<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Wajib Menikah Saat Perawan, Perempuan Tunisia Antre Jalani Operasi Selaput Dara</title><description>Harus perawan saat malam pertama, perempuan Tunisia takut diceraikan suami.</description><link>https://news.okezone.com/read/2017/06/19/18/1719672/wajib-menikah-saat-perawan-perempuan-tunisia-antre-jalani-operasi-selaput-dara</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2017/06/19/18/1719672/wajib-menikah-saat-perawan-perempuan-tunisia-antre-jalani-operasi-selaput-dara"/><item><title>Wajib Menikah Saat Perawan, Perempuan Tunisia Antre Jalani Operasi Selaput Dara</title><link>https://news.okezone.com/read/2017/06/19/18/1719672/wajib-menikah-saat-perawan-perempuan-tunisia-antre-jalani-operasi-selaput-dara</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2017/06/19/18/1719672/wajib-menikah-saat-perawan-perempuan-tunisia-antre-jalani-operasi-selaput-dara</guid><pubDate>Senin 19 Juni 2017 14:03 WIB</pubDate><dc:creator>Silviana Dharma</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2017/06/19/18/1719672/wajib-menikah-saat-perawan-perempuan-tunisia-antre-jalani-operasi-selaput-dara-NYGV8Z6dDO.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi. Perempuan harus perawan pada malam pertama pernikahan di Tunisia.(Foto: Fethi Belaid/AFP)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2017/06/19/18/1719672/wajib-menikah-saat-perawan-perempuan-tunisia-antre-jalani-operasi-selaput-dara-NYGV8Z6dDO.jpg</image><title>Ilustrasi. Perempuan harus perawan pada malam pertama pernikahan di Tunisia.(Foto: Fethi Belaid/AFP)</title></images><description>TUNIS &amp;ndash; Tunisia adalah negara yang letaknya paling utara di Benua Afrika. Sejak revolusi Arab Spring pecah, negara ini menjadi pelopor kebangkitan hak asasi perempuan di negara-negara Teluk Arab.
Namun begitu, tujuh tahun setelah Arab Spring, perempuan masih saja mendapatkan penghakiman yang tidak adil ketika bicara soal kesucian dan moral. Dalam hal ini, ada tuntutan di Tunisia bahwa perempuan harus menikah dalam keadaan masih perawan. Keperawanan biasanya ditandai dengan keberadaan selaput dara (hymen).
Lalu bagaimana jika si perempuan ketahuan tak perawan ketika sudah menikah? Hukum di Tunisia membolehkan sang suami menceraikannya. Hal ini tentu akan menjadi aib bagi keluarga pengantin perempuan.
Inilah kisah mereka. Yasmine (bukan nama sebenarnya), terlihat gugup ketika ditemui di sebuah klinik ginekologi di Tunis. Ruangannya berwarna merah muda dan ia tidak sendiri. Banyak juga perempuan muda yang sedang mengantre di ruang tunggu klinik tersebut.
Selagi menunggu, perempuan berusia 28 tahun yang akan menikah dalam waktu dua bulan lagi itu, terus menggigiti kuku jarinya dan bolak-balik mengecek ponsel.
&amp;ldquo;Saya merasa ini penipuan dan saya sungguh khawatir,&amp;rdquo; akunya kepada BBC, Senin (19/6/2017).
Ya, Yasmine dan para perempuan muda lain yang sedang menunggu ini adalah para pasien yang berharap bisa mengembalikan kesucian mereka lewat operasi plastik selaput dara. Prosedurnya singkat, paling-paling hanya 30 menit selesai.
Lebih lanjut, calon pengantin itu mengutarakan ketakutannya. Ia takut suaminya tahu kalau dia sebenarnya sudah tidak perawan lagi. Dia berharap datang ke sini bisa membalikkan waktu. Meski begitu, tetap saja terselip kekhawatiran kalau cepat atau lambat akan ketahuan jua.
&amp;ldquo;Saya takut suatu hari nanti saya tidak sengaja mengakui pengkhianatan ini kepada suami saya, atau dia yang mulai curiga duluan,&amp;rdquo; sambungnya.
