<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>'Selamat Jalan Suamiku', Kisah Pilu Perjuangan Melawan Kanker Lidah yang Semula Disangka Sariawan</title><description>Kisah pasangan ini berjuang melawan penyakit kanker lidah jadi peringatan ke banyak orang tentang pentingnya menjaga kesehatan.</description><link>https://news.okezone.com/read/2017/08/08/525/1751769/selamat-jalan-suamiku-kisah-pilu-perjuangan-melawan-kanker-lidah-yang-semula-disangka-sariawan</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2017/08/08/525/1751769/selamat-jalan-suamiku-kisah-pilu-perjuangan-melawan-kanker-lidah-yang-semula-disangka-sariawan"/><item><title>'Selamat Jalan Suamiku', Kisah Pilu Perjuangan Melawan Kanker Lidah yang Semula Disangka Sariawan</title><link>https://news.okezone.com/read/2017/08/08/525/1751769/selamat-jalan-suamiku-kisah-pilu-perjuangan-melawan-kanker-lidah-yang-semula-disangka-sariawan</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2017/08/08/525/1751769/selamat-jalan-suamiku-kisah-pilu-perjuangan-melawan-kanker-lidah-yang-semula-disangka-sariawan</guid><pubDate>Selasa 08 Agustus 2017 12:57 WIB</pubDate><dc:creator>Qur'anul Hidayat</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2017/08/08/525/1751769/selamat-jalan-suamiku-kisah-pilu-perjuangan-melawan-kanker-lidah-yang-semula-disangka-sariawan-d6cetZR8Ww.jpg" expression="full" type="image/jpeg">(Foto: Diambil dari Facebook)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2017/08/08/525/1751769/selamat-jalan-suamiku-kisah-pilu-perjuangan-melawan-kanker-lidah-yang-semula-disangka-sariawan-d6cetZR8Ww.jpg</image><title>(Foto: Diambil dari Facebook)</title></images><description>JAKARTA - Kisah pasangan ini berjuang melawan penyakit kanker lidah jadi peringatan ke banyak orang tentang pentingnya menjaga kesehatan. Rezy Selvia Dewi kehilangan suaminya karena kanker stadium 4 yang mendera. Awalnya penyakit itu diduga hanya sariawan.Kisah ini sudah dibagikan 191.372 kali dan dikomentari sebanyak 92 ribu kali. Netizen tak kuasa menahan haru mendengar kisah keluarga kecil yang berjuang sekuat tenaga untuk sembuh.Simak ceritanya berikut ini, seperti dikutip Okezone, Selasa (8/8/2017).
&quot;SELAMAT JALAN SUAMIKU&quot;
 
&quot;Mii, abbi sariawan nih lg g enak makan,,&quot; sepulang kerja, suamiku  menolak makan masakanku saat itu, padahal aku memasak ayam goreng kremes  kesukaannya,, &quot;besok2 masak sayur az ya mi &quot; aku hanya mengangguk tanda  meng iyakan&quot; ..
 
Setiap hari suami selalu mengeluhkan sariawan di  lidah nya yang g sembuh2,, sudah 2 minggu lebih,, tapi aku tak terlalu  menghiraukan keluhannya, aku pikir itu hanya sariawan biasa seperti pada  umumnya.
 
&quot;Mii, td di kantor ada medical chekup,, ini hasilnya.. &quot;  sambil menyodorkan selembar kertas hasil pemeriksaan,, aku ingat betul  saat itu bulan april 2016. &quot;kesehatan abbi g ada masalah mi, cuman kata  dokter, abbi kurang nutrisi, abbi kurang gizi nih g diperhatiin ummi,  ummi nya sibuk terus sama zuma, hehe&quot; canda suamiku saat itu. memang  anakku baru usia 1 tahun, sebagai ibu, aku berasa jd orang yg paling  repot karena anakku yang mulai aktif.
(Baca juga: Suara Melengking Duet Prajurit TNI saat Bernyanyi Pukau Netizen, Tonton Videonya!)
 
