<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Okezone Story: Otto Skorzeny, Komandan Terpercaya Nazi dan Penyelamat Mussolini Menjadi Peternak Kuda di Irlandia</title><description>Otto &quot;Scarface&quot; Skorzeny seorang komandan Nazi dan tangan kanan Hitler yang ingin hidup normal menjadi peternak kuda.</description><link>https://news.okezone.com/read/2017/07/21/18/1740833/okezone-story-otto-skorzeny-komandan-terpercaya-nazi-dan-penyelamat-mussolini-menjadi-peternak-kuda-di-irlandia</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2017/07/21/18/1740833/okezone-story-otto-skorzeny-komandan-terpercaya-nazi-dan-penyelamat-mussolini-menjadi-peternak-kuda-di-irlandia"/><item><title>Okezone Story: Otto Skorzeny, Komandan Terpercaya Nazi dan Penyelamat Mussolini Menjadi Peternak Kuda di Irlandia</title><link>https://news.okezone.com/read/2017/07/21/18/1740833/okezone-story-otto-skorzeny-komandan-terpercaya-nazi-dan-penyelamat-mussolini-menjadi-peternak-kuda-di-irlandia</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2017/07/21/18/1740833/okezone-story-otto-skorzeny-komandan-terpercaya-nazi-dan-penyelamat-mussolini-menjadi-peternak-kuda-di-irlandia</guid><pubDate>Jum'at 21 Juli 2017 08:01 WIB</pubDate><dc:creator>Rufki Ade Vinanda</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2017/07/20/18/1740833/okezone-story-otto-skorzeny-komandan-terpercaya-nazi-dan-penyelamat-mussolini-menjadi-peternak-kuda-di-irlandia-x3DVOljYiF.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Otto Skorzeny. (Foto: The Vintage News)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2017/07/20/18/1740833/okezone-story-otto-skorzeny-komandan-terpercaya-nazi-dan-penyelamat-mussolini-menjadi-peternak-kuda-di-irlandia-x3DVOljYiF.jpg</image><title>Otto Skorzeny. (Foto: The Vintage News)</title></images><description>PADA 1950-an, tak ada satu pun pengendara di perdesaan Curragh di County Kildare di Irlandia yang berani mendahului sebuah mobil Mercedes putih. Pasalnya mobil itu diketahui dikemudikan oleh tangan kanan Nazi atau salah satu penasihat Hitler yang paling dipercaya. Pria yang memiliki bekas luka di bagian wajah ini tak lain adalah Otto &quot;Scarface&quot; Skorzeny.
Pada masa Perang Dunia II, Otto dikenal sebagai Third Third Scarlet Pimpernel yaitu seorang komandan ternama. Skorzeny lahir di Wina pada 12 Juni 1908. Ia terlahir dari seorang keluarga kelas menengah di Austria dengan nenek moyang dari Polandia. Skorzeny dididik di Wina dan ia tak hanya menguasai bahasa Jerman, namun juga mampu menguasai bahasa Inggris dengan baik.
Semasa kuliah, Skorzeny memilih untuk mempelajari teknik sipil di bangku perguruan tinggi. Semasa itu juga, Skorzeny merupakan seorang pemain anggar yang mahir. Ia menjalani 15 pertandingan dan sepuluh di antaranya menyebabkan bekas luka mengerikan di wajahnya.  Skorzeny adalah sosok pria yang karismatik. Ia bergabung dengan Nazi Austria pada 1930 dan mendapatkan banyak jaringan.
Ketika Jerman menginvasi Polandia pada 1939, ia menjadi seorang sukarelawan untuk bergabung dalam pasukan. Sayangnya Skorzeny yang kala itu berusia 31 tahun mendapatkan penolakan karena tubuhnya yang terlalu besar. Skorzeny diketahui memiliki sekira 193 meter dan bobot sebesar 113 kilogram (kg). Ia kemudian diterima sebagai petugas kadet di resimen penjaga pribadi Hitler, Leibstandarte SS Adolf Hitler (LSSAH).
