<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>HISTORIPEDIA: Perang Korea Pecah</title><description>Salah satu konflik paling berdarah di era Perang Dingin pecah pada 25 Juni 1950.</description><link>https://news.okezone.com/read/2017/06/25/18/1722689/historipedia-perang-korea-pecah</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2017/06/25/18/1722689/historipedia-perang-korea-pecah"/><item><title>HISTORIPEDIA: Perang Korea Pecah</title><link>https://news.okezone.com/read/2017/06/25/18/1722689/historipedia-perang-korea-pecah</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2017/06/25/18/1722689/historipedia-perang-korea-pecah</guid><pubDate>Minggu 25 Juni 2017 06:01 WIB</pubDate><dc:creator>Rahman Asmardika</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2017/06/22/18/1722689/historipedia-perang-korea-pecah-taLDgG6S9c.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Tentara Korea Selatan bergerak di sebelah timur Sungai Pukhan, 1953. (Foto: AP)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2017/06/22/18/1722689/historipedia-perang-korea-pecah-taLDgG6S9c.jpg</image><title>Tentara Korea Selatan bergerak di sebelah timur Sungai Pukhan, 1953. (Foto: AP)</title></images><description>SALAH&amp;nbsp;satu konflik paling berdarah di era Perang Dingin pecah saat angkatan bersenjata Korea Utara (Korut) menyerbu tetangganya, Korea Selatan (Korsel) pada 25 Juni 1950. Tindakan Korut tersebut memicu reaksi dari Amerika Serikat (AS) yang segera membantu Korsel mempertahankan wilayahnya, dan memulai perang besar yang akan berlangsung untuk tiga tahun ke depan.
Setelah Perang Dunia II Korea yang sempat diduduki Jepang terbagi menjadi dua wilayah. AS menerima penyerahan Jepang di bagian selatan sementara Uni Soviet melakukan hal serupa di bagian utara.
Situasi tersebut mirip dengan yang terjadi di Jerman, hanya saja pembagian sementara di Korea dengan segera menjadi permanen. Uni Soviet membantu terbentuknya rezim komunis di Korut sedangkan di sisi lain, AS menjadi sumber dukungan finansial dan militer bagi Korsel.
Pada 25 Juni 1950, pasukan Korut mengejutkan tentara Korsel dan pasukan kecil AS yang ditempatkan di sana dengan serangan mendadak dan dengan cepat merangsek maju ke Ibu Kota Seoul. AS merespons invasi tersebut dengan mendorong sebuah resolusi melalui Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan meminta bantuan militer ke Korsel.
Dengan resolusi yang diputuskan tanpa kehadiran Rusia itu, Presiden AS, Harry S. Truman dengan cepat mengirim pasukan darat, udara, dan laut AS ke Korea untuk melakukan sebuah &quot;tindakan polisi&quot;.
Intervensi Amerika pun mengubah arus perang. Pasukan AS dan Korsel   berbalik mendesak ke wilayah Korut. Namun, tindakan AS itu memicu   reaksi dari China yang ikut terjun ke dalam perang untuk membantu   pasukan Korut.
Dengan campur tangan China, perang di Korea akhirnya mengalami kebuntuan atau&amp;nbsp;stalemate.&amp;nbsp;Pada  1953, AS dan Korut menandatangani sebuah perjanjian gencatan senjata  yang mengakhiri konflik tersebut. Persetujuan gencatan senjata itu juga  membuat wilayah Korea tetap terbagi dua, Korut dan Korsel di titik  geografis yang hampir sama seperti sebelum konflik pecah.
Perang Korea berakhir pada 27 Juli 1953 setelah berlangsung selama 3  tahun 1 bulan dan 2 hari. Dalam jangka waktu tersebut lebih dari 3 juta  nyawa manusia hilang, dari pihak sipil maupun militer. Secara teknis,  saat ini kedua Korea masih berada dalam keadaan perang karena tidak  pernah ada perjanjian perdamaian yang disepakati sejak perang konflik  berakhir. Dengan meningkatnya ketegangan di kawasan Semenanjung Korea  beberapa waktu terakhir, banyak yang mengkhawatirkan Perang Korea akan  kembali pecah.</description><content:encoded>SALAH&amp;nbsp;satu konflik paling berdarah di era Perang Dingin pecah saat angkatan bersenjata Korea Utara (Korut) menyerbu tetangganya, Korea Selatan (Korsel) pada 25 Juni 1950. Tindakan Korut tersebut memicu reaksi dari Amerika Serikat (AS) yang segera membantu Korsel mempertahankan wilayahnya, dan memulai perang besar yang akan berlangsung untuk tiga tahun ke depan.
Setelah Perang Dunia II Korea yang sempat diduduki Jepang terbagi menjadi dua wilayah. AS menerima penyerahan Jepang di bagian selatan sementara Uni Soviet melakukan hal serupa di bagian utara.
Situasi tersebut mirip dengan yang terjadi di Jerman, hanya saja pembagian sementara di Korea dengan segera menjadi permanen. Uni Soviet membantu terbentuknya rezim komunis di Korut sedangkan di sisi lain, AS menjadi sumber dukungan finansial dan militer bagi Korsel.
Pada 25 Juni 1950, pasukan Korut mengejutkan tentara Korsel dan pasukan kecil AS yang ditempatkan di sana dengan serangan mendadak dan dengan cepat merangsek maju ke Ibu Kota Seoul. AS merespons invasi tersebut dengan mendorong sebuah resolusi melalui Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan meminta bantuan militer ke Korsel.
Dengan resolusi yang diputuskan tanpa kehadiran Rusia itu, Presiden AS, Harry S. Truman dengan cepat mengirim pasukan darat, udara, dan laut AS ke Korea untuk melakukan sebuah &quot;tindakan polisi&quot;.
Intervensi Amerika pun mengubah arus perang. Pasukan AS dan Korsel   berbalik mendesak ke wilayah Korut. Namun, tindakan AS itu memicu   reaksi dari China yang ikut terjun ke dalam perang untuk membantu   pasukan Korut.
Dengan campur tangan China, perang di Korea akhirnya mengalami kebuntuan atau&amp;nbsp;stalemate.&amp;nbsp;Pada  1953, AS dan Korut menandatangani sebuah perjanjian gencatan senjata  yang mengakhiri konflik tersebut. Persetujuan gencatan senjata itu juga  membuat wilayah Korea tetap terbagi dua, Korut dan Korsel di titik  geografis yang hampir sama seperti sebelum konflik pecah.
Perang Korea berakhir pada 27 Juli 1953 setelah berlangsung selama 3  tahun 1 bulan dan 2 hari. Dalam jangka waktu tersebut lebih dari 3 juta  nyawa manusia hilang, dari pihak sipil maupun militer. Secara teknis,  saat ini kedua Korea masih berada dalam keadaan perang karena tidak  pernah ada perjanjian perdamaian yang disepakati sejak perang konflik  berakhir. Dengan meningkatnya ketegangan di kawasan Semenanjung Korea  beberapa waktu terakhir, banyak yang mengkhawatirkan Perang Korea akan  kembali pecah.</content:encoded></item></channel></rss>
