<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Mengungkap Misteri Pembangunan Situs Prasejarah Stonehenge</title><description>Seiring arkeolog mempelajari Stonehenge, beragam misteri menyeruak, tapi sebuah kisah yang logis perlahan muncul.</description><link>https://news.okezone.com/read/2017/08/08/18/1751557/mengungkap-misteri-pembangunan-situs-prasejarah-stonehenge</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2017/08/08/18/1751557/mengungkap-misteri-pembangunan-situs-prasejarah-stonehenge"/><item><title>Mengungkap Misteri Pembangunan Situs Prasejarah Stonehenge</title><link>https://news.okezone.com/read/2017/08/08/18/1751557/mengungkap-misteri-pembangunan-situs-prasejarah-stonehenge</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2017/08/08/18/1751557/mengungkap-misteri-pembangunan-situs-prasejarah-stonehenge</guid><pubDate>Selasa 08 Agustus 2017 00:12 WIB</pubDate><dc:creator></dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2017/08/08/18/1751557/mengungkap-misteri-pembangunan-situs-prasejarah-stonehenge-fMRZd9AWrm.jpg" expression="full" type="image/jpeg">foto: english-heritage.org.uk</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2017/08/08/18/1751557/mengungkap-misteri-pembangunan-situs-prasejarah-stonehenge-fMRZd9AWrm.jpg</image><title>foto: english-heritage.org.uk</title></images><description>SEIRING penelitian para arkeolog tentang Stonehenge, beragam misteri muncul. Tapi satu kisah yang masuk akal perlahan mencuat.
Stonehenge merupakan atraksi turisme di Inggris yang paling sering dikunjungi wisatawan dan salah satu peninggalan masa lalu yang paling misterius. Turis datang dari seluruh penjuru dunia untuk memandangi pilar-pilar batu ikonik itu, lalu mengajukan pertanyaan: mengapa dan bagaimana batu-batu itu menjadi sedemikian rupa.
Situs wisata itu mungkin mudah dikenali, tapi ada hal lain dari apa yang dapat ditangkap mata. Seiring arkeolog mempelajari Stonehenge, beragam misteri menyeruak, tapi sebuah kisah yang logis perlahan muncul.
Para peneliti kini tidak hanya mendalami Stonehenge sebagai situs tunggal, tapi juga area yang melingkupi monumen itu. Mereka berharap mendapatkan petunjuk dari bentang alam di sekitar situs prasejarah tersebut.
Pemetaan bawah tanah dan eskavasi menyingkap fakta bahwa Stonehenge pernah menjadi bagian dari jejaring yang rumit: gundukan makam purba, pemukiman yang tak teridentifikasi, jalur kirab dan bahkan kuburan berhias emas.
Temuan itu menggambarkan situasi yang lebih misterius, serta mengelaborasi era neolitikum dan zaman perunggu, dibandingkan yang selama ini diperkirakan.
Proyek yang meneliti Stonehenge secara menyeluruh adalah Proyek Lanskap Tersembunyi Stonehenge, digelar dari 2010 hingga 2014. Radar bawah tanah dan teknik pemetaan magnetik mengungkap, Stonehenge terletak di tengah kompleks seluas 12 kilometer persegi.
Proyek tersebut disorot banyak media massa pada 2015. Ketika itu para peneliti mengumumkan temuan mereka di sekitar Durrington Walls, sebuah lingkaran bebatuan besar berdiameter 500 meter. Temuan itu mereka prediksi dapat mengungkap 'Superhenge'.
Namun kehebohan media massa tidak berlangsung lama. Saat para ilmuwan mengekskavasi situs itu, mereka tak menemukan batu apapun. Sebaliknya, mereka mendapati fakta bahwa pepohonan pernah tumbuh di kawasan tersebut.
Setelah fosil pohon-pohon itu dibersihkan, para peneliti memasukkan kapur ke lubang tersebut, lalu menguburnya agar membentuk setumpuk batu. Merujuk pada pemindaian radar, celah di antara kapur-kapur itu memang terlihat seperti bebatuan.
