<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Palestina Selalu Mengalah, Mengapa Israel Terus Cari Gara-Gara?</title><description>Pengamat politik Timur Tengah M Jafar mengaku sepakat bahwa apa  yang terjadi di Kompleks Masjid Al Aqsa dewasa ini adalah pelanggaran HAM.</description><link>https://news.okezone.com/read/2017/07/27/18/1745126/palestina-selalu-mengalah-mengapa-israel-terus-cari-gara-gara</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2017/07/27/18/1745126/palestina-selalu-mengalah-mengapa-israel-terus-cari-gara-gara"/><item><title>Palestina Selalu Mengalah, Mengapa Israel Terus Cari Gara-Gara?</title><link>https://news.okezone.com/read/2017/07/27/18/1745126/palestina-selalu-mengalah-mengapa-israel-terus-cari-gara-gara</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2017/07/27/18/1745126/palestina-selalu-mengalah-mengapa-israel-terus-cari-gara-gara</guid><pubDate>Kamis 27 Juli 2017 18:10 WIB</pubDate><dc:creator>Silviana Dharma</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2017/07/27/18/1745126/palestina-selalu-mengalah-mengapa-israel-terus-cari-gara-gara-uhYl1YcRRI.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Rock Mosque di Kompleks Masjid Al Aqsa. (Foto: Mahfouz Abu Turk/APA Images)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2017/07/27/18/1745126/palestina-selalu-mengalah-mengapa-israel-terus-cari-gara-gara-uhYl1YcRRI.jpg</image><title>Rock Mosque di Kompleks Masjid Al Aqsa. (Foto: Mahfouz Abu Turk/APA Images)</title></images><description>JAKARTA &amp;ndash; Mengacu kepada Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia (DUHAM), berkeyakinan dan beragama, serta menjalankan ajaran agamanya, beribadah, termasuk hak dan kebebasan mendasar semua orang, tanpa terkecuali. Melarang hak orang beribadah sama saja dengan melanggar nilai-nilai kemanusiaan.
Itulah yang terjadi di Yerusalem saat ini. Ketika warga Palestina berusaha menjalankan ibadah, tetapi dihalang-halangi Israel. Tak tanggung-tanggung, pemerintah Israel mengirimkan langsung pasukan bersenjatanya ke sekeliling masjid dengan dalil menjaga keamanan.
Rakyat Palestina yang merasa hak beribadahnya dibatasi, lantas marah. Bentrokan dengan polisi tak terelakkan. Dua penjaga ambruk dan meregang nyawa, dibalas dengan tiga darah pemuda Palestina.
Baca juga: Pengamat Politik Timur Tengah: Israel Sering Langgar Aturan soal Masjid Al Aqsa
Kematian dua penjaga tadi berujung penutupan terhadap akses masuk ke Hashim al Sharif. Selang dua hari, Israel kembali membuka pintu masuk ke kompleks Masjid Al Aqsa. Akan tetapi, dengan penjagaan yang lebih ketat. Kali ini, siapa yang mau masuk harus lolos uji deteksi logam dulu.
Atas tekanan dari masyarakat internasional, Israel bersedia mengangkut balik alat-alat pengamanan itu. Namun begitu, kamera pengawas masih terpasang. Kebijakan tersebut membuat risih warga Palestina, karena untuk beribadah saja banyak mata yang mengamati.
Pengamat politik Timur Tengah Muhammad Jafar mengaku sepakat bahwa apa yang terjadi di Kompleks Masjid Al Aqsa dewasa ini adalah pelanggaran terhadap HAM. Padahal ada perjanjian bahwa kompleks rumah suci yang sedang disengketakan tersebut selayaknya bisa diakses baik oleh Israel maupun Palestina. Akan tetapi, yang dipertontokan sejauh ini, masjid itu sudah seperti milik Israel.
&amp;ldquo;Sebenarnya enggak akan jadi masalah, kalau Israel tidak melanggar status quo-nya. Palestina hanya ingin akses beribadah seluas-luasnya. Tetapi Israel bertindak agresif dan provokatif dengan memasang mesin pendeteksi logam di pintu masuk,&amp;rdquo; ucapnya saat bertandang ke kantor Okezone belum lama ini.
Baca juga: Ini Alasan Mengapa Indonesia Harus Bantu Palestina
Tindakan Israel di Al Aqsa itu, menurut Jafar, jelas memundurkan   upaya perdamaian selama puluhan tahun terakhir. Padahal, Palestina sudah   seringkali menunjukkan itikad baik untuk hidup berdampingan dengan Tel   Aviv.
