<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Serba Salah Puasa di Negeri Mayoritas Non-Muslim</title><description>Pemandangan orang berpuasa di Indonesia sih lumrah. Akan tetapi, di  China, sedikit sekali orang yang benar-benar menjalankan ajaran itu.</description><link>https://news.okezone.com/read/2017/06/23/18/1717947/serba-salah-puasa-di-negeri-mayoritas-non-muslim</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2017/06/23/18/1717947/serba-salah-puasa-di-negeri-mayoritas-non-muslim"/><item><title>Serba Salah Puasa di Negeri Mayoritas Non-Muslim</title><link>https://news.okezone.com/read/2017/06/23/18/1717947/serba-salah-puasa-di-negeri-mayoritas-non-muslim</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2017/06/23/18/1717947/serba-salah-puasa-di-negeri-mayoritas-non-muslim</guid><pubDate>Jum'at 23 Juni 2017 17:02 WIB</pubDate><dc:creator>Silviana Dharma</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2017/06/16/18/1717947/serba-salah-puasa-di-negeri-mayoritas-non-muslim-LSRomuJzjg.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi. Iftar di China. (Foto: Al Jazeera)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2017/06/16/18/1717947/serba-salah-puasa-di-negeri-mayoritas-non-muslim-LSRomuJzjg.jpg</image><title>Ilustrasi. Iftar di China. (Foto: Al Jazeera)</title></images><description>BEIJING &amp;ndash; Apa sih puasa itu? Puasa secara praktisnya adalah berhenti makan dan minum. Dalam ajaran Islam, ada kewajiban untuk menahan lapar dan haus dari sejak fajar hingga matahari terbenam di barat selama Ramadan.
Pemandangan orang berpuasa di Indonesia sih lumrah. Akan tetapi, di China, sedikit sekali orang yang benar-benar menjalankan ajaran tersebut. Situasi inilah yang seringkali jadi tantangan terbesar bagi umat Islam yang menunaikan ibadah puasa di negara mayoritas non-Muslim.
Seorang WNI yang berkuliah di China, Mentari Puspa Ferisa menggambarkan perasaan yang berkecamuk ialah ribet campur sedih. Tatkala dia harus menolak ajakan makan dari teman-temannya.
Pernah dia ditawari makan siang, tetapi karena sedang puasa, Mentari harus menolak. Teman-temannya yang non-Islam bertanya mengapa dia tak ikut makan. Kalau mengerti soal puasa, tinggal jawab begitu, selesai. Tapi jika yang bertanya sama sekali asing dengan istilah itu, pasti minta dijelasin.
&quot;Terakhir, saya mengikuti acara makan malam bareng teman-teman sefakultas. Acara mulai pukul 18.00. Jam segitu di China belum waktunya buka puasa,&quot; tutur Mentari kepada Okezone.
Ketika orang-orang sudah mulai makan, Mentari merasa canggung sendiri. Dengan perut keroncongan dan hawa lapar itu mengelilingi dirinya, perempuan yang hobi menggambar itu masih harus menunggu dua jam untuk bisa menikmati hidangan yang disajikan.
Akan tetapi, logikanya saja, apakah makanan itu bisa menunggu? Kalau pun makanan yang tersisa masih banyak, apakah acaranya akan selama itu?
&quot;Di situ perasaan saya mulai tidak enak. Wah, enggak bener nih. Orang-orang sudah mulai makan, saya cuma bisa ngeliatin,&quot; ujarnya.Untung baginya, banyak teman yang sudah paham alasan Mentari hanya  berdiri sambil senyam-senyum pada jam makan tersebut. Ia ingat di kantin  kampusnya, banyak juga yang sering menatap dia heran kalau menolak  makan siang selama Ramadan.
Meskipun sudah terbiasa, tetapi acara-acara semacam ini seringnya  membuat anak kedua dari empat bersaudara itu gelisah. Sebab, makanan  pembuka pasti ludes begitu datang. Lalu hidangan utama yang pasti juga  enggak bakal bertahan lama di hadapan perut-perut kosong di sana.
Sementara Mentari hanya bisa menatap, teman-temannya asik bersantap.  Tak ada yang tergerak untuk menyisakan barang sepiring makanan buat  dirinya.
Kalau sudah begitu, mahasiswi magang tersebut mau tak mau harus  menyediakan sendiri makanan buat dia nanti buka puasa. Setiap menu yang  disukai, dicomotnya dan dikumpulkan dalam satu piring.
&quot;Tapi ketika makanan lain datang dan piring saya penuh, wah, saya  panik lagi. Situasinya lumayan awkward. Akhirnya, saya majukan jam buka  puasa 10 menit,&quot; terangnya.