Skorzeny ditugaskan di Front Timur dan ia sempat terluka akibat pecahan peluru pada Desember 1942. Ia kemudian dikirim kembali ke Berlin untuk perawatan dan penyembuhan. Di sinilah Skorzeny lalu mengerjakan gagasannya untuk perang inkonvensional. Ia mengusulkan untuk mengambil membentuk sebuah tim yang terdiri dari para pria dan melatih mereka untuk bertarung jauh di belakang garis musuh. Mereka ditugaskan untuk menyebabkan kerusakan dan menghancurkan instalasi penting, baik militer maupun sipil.
Strategi perang ini pertama kali diaplikasikan di peperangan di Iran. Namun sayangnya strategi ini berakhir gagal meskipun unit ini telah mencapai beberapa keberhasilan di belakang garis Rusia dalam kondisi kekurangan pasokan, peralatan dan pesawat pembom yang meluncurkan serangan dengan lambat. Pada Juli 1943, Hitler secara pribadi memilih Skorzeny untuk menyelamatkan Benito Mussolini dari penjara akibat pemerintahannya digulingkan.

Pada 12 September 1943, Skorzeny secara langsung memimpin  penggerebekan upaya penyelamatan tersebut dengan mengarahkan timnya ke  puncak gunung Gran Sasso di glider dan mendarat di Campo Imperatore  Hotel tempat Mussolini ditahan. Mussolini pun berhasil diselamatkan  tanpa satupun tembakan dilontarkan. Ia lalu dibawa melalui Roma dan  menuju Berlin.&amp;nbsp;
Berkat aksinya itu Skorzeny dipromosikan ke pangkat Sturmbannf&amp;uuml;hrer  (Mayor) dan dianugerahi Salib Ksatria dari Salib Besi. Penyerbuan yang  sukses ini memperkuat hubungannya dengan Hitler. Bahkan Winston  Churchill pun terkesan dan ia mengatakan bahwa serangan tersebut  merupakan salah satu tantangan besar. Skorzeny mengambil bagian dalam  atau merencanakan beberapa operasi menantang lainnya selama perang,  termasuk usaha gagalnya untuk membunuh Churchill, Stalin, dan Roosevelt  pada Konferensi Teheran pada 1943.

Skorzeny tengah. (Foto: The Vintage News)
Operasi terakhirnya adalah pada saat Pertempuran Bulge pada akhir  1944 ketika ia dan pasukannya menyusup ke jalur Sekutu dengan menyamar  menggunakan seragam tentara Amerika Serikat (AS). Sayangnya, aksi  Skorzeny ini terendus oleh tentara AS. Pihak sekutu kemudian  menangkapnya dan beberapa anak buahnya lalu menyebarkan desas-desus  bahwa Skorzeny bermaksud memimpin sebuah serangan di Paris untuk  membunuh Jenderal Eisenhower.
Eisenhower kemudian memasang poster &quot;Wanted&quot;, dengan deskripsi rinci  tentang Skorzeny, di seluruh wilayah yang dikuasai oleh Sekutu. Sebagian  besar tentara Jerman yang ambil bagian dalam operasi ini ditangkap dan  banyak yang ditembak sebagai mata-mata karena memakai seragam AS.   Skorzeny menghabiskan bulan-bulan terakhir perang dengan memimpin  pasukan reguler sebagai Mayor Jenderal di Prusia Timur. Sebelum perang  usai, ia dianugerahi penghargaan tertinggi di Victoria.
Namun, tak lama kemudian Skorzeny diadili sebagai bagian dari uji   coba  Kejahatan Perang Dachau karena membiarkan anak buahnya mengenakan    seragam tentara AS. Ia berpendapat bahwa mengenakan seragam itu tidak    menjadi masalah asalkan mereka membuangnya sebelum terlibat dalam    pertempuran. Skorzeny ditahan di penjara karena ia menghadapi tuduhan    lain dari berbagai negara, namun dengan gaya Skorzeny yang khas, ia    berhasil lolos.
Skorzeny kemudian melakukan sebuah perjalanan yang berakhir di Madrid   dan ia kemudian mendirikan sebuah usaha ekspor-impor kecil-kecilan.   Sebagian besar bisnisnya adalah sah, namun rumor terus berlanjut bahwa   ia menggunakan bisnis tersebut untuk memfasilitasi pelarian Nazi dari   Jerman ke Argentina dan negara-negara lain. Skorzeny lalu melakukan   perjalanan ke Argentina dalam beberapa kesempatan dan sekaligus   menyelamatkan kehidupan Eva Peron, istri presiden Argentina.
