<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>OKEZONE STORY: Kisah Cinta yang Mengubah Sejarah Amerika Serikat</title><description>RICHARD Loving dan Mildred Jeter menikah ketika dunia masih hitam putih.</description><link>https://news.okezone.com/read/2017/06/16/18/1717389/okezone-story-kisah-cinta-yang-mengubah-sejarah-amerika-serikat</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2017/06/16/18/1717389/okezone-story-kisah-cinta-yang-mengubah-sejarah-amerika-serikat"/><item><title>OKEZONE STORY: Kisah Cinta yang Mengubah Sejarah Amerika Serikat</title><link>https://news.okezone.com/read/2017/06/16/18/1717389/okezone-story-kisah-cinta-yang-mengubah-sejarah-amerika-serikat</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2017/06/16/18/1717389/okezone-story-kisah-cinta-yang-mengubah-sejarah-amerika-serikat</guid><pubDate>Jum'at 16 Juni 2017 08:03 WIB</pubDate><dc:creator>Silviana Dharma</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2017/06/15/18/1717389/okezone-story-kisah-cinta-yang-mengubah-sejarah-amerika-serikat-jCxsCdw8LF.jpeg" expression="full" type="image/jpeg">Richard dan Mildred Loving saat tinggal di Washington DC. (Foto: Bettmann/Getty Images)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2017/06/15/18/1717389/okezone-story-kisah-cinta-yang-mengubah-sejarah-amerika-serikat-jCxsCdw8LF.jpeg</image><title>Richard dan Mildred Loving saat tinggal di Washington DC. (Foto: Bettmann/Getty Images)</title></images><description>RICHARD Loving dan Mildred Jeter menikah ketika dunia masih hitam putih. Pada 1950-an di Virginia, Amerika Serikat, haram hukumnya orang kulit putih memadu kasih dengan keturunan Afrika. Dalam hal ini, Richard merupakan pria keturunan Irlandia dan Inggris, sedangkan Mildred berdarah campuran Afrika dan Amerika.
Ketika kehidupan rumah tangga mereka baru lima pekan, seorang polisi merangsek masuk. &amp;ldquo;Apa yang kau lakukan di ranjang dengan perempuan ini?&amp;rdquo; sergap Sheriff R Garnet Brooks sambil menyorongkan lampu senter ke arah sejoli itu.
&amp;ldquo;Saya istrinya,&amp;rdquo; jawab Mildred, seperti dikutip dari History, Jumat (16/6/2017).
Waktu itu jam di dinding menunjukkan pukul 02.00 pada 11 Juli 1958. Brooks cs menginterogasi mereka. Suami-Istri Loving hari itu juga dibawa ke kantor polisi. Keduanya dinyatakan bersalah melanggar Undang-Undang Integritas Ras di Virginia dan mendekam dalam tahanan terpisah.

Meski begitu, Richard hanya menghabiskan semalam saja di penjara. Keesokan harinya, dia bebas bersyarat setelah saudara perempuannya membayar tebusan sebesar USD1.000. Sementara Mildred, tidak mendapatkan hak bebas bersyarat dan harus mendekam bermalam-malam di sel perempuan yang hanya muat untuk satu orang.
Lewat tiga malam, ayah Mildred yang asli Amerika Serikat , membebaskannya. Namun ujian cinta mereka belum berakhir.Walaupun tak lagi jadi tahanan di balik jeruji besi. Perkara mereka  terlanjur masuk ke pengadilan. Hakim Ketua Leon M Bazile memberikan dua  pilihan: meninggalkan Virginia selama 25 tahun atau masuk bui?
Richard dan Milder memilih pergi. Meninggalkan kampung halaman,  mereka hidup dalam pengasingan di Washington DC kurang lebih sembilan  tahun. Akan tetapi, Mildred yang sedang hamil tak mampu beradaptasi  dengan baik di Ibu Kota. Dia selalu rindu rumahnya di pedesaan, yang  diyakini punya lingkungan lebih baik untuk tumbuh kembang anak-anak.