Yasmine sendiri terlahir di keluarga yang bebas dan menghabiskan sebagian besar waktu tinggal di luar negeri. Dia pernah begitu liar dan kini dia baru tahu bahwa perbuatannya itu mengancam masa depannya sekembali ke Tunisia.
&amp;ldquo;Saya pernah punya hubungan dengan seorang pria. Waktu itu, saya tidak terbayang besarnya tekanan di masyarakat (Tunisia) dan konsekuensi yang harus saya hadapi,&amp;rdquo; tuturnya.Ia menambahkan, &amp;ldquo;Jadi sekarang saya sangat takut. Jika saya  mengungkapkan hal ini kepada tunangan saya, saya yakin sekali pernikahan  kami akan dibatalkan.&amp;rdquo;
Yasmine sekarang harus membayar hampir USD400 atau Rp5,3 juta untuk  mengembalikan keperawanannya. Dia sudah menabung untuk ini selama  beberapa bulan, yang pasti kedatangannya kemari dirahasiakan dari  keluarga dan tunangannya.
Di sisi lain, pakar gineakologi di klinik tersebut, Rachid mengungkap  seringnya dia menerima pasien seperti Yasmin. Pekan ini saja, dia sudah  melakukan dua operasi perbaikan selaput dara.
Katanya, 99% pasiennya termotivasi kekhawatiran bahwa jika ketahuan  tak perawan, mereka akan memalukan keluarga. Padahal, menurut Rachid,  ada banyak faktor yang menyebabkan selaput dara seseorang robek.  Misalnya karena penggunaan tampon (pembalut yang cara pakainya  dimasukkan ke bagian kemaluan), atau kecelakaan saat berkuda, dan  sebagainya.
&amp;ldquo;Kami sebagai ginekolog hanya berupaya memperbaiki selapu dara itu.  Tak ada pengecualian (soal alasan rusaknya). Tapi ada juga dokter yang  menolak melakukannya. Saya secara pribadi mau melakukannya karena tidak  setuju keperawanan dijadikan acuan kesucian perempuan,&amp;rdquo; ujarnya.
Dia menimpali, &amp;ldquo;Itu sangat mengganggu saya. Ini adalah manifestasi  dari komunitas masyarakat yang didominasi pria dan dibalut dengan  prinsip keagamaan. Saya sangat menentang itu.&amp;rdquo;
Para perempuan Tunisia mendapat pengakuan internasional karena  memelopori hak asasi perempuan di Afrika Utara. Akan tetapi, agama dan  tradisi di sini masih mendikte para perempuan muda soal keperawanan.  Bahkan memang ada hukum yang membenarkan perceraian semata karena alasan  istri tidak perawan saat malam pertama.
&amp;ldquo;Di tengah masyarakat yang sudah terbuka seperti ini, tradisi itu  membuat kami menjadi hipokrit (orang munafik),&amp;rdquo; kata pakar sosiologi,  Samia Elloumi.</description><content:encoded>TUNIS &amp;ndash; Tunisia adalah negara yang letaknya paling utara di Benua Afrika. Sejak revolusi Arab Spring pecah, negara ini menjadi pelopor kebangkitan hak asasi perempuan di negara-negara Teluk Arab.
Namun begitu, tujuh tahun setelah Arab Spring, perempuan masih saja mendapatkan penghakiman yang tidak adil ketika bicara soal kesucian dan moral. Dalam hal ini, ada tuntutan di Tunisia bahwa perempuan harus menikah dalam keadaan masih perawan. Keperawanan biasanya ditandai dengan keberadaan selaput dara (hymen).
Lalu bagaimana jika si perempuan ketahuan tak perawan ketika sudah menikah? Hukum di Tunisia membolehkan sang suami menceraikannya. Hal ini tentu akan menjadi aib bagi keluarga pengantin perempuan.
Inilah kisah mereka. Yasmine (bukan nama sebenarnya), terlihat gugup ketika ditemui di sebuah klinik ginekologi di Tunis. Ruangannya berwarna merah muda dan ia tidak sendiri. Banyak juga perempuan muda yang sedang mengantre di ruang tunggu klinik tersebut.