Pada pertengahan 1957, ia diundang ke hotel Portmarnock Country Club   di County Dublin di Irlandia. Skorzeny disambut dengan hangat dan  dipuja  oleh masyarakat Irlandia, termasuk banyak politisi muda seperti  Charles  Haughey, yang kemudian menjadi Perdana Menteri (PM) Irlandia  yang  kontroversial. Sambutan hangatnya di Irlandia mendorong Skorzeny  untuk  membeli Martinstown House, sebuah peternakan seluas 160 hektare  dan  rumah perdesaan di Curragh, County Kildare.
Skorzeny melakukan perjalanan dengan paspor nansen (paspor untuk   orang-orang tanpa kewarganegaraan), sehingga Irlandia tidak dapat   menolaknya masuk. Kehadirannya di Irlandia cukup memprihatinkan karena   Pemerintah Irlandia menolaknya tinggal secara permanen, sehingga setiap   kunjungan dibatasi hingga enam minggu saja. Selain itu, ia juga tidak   diizinkan masuk ke Inggris.
Pihak berwenang khawatir bahwa Skorzeny bertindak sebagai saluran   untuk pelarian Nazi. Menteri Kesehatan Irlandia saat itu, Noel Browne   takut Irlandia akan dimanfaatkan untuk tujuan itu. Klaim ini tidak   pernah divalidasi, namun ketakutan yang terus berlanjut terhadap   kelahiran kembali rezim Nazi memicu seruan agar Skorzeny diusir.
Skorzeny membantah semua klaim bahwa dia membantu pelarian Nazi dan   bersikeras bahwa yang ingin ia lakukan hanyalah membeli beberapa ekor   kuda dan hidup dengan damai di ladangnya. Hal tersebut tidak akan pernah   terjadi dan akhirnya Skorzeny berhenti mengunjungi Irlandia. Dia   menjual properti itu pada 1971. Perusahaan terakhir Skorzeny adalah   Paladin Group, yang berbasis di Spanyol. Perusahaan ini melatih pasukan   untuk perang gerilya dan menghitung banyak pasukan di antara para   kliennya. Skorzeny meninggal akibat kanker paru-paru pada usia 67   tepatnya pada 5 Juli 1975 di Spanyol.
Peti matinya terbungkus dengan warna Nazi dan pemakamannya dihadiri   oleh banyak rekannya dari Nazi. Ia dimakamnkan sesuai ajaran Katolik   Roma di Madrid. Skorzeny adalah seorang Nazi berkomitmen pada akhirnya   dan menolak untuk mengecam apa pun yang dilakukan selama masa perang.   Skorzeny bukan satu-satunya pertinggi Nazi yang muncul kembali di   Irlandia setelah perang. Pria seperti Albert Folens dan Helmut Clissmann   menciptakan kehidupan baru di negara ini.</description><content:encoded>PADA 1950-an, tak ada satu pun pengendara di perdesaan Curragh di County Kildare di Irlandia yang berani mendahului sebuah mobil Mercedes putih. Pasalnya mobil itu diketahui dikemudikan oleh tangan kanan Nazi atau salah satu penasihat Hitler yang paling dipercaya. Pria yang memiliki bekas luka di bagian wajah ini tak lain adalah Otto &quot;Scarface&quot; Skorzeny.
Pada masa Perang Dunia II, Otto dikenal sebagai Third Third Scarlet Pimpernel yaitu seorang komandan ternama. Skorzeny lahir di Wina pada 12 Juni 1908. Ia terlahir dari seorang keluarga kelas menengah di Austria dengan nenek moyang dari Polandia. Skorzeny dididik di Wina dan ia tak hanya menguasai bahasa Jerman, namun juga mampu menguasai bahasa Inggris dengan baik.
