<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Ini Cara WNI di China Obati Kerinduan Merayakan Ramadan di Tanah Air</title><description>Rata-rata orang Indonesia di Luar Negeri kangen sama takjil selama Ramadan. Benar enggak?</description><link>https://news.okezone.com/read/2017/06/24/18/1718063/ini-cara-wni-di-china-obati-kerinduan-merayakan-ramadan-di-tanah-air</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2017/06/24/18/1718063/ini-cara-wni-di-china-obati-kerinduan-merayakan-ramadan-di-tanah-air"/><item><title>Ini Cara WNI di China Obati Kerinduan Merayakan Ramadan di Tanah Air</title><link>https://news.okezone.com/read/2017/06/24/18/1718063/ini-cara-wni-di-china-obati-kerinduan-merayakan-ramadan-di-tanah-air</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2017/06/24/18/1718063/ini-cara-wni-di-china-obati-kerinduan-merayakan-ramadan-di-tanah-air</guid><pubDate>Sabtu 24 Juni 2017 09:02 WIB</pubDate><dc:creator>Silviana Dharma</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2017/06/16/18/1718063/ini-cara-wni-di-china-obati-kerinduan-merayakan-ramadan-di-tanah-air-xIicljCzck.jpeg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi. Aneka jajanan buka puasa di Prancis. (Foto: Istimewa/Saldhyna Di Amora)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2017/06/16/18/1718063/ini-cara-wni-di-china-obati-kerinduan-merayakan-ramadan-di-tanah-air-xIicljCzck.jpeg</image><title>Ilustrasi. Aneka jajanan buka puasa di Prancis. (Foto: Istimewa/Saldhyna Di Amora)</title></images><description>BEIJING &amp;ndash; Rata-rata orang Indonesia di Luar Negeri kangen sama takjil selama Ramadan. Benar enggak?
Setidaknya begitulah yang dirasakan ketiga diaspora Indonesia di luar negeri ini. Seorang ibu rumah tangga di Prancis, Saldhyna Di Amora (26) mengaku paling rindu sama tradisi ngabuburit mencari takjil di pinggir jalan.
&quot;Suasana Ramadan di sini sangat sepi. Tidak ada orang ngabuburit. Sedih juga karena saya tidak bisa jajan aneka takjil Indonesia, seperti gorengan, siomay, batagor dan lain-lain,&quot; terang perempuan yang akrab disapa Selly tersebut kepada Okezone.

Aneka takjil di Prancis. (Foto: Istimewa/Saldhyna Di Amora)
Di sisi lain, ibu satu putra yang tinggal di Grenoble tersebut menyayangkan tak adanya seruan adzan berkumandang, juga pengeras suara masjid yang ramai dengan orang bertadarus Alquran setiap malamnya.
Meski begitu, untuk masalah takjil, lulusan S-2 Kimia di Universit&amp;eacute; Paris Sud, Paris, tersebut sesekali bisa mengobati kerinduannya dengan mengadakan buka puasa bersama teman-teman Perhimpunan Pelajar Indonesia di kotanya. Pada saat berkumpul itulah, masing-masing biasa membawa takjil khas Tanah Air, seperti kue klepon dan onde-onde.
&quot;Kami memberikan takjil khas Indonesia itu kepada teman-teman Muslim dari Tunisia, Aljazair dan Maroko. Saat lebaran tiba pun kami berkumpul dan melakukan hal yang kurang lebih sama, menyantap sajian khas Idul Fitri di Indonesia,&quot; ucapnya.Pengalaman serupa juga diceritakan seorang mahasiswi kelahiran  Jakarta yang sekarang sedang menjalani praktik magang di Beijing, China.  Mentari Puspa Ferisa (22) menyebut manisan takjil di Indonesia hanyalah  bayangan.
&quot;Kalau lagi bulan puasa begini yang bikin kangen tuh jajanan  takjilnya. Kolak pisang, bubur sumsum, kolang-kaling. Sayang di sini  tidak ada, jadi rasanya manisan takjil di Indonesia hanyalah impian,&quot;  cetusnya.

Aneka takjil di Prancis. (Foto: Istimewa/Saldhyna Di Amora)
Seorang lagi diaspora Indonesia di Negeri Tirai Bambu ialah Wino  Yourman Eusy (23). Mahasiswa pascasarjana Renmin University tersebut  juga mengaku kangen sama kegiatan ngabuburit di tanah kelahirannya.
&quot;Saya kangen keluar membeli makanan untuk berbuka. Tapi sekarang saya  dan teman-teman bisa menyiasatinya dengan berkumpul di satu rumah lalu  masak masakan Indonesia sendiri,&quot; tuturnya.