Aku memang terlalu sibuk,,  sampai tak memperhatikan suami, aku diam saja ketika suami merokok  terus2an, aku tak pernah marah ketika suami menolak sarapan pagi yg  sudah disiapkan, aku tak pernah marah ketika suami begadang terus2an  karena ngobrol di pos ronda dengan bapak2 komplek,, dan akupun tak  pernah tau, makanan apa yang dia makan saat di kantor,, makanan sehat  kah? Atau bukan... ya.. itulah kesalahan terbesarku...
 
&quot;Abbi olahraga gih biar sehat,, jalan2 keliling komplek,,&quot;  &quot;Enggak ah mi, abbi lg g enak badan, kepala sakit&quot; saat itu memang  weekend, dan suami lebih memilih tiduran seharian sambil nonton tv,,&quot;huh  pemalas banget nih suami, disuruh olahraga juga susah&quot; Ucapku dalam hati.
 
3 minggu berselang tapi sariawan di lidah belum juga hilang. Malah  katanya jadi ada sakit di kepala dan telinga. &amp;ldquo;abbi..besok periksa ke  dokter ya, biar diobatin sariawannya..suamipun mengangguk..
 
Keesokan harinya, suami memeriksakan ke RS JAKARTA, RS yang tempatnya paling dekat dengan kantornya.  Saat itu dokter bilang suamiku hanya kurang makan sayur dan buah,  dokter hanya memberi salep untuk luka sariawan di lidahnya. &quot;Kalo 2  minggu belum sembuh, periksa lagi ya&quot; kata dokternya. 2 minggu  kemudian suami periksa lagi, karena sariawan masih menetap, &quot;dokternya  hanya menambahkan antibiotik. Tapi sampai obatnya habis belum juga ada  tanda-tanda kesembuhan.
(Baca juga: Heboh Emak-Emak Berantem di Jalan, Pengguna Motor: Ini Daerah Saya!)
 
Kembalilah lagi ke RS untuk memeriksakan, &quot;mungkin bapak ada masalah di giginya, saya rujuk ke dr bedah mulut ya&quot;  Setelah diperiksa dr bedah mulut, dokter menyarankan di rontgen gigi,  saat itu hasilnya memang terlihat ada gigi bungsu yang posisinya miring.  &quot;Ohh, sariawan bapak karena ada gigi bungsu yg mau tumbuh, tp posisinya  abnormal, mungkin itu penyebab bapak sariawan dan sakit kepala terus  menerus, giginya harus di oprasi, harus di ambil ya pak..
 
Bulan  juni 2016, saat awal bulan ramadhan, suami tak puasa karena akan di  operasi gigi, di cabutlah gigi yang selama ini mengganggu,, seminggu  berlalu, sariawan masih menetap.. sakit di kepala makin menjadi. &quot; mi,  abbi sakit nelen, sakit kepala makin sering, kenapa ya padahal giginya  udah di cabut, terus lidah abbi jd g bisa digerakin ke kiri&quot; &quot;besok  periksa ke dokter lagi ya bii, sekalian kontrol gigi&quot;&quot;Giginya udah g ada masalah ya pak, kalo keluhan bapak sakit kepala,  baiknya bapa periksakan ke dr syaraf ya&quot; kata dr bedah mulut saat itu,,  diperiksalah suami ke dr syaraf, hanya diberi obat anti sakit..  dokterpun menyarankan fisioterapi lidah karena lidah yang tak bisa di  gerakan ke kiri, 6 kali pertemuan fisioterafi dan tak ada perubahan..  Dokter menyarankan pemeriksaan MRI, perkiraan pemeriksaan MRI saat itu sekitar 5-6 juta dan tak bisa dicover asuransi  &quot;periksa MRI nya nanti saja ya mii, bentar lagi kan kita mau mudik, lumayan uangnya buat bekal mudik ke tasik&quot;.
 
Hari idul fitri... suami lebih memilih tiduran di kamar dan tak ikut  bersilaturahmi ke rumah sanak saudara, sakit di kepala semakin sering,,  hari raya hanya dihabiskan dengan beristirahat tiduran di kamar..
 
