<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Pasar Turi Nasibmu Kini, Kesepian di Tengah Megahnya Bangunan</title><description>Meskipun sudah reinkarnasi sejak  hangus terbakar Juli 2007, nasibnya sampai kini tetap suram.</description><link>https://news.okezone.com/read/2017/07/20/519/1740414/pasar-turi-nasibmu-kini-kesepian-di-tengah-megahnya-bangunan</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2017/07/20/519/1740414/pasar-turi-nasibmu-kini-kesepian-di-tengah-megahnya-bangunan"/><item><title>Pasar Turi Nasibmu Kini, Kesepian di Tengah Megahnya Bangunan</title><link>https://news.okezone.com/read/2017/07/20/519/1740414/pasar-turi-nasibmu-kini-kesepian-di-tengah-megahnya-bangunan</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2017/07/20/519/1740414/pasar-turi-nasibmu-kini-kesepian-di-tengah-megahnya-bangunan</guid><pubDate>Kamis 20 Juli 2017 10:48 WIB</pubDate><dc:creator>Agregasi Sindonews.com</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2017/07/20/519/1740414/pasar-turi-nasibmu-kini-kesepian-di-tengah-megahnya-bangunan-BbxxQv3wc2.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Kondisi Sepi di Pasar Turi. (Foto: Sindonews)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2017/07/20/519/1740414/pasar-turi-nasibmu-kini-kesepian-di-tengah-megahnya-bangunan-BbxxQv3wc2.jpg</image><title>Kondisi Sepi di Pasar Turi. (Foto: Sindonews)</title></images><description>SURABAYA - Pasar Turi tercatat sebagai salah satu pasar  legendaris yang ada di Indonesia. Meskipun sudah reinkarnasi sejak  hangus terbakar Juli 2007, nasibnya sampai kini tetap suram.
Hanya ada 12 sepeda motor yang parkir ketika pewarta masuk di halaman Pasar Turi Baru, Rabu 19 Juli 2017. Bangunan mewah yang  berdiri di jantung Kota Pahlawan seperti kesepian. Di depannya lalu  lintas begitu padat, tapi deretan mobil itu tak sudi untuk sekadar  mampir.Fitriyah Anggraeni, bocah berusia 10 tahun, berlarian di  selasar pasar. Menyusuri deretan stan dan kios kosong yang rapat menutup  pintunya. Ia dengan bebas berseluncur dengan sepatu barunya yang  dibelikan kedua orang tuanya ketika masuk pertama di bangku sekolah  dasar (SD).Lantai pasar yang masih baru dijadikan area bermain,  tanpa ada gangguan dari para pengunjung yang tak kunjung tampak di  deretan kios milik ibunya yang berjualan busana muslim.Dari  kejauhan, Maslamah, ibunya, sesekali melemparkan pandangan. Mengawasi  anaknya yang tak henti-hentinya berlarian sambil berharap ada konsumen  yang melintas dan datang ke lapak baju miliknya.Dalam sehari,  ada satu pembelian baju saja ia sudah merasa bersyukur. &quot;Orang datang  untuk melihat koleksi baju saja sudah senang,&quot; katanya.Sejak  dibuka kembali dua tahun lalu, kondisi Pasar Turi masih tetap sepi  pengunjung. Banyaknya stan yang masih belum buka menjadi salah satu  alasan. Tiap stan itu sebenarnya sudah ada pemiliknya. Namun mereka  memilih tutup karena sepinya pengunjung yang datang.