<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>OKEZONE STORY: Bayi Penderita Penyakit Langka di London yang Pengobatannya Hendak Dihentikan Rumah Sakit</title><description>Orangtua mana yang bersedia kesempatan hidup anaknya direnggut paksa?</description><link>https://news.okezone.com/read/2017/07/12/18/1734781/okezone-story-bayi-penderita-penyakit-langka-di-london-yang-pengobatannya-hendak-dihentikan-rumah-sakit</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2017/07/12/18/1734781/okezone-story-bayi-penderita-penyakit-langka-di-london-yang-pengobatannya-hendak-dihentikan-rumah-sakit"/><item><title>OKEZONE STORY: Bayi Penderita Penyakit Langka di London yang Pengobatannya Hendak Dihentikan Rumah Sakit</title><link>https://news.okezone.com/read/2017/07/12/18/1734781/okezone-story-bayi-penderita-penyakit-langka-di-london-yang-pengobatannya-hendak-dihentikan-rumah-sakit</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2017/07/12/18/1734781/okezone-story-bayi-penderita-penyakit-langka-di-london-yang-pengobatannya-hendak-dihentikan-rumah-sakit</guid><pubDate>Rabu 12 Juli 2017 20:01 WIB</pubDate><dc:creator>Silviana Dharma</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2017/07/12/18/1734781/pengadilan-dan-dokter-ingin-hentikan-pengobatan-orangtua-mohon-bayinya-diselamatkan-h77rBTAD2Y.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Chris dan Connie setia menemani buah hati mereka, Charlie Gard. (Foto: PA)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2017/07/12/18/1734781/pengadilan-dan-dokter-ingin-hentikan-pengobatan-orangtua-mohon-bayinya-diselamatkan-h77rBTAD2Y.jpg</image><title>Chris dan Connie setia menemani buah hati mereka, Charlie Gard. (Foto: PA)</title></images><description>LONDON &amp;ndash; Orangtua mana yang bersedia kesempatan hidup anaknya direnggut paksa? Tak ada yang tega, begitu juga sepasang suami-istri di Inggris ini, Connie dan Chris Gard.
Connie melahirkan seorang bayi laki-laki yang sayangnya menderita penyakit langka yaitu penipisan DNA mitokondria. Bayi yang diberi nama Charlie Gard tersebut merupakan satu dari 16 bayi di dunia yang terlahir dalam kondisi serupa.
Para dokter di Rumah Sakit (RS) Great Ormond Street menyatakan, bayi mungil itu sudah tidak memiliki harapan hidup. Serta layak dibiarkan meninggal dengan hormat. Sebab terus terang saja, hingga kini dunia kedokteran belum menemukan penanganan medis dan pengobatannya.

Sebagaimana diwartakan The Sun, Rabu (12/7/2017), pihak rumah sakit lantas meminta izin agar semua selang kehidupan Gard kecil boleh dilepas. Akan tetapi, Connie dan Chris menentang keras. Mereka masih ingin memperjuangkan hidup anaknya.
Perdebatan antara pihak RS dan orangtua Charlie Gard tidak kunjung mencapai mufakat. Pihak RS yang tak ingin memberikan harapan palsu lantas mengajukan kasus ini ke pengadilan. Hakim pengadilan tinggi di London hingga Mahkamah Agung terpaksa berkeras hati, mereka berpihak kepada dokter. Hakim menyarankan yang terbaik adalah merelakan bayi tersebut segera beristirahat dalam damai.Pengacara pasutri ini menggugat. Mereka berpikir bagaimana mungkin  hukum di Inggris bisa mengabaikan hak orangtua dalam mengambil keputusan  bagi anak yang belum genap 18 tahun. Connie dan Chris pun bersumpah,  mereka akan memperjuangkan kesembuhan putranya sampai titik darah  penghabisan.
Setelah gagal di tingkat pengadilan nasional, mereka membawa kasus  ini hingga ke pengadilan HAM di Eropa. Namun sekali lagi, perjuangan itu  menemui jalan buntu. Pada 27 Juni, pengadilan HAM di Eropa menyatakan  tidak bisa ikut campur dalam masalah tersebut. Itu berarti, keputusan  pengadilan tinggi dan Mahkamah Agung di London lah yang berlaku.