Semasa kuliah, Skorzeny memilih untuk mempelajari teknik sipil di bangku perguruan tinggi. Semasa itu juga, Skorzeny merupakan seorang pemain anggar yang mahir. Ia menjalani 15 pertandingan dan sepuluh di antaranya menyebabkan bekas luka mengerikan di wajahnya.  Skorzeny adalah sosok pria yang karismatik. Ia bergabung dengan Nazi Austria pada 1930 dan mendapatkan banyak jaringan.
Ketika Jerman menginvasi Polandia pada 1939, ia menjadi seorang sukarelawan untuk bergabung dalam pasukan. Sayangnya Skorzeny yang kala itu berusia 31 tahun mendapatkan penolakan karena tubuhnya yang terlalu besar. Skorzeny diketahui memiliki sekira 193 meter dan bobot sebesar 113 kilogram (kg). Ia kemudian diterima sebagai petugas kadet di resimen penjaga pribadi Hitler, Leibstandarte SS Adolf Hitler (LSSAH).
Skorzeny ditugaskan di Front Timur dan ia sempat terluka akibat pecahan peluru pada Desember 1942. Ia kemudian dikirim kembali ke Berlin untuk perawatan dan penyembuhan. Di sinilah Skorzeny lalu mengerjakan gagasannya untuk perang inkonvensional. Ia mengusulkan untuk mengambil membentuk sebuah tim yang terdiri dari para pria dan melatih mereka untuk bertarung jauh di belakang garis musuh. Mereka ditugaskan untuk menyebabkan kerusakan dan menghancurkan instalasi penting, baik militer maupun sipil.
Strategi perang ini pertama kali diaplikasikan di peperangan di Iran. Namun sayangnya strategi ini berakhir gagal meskipun unit ini telah mencapai beberapa keberhasilan di belakang garis Rusia dalam kondisi kekurangan pasokan, peralatan dan pesawat pembom yang meluncurkan serangan dengan lambat. Pada Juli 1943, Hitler secara pribadi memilih Skorzeny untuk menyelamatkan Benito Mussolini dari penjara akibat pemerintahannya digulingkan.

Pada 12 September 1943, Skorzeny secara langsung memimpin  penggerebekan upaya penyelamatan tersebut dengan mengarahkan timnya ke  puncak gunung Gran Sasso di glider dan mendarat di Campo Imperatore  Hotel tempat Mussolini ditahan. Mussolini pun berhasil diselamatkan  tanpa satupun tembakan dilontarkan. Ia lalu dibawa melalui Roma dan  menuju Berlin.&amp;nbsp;
Berkat aksinya itu Skorzeny dipromosikan ke pangkat Sturmbannf&amp;uuml;hrer  (Mayor) dan dianugerahi Salib Ksatria dari Salib Besi. Penyerbuan yang  sukses ini memperkuat hubungannya dengan Hitler. Bahkan Winston  Churchill pun terkesan dan ia mengatakan bahwa serangan tersebut  merupakan salah satu tantangan besar. Skorzeny mengambil bagian dalam  atau merencanakan beberapa operasi menantang lainnya selama perang,  termasuk usaha gagalnya untuk membunuh Churchill, Stalin, dan Roosevelt  pada Konferensi Teheran pada 1943.

Skorzeny tengah. (Foto: The Vintage News)
Operasi terakhirnya adalah pada saat Pertempuran Bulge pada akhir  1944 ketika ia dan pasukannya menyusup ke jalur Sekutu dengan menyamar  menggunakan seragam tentara Amerika Serikat (AS). Sayangnya, aksi  Skorzeny ini terendus oleh tentara AS. Pihak sekutu kemudian  menangkapnya dan beberapa anak buahnya lalu menyebarkan desas-desus  bahwa Skorzeny bermaksud memimpin sebuah serangan di Paris untuk  membunuh Jenderal Eisenhower.
Eisenhower kemudian memasang poster &quot;Wanted&quot;, dengan deskripsi rinci  tentang Skorzeny, di seluruh wilayah yang dikuasai oleh Sekutu. Sebagian  besar tentara Jerman yang ambil bagian dalam operasi ini ditangkap dan  banyak yang ditembak sebagai mata-mata karena memakai seragam AS.   Skorzeny menghabiskan bulan-bulan terakhir perang dengan memimpin  pasukan reguler sebagai Mayor Jenderal di Prusia Timur. Sebelum perang  usai, ia dianugerahi penghargaan tertinggi di Victoria.
