<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>OKEZONE STORY: Kisah Raja Spanyol yang Meninggal Tanpa Darah dengan Kepala Penuh Air</title><description>Hasil otopsi yang dilakukan terhadap jasad Charles II menunjukkan hal yang mengejutkan.</description><link>https://news.okezone.com/read/2017/06/10/18/1712614/okezone-story-kisah-raja-spanyol-yang-meninggal-tanpa-darah-dengan-kepala-penuh-air</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2017/06/10/18/1712614/okezone-story-kisah-raja-spanyol-yang-meninggal-tanpa-darah-dengan-kepala-penuh-air"/><item><title>OKEZONE STORY: Kisah Raja Spanyol yang Meninggal Tanpa Darah dengan Kepala Penuh Air</title><link>https://news.okezone.com/read/2017/06/10/18/1712614/okezone-story-kisah-raja-spanyol-yang-meninggal-tanpa-darah-dengan-kepala-penuh-air</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2017/06/10/18/1712614/okezone-story-kisah-raja-spanyol-yang-meninggal-tanpa-darah-dengan-kepala-penuh-air</guid><pubDate>Sabtu 10 Juni 2017 08:01 WIB</pubDate><dc:creator>Silviana Dharma</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2017/06/10/18/1712614/okezone-story-kisah-raja-spanyol-yang-meninggal-tanpa-darah-dengan-kepala-penuh-air-lCLmnlgJIB.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Raja Charles II dari Spanyol. (Foto: Uroweb)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2017/06/10/18/1712614/okezone-story-kisah-raja-spanyol-yang-meninggal-tanpa-darah-dengan-kepala-penuh-air-lCLmnlgJIB.jpg</image><title>Raja Charles II dari Spanyol. (Foto: Uroweb)</title></images><description>RAJA Charles (Carlos) II adalah penguasa terakhir Kerajaan Habsburg di Spanyol. Kerajaan Habsburg yang juga dikenal sebagai Wangsa Austria merupakan salah satu dinasti monarki paling berpengaruh di Eropa. Dari wangsa inilah lahir segala macam raja dan kaisar Romawi Suci antara 1438 dan 1740.
Kala itu,&amp;nbsp; kerajaan yang didirikan pada abad ke-12 oleh Pangeran Otto II dari Habsburg ini tersebar di Bohemia, Inggris-Irlandia, Kroasia, Portugal, Jerman, Bosnia, Slovenia dan juga Spanyol. Wangsa Habsburg mengalami kepunahan di tangan Charles II dari Spanyol pada 1700. Penguasa paling akhir dari Dinasti Habsburg sendiri adalah seorang perempuan. Ratu Maria Theresa dari Austria menikah dengan Wangsa Lorraine dan meninggal pada 1780.
Pada masa itu, era suksesi yang diperhitungkan ialah yang berasal dari garis keturunan laki-laki. Jadi dalam hal ini Charles II dianggap sebagai penguasa terakhir. Lagipula, ketika Maria Theresa meneruskannya dengan menjadi permaisuri Kerajaan Jerman, Adipati Agung Austria, Ratu Hungaria dan Kroasia, hingga Ratu Bohemia, kekuasaan tertinggi tetap berada di tangan suaminya, Francis I dan putra-putranya.
Singkat cerita, Charles II dari Spanyol mangkat. Oleh karena tidak adanya penerus, krisis politik pun merebak di penjuru Benua Biru. Kekuasaan di Eropa mengalami perpecahan dan menggiringnya pada Perang Suksesi Spanyol.
Perang berkecamuk tak lama setelah suksesor Raja Philip (Felipe) IV itu menghembuskan nafas terakhirnya. Namun begitu yang menarik dari kisah Charles II bukan lah perang setelah kematiannya. Akan tetapi, kejanggalan yang ditemukan pada jasadnya.
Menjelang akhir hayatnya, kesehatan Charles menjadi semakin rapuh.  Dia bertingkah aneh dan hipersensitif. Menurut rumor yang beredar, dia  pernah meminta jenazah keluarganya digali sehingga dia bisa melihat  mayat mereka.
Tak berapa lama dia diagnosa mengalami gangguan saraf. Kesehatannya  diduga memburuk lantaran tekanan besar untuk mencoba menarik Spanyol  keluar dari krisis ekonomi. Semenjak itu, raja satu ini kerjanya hanya  main-main dan tak mengurus negara.
Hingga ajal menjemputnya di Madrid pada 1 November 1700. Usianya  waktu itu kurang 5 hari menuju 39 tahun. Untuk mengetahui penyebab pasti  meninggalnya sang raja, dokter melalukan otopsi.