Keluarga Loving. (Foto: Movie Pilot)
Pada satu titik jenuh, mereka memutuskan pulang kampung. Tapi karena  mereka tidak boleh kembali bersama-sama, mereka berhati-hati untuk tidak  terlihat berduaan. Bahkan Richard jarang sekali keluar rumah pada masa  itu.
Richard dan Mildred saat itu sudah pasrah. Mereka hanya berjuang  sehari-hari untuk bisa bersama dalam kesempitan. Tak ada niat untuk  mendobrak aturan pemerintah.
Namun begitu, para pegiat hak sipil tak bisa mendiamkan ketidakadilan  ini begitu saja. Pada 1964, Mildred yang terinspirasi oleh dorongan  aktivis HAM setempat, menulis surat kepada Mahkamah Agung Robert F  Kennedy guna meminta bantuan.
Kennedy menyarankan dia menghubungi Serikat Kebebasan Warga Sipil di  AS (ACLU). Tanggapannya luar biasa positif. Pengacara ACLU Bernard S  Cohen dan Philip J Hirschkop bersikeras mau menangani kasus ini. Itu  kabar baiknya, tetapi perjuangan masih panjang.Upaya pertama ACLU ialah menjungkirbalikkan keputusan hakim   sebelumnya. Setelah menunggu setahun, mereka akhirnya mendapatkan   balasan untuk mengajukan kasus ini ke Pengadilan Negeri Distrik Timur   Virginia, yang ujungnya menyambungkan mereka kepada Hakim Bazile.
Dalam suratnya, Bazile menyatakan, &amp;ldquo;Allah Yang Maha Besar menciptakan   ras putih, hitam, kuning, melayu dan merah, lalu menempatkan mereka di   belahan dunia yang berbeda. Agar tidak menghancurkan karyanya,   pernikahan campuran harus ditiadakan. Fakta bahwa dia memisahkan ras   manusia menunjukkan kalau Dia tak ingin ras-ras itu bercampur.&amp;rdquo;

Mildred and Richard Loving. (Foto: Bettmann/Getty Images)
Pernyataan Bazile itulah yang kemudian menjadi bahan untuk tim kuasa   hukum Loving membalikkan kedudukan. Dan selagi para pengacara dan   aktivis HAM mendukung perubahan warna dalam hukum perkawinan di AS,   pasangan yang menjadi pusat kisah ini bisa hidup cukup tenang.
Mereka hidup bersama secara diam-diam di Virginia. Mengikuti saran   dari pengacaranya, mereka tinggal terpisah dari keluarga besar, tetapi   terus bersama. Ada kalanya, hubungan terlarang ini kepergok aparat.   Keduanya dibui lagi. Namun dalam hitungan jam sudah bebas berkat ACLU.
Kasus ini akhirnya mengalami kemajuan ke tingkat Mahkamah Agung pada   10 April 1967. Tetapi langkahnya terjegal setelah Philip Hirschkop   tersingkirkan karena dianggap belum cukup pengalaman. Menyisakan Bernard   Cohen mengurus kasus controversial ini ke MA.Ketika ditanya pendapatnya soal gugatan tersebut sebelum sidang    dengar pendapat, Mildred menegaskan, &amp;ldquo;Ini soal prinsip, ini soal hukum.    Saya tidak merasa hukumnya sudah benar. Jika kami menang, kami akan    membantu banyak orang. Saya tahu kami punya beberapa musuh, tetapi kami    juga punya teman-teman. Jadi tidak akan ada bedanya ada musuh atau    tidak.&amp;rdquo;
Baik Richard maupun Meldred tidak pernah menghadiri sidang. Namun    pikirannya terwakilan melalui sebuah surat yang dibacakan pengacaranya    di pengadilan.
&amp;ldquo;Katakan kepada Hakim, saya mencintai istri saya dan tidak adil kalau    saya tidak bisa tinggal bersamanya di Virginia,&amp;rdquo; serunya dalam surat    itu.

