<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>OKEZONE STORY: Asal Usul Tiga Kera Bijak, Mizaru, Kikazaru dan Iwazaru</title><description>Ukiran terkenal yang menampilkan ketiga kera itu terpajang di sebuah kuil di Nikko, Jepang sejak abad ke-17.</description><link>https://news.okezone.com/read/2017/07/12/18/1734112/okezone-story-asal-usul-tiga-kera-bijak-mizaru-kikazaru-dan-iwazaru</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2017/07/12/18/1734112/okezone-story-asal-usul-tiga-kera-bijak-mizaru-kikazaru-dan-iwazaru"/><item><title>OKEZONE STORY: Asal Usul Tiga Kera Bijak, Mizaru, Kikazaru dan Iwazaru</title><link>https://news.okezone.com/read/2017/07/12/18/1734112/okezone-story-asal-usul-tiga-kera-bijak-mizaru-kikazaru-dan-iwazaru</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2017/07/12/18/1734112/okezone-story-asal-usul-tiga-kera-bijak-mizaru-kikazaru-dan-iwazaru</guid><pubDate>Rabu 12 Juli 2017 08:01 WIB</pubDate><dc:creator>Rahman Asmardika</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2017/07/11/18/1734112/okezone-story-asal-usul-tiga-kera-bijak-mizaru-kikazaru-dan-iwazaru-m5i7i7WIUG.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Pahatan tiga kera bijak di Kuil Tosho-gu, Nikko, Jepang. (Foto: Wikipedia)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2017/07/11/18/1734112/okezone-story-asal-usul-tiga-kera-bijak-mizaru-kikazaru-dan-iwazaru-m5i7i7WIUG.jpg</image><title>Pahatan tiga kera bijak di Kuil Tosho-gu, Nikko, Jepang. (Foto: Wikipedia)</title></images><description>&amp;ldquo;JANGAN melihat kejahatan, jangan dengar hal yang jahat, jangan berbicara jahat&amp;rdquo; (See no evil, hear no evil, speak no evil) adalah sebuah pepatah yang telah dikenal oleh dunia. Kata-kata itu biasanya muncul bersama gambar tiga ekor kera yang duduk dalam satu baris, masing-masing menutup mata, telinga, dan mulut mereka. &amp;nbsp;
Mungkin tidak banyak yang tahu bahwa pepatah dan ketiga kera tersebut berasal dari sebuah karya pahatan yang terdapat di Kuil T&amp;#333;sh&amp;#333;-g&amp;#363; di Nikko, Jepang. Karya yang dibuat oleh pemahat Hidari Jingoro itu terpampang di atas pintu kuil sejak Abad ke-17.
Diyakini bahwa pepatah tersebut datang ke Jepang dari China pada abad ke-8, sebagai bagian dari filosofi Budha-Tendai. Mereka mewakili tiga dogma yang melambangkan kehidupan seseorang. Panel dengan tiga kera tersebut hanya satu bagian kecil dari rangkaian panel yang lebih besar yang dibuat di kuil tersebut.
Dilansir Vintage News, Rabu (12/7/2017), total delapan panel mewakili 'Kode Perilaku' yang dikembangkan oleh filsuf China terkenal, Konfusius. Dalam Analects of Confucius, kumpulan karya dan ucapan sang filsuf, terdapat sebuah frase serupa.
Antara abad ke-2 dan ke-4 sebelum masehi (SM), kata-kata yang berbunyi, &quot;Jangan melihat apa yang bertentangan dengan kepatutan, jangan dengarkan apa yang bertentangan dengan kepatutan, jangan berbicara apa yang bertentangan dengan kepatutan, jangan bertindak yang bertentangan dengan kepatutan,&quot; ditambahkan ke kumpulan ucapan tersebut. Kemungkinan besar, frase asli inilah yang kemudian dipersingkat ketika dibawa ke Jepang.
Ketiga kera yang muncul bersama frase itu yang seringkali disebut dengan tindakan yang mereka wakili, see no evil, hear no evil, speak no evil; ternyata  memiliki nama sendiri. Kera yang menutup telinganya bernama Kikazaru,  yang menutup mulutnya bernama Iwazaru sedangkan yang menutup matanya  adalah Mizaru.
Di Jepang ketiganya dikenal sebagai Sanbiki-Saru yang berarti &amp;ldquo;Tiga Kera Mistis&amp;rdquo;. Terkadang bersama mereka ditambahkan kera keempat, Shizaru yang mewakili prinsip &amp;ldquo;do no evil; jangan berbuat kejahatan&amp;rdquo;.