Di sinilah kejanggalan dimulai. Dalam laporannya, dokter itu menulis  bahwa tubuh Charles II tidak dialiri darah setetes pun, jantungnya  seukuran jagung, paru-parunya berkarat, ususnya membusuk, punya tiga  batu di ginjal, sebuah testis yang berwarna segelap batu bara dan  kepalanya penuh oleh air.
Melansir Uroweb, Sabtu (10/6/2017), profesor urologi dari University  of Maastricht, Belgia, Philip Van Kerrebroeck, dalam bahasa kedokteran  modern dapat disimpulkan bahwa Raja Charles II menderita hipospadia  posterior atau kelainan pada penis, dengan testis monorkisme (hanya  satu) dan atrofi (kecil).
Diduga, kelainan inilah yang menyebabkan dia gagal menghasilkan keturunan. Padahal Charles II menikah dua kali.
&quot;Kami juga dapat menyimpulkan kalau dia mungkin interseksual atau  hemafrodit karena memiliki genitalia ambigua atau kelamin ganda. Dia  juga menderita penyakit batu ginjal,&quot; ucap Van Kerrebroeck.
Selain itu, profesor yang satu ini meyakini Charles II juga mengalami  kelainan, seperti sindrom klinefelter, sindrom fragile X,  hemafroditisme murni, dan inversi seksual.
&quot;Kombinasi semua kelainan itu yang paling mungkin terjadi atas  Charles II dan itu menghasilkan siksaan luar biasa sepanjang hidupnya,&quot;  terang dia.
Catatan sejarah lain berasal dari sejarawan Amerika, Will dan Ariel   Durant. Mereka adalah penulis buku The Story of Civilization. Keduanya   menggambarkan Charles II sebagai orang yang pendek, lumpuh, menderita   epilepsi, pikun, dan benar-benar botak sebelum berusia 35. Dia juga   selalu berada di ambang kematian, tetapi berulang kali membingungkan   kaum Kristen dengan kemampuannya untuk terus hidup.
Bisa jadi itulah yang membuat Charles II dari Spanyol dijuluki   Bewitched. Charles&amp;nbsp; II lahir di Madrid pada 1661. Ia adalah putra dari   hasil pernikahan Raja Philip IV dari Spanyol dan istri keduanya, Mariana   dari Austria.
Pada saat kematiannya, Philip IV hanya bisa memiliki oleh Charles   sebagai putra dan ahli waris yang masih bertahan. Sayangnya, sang   pangeran menderita cacat secara fisik dan mental. Kemampuan   intelektualnya rendah dan emosinya labil. Kendati begitu, perlu   diketahui kalau kondisinya yang separah itu juga buah dari pernikahan   inses atau sedarah kedua orangtuanya. Perkawinan sedarah memang biasa   terjadi pada kalangan bangsawan Eropa abad ke-17, dan keluarga kerajaan   Spanyol tidak terkecuali.
Apalagi kasus Habsburg adalah kasus ekstrem. Mereka telah memenangkan   kepemilikan kekuasaan mereka sebagian besar melalui perkawinan silang   dan tak tergoyahkan ketika mulai memperkukuhnya dengan menikahi  keluarga  bangsawan lain.</description><content:encoded>RAJA Charles (Carlos) II adalah penguasa terakhir Kerajaan Habsburg di Spanyol. Kerajaan Habsburg yang juga dikenal sebagai Wangsa Austria merupakan salah satu dinasti monarki paling berpengaruh di Eropa. Dari wangsa inilah lahir segala macam raja dan kaisar Romawi Suci antara 1438 dan 1740.
Kala itu,&amp;nbsp; kerajaan yang didirikan pada abad ke-12 oleh Pangeran Otto II dari Habsburg ini tersebar di Bohemia, Inggris-Irlandia, Kroasia, Portugal, Jerman, Bosnia, Slovenia dan juga Spanyol. Wangsa Habsburg mengalami kepunahan di tangan Charles II dari Spanyol pada 1700. Penguasa paling akhir dari Dinasti Habsburg sendiri adalah seorang perempuan. Ratu Maria Theresa dari Austria menikah dengan Wangsa Lorraine dan meninggal pada 1780.
Pada masa itu, era suksesi yang diperhitungkan ialah yang berasal dari garis keturunan laki-laki. Jadi dalam hal ini Charles II dianggap sebagai penguasa terakhir. Lagipula, ketika Maria Theresa meneruskannya dengan menjadi permaisuri Kerajaan Jerman, Adipati Agung Austria, Ratu Hungaria dan Kroasia, hingga Ratu Bohemia, kekuasaan tertinggi tetap berada di tangan suaminya, Francis I dan putra-putranya.