Saat ini Durrington Walls merupakan sebidang lahan yang dikelilingi dataran lebih tinggi yang menjorok ke parit-parit buatan.
Di luar target yang meleset, pemimpin Proyek Lanskap Tersembunyi Stonehenge, Vincent Gaffney, menyatakan timnya telah menemukan ratusan petunjuk dan situs yang belum pernah terungkap sebelumnya.
&quot;Berdasarkan survei ini, kami akhirnya tahu lokasi sisa-sisa zaman prasejarah ini, tapi juga tempat-tempat yang tak berkaitan dengannya,&quot; ujar Gaffney, seorang arkeolog dari Universitas Bradfor.Gaffney menyebut penyelidikan semacam ini vital karena &quot;memberikan  ruang investigasi kepada para arkeolog, tak hanya terhadap pusat monumen  prasejerah yang telah diketahui publik, tapi kawasan-kawasan lainnya.  Penelitian ini membebaskan kami menginterpretasikan petunjuk melalui  pendekatan yang rumit.
&quot;Apa yang telah terungkap dalam penelitian ini merupakan fase penting Durrington Walls yang sebelumnya tak diketahui.
Di antara perkampungan neolitik dan benteng raksasa terdapat pilar  lingkaran yang tingginya sekitar empat sampai enam meter, jumlahnya  paling sedikit 200 atau setidaknya 300 buah.
&quot;Temuan baru ini pasti akan terlewatkan tanpa penelitian ini.&quot;
Penanda  berupa bebatuan modern ditancapkan di sejumlah titik di mana  pilar-pilar Woodhenge, sebuah monumen prasejarah lain di lokasi itu,  seharusnya berada.
Penemuan monumen prasejarah lain di area tersebut mengubah cara para arkeolog melihat fase perubahan dan sejarah kawasan itu.
&quot;Secara bertahap, saya menyarankan kita mulai melihat mozaik dari  area yang kosong dan tugu-tugu yang ada, selagi menganjurkan perpindahan  yang berarakan,&quot; kata Gaffney.
Dalam kata lain, bentang alam itu dulu biasa digunakan untuk prosesi  keagamaan yang berhubungan dengan sejumlah tugu di tempat tersebut.
Mike Parker Pearson dari Institut Arkeologi University College  London, yang memimpin Proyek Stonehenge Riverside dari 2003 hingga 2009,  menilai penempatan pilar-pilar batu itu hanya sementara atau dapat  dibongkar sewaktu-waktu.
&quot;Batu-batu itu mungkin hanya didirikan untuk beberapa bulan sebelum digantikan tumpukan batu yang melingkar dan parit,&quot; ujarnya.
&quot;Tujuan mereka sepertinya membuat garis lingkaran imajiner di  perkampungan itu, yang sekarang telah ditinggalkan. Jadi mungkin  pilar-pilar itu merupakan tugu peringatan bagi orang-orang yang tinggal  di sini selama membangun Stonehenge.&quot;
Apapun kegunaan monumen  prasejarah itu, Stonehenge jelas bukan satu-satunya tugu di bentang alam  tersebut. Memahami fungsi Stonehenge tergantung pada pemahaman terhadap  benda-benda lain di sekitarnya.
Proyek Stonehenge Rverside menemukan petunjuk bahwa Stonehenge  dibangun dalam dua fase berbeda. Yang pertama, terdiri dari selokan,  dataran yang menjorok ke sungai, dan deretan bebatuan biru yang  membentuk bulatan, dibangun 500 tahun lebih awal dari yang diperkirakan  peneliti. Sementara itu, batu-batu besar melingkar yang ikonik dibangun  500 tahun sesudahnya.
Stonehenge bukanlah satu-satunya situs  prasejarah di kawasan itu. Adapun, kawasan itu ditinggali setidaknya  9,000 tahun lalu, penanda bahwa area itu telah dimanfaatkan sebelum  Stonehenge dibangun.