&amp;ldquo;Dalam perspektif politik Timur Tengah, kalau merunut pada 27 tahun   terakhir, Palestina sudah berulang kali menunjukkan itikad baik untuk   maju ke meja perundingan. Tetapi Israel selalu memundurkan road map   damai yang selama ini diupayakan dengan susah payah,&amp;rdquo; tukasnya.Jafar mencatat, Israel selalu beragumentasi bahwa perundingan damai  mandek akibat keberadaan Hamas. Bagi Israel, Hamas amat radikal dan  sifat politiknya menghalangi tercapainya perdamaian antara kedua negara.
Padahal, kata Jafar, secara de facto, gerakan politik Hamas sudah  semakin moderat. Sejak masuk pemerintahan, bahkan semakin lembut. Israel  sebaliknya, tidak hanya konsisten pada jalur konservatif, mereka lebih  agresif dengan menggulirkan kebijakan yang melanggar resolusi perdamaian  dan kemanusiaan.
&quot;Israel hampir tidak pernah melahirkan perdana menteri atau pemimpin  yang moderat. Sehingga sejak 1967 hingga sekarang, mereka selalu  konservatif. Sementara Palestina sebaliknya, makin kemari semakin  moderat,&quot; paparnya.
Baca juga: Kutuk Serangan Israel, DPR Minta Pemerintah Segera Kirim Pasukan Perdamaian ke Palestina
Bahkan dia ingat, Hamas pada Maret lalu menyatakan konflik mereka  dengan Israel murni politik bukan agama. Jafar menilai, pernyataan itu  sangat revolusioner dan menunjukkan itikad baik dari Palestina untuk  berdamai.
&amp;ldquo;Dalam konteks itu artinya Hamas pun selalu mengedepankan kepentingan  semua pihak. Sekarang juga sudah konsolidasi dengan Fatah. Tapi Israel  tidak pernah membacanya begitu. Ya, mencari gara-gara terus. Padahal  Palestina sudah sangat moderat,&amp;rdquo; tegasnya.
Fakta lain, Jafar melihat, Palestina pun sudah banyak mengalah dari  Israel. Secara geografis, bisa dilihat betapa permukiman ilegal yang  dibangun Netanyahu cs terus menyudutkan Palestina. Selama 50 tahun,  Palestina memperjuangkan hak-hak dan kemerdekaannya di meja perundingan,  tetapi setiap kesepakatan selalu dilanggar Israel.
Baca juga: PBNU Minta Pemerintah Konsolidasikan Anggota PBB Bersikap Tegas soal Kekejaman Israel terhadap Palestina
Tidak dapat dipungkiri, nilai historis dan religi Masjid Al Aqsa  sangat tinggi bagi kedua pihak. Jafar menjelaskan, perang yang  berlangsung di Yerusalem itu perang mental, dengan Kompleks Masjid Al  Aqsa sebagai target terakhir Israel.
&amp;ldquo;Jika mereka berhasil  menguasai kompleks ini, maka secara simbolik  bagi mereka itu adalah kemenangan politik. Sebaliknya, oleh Palestina  kalah secara politik,&amp;rdquo; pungkasnya.</description><content:encoded>JAKARTA &amp;ndash; Mengacu kepada Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia (DUHAM), berkeyakinan dan beragama, serta menjalankan ajaran agamanya, beribadah, termasuk hak dan kebebasan mendasar semua orang, tanpa terkecuali. Melarang hak orang beribadah sama saja dengan melanggar nilai-nilai kemanusiaan.
Itulah yang terjadi di Yerusalem saat ini. Ketika warga Palestina berusaha menjalankan ibadah, tetapi dihalang-halangi Israel. Tak tanggung-tanggung, pemerintah Israel mengirimkan langsung pasukan bersenjatanya ke sekeliling masjid dengan dalil menjaga keamanan.
Rakyat Palestina yang merasa hak beribadahnya dibatasi, lantas marah. Bentrokan dengan polisi tak terelakkan. Dua penjaga ambruk dan meregang nyawa, dibalas dengan tiga darah pemuda Palestina.
Baca juga: Pengamat Politik Timur Tengah: Israel Sering Langgar Aturan soal Masjid Al Aqsa
Kematian dua penjaga tadi berujung penutupan terhadap akses masuk ke Hashim al Sharif. Selang dua hari, Israel kembali membuka pintu masuk ke kompleks Masjid Al Aqsa. Akan tetapi, dengan penjagaan yang lebih ketat. Kali ini, siapa yang mau masuk harus lolos uji deteksi logam dulu.