Singkat cerita, Charles II dari Spanyol mangkat. Oleh karena tidak adanya penerus, krisis politik pun merebak di penjuru Benua Biru. Kekuasaan di Eropa mengalami perpecahan dan menggiringnya pada Perang Suksesi Spanyol.
Perang berkecamuk tak lama setelah suksesor Raja Philip (Felipe) IV itu menghembuskan nafas terakhirnya. Namun begitu yang menarik dari kisah Charles II bukan lah perang setelah kematiannya. Akan tetapi, kejanggalan yang ditemukan pada jasadnya.
Menjelang akhir hayatnya, kesehatan Charles menjadi semakin rapuh.  Dia bertingkah aneh dan hipersensitif. Menurut rumor yang beredar, dia  pernah meminta jenazah keluarganya digali sehingga dia bisa melihat  mayat mereka.
Tak berapa lama dia diagnosa mengalami gangguan saraf. Kesehatannya  diduga memburuk lantaran tekanan besar untuk mencoba menarik Spanyol  keluar dari krisis ekonomi. Semenjak itu, raja satu ini kerjanya hanya  main-main dan tak mengurus negara.
Hingga ajal menjemputnya di Madrid pada 1 November 1700. Usianya  waktu itu kurang 5 hari menuju 39 tahun. Untuk mengetahui penyebab pasti  meninggalnya sang raja, dokter melalukan otopsi.
Di sinilah kejanggalan dimulai. Dalam laporannya, dokter itu menulis  bahwa tubuh Charles II tidak dialiri darah setetes pun, jantungnya  seukuran jagung, paru-parunya berkarat, ususnya membusuk, punya tiga  batu di ginjal, sebuah testis yang berwarna segelap batu bara dan  kepalanya penuh oleh air.
Melansir Uroweb, Sabtu (10/6/2017), profesor urologi dari University  of Maastricht, Belgia, Philip Van Kerrebroeck, dalam bahasa kedokteran  modern dapat disimpulkan bahwa Raja Charles II menderita hipospadia  posterior atau kelainan pada penis, dengan testis monorkisme (hanya  satu) dan atrofi (kecil).
Diduga, kelainan inilah yang menyebabkan dia gagal menghasilkan keturunan. Padahal Charles II menikah dua kali.
&quot;Kami juga dapat menyimpulkan kalau dia mungkin interseksual atau  hemafrodit karena memiliki genitalia ambigua atau kelamin ganda. Dia  juga menderita penyakit batu ginjal,&quot; ucap Van Kerrebroeck.
Selain itu, profesor yang satu ini meyakini Charles II juga mengalami  kelainan, seperti sindrom klinefelter, sindrom fragile X,  hemafroditisme murni, dan inversi seksual.
&quot;Kombinasi semua kelainan itu yang paling mungkin terjadi atas  Charles II dan itu menghasilkan siksaan luar biasa sepanjang hidupnya,&quot;  terang dia.
Catatan sejarah lain berasal dari sejarawan Amerika, Will dan Ariel   Durant. Mereka adalah penulis buku The Story of Civilization. Keduanya   menggambarkan Charles II sebagai orang yang pendek, lumpuh, menderita   epilepsi, pikun, dan benar-benar botak sebelum berusia 35. Dia juga   selalu berada di ambang kematian, tetapi berulang kali membingungkan   kaum Kristen dengan kemampuannya untuk terus hidup.
Bisa jadi itulah yang membuat Charles II dari Spanyol dijuluki   Bewitched. Charles&amp;nbsp; II lahir di Madrid pada 1661. Ia adalah putra dari   hasil pernikahan Raja Philip IV dari Spanyol dan istri keduanya, Mariana   dari Austria.
Pada saat kematiannya, Philip IV hanya bisa memiliki oleh Charles   sebagai putra dan ahli waris yang masih bertahan. Sayangnya, sang   pangeran menderita cacat secara fisik dan mental. Kemampuan   intelektualnya rendah dan emosinya labil. Kendati begitu, perlu   diketahui kalau kondisinya yang separah itu juga buah dari pernikahan   inses atau sedarah kedua orangtuanya. Perkawinan sedarah memang biasa   terjadi pada kalangan bangsawan Eropa abad ke-17, dan keluarga kerajaan   Spanyol tidak terkecuali.
Apalagi kasus Habsburg adalah kasus ekstrem. Mereka telah memenangkan   kepemilikan kekuasaan mereka sebagian besar melalui perkawinan silang   dan tak tergoyahkan ketika mulai memperkukuhnya dengan menikahi  keluarga  bangsawan lain.</content:encoded></item></channel></rss>