Selagi menunggu, perempuan berusia 28 tahun yang akan menikah dalam waktu dua bulan lagi itu, terus menggigiti kuku jarinya dan bolak-balik mengecek ponsel.
&amp;ldquo;Saya merasa ini penipuan dan saya sungguh khawatir,&amp;rdquo; akunya kepada BBC, Senin (19/6/2017).
Ya, Yasmine dan para perempuan muda lain yang sedang menunggu ini adalah para pasien yang berharap bisa mengembalikan kesucian mereka lewat operasi plastik selaput dara. Prosedurnya singkat, paling-paling hanya 30 menit selesai.
Lebih lanjut, calon pengantin itu mengutarakan ketakutannya. Ia takut suaminya tahu kalau dia sebenarnya sudah tidak perawan lagi. Dia berharap datang ke sini bisa membalikkan waktu. Meski begitu, tetap saja terselip kekhawatiran kalau cepat atau lambat akan ketahuan jua.
&amp;ldquo;Saya takut suatu hari nanti saya tidak sengaja mengakui pengkhianatan ini kepada suami saya, atau dia yang mulai curiga duluan,&amp;rdquo; sambungnya.
Yasmine sendiri terlahir di keluarga yang bebas dan menghabiskan sebagian besar waktu tinggal di luar negeri. Dia pernah begitu liar dan kini dia baru tahu bahwa perbuatannya itu mengancam masa depannya sekembali ke Tunisia.
&amp;ldquo;Saya pernah punya hubungan dengan seorang pria. Waktu itu, saya tidak terbayang besarnya tekanan di masyarakat (Tunisia) dan konsekuensi yang harus saya hadapi,&amp;rdquo; tuturnya.Ia menambahkan, &amp;ldquo;Jadi sekarang saya sangat takut. Jika saya  mengungkapkan hal ini kepada tunangan saya, saya yakin sekali pernikahan  kami akan dibatalkan.&amp;rdquo;
Yasmine sekarang harus membayar hampir USD400 atau Rp5,3 juta untuk  mengembalikan keperawanannya. Dia sudah menabung untuk ini selama  beberapa bulan, yang pasti kedatangannya kemari dirahasiakan dari  keluarga dan tunangannya.
Di sisi lain, pakar gineakologi di klinik tersebut, Rachid mengungkap  seringnya dia menerima pasien seperti Yasmin. Pekan ini saja, dia sudah  melakukan dua operasi perbaikan selaput dara.
Katanya, 99% pasiennya termotivasi kekhawatiran bahwa jika ketahuan  tak perawan, mereka akan memalukan keluarga. Padahal, menurut Rachid,  ada banyak faktor yang menyebabkan selaput dara seseorang robek.  Misalnya karena penggunaan tampon (pembalut yang cara pakainya  dimasukkan ke bagian kemaluan), atau kecelakaan saat berkuda, dan  sebagainya.
&amp;ldquo;Kami sebagai ginekolog hanya berupaya memperbaiki selapu dara itu.  Tak ada pengecualian (soal alasan rusaknya). Tapi ada juga dokter yang  menolak melakukannya. Saya secara pribadi mau melakukannya karena tidak  setuju keperawanan dijadikan acuan kesucian perempuan,&amp;rdquo; ujarnya.
Dia menimpali, &amp;ldquo;Itu sangat mengganggu saya. Ini adalah manifestasi  dari komunitas masyarakat yang didominasi pria dan dibalut dengan  prinsip keagamaan. Saya sangat menentang itu.&amp;rdquo;
Para perempuan Tunisia mendapat pengakuan internasional karena  memelopori hak asasi perempuan di Afrika Utara. Akan tetapi, agama dan  tradisi di sini masih mendikte para perempuan muda soal keperawanan.  Bahkan memang ada hukum yang membenarkan perceraian semata karena alasan  istri tidak perawan saat malam pertama.
&amp;ldquo;Di tengah masyarakat yang sudah terbuka seperti ini, tradisi itu  membuat kami menjadi hipokrit (orang munafik),&amp;rdquo; kata pakar sosiologi,  Samia Elloumi.</content:encoded></item></channel></rss>