Atas tekanan dari masyarakat internasional, Israel bersedia mengangkut balik alat-alat pengamanan itu. Namun begitu, kamera pengawas masih terpasang. Kebijakan tersebut membuat risih warga Palestina, karena untuk beribadah saja banyak mata yang mengamati.
Pengamat politik Timur Tengah Muhammad Jafar mengaku sepakat bahwa apa yang terjadi di Kompleks Masjid Al Aqsa dewasa ini adalah pelanggaran terhadap HAM. Padahal ada perjanjian bahwa kompleks rumah suci yang sedang disengketakan tersebut selayaknya bisa diakses baik oleh Israel maupun Palestina. Akan tetapi, yang dipertontokan sejauh ini, masjid itu sudah seperti milik Israel.
&amp;ldquo;Sebenarnya enggak akan jadi masalah, kalau Israel tidak melanggar status quo-nya. Palestina hanya ingin akses beribadah seluas-luasnya. Tetapi Israel bertindak agresif dan provokatif dengan memasang mesin pendeteksi logam di pintu masuk,&amp;rdquo; ucapnya saat bertandang ke kantor Okezone belum lama ini.
Baca juga: Ini Alasan Mengapa Indonesia Harus Bantu Palestina
Tindakan Israel di Al Aqsa itu, menurut Jafar, jelas memundurkan   upaya perdamaian selama puluhan tahun terakhir. Padahal, Palestina sudah   seringkali menunjukkan itikad baik untuk hidup berdampingan dengan Tel   Aviv.
&amp;ldquo;Dalam perspektif politik Timur Tengah, kalau merunut pada 27 tahun   terakhir, Palestina sudah berulang kali menunjukkan itikad baik untuk   maju ke meja perundingan. Tetapi Israel selalu memundurkan road map   damai yang selama ini diupayakan dengan susah payah,&amp;rdquo; tukasnya.Jafar mencatat, Israel selalu beragumentasi bahwa perundingan damai  mandek akibat keberadaan Hamas. Bagi Israel, Hamas amat radikal dan  sifat politiknya menghalangi tercapainya perdamaian antara kedua negara.
Padahal, kata Jafar, secara de facto, gerakan politik Hamas sudah  semakin moderat. Sejak masuk pemerintahan, bahkan semakin lembut. Israel  sebaliknya, tidak hanya konsisten pada jalur konservatif, mereka lebih  agresif dengan menggulirkan kebijakan yang melanggar resolusi perdamaian  dan kemanusiaan.
&quot;Israel hampir tidak pernah melahirkan perdana menteri atau pemimpin  yang moderat. Sehingga sejak 1967 hingga sekarang, mereka selalu  konservatif. Sementara Palestina sebaliknya, makin kemari semakin  moderat,&quot; paparnya.
Baca juga: Kutuk Serangan Israel, DPR Minta Pemerintah Segera Kirim Pasukan Perdamaian ke Palestina
Bahkan dia ingat, Hamas pada Maret lalu menyatakan konflik mereka  dengan Israel murni politik bukan agama. Jafar menilai, pernyataan itu  sangat revolusioner dan menunjukkan itikad baik dari Palestina untuk  berdamai.
&amp;ldquo;Dalam konteks itu artinya Hamas pun selalu mengedepankan kepentingan  semua pihak. Sekarang juga sudah konsolidasi dengan Fatah. Tapi Israel  tidak pernah membacanya begitu. Ya, mencari gara-gara terus. Padahal  Palestina sudah sangat moderat,&amp;rdquo; tegasnya.
Fakta lain, Jafar melihat, Palestina pun sudah banyak mengalah dari  Israel. Secara geografis, bisa dilihat betapa permukiman ilegal yang  dibangun Netanyahu cs terus menyudutkan Palestina. Selama 50 tahun,  Palestina memperjuangkan hak-hak dan kemerdekaannya di meja perundingan,  tetapi setiap kesepakatan selalu dilanggar Israel.
Baca juga: PBNU Minta Pemerintah Konsolidasikan Anggota PBB Bersikap Tegas soal Kekejaman Israel terhadap Palestina
Tidak dapat dipungkiri, nilai historis dan religi Masjid Al Aqsa  sangat tinggi bagi kedua pihak. Jafar menjelaskan, perang yang  berlangsung di Yerusalem itu perang mental, dengan Kompleks Masjid Al  Aqsa sebagai target terakhir Israel.
&amp;ldquo;Jika mereka berhasil  menguasai kompleks ini, maka secara simbolik  bagi mereka itu adalah kemenangan politik. Sebaliknya, oleh Palestina  kalah secara politik,&amp;rdquo; pungkasnya.</content:encoded></item></channel></rss>