Kisah Richard dan Mildred telah diabadikan ke layar kaca dengan judul 'Loving'.
Hakim terenyuh. Pada ketukan palu terakhirnya 12 Juni 1967, MA    memutuskan larangan menikah lintas ras melanggar konstitusi. Virginia    menjadi negara bagian pertama yang mencabut kebijakan tersebut, diikuti    oleh 16 negara bagian lainnya. Hanya Alabama yang baru meniadakannya    pada 2000.
&amp;ldquo;Di bawah Konstitusi kita, kebebasan untuk menikah atau tidak,    seseorang dari ras lain berhak tinggal dengan pasangannya dan tidak bisa    dicampuri oleh negara. Keyakinan ini harus dibalik. Demikian   hukumnya,&amp;rdquo;  kata hakim mengacu kepada amandemen ke-14.
Butuh sembilan tahun untuk memperjuangkan cinta mereka sah di mata    hukum. Richard dan Meldred akhirnya bisa membangun rumah, tinggal secara    terbuka.
Delapan tahun berlalu setelah mereka memenangkan gugatan. Lovings    kecelakaan. Mobil mereka bertabrakan dengan seorang pengendara mabuk    ketika hendak pulang pada Sabtu malam.
Richard meninggal dalam insiden tersebut. Mildred selamat, dia    melanjutkan hidup. Tetapi tak pernah menikah lagi. Dia tetap tinggal di    rumah yang dibangun suaminya hingga akhir hayatnya, di kelilingi    keluarga dan teman-teman.</description><content:encoded>RICHARD Loving dan Mildred Jeter menikah ketika dunia masih hitam putih. Pada 1950-an di Virginia, Amerika Serikat, haram hukumnya orang kulit putih memadu kasih dengan keturunan Afrika. Dalam hal ini, Richard merupakan pria keturunan Irlandia dan Inggris, sedangkan Mildred berdarah campuran Afrika dan Amerika.
Ketika kehidupan rumah tangga mereka baru lima pekan, seorang polisi merangsek masuk. &amp;ldquo;Apa yang kau lakukan di ranjang dengan perempuan ini?&amp;rdquo; sergap Sheriff R Garnet Brooks sambil menyorongkan lampu senter ke arah sejoli itu.
&amp;ldquo;Saya istrinya,&amp;rdquo; jawab Mildred, seperti dikutip dari History, Jumat (16/6/2017).
Waktu itu jam di dinding menunjukkan pukul 02.00 pada 11 Juli 1958. Brooks cs menginterogasi mereka. Suami-Istri Loving hari itu juga dibawa ke kantor polisi. Keduanya dinyatakan bersalah melanggar Undang-Undang Integritas Ras di Virginia dan mendekam dalam tahanan terpisah.

Meski begitu, Richard hanya menghabiskan semalam saja di penjara. Keesokan harinya, dia bebas bersyarat setelah saudara perempuannya membayar tebusan sebesar USD1.000. Sementara Mildred, tidak mendapatkan hak bebas bersyarat dan harus mendekam bermalam-malam di sel perempuan yang hanya muat untuk satu orang.
Lewat tiga malam, ayah Mildred yang asli Amerika Serikat , membebaskannya. Namun ujian cinta mereka belum berakhir.Walaupun tak lagi jadi tahanan di balik jeruji besi. Perkara mereka  terlanjur masuk ke pengadilan. Hakim Ketua Leon M Bazile memberikan dua  pilihan: meninggalkan Virginia selama 25 tahun atau masuk bui?
Richard dan Milder memilih pergi. Meninggalkan kampung halaman,  mereka hidup dalam pengasingan di Washington DC kurang lebih sembilan  tahun. Akan tetapi, Mildred yang sedang hamil tak mampu beradaptasi  dengan baik di Ibu Kota. Dia selalu rindu rumahnya di pedesaan, yang  diyakini punya lingkungan lebih baik untuk tumbuh kembang anak-anak.

Keluarga Loving. (Foto: Movie Pilot)
Pada satu titik jenuh, mereka memutuskan pulang kampung. Tapi karena  mereka tidak boleh kembali bersama-sama, mereka berhati-hati untuk tidak  terlihat berduaan. Bahkan Richard jarang sekali keluar rumah pada masa  itu.
Richard dan Mildred saat itu sudah pasrah. Mereka hanya berjuang  sehari-hari untuk bisa bersama dalam kesempitan. Tak ada niat untuk  mendobrak aturan pemerintah.
Namun begitu, para pegiat hak sipil tak bisa mendiamkan ketidakadilan  ini begitu saja. Pada 1964, Mildred yang terinspirasi oleh dorongan  aktivis HAM setempat, menulis surat kepada Mahkamah Agung Robert F  Kennedy guna meminta bantuan.
Kennedy menyarankan dia menghubungi Serikat Kebebasan Warga Sipil di  AS (ACLU). Tanggapannya luar biasa positif. Pengacara ACLU Bernard S  Cohen dan Philip J Hirschkop bersikeras mau menangani kasus ini. Itu  kabar baiknya, tetapi perjuangan masih panjang.Upaya pertama ACLU ialah menjungkirbalikkan keputusan hakim   sebelumnya. Setelah menunggu setahun, mereka akhirnya mendapatkan   balasan untuk mengajukan kasus ini ke Pengadilan Negeri Distrik Timur   Virginia, yang ujungnya menyambungkan mereka kepada Hakim Bazile.
Dalam suratnya, Bazile menyatakan, &amp;ldquo;Allah Yang Maha Besar menciptakan   ras putih, hitam, kuning, melayu dan merah, lalu menempatkan mereka di   belahan dunia yang berbeda. Agar tidak menghancurkan karyanya,   pernikahan campuran harus ditiadakan. Fakta bahwa dia memisahkan ras   manusia menunjukkan kalau Dia tak ingin ras-ras itu bercampur.&amp;rdquo;