Seluruh peralatan medis yang memperpanjang hidup Charlie Gard lantas  harus diputus total pada Jumat 30 Juni. Pada titik itu, Connie dan Chris  memohon kepada majelis hakim untuk memberi mereka lebih banyak waktu.
&amp;ldquo;Kami tak mau melihatnya terkubur di bawah tanah, kami ingin dia duduk di atas sepeda,&amp;rdquo; ucap kedua orangtua Charlie Gard.
Pengadilan kemudian mengabulkan permohonan pasangan ini guna memberi  mereka waktu untuk mengucapkan selamat tinggal kepada sang buah hati.  Terakhir kali kasus ini dipersidangkan pada Senin 10 Juli.
Charlie Gard di Mata Dunia
Kasus ini pada perkembangannya menjadi isu global setelah kisahnya  tersiar di media massa. Banyak warganet melakukan penggalangan dana bagi  Charlie Gard, hingga menembus sumbangan lebih dari 1,3 juta  poundsterling atau Rp22,3 miliar. Connie dan Chris berharap uang itu  akan cukup untuk membawa bayinya berobat ke Amerika Serikat.Dukungan juga datang dalam bentuk petisi. Sekira 350 ribu orang   membubuhkan tandatangannya di Citizen Go, mendesak RS Great Ormond   Street membuat surat rujukan agar Charlie Gard bisa dirawat di luar   negeri.
Lebih dari itu, kasus ini menarik perhatian sejumlah pemimpin dunia.   Presiden AS Donald Trump menyatakan, Negeri Paman Sam akan dengan  senang  hati membantu bayi malang itu memperjuangkan hidupnya. Bahkan,  dia  menawarkan perawatan gratis di rumah sakit AS dan mengirimkan obat   percobaan gratis ke Inggris demi menyelamatkannya.
Perhatian serupa ditunjukkan Paus Fransiskus I. Pemimpin Tertinggi   Umat Katolik itu menjanjikan paspor Vatikan untuk Charlie Gard supaya   dia bisa dipindahkan ke rumah sakit terbaik di Italia.

Dukungan bagi Charlie Gard mengalir dari penduduk London. (Foto: AFP)
Perdana Menteri Inggris Theresa May pun tak ketinggalan menyuarakan   dukungannya agar RS Great Ormond Street tidak membiarkan nyawa bayi Gard   melayang begitu saja. Di Prancis, warganet menyebut diri mereka   Charlie&amp;rsquo;s Army dan menyerukan #JeSuisCharlieGard hingga jadi trending   topic di Twitter.
&amp;ldquo;Dia adalah darah daging kami. Ini hak kami sebagai orangtuanya untuk   memutuskan memberi dia kesempatan hidup atau tidak. Selama dia masih   berjuang, kami akan ikut memperjuangkannya,&amp;rdquo; kata Connie dan Chris.
Setiap hari pasangan ini membisikkan ke telinga putranya, &amp;ldquo;Kami janji   akan membawamu pulang.&amp;rdquo; Jika pun putranya harus meninggal, Connie dan   Chris berharap Charlie akan menghembuskan nafas terakhirnya di rumah.</description><content:encoded>LONDON &amp;ndash; Orangtua mana yang bersedia kesempatan hidup anaknya direnggut paksa? Tak ada yang tega, begitu juga sepasang suami-istri di Inggris ini, Connie dan Chris Gard.
Connie melahirkan seorang bayi laki-laki yang sayangnya menderita penyakit langka yaitu penipisan DNA mitokondria. Bayi yang diberi nama Charlie Gard tersebut merupakan satu dari 16 bayi di dunia yang terlahir dalam kondisi serupa.
Para dokter di Rumah Sakit (RS) Great Ormond Street menyatakan, bayi mungil itu sudah tidak memiliki harapan hidup. Serta layak dibiarkan meninggal dengan hormat. Sebab terus terang saja, hingga kini dunia kedokteran belum menemukan penanganan medis dan pengobatannya.