Patung pasir tiga kera bijak di Barcelona. (Foto: Simon James/Wikipedia)
Kera-kera ini mewakili pendekatan dalam hidup seperti yang diajarkan  agama Shinto dan Koshin. Para ahli sejarah meyakini simbol tiga kera itu  telah berumur sekira 500 tahun.
Bertentangan dengan keyakinan yang dikenal luas bahwa ketiga kera  tersebut berasal dari China. Sangat jarang ada patung dan lukisan  Sanbiki-Saru yang ditemukan di negara lain selain Jepang.
Gambar yang paling terkenal dari ketiga kera itu tentu saja pahatan  yang dipajang di kuil di Nikko. Saat ini, kuil dan pahatan tersebut  dilindungi oleh badan budaya PBB, UNESCO sebagai salah satu situs  warisan dunia.</description><content:encoded>&amp;ldquo;JANGAN melihat kejahatan, jangan dengar hal yang jahat, jangan berbicara jahat&amp;rdquo; (See no evil, hear no evil, speak no evil) adalah sebuah pepatah yang telah dikenal oleh dunia. Kata-kata itu biasanya muncul bersama gambar tiga ekor kera yang duduk dalam satu baris, masing-masing menutup mata, telinga, dan mulut mereka. &amp;nbsp;
Mungkin tidak banyak yang tahu bahwa pepatah dan ketiga kera tersebut berasal dari sebuah karya pahatan yang terdapat di Kuil T&amp;#333;sh&amp;#333;-g&amp;#363; di Nikko, Jepang. Karya yang dibuat oleh pemahat Hidari Jingoro itu terpampang di atas pintu kuil sejak Abad ke-17.
Diyakini bahwa pepatah tersebut datang ke Jepang dari China pada abad ke-8, sebagai bagian dari filosofi Budha-Tendai. Mereka mewakili tiga dogma yang melambangkan kehidupan seseorang. Panel dengan tiga kera tersebut hanya satu bagian kecil dari rangkaian panel yang lebih besar yang dibuat di kuil tersebut.
Dilansir Vintage News, Rabu (12/7/2017), total delapan panel mewakili 'Kode Perilaku' yang dikembangkan oleh filsuf China terkenal, Konfusius. Dalam Analects of Confucius, kumpulan karya dan ucapan sang filsuf, terdapat sebuah frase serupa.
Antara abad ke-2 dan ke-4 sebelum masehi (SM), kata-kata yang berbunyi, &quot;Jangan melihat apa yang bertentangan dengan kepatutan, jangan dengarkan apa yang bertentangan dengan kepatutan, jangan berbicara apa yang bertentangan dengan kepatutan, jangan bertindak yang bertentangan dengan kepatutan,&quot; ditambahkan ke kumpulan ucapan tersebut. Kemungkinan besar, frase asli inilah yang kemudian dipersingkat ketika dibawa ke Jepang.
Ketiga kera yang muncul bersama frase itu yang seringkali disebut dengan tindakan yang mereka wakili, see no evil, hear no evil, speak no evil; ternyata  memiliki nama sendiri. Kera yang menutup telinganya bernama Kikazaru,  yang menutup mulutnya bernama Iwazaru sedangkan yang menutup matanya  adalah Mizaru.
Di Jepang ketiganya dikenal sebagai Sanbiki-Saru yang berarti &amp;ldquo;Tiga Kera Mistis&amp;rdquo;. Terkadang bersama mereka ditambahkan kera keempat, Shizaru yang mewakili prinsip &amp;ldquo;do no evil; jangan berbuat kejahatan&amp;rdquo;.

Patung pasir tiga kera bijak di Barcelona. (Foto: Simon James/Wikipedia)
Kera-kera ini mewakili pendekatan dalam hidup seperti yang diajarkan  agama Shinto dan Koshin. Para ahli sejarah meyakini simbol tiga kera itu  telah berumur sekira 500 tahun.
Bertentangan dengan keyakinan yang dikenal luas bahwa ketiga kera  tersebut berasal dari China. Sangat jarang ada patung dan lukisan  Sanbiki-Saru yang ditemukan di negara lain selain Jepang.
Gambar yang paling terkenal dari ketiga kera itu tentu saja pahatan  yang dipajang di kuil di Nikko. Saat ini, kuil dan pahatan tersebut  dilindungi oleh badan budaya PBB, UNESCO sebagai salah satu situs  warisan dunia.</content:encoded></item></channel></rss>
