<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Toleransi di Prancis Tinggi Terhadap Muslim yang Sedang Puasa</title><description>Berbeda dengan pemberitaan di media barat, sulung dari tiga bersaudara  itu mengatakan, Prancis justru punya toleransi beragama yang tinggi.</description><link>https://news.okezone.com/read/2017/06/22/18/1721880/toleransi-di-prancis-tinggi-terhadap-muslim-yang-sedang-puasa</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2017/06/22/18/1721880/toleransi-di-prancis-tinggi-terhadap-muslim-yang-sedang-puasa"/><item><title>Toleransi di Prancis Tinggi Terhadap Muslim yang Sedang Puasa</title><link>https://news.okezone.com/read/2017/06/22/18/1721880/toleransi-di-prancis-tinggi-terhadap-muslim-yang-sedang-puasa</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2017/06/22/18/1721880/toleransi-di-prancis-tinggi-terhadap-muslim-yang-sedang-puasa</guid><pubDate>Kamis 22 Juni 2017 05:03 WIB</pubDate><dc:creator>Silviana Dharma</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2017/06/21/18/1721880/toleransi-di-prancis-tinggi-terhadap-muslim-yang-sedang-puasa-GAwHEfQKr6.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi. Pengungsi dari Suriah saat berbuka puasa di Prancis. (Foto: Zaman al Wasl)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2017/06/21/18/1721880/toleransi-di-prancis-tinggi-terhadap-muslim-yang-sedang-puasa-GAwHEfQKr6.jpg</image><title>Ilustrasi. Pengungsi dari Suriah saat berbuka puasa di Prancis. (Foto: Zaman al Wasl)</title></images><description>GRENOBLE &amp;ndash; Benua Eropa sedang bergejolak dari segi keamanan. Inggris belakangan menjadi sasaran serangan terorisme. Sedikitnya empat kali aksi pembunuhan brutal terjadi secara terpisah dalam waktu berdekatan di London. Terakhir, yakni insiden mobil van menabrak jamaah Muslim yang baru saja keluar salat tarawih dari Masjid Finsbury Park.
Ancaman yang sama intensnya juga melanda tetangga Inggris, yaitu Prancis. Tak dapat dipungkiri, sentimen islamophobia sempat merebak di penjuru Negeri Mode setelah tragedi serangan teroris pada 13 November 2015 di Paris.
Setelah serangan yang menewaskan 130 orang itu, sejumlah kota di Prancis masih saja terancam. Di Nice, seperti di London, pernah juga terjadi insiden mobil van menabrak pejalan kaki.
Situasi ini menimbulkan pertanyaan bagaimana orang Islam menjalankan kehidupannya di Prancis pascateror.
Adalah Saldhyna di Amora, WNI lulusan S2 Kimia di Universit&amp;eacute; Paris Sud, Paris, yang berbagi kisahnya kepada Okezone.
Berbeda dengan pemberitaan di media barat, sulung dari tiga bersaudara itu mengatakan, Prancis justru punya toleransi beragama yang tinggi. Ia mencontohkan selama menjalani ibadah puasa di negara empat musim ini, orang Prancis bisa menahan diri untuk tidak menawarkan makan pada jam makan siang.
&amp;ldquo;Saat saya masih menjalani studi master, teman-teman laboratorium saya mengadakan acara piknik makan siang di pinggir danau kampus. Meskipun saat itu Ramadan dan saya sedang berpuasa, saya tetap diajak ke acara tersebut,&amp;rdquo; tuturnya.Perempuan kelahiran Madiun yang akrab disapa Selly itu menjelaskan,  undangan tersebut merupakan bentuk penghormatan mereka. Teman-temannya  yang non-Muslim tahu kalau Selly sedang berpuasa, tetapi karena satu  kelompok, dia tetap diajak keluar makan.
&amp;ldquo;Mereka sangat menghormati kami yang berpuasa. Walaupun di sana, saya  tidak ditawari makan dan hanya mengobrol bersama mereka, saya sangat  menikmati momen tersebut,&amp;rdquo; akunya.
Budaya tinggi saling menghormati sesama umat beragama juga pernah ia  rasakan saat perayaan Natal. Teman-temannya di kampus tetap mengundang  dia yang beragama Islam untuk makan malam bersama.
&amp;ldquo;Bahkan mereka menyediakan menu halal untuk kami,&amp;rdquo; imbuhnya.
