisan makanan dan menyebabkan jutaan dari mereka kelaparan.

Jumlah korban tewas yang secara resmi dirilis Pemerintah China yaitu  mencapai 15 juta orang. Namun, beberapa ilmuwan memperkirakan, korban  jiwa sebenarnya mencapai 45 juta sampai dengan 78 juta orang. Dan 50  tahun setelah bencana itu terjadi, kelaparan di China kemudian berubah  menjadi sebuah cerita mengerikan di mana orang dikabarkan memakan orang  lain. Sedangkan orangtua memakan anak mereka atau sebaliknya.

Cerita tersebut dimuat oleh seorang  jurnalis China, Yang Jisheng  dalam bukunya Tombstone dan memperkirakan terdapat lebih dari 36 juta  kematian akibat praktik kanibalisme. Buku Yang tersebut dengan cepat  dilarang beredar di China.

Mao kemudian menghentikan kampanye pemusnahan burung gereja dan  menggantinya dengan kampanye pemusnahan hama. Tujuan dari kampanye ini  adalah untuk meningkatkan output pertanian, namun  hasil panen padi  justru menurun secara substansial. Mungkin Mao Zedong ingin menaklukkan  alam. Namun, kebijakannya itu secara tragis menyebabkan kelaparan di  mana jutaan nyawa melayang.
</content:encoded></item></channel></rss>