Tiga puluh kilometer dari area itu berdiri tugu purbakala yang  tidak begitu dikenal namun memliki kegunaan serupa Stonehenge, yakni  Avebury, situs batu melingkar terbesar di Eropa.
Jangkauan zaman neolitik di area Avebury lebih jauh dibandingkan  kawasan lainnya, antara lain sampai ke Wales, di mana masyarakat Britons  kuno mendapatkan bebatuan biru sebagai material utama lingkaran dalam  Stonehenge.
Di sisi lain, Parker Pearson menyebut batu-batu besar  Stonehenge didatangkan dari area Avebury. Ini menandakan bentang alam  dari zaman neolitik tersebut saling berhubungan&amp;mdash;Plateau Salisbury,  Avebury, Bukit Preseli di Wales, dan kawasan lain yang memiliki banyak  tugu prasejarah.
Parker menilai, batu-batu biru dari Wales adalah batu pertama yang  diletakkan di Stonehenge. Asal-muasal monumen itu sangat penting  diketahui.
Batu-batu itu disebut sebagai simbol nenek moyang masyarakat Briton  barat. Parker berkata, &quot;membawa batu-batu itu ke Plateau Salisbury  merupakan medium pemersatu dua masyarakat neolitik di selatan Inggris.&quot;
Kini, Bukit Preseli terlihat berbintik karena keberadaan dolmen atau  meja batu datar yang ditopang tiang batu. &quot;Massa jenis dolmen-dolmen itu  menunjukkan kawasan itu merupakan area vital, baik secara politik dan  religius, 700 tahun sebelum Stonehenge dibangun,&quot; kata Parker.
Pernyataan Parker itu secara tidak langsung memunculkan probabilitas  Bukti Preseli sebagai daerah unggul di seantero Inggris barat pada tahun  3000 sebelum masehi.Saatnya bertanya
Meskipun kita setuju tentang teori yang menyebut pengangkutan batu-batu dari Wales itu simbolik dan politis, teori itu menghadirkan misteri lain, yaitu tentang cara masyarakat prasejarah di Briton memindahkan batu-batu besar tersebut.
Sejumlah peneliti menyebut mereka sama sekali tak mengangkut batu-batu itu, melainkan gletser atau bongkahan es yang terbentuk dari endapan salju. Namun penemuan dua bongkah batu tambang di Preseli mengakhiri hampir seluruh perdebatan itu.
Ekskavasi di Craig Rhos-y-felin mengungkap bahwa bebatuan biru ditambang dan diangkut menuju Stonehenge.
Peneliti juga telah bereksperimen tentang cara memindahkan batu-batu besar itu sejauh 260 kilometer dari Wales. Merujuk Parker Pearson, mereka mendapati fakta bahwa mengangkut benda megalitikum seperti bebatuan biru yang beratnya rata-rata dua ton, sebenarnya tidak sulit, bahkan bisa hanya dengan meletakkannya di atas kereta pengeret.
Pada temuan baru lainnya, arkeolog menemukan sisa kremasi yang dikubur di Stonehenge. Ekskavasi yang dilakukan proyek Stonehenge Riverside tahun 2008 menemukan kembali sekitar 58 pemakaman, yang terdiri dari setidaknya sembilan laki-laki dan 14 perempuan.
Merujuk pandangan bahwa orang yang dikuburkan di Stonehenge memiliki status sosial yang tinggi, temuan itu memantik pertanyaan tentang peran perempuan pada era neolitik.
&quot;Kerap kali muncul hal baru dari Stonehenge, tapi saya tetap saja terkejut kita terus menemukan banyak hal, bahkan di area yang sudah dipelajari secara intensif selama bertahun-tahun,&quot; kata Gaffney.
Temuan terakhir dari Durrington menunjukkan, teknologi terkini tak hanya mampu menemukan situs baru, tapi juga mengubah cara kita memahami situs prasejarah tersebut.