Menu bukber Wino di China. (Foto: Istimewa/Wino Yourman Eusy)
Bagi Wino, selain melulu soal makanan, hal yang paling dirindukan  dari menjalankan Ramadan di Indonesia ialah momen berkumpul dengan  keluarga. Tak heran, pemuda kelahiran Batam 1 Mei 1994 tersebut tinggal  sendirian di Beijing. Untungnya, zaman sudah maju dan dia bisa  memanfaatkan perkembangan teknologi itu untuk berkabar.
&quot;Yang paling dikangenin tuh kumpul sama keluarga. Cara saya mengobati  rasa kangen, ya, biasanya lewat video call. Di situ bisa menatap dan  berbincang sama adik-adik dan mama. Kalau sama papa, bisa chatting via  whatsapp saja,&quot; kata sulung dari empat bersaudara tersebut.</description><content:encoded>BEIJING &amp;ndash; Rata-rata orang Indonesia di Luar Negeri kangen sama takjil selama Ramadan. Benar enggak?
Setidaknya begitulah yang dirasakan ketiga diaspora Indonesia di luar negeri ini. Seorang ibu rumah tangga di Prancis, Saldhyna Di Amora (26) mengaku paling rindu sama tradisi ngabuburit mencari takjil di pinggir jalan.
&quot;Suasana Ramadan di sini sangat sepi. Tidak ada orang ngabuburit. Sedih juga karena saya tidak bisa jajan aneka takjil Indonesia, seperti gorengan, siomay, batagor dan lain-lain,&quot; terang perempuan yang akrab disapa Selly tersebut kepada Okezone.

Aneka takjil di Prancis. (Foto: Istimewa/Saldhyna Di Amora)
Di sisi lain, ibu satu putra yang tinggal di Grenoble tersebut menyayangkan tak adanya seruan adzan berkumandang, juga pengeras suara masjid yang ramai dengan orang bertadarus Alquran setiap malamnya.
Meski begitu, untuk masalah takjil, lulusan S-2 Kimia di Universit&amp;eacute; Paris Sud, Paris, tersebut sesekali bisa mengobati kerinduannya dengan mengadakan buka puasa bersama teman-teman Perhimpunan Pelajar Indonesia di kotanya. Pada saat berkumpul itulah, masing-masing biasa membawa takjil khas Tanah Air, seperti kue klepon dan onde-onde.
&quot;Kami memberikan takjil khas Indonesia itu kepada teman-teman Muslim dari Tunisia, Aljazair dan Maroko. Saat lebaran tiba pun kami berkumpul dan melakukan hal yang kurang lebih sama, menyantap sajian khas Idul Fitri di Indonesia,&quot; ucapnya.Pengalaman serupa juga diceritakan seorang mahasiswi kelahiran  Jakarta yang sekarang sedang menjalani praktik magang di Beijing, China.  Mentari Puspa Ferisa (22) menyebut manisan takjil di Indonesia hanyalah  bayangan.
&quot;Kalau lagi bulan puasa begini yang bikin kangen tuh jajanan  takjilnya. Kolak pisang, bubur sumsum, kolang-kaling. Sayang di sini  tidak ada, jadi rasanya manisan takjil di Indonesia hanyalah impian,&quot;  cetusnya.

Aneka takjil di Prancis. (Foto: Istimewa/Saldhyna Di Amora)
Seorang lagi diaspora Indonesia di Negeri Tirai Bambu ialah Wino  Yourman Eusy (23). Mahasiswa pascasarjana Renmin University tersebut  juga mengaku kangen sama kegiatan ngabuburit di tanah kelahirannya.
&quot;Saya kangen keluar membeli makanan untuk berbuka. Tapi sekarang saya  dan teman-teman bisa menyiasatinya dengan berkumpul di satu rumah lalu  masak masakan Indonesia sendiri,&quot; tuturnya.

Menu bukber Wino di China. (Foto: Istimewa/Wino Yourman Eusy)
Bagi Wino, selain melulu soal makanan, hal yang paling dirindukan  dari menjalankan Ramadan di Indonesia ialah momen berkumpul dengan  keluarga. Tak heran, pemuda kelahiran Batam 1 Mei 1994 tersebut tinggal  sendirian di Beijing. Untungnya, zaman sudah maju dan dia bisa  memanfaatkan perkembangan teknologi itu untuk berkabar.
&quot;Yang paling dikangenin tuh kumpul sama keluarga. Cara saya mengobati  rasa kangen, ya, biasanya lewat video call. Di situ bisa menatap dan  berbincang sama adik-adik dan mama. Kalau sama papa, bisa chatting via  whatsapp saja,&quot; kata sulung dari empat bersaudara tersebut.</content:encoded></item></channel></rss>