Di sisi lain, Selly membenarkan kalau maraknya kejadian teror di  Prancis dibuat seolah-olah menyudutkan umat Islam. Perubahan paling  signifikan berdampak pada penjagaan di masjid-masjid oleh polisi di  beberapa kota besar.
&amp;ldquo;Kehadiran polisi yang memeriksa identitas orang di tempat-tempat umum itu menimbulkan ketidaknyamanan,&amp;rdquo; terangnya.
Akan tetapi, dalam kehidupan sehari-hari, ibu satu putra itu melihat  orang Prancis sudah cerdas. Mereka bisa membedakan siapa teroris  sebenarnya dan bagaimana Muslim sesungguhnya. Kedewasaan itulah yang  membuat Selly tetap mendapatkan perlakuan baik sejauh ini.</description><content:encoded>GRENOBLE &amp;ndash; Benua Eropa sedang bergejolak dari segi keamanan. Inggris belakangan menjadi sasaran serangan terorisme. Sedikitnya empat kali aksi pembunuhan brutal terjadi secara terpisah dalam waktu berdekatan di London. Terakhir, yakni insiden mobil van menabrak jamaah Muslim yang baru saja keluar salat tarawih dari Masjid Finsbury Park.
Ancaman yang sama intensnya juga melanda tetangga Inggris, yaitu Prancis. Tak dapat dipungkiri, sentimen islamophobia sempat merebak di penjuru Negeri Mode setelah tragedi serangan teroris pada 13 November 2015 di Paris.
Setelah serangan yang menewaskan 130 orang itu, sejumlah kota di Prancis masih saja terancam. Di Nice, seperti di London, pernah juga terjadi insiden mobil van menabrak pejalan kaki.
Situasi ini menimbulkan pertanyaan bagaimana orang Islam menjalankan kehidupannya di Prancis pascateror.
Adalah Saldhyna di Amora, WNI lulusan S2 Kimia di Universit&amp;eacute; Paris Sud, Paris, yang berbagi kisahnya kepada Okezone.
Berbeda dengan pemberitaan di media barat, sulung dari tiga bersaudara itu mengatakan, Prancis justru punya toleransi beragama yang tinggi. Ia mencontohkan selama menjalani ibadah puasa di negara empat musim ini, orang Prancis bisa menahan diri untuk tidak menawarkan makan pada jam makan siang.
&amp;ldquo;Saat saya masih menjalani studi master, teman-teman laboratorium saya mengadakan acara piknik makan siang di pinggir danau kampus. Meskipun saat itu Ramadan dan saya sedang berpuasa, saya tetap diajak ke acara tersebut,&amp;rdquo; tuturnya.Perempuan kelahiran Madiun yang akrab disapa Selly itu menjelaskan,  undangan tersebut merupakan bentuk penghormatan mereka. Teman-temannya  yang non-Muslim tahu kalau Selly sedang berpuasa, tetapi karena satu  kelompok, dia tetap diajak keluar makan.
&amp;ldquo;Mereka sangat menghormati kami yang berpuasa. Walaupun di sana, saya  tidak ditawari makan dan hanya mengobrol bersama mereka, saya sangat  menikmati momen tersebut,&amp;rdquo; akunya.
Budaya tinggi saling menghormati sesama umat beragama juga pernah ia  rasakan saat perayaan Natal. Teman-temannya di kampus tetap mengundang  dia yang beragama Islam untuk makan malam bersama.
&amp;ldquo;Bahkan mereka menyediakan menu halal untuk kami,&amp;rdquo; imbuhnya.
Di sisi lain, Selly membenarkan kalau maraknya kejadian teror di  Prancis dibuat seolah-olah menyudutkan umat Islam. Perubahan paling  signifikan berdampak pada penjagaan di masjid-masjid oleh polisi di  beberapa kota besar.
&amp;ldquo;Kehadiran polisi yang memeriksa identitas orang di tempat-tempat umum itu menimbulkan ketidaknyamanan,&amp;rdquo; terangnya.
Akan tetapi, dalam kehidupan sehari-hari, ibu satu putra itu melihat  orang Prancis sudah cerdas. Mereka bisa membedakan siapa teroris  sebenarnya dan bagaimana Muslim sesungguhnya. Kedewasaan itulah yang  membuat Selly tetap mendapatkan perlakuan baik sejauh ini.</content:encoded></item></channel></rss>