Dia mengaku, momen sekali itu membuat dia harus batal. &quot;Saya makan  sambil minta maaf, 'Ya Allah maaf saya buka puasa duluan',&quot; akunya.
Sementara orang-orang sudah nyaris kekenyangan, Mentari baru mulai  mengasup gizi ke tubuhnya. Sedihnya lagi, makanan yang sudah dia  kumpulkan tadi, terlanjur dingin. Rasanya tak lagi enak.
&quot;Teman-teman juga sudah selesai makan semua. Di situ, saya baru  menyesal. Mengapa saya harus bela-belain batal? Tadi mah tidak perlu  ikut makan saja sekalian,&quot; sesalnya.</description><content:encoded>BEIJING &amp;ndash; Apa sih puasa itu? Puasa secara praktisnya adalah berhenti makan dan minum. Dalam ajaran Islam, ada kewajiban untuk menahan lapar dan haus dari sejak fajar hingga matahari terbenam di barat selama Ramadan.
Pemandangan orang berpuasa di Indonesia sih lumrah. Akan tetapi, di China, sedikit sekali orang yang benar-benar menjalankan ajaran tersebut. Situasi inilah yang seringkali jadi tantangan terbesar bagi umat Islam yang menunaikan ibadah puasa di negara mayoritas non-Muslim.
Seorang WNI yang berkuliah di China, Mentari Puspa Ferisa menggambarkan perasaan yang berkecamuk ialah ribet campur sedih. Tatkala dia harus menolak ajakan makan dari teman-temannya.
Pernah dia ditawari makan siang, tetapi karena sedang puasa, Mentari harus menolak. Teman-temannya yang non-Islam bertanya mengapa dia tak ikut makan. Kalau mengerti soal puasa, tinggal jawab begitu, selesai. Tapi jika yang bertanya sama sekali asing dengan istilah itu, pasti minta dijelasin.
&quot;Terakhir, saya mengikuti acara makan malam bareng teman-teman sefakultas. Acara mulai pukul 18.00. Jam segitu di China belum waktunya buka puasa,&quot; tutur Mentari kepada Okezone.
Ketika orang-orang sudah mulai makan, Mentari merasa canggung sendiri. Dengan perut keroncongan dan hawa lapar itu mengelilingi dirinya, perempuan yang hobi menggambar itu masih harus menunggu dua jam untuk bisa menikmati hidangan yang disajikan.
Akan tetapi, logikanya saja, apakah makanan itu bisa menunggu? Kalau pun makanan yang tersisa masih banyak, apakah acaranya akan selama itu?
&quot;Di situ perasaan saya mulai tidak enak. Wah, enggak bener nih. Orang-orang sudah mulai makan, saya cuma bisa ngeliatin,&quot; ujarnya.Untung baginya, banyak teman yang sudah paham alasan Mentari hanya  berdiri sambil senyam-senyum pada jam makan tersebut. Ia ingat di kantin  kampusnya, banyak juga yang sering menatap dia heran kalau menolak  makan siang selama Ramadan.
Meskipun sudah terbiasa, tetapi acara-acara semacam ini seringnya  membuat anak kedua dari empat bersaudara itu gelisah. Sebab, makanan  pembuka pasti ludes begitu datang. Lalu hidangan utama yang pasti juga  enggak bakal bertahan lama di hadapan perut-perut kosong di sana.
Sementara Mentari hanya bisa menatap, teman-temannya asik bersantap.  Tak ada yang tergerak untuk menyisakan barang sepiring makanan buat  dirinya.
Kalau sudah begitu, mahasiswi magang tersebut mau tak mau harus  menyediakan sendiri makanan buat dia nanti buka puasa. Setiap menu yang  disukai, dicomotnya dan dikumpulkan dalam satu piring.
&quot;Tapi ketika makanan lain datang dan piring saya penuh, wah, saya  panik lagi. Situasinya lumayan awkward. Akhirnya, saya majukan jam buka  puasa 10 menit,&quot; terangnya.
Dia mengaku, momen sekali itu membuat dia harus batal. &quot;Saya makan  sambil minta maaf, 'Ya Allah maaf saya buka puasa duluan',&quot; akunya.
Sementara orang-orang sudah nyaris kekenyangan, Mentari baru mulai  mengasup gizi ke tubuhnya. Sedihnya lagi, makanan yang sudah dia  kumpulkan tadi, terlanjur dingin. Rasanya tak lagi enak.
&quot;Teman-teman juga sudah selesai makan semua. Di situ, saya baru  menyesal. Mengapa saya harus bela-belain batal? Tadi mah tidak perlu  ikut makan saja sekalian,&quot; sesalnya.</content:encoded></item></channel></rss>