&quot;Kalau mau buka semua rasanya bisa ramai. Tapi mereka saling tunggu, mau buka kalau pasar sudah ramai pengunjung,&quot; jelasnya.Kondisi  itu tentu tak akan bisa terwujud. Sebab, para pengunjung juga tak mau  datang kalau banyak kios yang tak buka. Makanya kondisi pasar terus saja  sepi. Ia pun berharap semua pedagang di Pasar Turi bisa terus bersatu,  sehingga mereka kompak untuk buka secara konsisten. Langkah ini bisa  menjadi awalan yang bagus untuk mengembalikan kejayaan Pasar Turi.Momen  seperti Puasa dan Lebaran saja tak mampu mengatrol penjualan. Kondisi  pasar tetap sepi menjelang Lebaran kemarin. Padahal, dulu ketika masih  menempati bangunan lama Pasar Turi, momen jelang Lebaran selalu jadi  pundi menumpuk keuntungan. Semua itu baginya kini menjadi  kenangan. Cerita bahagia yang bisa disampaikan pada anak cucunya kelak  kalau Pasar Turi pernah menjadi tulang punggung perekonomian bagi banyak  orang.Halimah, salah satu pengunjung yang datang ke Pasar Turi  mengaku kecewa dengan pilihan barang yang ada di pasar. Minimnya penjual  membuat dirinya tak bisa mendapatkan barang yang diinginkan dengan  harga yang murah.&quot;Ini mau beli rantang untuk acara hajatan. Lha, pilihannya hanya ada di dua toko saja. Itu pun tak cocok modelnya,&quot; katanya.Padahal, kata ibu dua anak ini, dahulu Pasar Turi sangat terkenal dengan  koleksi barang yang melimpah. Keluarganya selalu memilih datang ke  Pasar Turi untuk berbelanja. Tapi, kondisi sekarang membuatnya kecewa  dan prihatin.&quot;Bangunannya kan sudah bagus dan besar. Tapi, tidak ada isinya yang banyak,&quot; jelasnya.Hampir  di semua blok Pasar Turi banyak kios yang memilih tutup. Dari tiap blok  paling banyak hanya ada dua kios yang buka, sisanya menutup rapat tanpa  ada aktivitas jual beli.Kondisi lebih parah juga terjadi di  lantai 2 dan seterusnya. Kios yang masih buka hanya ada di lantai dasar  dan 1. Bahkan, eskalator ditutup dengan tali.Kondisi sebaliknya  terjadi di Pusat Grosir Surabaya (PGS). Pasar grosir yang posisinya  berhadapan langsung dengan Pasar Turi itu kebanjiran konsumen. Aktivitas  bongkar muat pun terlihat penuh sesak. Mobil boks, truk, dan mobil  pribadi bergantian masuk ke berbagai lantai untuk bongkar muat barang.Hidayat,  salah satu pengunjung di PGS mengatakan, sejak Pasar Turi terbakar  dirinya memang sudah pindah berbelanja ke PGS. Sampai hari ini saja  koleksi barang dan harga di PGS tetap murah untuk pembelian grosir.&quot;Saya  pernah mencoba masuk ke Pasar Turi Baru setelah buka lagi, di sana yang  jual sedikit sekali. Dengan barang yang tak banyak, siapa juga yang mau  beli,&quot; keluhnya.Seperti diketahui, kebakaran hebat melanda  Pasar Turi pada 26 Juli 2007. Saat itu, kebakaran melanda Pasar Turi  tahap I. Kebakaran kembali terjadi pada 9 September 2007. Ketika itu,  seluruh gedung Pasar Turi terbakar dan hanya menyisakan Pasar Turi tahap  III yang tidak terbakar.Pasar Turi dibangun di areal seluas 4,3  hektare. Rinciannya 2,7 hektare merupakan lahan milik Pemerintah Kota  Surabaya dan 1,6 hektare merupakan tanah milik PT Kereta Api Indonesia  (KAI).</description><content:encoded>SURABAYA - Pasar Turi tercatat sebagai salah satu pasar  legendaris yang ada di Indonesia. Meskipun sudah reinkarnasi sejak  hangus terbakar Juli 2007, nasibnya sampai kini tetap suram.