Namun, tak lama kemudian Skorzeny diadili sebagai bagian dari uji   coba  Kejahatan Perang Dachau karena membiarkan anak buahnya mengenakan    seragam tentara AS. Ia berpendapat bahwa mengenakan seragam itu tidak    menjadi masalah asalkan mereka membuangnya sebelum terlibat dalam    pertempuran. Skorzeny ditahan di penjara karena ia menghadapi tuduhan    lain dari berbagai negara, namun dengan gaya Skorzeny yang khas, ia    berhasil lolos.
Skorzeny kemudian melakukan sebuah perjalanan yang berakhir di Madrid   dan ia kemudian mendirikan sebuah usaha ekspor-impor kecil-kecilan.   Sebagian besar bisnisnya adalah sah, namun rumor terus berlanjut bahwa   ia menggunakan bisnis tersebut untuk memfasilitasi pelarian Nazi dari   Jerman ke Argentina dan negara-negara lain. Skorzeny lalu melakukan   perjalanan ke Argentina dalam beberapa kesempatan dan sekaligus   menyelamatkan kehidupan Eva Peron, istri presiden Argentina.
Pada pertengahan 1957, ia diundang ke hotel Portmarnock Country Club   di County Dublin di Irlandia. Skorzeny disambut dengan hangat dan  dipuja  oleh masyarakat Irlandia, termasuk banyak politisi muda seperti  Charles  Haughey, yang kemudian menjadi Perdana Menteri (PM) Irlandia  yang  kontroversial. Sambutan hangatnya di Irlandia mendorong Skorzeny  untuk  membeli Martinstown House, sebuah peternakan seluas 160 hektare  dan  rumah perdesaan di Curragh, County Kildare.
Skorzeny melakukan perjalanan dengan paspor nansen (paspor untuk   orang-orang tanpa kewarganegaraan), sehingga Irlandia tidak dapat   menolaknya masuk. Kehadirannya di Irlandia cukup memprihatinkan karena   Pemerintah Irlandia menolaknya tinggal secara permanen, sehingga setiap   kunjungan dibatasi hingga enam minggu saja. Selain itu, ia juga tidak   diizinkan masuk ke Inggris.
Pihak berwenang khawatir bahwa Skorzeny bertindak sebagai saluran   untuk pelarian Nazi. Menteri Kesehatan Irlandia saat itu, Noel Browne   takut Irlandia akan dimanfaatkan untuk tujuan itu. Klaim ini tidak   pernah divalidasi, namun ketakutan yang terus berlanjut terhadap   kelahiran kembali rezim Nazi memicu seruan agar Skorzeny diusir.
Skorzeny membantah semua klaim bahwa dia membantu pelarian Nazi dan   bersikeras bahwa yang ingin ia lakukan hanyalah membeli beberapa ekor   kuda dan hidup dengan damai di ladangnya. Hal tersebut tidak akan pernah   terjadi dan akhirnya Skorzeny berhenti mengunjungi Irlandia. Dia   menjual properti itu pada 1971. Perusahaan terakhir Skorzeny adalah   Paladin Group, yang berbasis di Spanyol. Perusahaan ini melatih pasukan   untuk perang gerilya dan menghitung banyak pasukan di antara para   kliennya. Skorzeny meninggal akibat kanker paru-paru pada usia 67   tepatnya pada 5 Juli 1975 di Spanyol.
Peti matinya terbungkus dengan warna Nazi dan pemakamannya dihadiri   oleh banyak rekannya dari Nazi. Ia dimakamnkan sesuai ajaran Katolik   Roma di Madrid. Skorzeny adalah seorang Nazi berkomitmen pada akhirnya   dan menolak untuk mengecam apa pun yang dilakukan selama masa perang.   Skorzeny bukan satu-satunya pertinggi Nazi yang muncul kembali di   Irlandia setelah perang. Pria seperti Albert Folens dan Helmut Clissmann   menciptakan kehidupan baru di negara ini.</content:encoded></item></channel></rss>