&quot;Temuan itu tidak cuma menegaskan keunikan Stonehenge, tapi juga betapa pentingnya bentang alam di sekitar tugu prasejarah tersebut, dan kita baru saja mulai memahami cara area itu berkembang dan arti Stonehenge bagi orang-orang yang membangunnya.&quot;
Meski demikian, tak peduli berapa temuan yang muncul, Stonehenge sepertinya akan tetap melemparkan beragam pertanyaan yang patut direnungkan para peneliti dan media massa. Masyarakat neolitik ini memiliki keterampilan dan ambisi yang besar.
Tidak mudah bagi kita yang hidup serba instan di era modern ini untuk memahami monumen besar yang didirikan secara sempurna dalam beberapa abad itu.</description><content:encoded>SEIRING penelitian para arkeolog tentang Stonehenge, beragam misteri muncul. Tapi satu kisah yang masuk akal perlahan mencuat.
Stonehenge merupakan atraksi turisme di Inggris yang paling sering dikunjungi wisatawan dan salah satu peninggalan masa lalu yang paling misterius. Turis datang dari seluruh penjuru dunia untuk memandangi pilar-pilar batu ikonik itu, lalu mengajukan pertanyaan: mengapa dan bagaimana batu-batu itu menjadi sedemikian rupa.
Situs wisata itu mungkin mudah dikenali, tapi ada hal lain dari apa yang dapat ditangkap mata. Seiring arkeolog mempelajari Stonehenge, beragam misteri menyeruak, tapi sebuah kisah yang logis perlahan muncul.
Para peneliti kini tidak hanya mendalami Stonehenge sebagai situs tunggal, tapi juga area yang melingkupi monumen itu. Mereka berharap mendapatkan petunjuk dari bentang alam di sekitar situs prasejarah tersebut.
Pemetaan bawah tanah dan eskavasi menyingkap fakta bahwa Stonehenge pernah menjadi bagian dari jejaring yang rumit: gundukan makam purba, pemukiman yang tak teridentifikasi, jalur kirab dan bahkan kuburan berhias emas.
Temuan itu menggambarkan situasi yang lebih misterius, serta mengelaborasi era neolitikum dan zaman perunggu, dibandingkan yang selama ini diperkirakan.
Proyek yang meneliti Stonehenge secara menyeluruh adalah Proyek Lanskap Tersembunyi Stonehenge, digelar dari 2010 hingga 2014. Radar bawah tanah dan teknik pemetaan magnetik mengungkap, Stonehenge terletak di tengah kompleks seluas 12 kilometer persegi.
Proyek tersebut disorot banyak media massa pada 2015. Ketika itu para peneliti mengumumkan temuan mereka di sekitar Durrington Walls, sebuah lingkaran bebatuan besar berdiameter 500 meter. Temuan itu mereka prediksi dapat mengungkap 'Superhenge'.
Namun kehebohan media massa tidak berlangsung lama. Saat para ilmuwan mengekskavasi situs itu, mereka tak menemukan batu apapun. Sebaliknya, mereka mendapati fakta bahwa pepohonan pernah tumbuh di kawasan tersebut.
Setelah fosil pohon-pohon itu dibersihkan, para peneliti memasukkan kapur ke lubang tersebut, lalu menguburnya agar membentuk setumpuk batu. Merujuk pada pemindaian radar, celah di antara kapur-kapur itu memang terlihat seperti bebatuan.
Saat ini Durrington Walls merupakan sebidang lahan yang dikelilingi dataran lebih tinggi yang menjorok ke parit-parit buatan.
Di luar target yang meleset, pemimpin Proyek Lanskap Tersembunyi Stonehenge, Vincent Gaffney, menyatakan timnya telah menemukan ratusan petunjuk dan situs yang belum pernah terungkap sebelumnya.