Sebagaimana diwartakan The Sun, Rabu (12/7/2017), pihak rumah sakit lantas meminta izin agar semua selang kehidupan Gard kecil boleh dilepas. Akan tetapi, Connie dan Chris menentang keras. Mereka masih ingin memperjuangkan hidup anaknya.
Perdebatan antara pihak RS dan orangtua Charlie Gard tidak kunjung mencapai mufakat. Pihak RS yang tak ingin memberikan harapan palsu lantas mengajukan kasus ini ke pengadilan. Hakim pengadilan tinggi di London hingga Mahkamah Agung terpaksa berkeras hati, mereka berpihak kepada dokter. Hakim menyarankan yang terbaik adalah merelakan bayi tersebut segera beristirahat dalam damai.Pengacara pasutri ini menggugat. Mereka berpikir bagaimana mungkin  hukum di Inggris bisa mengabaikan hak orangtua dalam mengambil keputusan  bagi anak yang belum genap 18 tahun. Connie dan Chris pun bersumpah,  mereka akan memperjuangkan kesembuhan putranya sampai titik darah  penghabisan.
Setelah gagal di tingkat pengadilan nasional, mereka membawa kasus  ini hingga ke pengadilan HAM di Eropa. Namun sekali lagi, perjuangan itu  menemui jalan buntu. Pada 27 Juni, pengadilan HAM di Eropa menyatakan  tidak bisa ikut campur dalam masalah tersebut. Itu berarti, keputusan  pengadilan tinggi dan Mahkamah Agung di London lah yang berlaku.

Seluruh peralatan medis yang memperpanjang hidup Charlie Gard lantas  harus diputus total pada Jumat 30 Juni. Pada titik itu, Connie dan Chris  memohon kepada majelis hakim untuk memberi mereka lebih banyak waktu.
&amp;ldquo;Kami tak mau melihatnya terkubur di bawah tanah, kami ingin dia duduk di atas sepeda,&amp;rdquo; ucap kedua orangtua Charlie Gard.
Pengadilan kemudian mengabulkan permohonan pasangan ini guna memberi  mereka waktu untuk mengucapkan selamat tinggal kepada sang buah hati.  Terakhir kali kasus ini dipersidangkan pada Senin 10 Juli.
Charlie Gard di Mata Dunia
Kasus ini pada perkembangannya menjadi isu global setelah kisahnya  tersiar di media massa. Banyak warganet melakukan penggalangan dana bagi  Charlie Gard, hingga menembus sumbangan lebih dari 1,3 juta  poundsterling atau Rp22,3 miliar. Connie dan Chris berharap uang itu  akan cukup untuk membawa bayinya berobat ke Amerika Serikat.Dukungan juga datang dalam bentuk petisi. Sekira 350 ribu orang   membubuhkan tandatangannya di Citizen Go, mendesak RS Great Ormond   Street membuat surat rujukan agar Charlie Gard bisa dirawat di luar   negeri.
Lebih dari itu, kasus ini menarik perhatian sejumlah pemimpin dunia.   Presiden AS Donald Trump menyatakan, Negeri Paman Sam akan dengan  senang  hati membantu bayi malang itu memperjuangkan hidupnya. Bahkan,  dia  menawarkan perawatan gratis di rumah sakit AS dan mengirimkan obat   percobaan gratis ke Inggris demi menyelamatkannya.
Perhatian serupa ditunjukkan Paus Fransiskus I. Pemimpin Tertinggi   Umat Katolik itu menjanjikan paspor Vatikan untuk Charlie Gard supaya   dia bisa dipindahkan ke rumah sakit terbaik di Italia.

Dukungan bagi Charlie Gard mengalir dari penduduk London. (Foto: AFP)
Perdana Menteri Inggris Theresa May pun tak ketinggalan menyuarakan   dukungannya agar RS Great Ormond Street tidak membiarkan nyawa bayi Gard   melayang begitu saja. Di Prancis, warganet menyebut diri mereka   Charlie&amp;rsquo;s Army dan menyerukan #JeSuisCharlieGard hingga jadi trending   topic di Twitter.
&amp;ldquo;Dia adalah darah daging kami. Ini hak kami sebagai orangtuanya untuk   memutuskan memberi dia kesempatan hidup atau tidak. Selama dia masih   berjuang, kami akan ikut memperjuangkannya,&amp;rdquo; kata Connie dan Chris.
Setiap hari pasangan ini membisikkan ke telinga putranya, &amp;ldquo;Kami janji   akan membawamu pulang.&amp;rdquo; Jika pun putranya harus meninggal, Connie dan   Chris berharap Charlie akan menghembuskan nafas terakhirnya di rumah.</content:encoded></item></channel></rss>