Hanya ada 12 sepeda motor yang parkir ketika pewarta masuk di halaman Pasar Turi Baru, Rabu 19 Juli 2017. Bangunan mewah yang  berdiri di jantung Kota Pahlawan seperti kesepian. Di depannya lalu  lintas begitu padat, tapi deretan mobil itu tak sudi untuk sekadar  mampir.Fitriyah Anggraeni, bocah berusia 10 tahun, berlarian di  selasar pasar. Menyusuri deretan stan dan kios kosong yang rapat menutup  pintunya. Ia dengan bebas berseluncur dengan sepatu barunya yang  dibelikan kedua orang tuanya ketika masuk pertama di bangku sekolah  dasar (SD).Lantai pasar yang masih baru dijadikan area bermain,  tanpa ada gangguan dari para pengunjung yang tak kunjung tampak di  deretan kios milik ibunya yang berjualan busana muslim.Dari  kejauhan, Maslamah, ibunya, sesekali melemparkan pandangan. Mengawasi  anaknya yang tak henti-hentinya berlarian sambil berharap ada konsumen  yang melintas dan datang ke lapak baju miliknya.Dalam sehari,  ada satu pembelian baju saja ia sudah merasa bersyukur. &quot;Orang datang  untuk melihat koleksi baju saja sudah senang,&quot; katanya.Sejak  dibuka kembali dua tahun lalu, kondisi Pasar Turi masih tetap sepi  pengunjung. Banyaknya stan yang masih belum buka menjadi salah satu  alasan. Tiap stan itu sebenarnya sudah ada pemiliknya. Namun mereka  memilih tutup karena sepinya pengunjung yang datang.&quot;Kalau mau buka semua rasanya bisa ramai. Tapi mereka saling tunggu, mau buka kalau pasar sudah ramai pengunjung,&quot; jelasnya.Kondisi  itu tentu tak akan bisa terwujud. Sebab, para pengunjung juga tak mau  datang kalau banyak kios yang tak buka. Makanya kondisi pasar terus saja  sepi. Ia pun berharap semua pedagang di Pasar Turi bisa terus bersatu,  sehingga mereka kompak untuk buka secara konsisten. Langkah ini bisa  menjadi awalan yang bagus untuk mengembalikan kejayaan Pasar Turi.Momen  seperti Puasa dan Lebaran saja tak mampu mengatrol penjualan. Kondisi  pasar tetap sepi menjelang Lebaran kemarin. Padahal, dulu ketika masih  menempati bangunan lama Pasar Turi, momen jelang Lebaran selalu jadi  pundi menumpuk keuntungan. Semua itu baginya kini menjadi  kenangan. Cerita bahagia yang bisa disampaikan pada anak cucunya kelak  kalau Pasar Turi pernah menjadi tulang punggung perekonomian bagi banyak  orang.Halimah, salah satu pengunjung yang datang ke Pasar Turi  mengaku kecewa dengan pilihan barang yang ada di pasar. Minimnya penjual  membuat dirinya tak bisa mendapatkan barang yang diinginkan dengan  harga yang murah.&quot;Ini mau beli rantang untuk acara hajatan. Lha, pilihannya hanya ada di dua toko saja. Itu pun tak cocok modelnya,&quot; katanya.Padahal, kata ibu dua anak ini, dahulu Pasar Turi sangat terkenal dengan  koleksi barang yang melimpah. Keluarganya selalu memilih datang ke  Pasar Turi untuk berbelanja. Tapi, kondisi sekarang membuatnya kecewa  dan prihatin.&quot;Bangunannya kan sudah bagus dan besar. Tapi, tidak ada isinya yang banyak,&quot; jelasnya.Hampir  di semua blok Pasar Turi banyak kios yang memilih tutup. Dari tiap blok  paling banyak hanya ada dua kios yang buka, sisanya menutup rapat tanpa  ada aktivitas jual beli.Kondisi lebih parah juga terjadi di  lantai 2 dan seterusnya. Kios yang masih buka hanya ada di lantai dasar  dan 1. Bahkan, eskalator ditutup dengan tali.Kondisi sebaliknya  terjadi di Pusat Grosir Surabaya (PGS). Pasar grosir yang posisinya  berhadapan langsung dengan Pasar Turi itu kebanjiran konsumen. Aktivitas  bongkar muat pun terlihat penuh sesak. Mobil boks, truk, dan mobil  pribadi bergantian masuk ke berbagai lantai untuk bongkar muat barang.Hidayat,  salah satu pengunjung di PGS mengatakan, sejak Pasar Turi terbakar  dirinya memang sudah pindah berbelanja ke PGS. Sampai hari ini saja  koleksi barang dan harga di PGS tetap murah untuk pembelian grosir.&quot;Saya  pernah mencoba masuk ke Pasar Turi Baru setelah buka lagi, di sana yang  jual sedikit sekali. Dengan barang yang tak banyak, siapa juga yang mau  beli,&quot; keluhnya.Seperti diketahui, kebakaran hebat melanda  Pasar Turi pada 26 Juli 2007. Saat itu, kebakaran melanda Pasar Turi  tahap I. Kebakaran kembali terjadi pada 9 September 2007. Ketika itu,  seluruh gedung Pasar Turi terbakar dan hanya menyisakan Pasar Turi tahap  III yang tidak terbakar.Pasar Turi dibangun di areal seluas 4,3  hektare. Rinciannya 2,7 hektare merupakan lahan milik Pemerintah Kota  Surabaya dan 1,6 hektare merupakan tanah milik PT Kereta Api Indonesia  (KAI).</content:encoded></item></channel></rss>