&quot;Berdasarkan survei ini, kami akhirnya tahu lokasi sisa-sisa zaman prasejarah ini, tapi juga tempat-tempat yang tak berkaitan dengannya,&quot; ujar Gaffney, seorang arkeolog dari Universitas Bradfor.Gaffney menyebut penyelidikan semacam ini vital karena &quot;memberikan  ruang investigasi kepada para arkeolog, tak hanya terhadap pusat monumen  prasejerah yang telah diketahui publik, tapi kawasan-kawasan lainnya.  Penelitian ini membebaskan kami menginterpretasikan petunjuk melalui  pendekatan yang rumit.
&quot;Apa yang telah terungkap dalam penelitian ini merupakan fase penting Durrington Walls yang sebelumnya tak diketahui.
Di antara perkampungan neolitik dan benteng raksasa terdapat pilar  lingkaran yang tingginya sekitar empat sampai enam meter, jumlahnya  paling sedikit 200 atau setidaknya 300 buah.
&quot;Temuan baru ini pasti akan terlewatkan tanpa penelitian ini.&quot;
Penanda  berupa bebatuan modern ditancapkan di sejumlah titik di mana  pilar-pilar Woodhenge, sebuah monumen prasejarah lain di lokasi itu,  seharusnya berada.
Penemuan monumen prasejarah lain di area tersebut mengubah cara para arkeolog melihat fase perubahan dan sejarah kawasan itu.
&quot;Secara bertahap, saya menyarankan kita mulai melihat mozaik dari  area yang kosong dan tugu-tugu yang ada, selagi menganjurkan perpindahan  yang berarakan,&quot; kata Gaffney.
Dalam kata lain, bentang alam itu dulu biasa digunakan untuk prosesi  keagamaan yang berhubungan dengan sejumlah tugu di tempat tersebut.
Mike Parker Pearson dari Institut Arkeologi University College  London, yang memimpin Proyek Stonehenge Riverside dari 2003 hingga 2009,  menilai penempatan pilar-pilar batu itu hanya sementara atau dapat  dibongkar sewaktu-waktu.
&quot;Batu-batu itu mungkin hanya didirikan untuk beberapa bulan sebelum digantikan tumpukan batu yang melingkar dan parit,&quot; ujarnya.
&quot;Tujuan mereka sepertinya membuat garis lingkaran imajiner di  perkampungan itu, yang sekarang telah ditinggalkan. Jadi mungkin  pilar-pilar itu merupakan tugu peringatan bagi orang-orang yang tinggal  di sini selama membangun Stonehenge.&quot;
Apapun kegunaan monumen  prasejarah itu, Stonehenge jelas bukan satu-satunya tugu di bentang alam  tersebut. Memahami fungsi Stonehenge tergantung pada pemahaman terhadap  benda-benda lain di sekitarnya.
Proyek Stonehenge Rverside menemukan petunjuk bahwa Stonehenge  dibangun dalam dua fase berbeda. Yang pertama, terdiri dari selokan,  dataran yang menjorok ke sungai, dan deretan bebatuan biru yang  membentuk bulatan, dibangun 500 tahun lebih awal dari yang diperkirakan  peneliti. Sementara itu, batu-batu besar melingkar yang ikonik dibangun  500 tahun sesudahnya.
Stonehenge bukanlah satu-satunya situs  prasejarah di kawasan itu. Adapun, kawasan itu ditinggali setidaknya  9,000 tahun lalu, penanda bahwa area itu telah dimanfaatkan sebelum  Stonehenge dibangun.
Tiga puluh kilometer dari area itu berdiri tugu purbakala yang  tidak begitu dikenal namun memliki kegunaan serupa Stonehenge, yakni  Avebury, situs batu melingkar terbesar di Eropa.
Jangkauan zaman neolitik di area Avebury lebih jauh dibandingkan  kawasan lainnya, antara lain sampai ke Wales, di mana masyarakat Britons  kuno mendapatkan bebatuan biru sebagai material utama lingkaran dalam  Stonehenge.
Di sisi lain, Parker Pearson menyebut batu-batu besar  Stonehenge didatangkan dari area Avebury. Ini menandakan bentang alam  dari zaman neolitik tersebut saling berhubungan&amp;mdash;Plateau Salisbury,  Avebury, Bukit Preseli di Wales, dan kawasan lain yang memiliki banyak  tugu prasejarah.