Mildred and Richard Loving. (Foto: Bettmann/Getty Images)
Pernyataan Bazile itulah yang kemudian menjadi bahan untuk tim kuasa   hukum Loving membalikkan kedudukan. Dan selagi para pengacara dan   aktivis HAM mendukung perubahan warna dalam hukum perkawinan di AS,   pasangan yang menjadi pusat kisah ini bisa hidup cukup tenang.
Mereka hidup bersama secara diam-diam di Virginia. Mengikuti saran   dari pengacaranya, mereka tinggal terpisah dari keluarga besar, tetapi   terus bersama. Ada kalanya, hubungan terlarang ini kepergok aparat.   Keduanya dibui lagi. Namun dalam hitungan jam sudah bebas berkat ACLU.
Kasus ini akhirnya mengalami kemajuan ke tingkat Mahkamah Agung pada   10 April 1967. Tetapi langkahnya terjegal setelah Philip Hirschkop   tersingkirkan karena dianggap belum cukup pengalaman. Menyisakan Bernard   Cohen mengurus kasus controversial ini ke MA.Ketika ditanya pendapatnya soal gugatan tersebut sebelum sidang    dengar pendapat, Mildred menegaskan, &amp;ldquo;Ini soal prinsip, ini soal hukum.    Saya tidak merasa hukumnya sudah benar. Jika kami menang, kami akan    membantu banyak orang. Saya tahu kami punya beberapa musuh, tetapi kami    juga punya teman-teman. Jadi tidak akan ada bedanya ada musuh atau    tidak.&amp;rdquo;
Baik Richard maupun Meldred tidak pernah menghadiri sidang. Namun    pikirannya terwakilan melalui sebuah surat yang dibacakan pengacaranya    di pengadilan.
&amp;ldquo;Katakan kepada Hakim, saya mencintai istri saya dan tidak adil kalau    saya tidak bisa tinggal bersamanya di Virginia,&amp;rdquo; serunya dalam surat    itu.

Kisah Richard dan Mildred telah diabadikan ke layar kaca dengan judul 'Loving'.
Hakim terenyuh. Pada ketukan palu terakhirnya 12 Juni 1967, MA    memutuskan larangan menikah lintas ras melanggar konstitusi. Virginia    menjadi negara bagian pertama yang mencabut kebijakan tersebut, diikuti    oleh 16 negara bagian lainnya. Hanya Alabama yang baru meniadakannya    pada 2000.
&amp;ldquo;Di bawah Konstitusi kita, kebebasan untuk menikah atau tidak,    seseorang dari ras lain berhak tinggal dengan pasangannya dan tidak bisa    dicampuri oleh negara. Keyakinan ini harus dibalik. Demikian   hukumnya,&amp;rdquo;  kata hakim mengacu kepada amandemen ke-14.
Butuh sembilan tahun untuk memperjuangkan cinta mereka sah di mata    hukum. Richard dan Meldred akhirnya bisa membangun rumah, tinggal secara    terbuka.
Delapan tahun berlalu setelah mereka memenangkan gugatan. Lovings    kecelakaan. Mobil mereka bertabrakan dengan seorang pengendara mabuk    ketika hendak pulang pada Sabtu malam.
Richard meninggal dalam insiden tersebut. Mildred selamat, dia    melanjutkan hidup. Tetapi tak pernah menikah lagi. Dia tetap tinggal di    rumah yang dibangun suaminya hingga akhir hayatnya, di kelilingi    keluarga dan teman-teman.</content:encoded></item></channel></rss>