Parker menilai, batu-batu biru dari Wales adalah batu pertama yang  diletakkan di Stonehenge. Asal-muasal monumen itu sangat penting  diketahui.
Batu-batu itu disebut sebagai simbol nenek moyang masyarakat Briton  barat. Parker berkata, &quot;membawa batu-batu itu ke Plateau Salisbury  merupakan medium pemersatu dua masyarakat neolitik di selatan Inggris.&quot;
Kini, Bukit Preseli terlihat berbintik karena keberadaan dolmen atau  meja batu datar yang ditopang tiang batu. &quot;Massa jenis dolmen-dolmen itu  menunjukkan kawasan itu merupakan area vital, baik secara politik dan  religius, 700 tahun sebelum Stonehenge dibangun,&quot; kata Parker.
Pernyataan Parker itu secara tidak langsung memunculkan probabilitas  Bukti Preseli sebagai daerah unggul di seantero Inggris barat pada tahun  3000 sebelum masehi.Saatnya bertanya
Meskipun kita setuju tentang teori yang menyebut pengangkutan batu-batu dari Wales itu simbolik dan politis, teori itu menghadirkan misteri lain, yaitu tentang cara masyarakat prasejarah di Briton memindahkan batu-batu besar tersebut.
Sejumlah peneliti menyebut mereka sama sekali tak mengangkut batu-batu itu, melainkan gletser atau bongkahan es yang terbentuk dari endapan salju. Namun penemuan dua bongkah batu tambang di Preseli mengakhiri hampir seluruh perdebatan itu.
Ekskavasi di Craig Rhos-y-felin mengungkap bahwa bebatuan biru ditambang dan diangkut menuju Stonehenge.
Peneliti juga telah bereksperimen tentang cara memindahkan batu-batu besar itu sejauh 260 kilometer dari Wales. Merujuk Parker Pearson, mereka mendapati fakta bahwa mengangkut benda megalitikum seperti bebatuan biru yang beratnya rata-rata dua ton, sebenarnya tidak sulit, bahkan bisa hanya dengan meletakkannya di atas kereta pengeret.
Pada temuan baru lainnya, arkeolog menemukan sisa kremasi yang dikubur di Stonehenge. Ekskavasi yang dilakukan proyek Stonehenge Riverside tahun 2008 menemukan kembali sekitar 58 pemakaman, yang terdiri dari setidaknya sembilan laki-laki dan 14 perempuan.
Merujuk pandangan bahwa orang yang dikuburkan di Stonehenge memiliki status sosial yang tinggi, temuan itu memantik pertanyaan tentang peran perempuan pada era neolitik.
&quot;Kerap kali muncul hal baru dari Stonehenge, tapi saya tetap saja terkejut kita terus menemukan banyak hal, bahkan di area yang sudah dipelajari secara intensif selama bertahun-tahun,&quot; kata Gaffney.
Temuan terakhir dari Durrington menunjukkan, teknologi terkini tak hanya mampu menemukan situs baru, tapi juga mengubah cara kita memahami situs prasejarah tersebut.
&quot;Temuan itu tidak cuma menegaskan keunikan Stonehenge, tapi juga betapa pentingnya bentang alam di sekitar tugu prasejarah tersebut, dan kita baru saja mulai memahami cara area itu berkembang dan arti Stonehenge bagi orang-orang yang membangunnya.&quot;
Meski demikian, tak peduli berapa temuan yang muncul, Stonehenge sepertinya akan tetap melemparkan beragam pertanyaan yang patut direnungkan para peneliti dan media massa. Masyarakat neolitik ini memiliki keterampilan dan ambisi yang besar.
Tidak mudah bagi kita yang hidup serba instan di era modern ini untuk memahami monumen besar yang didirikan secara sempurna dalam beberapa abad itu.</content:encoded></item></channel></rss>