Liburan lebaran pun telah usai, bersiaplah kita kembali ke ibukota.. &quot;Mii sebelum kita ke jakarta, ummi lepas KB nya ya, abbi pengen zuma  punya ade&quot;,,, &quot; duh bii, baru anak satu az ummi udah repot, gimana kalo  nambah&quot; .. &quot;biarin, nambah anak nambah rezeki, abbi pengen punya banyak  anak, hehehe&quot;  Kesal memang, tapi aku pun menurut, di lepas lah KB IUD yg setahun tertanam di rahimku..
(Baca juga: Maling Motor Hendak Dihajar, Warga: Jangan, Sudah Kejadian Kemarin Dibakar)
 
&quot;Mii, koq di lidah abbi jd ada benjolan, coba liat mii&quot;  Benar,, ada benjolan kecil sebesar biji jagung di lidah yang ada sariawannya, &quot;besok ke dokter lagi ya bi&quot;,,  &quot;Sejak kapan benjolannya ada pak&quot; tanya dokter. &quot;Baru 3 hari dok&quot;  &quot;Sakit gak?&quot; Sambil memencet benjolannya &quot;Enggak dok enggak sakit, tp kalo sariawannya masih sakit dok, menelan jg jd sakit,kepala juga makin sering sakit&quot; &quot;Harusnya bapak di periksa MRI biar tau sakitnya dari mana, kalo  benjolannya ini kemungkinan tumor jinak, bagaimana kalo di oprasi  benjolannya terus nanti kita periksakan hasilnya&quot; Suamiku hanya mengangguk, tanda setuju..
 
Awal agustus 2016, aku menemani suami di oprasi di RS JAKARTA,, zuma  aku titipkan pada mamahku, ketika tau kabar suami mau di oprasi, mamah  langsung berangkat ke jakarta.. Operasi berjalan lancar, 3 jam lamanya,,  &quot;Ini istrinya pak Andrie? Operasinya sudah beres, ini benjolan yg sudah  diambil mau diPA-kan dulu ya, hasilnya nanti 10 hari lagi..
 
Tanggal 13 agustus 2016, kami kembali menemui dokter, dokterpun menyampaikan hasilnya dan juga hasil PA dari laboratorium.
 
&amp;ldquo;bapak usianya berapa tahun?&amp;rdquo; &quot;28 dok&quot; &quot;Sudah punya anak?&quot; &quot;Sudah, baru usia setahun dok&quot;. Dokterpun menghela napas panjang...ada perasaan tak enak saat itu. &quot;Hasil pemeriksaannya kurang bagus, bapak positif terkena KANKER LIDAH,
 
Dek.. seolah detak jantungku berhenti &amp;ldquo;KANKER&amp;hellip;Dok?&amp;rdquo;
 
Tiba-tiba mataku jadi gelap, sebuah beban berat serasa menindih  badanku. Aku diam dan tak bisa berkata apa-apa, lama aku terdiam.
 
&amp;ldquo;Kanker..?&amp;rdquo; tanyaku,tapi kalimat itu tak mampu terucap hanya bersarang di kepalaku.  Sebuah penyakit yang selama ini hanya aku kenal lewat informasi dan  berita-berita, kini penyakit itupun menghampiri orang terdekatku orang  yang paling aku sayangi. Penyakit yang menakutkan itu menyerang suamiku.
 
Kutatap wajah suamiku, suamiku hanya terdiam, pucat...
 
bapak saya sarankan berobat ke RS DHARMAIS, karena disana rumah sakit  khusus menangani penyakit seperti bapak, harus cepat ya pak, sebelum  kankernya menyebar kemana2.
 
Segera kuambil surat pengantar dokter dan menuju RS DHARMAIS. Sungguh tak pernah terpikirkan sedikitpun sebelumnya, kini kami berada  dalam deretan orang-orang penderita kanker di ruang tunggu pasien. Aroma  kecemasan bahkan keputusasaan tergambar di wajah mereka. Sebenarnya ini  juga saya rasakan, tapi saya harus menyembunyikan raut ini di hadapan  suamiku. Aku harus tetap menyuguhkan energi penyemangat padanya.
 
Serangkaian pemeriksaan kami lakukan, lab, usg, rontgen, ct scan, bone scan. &quot;Dari hasil pemeriksaan, 3/4 lidah bapak sudah terkena kanker, bapak harus di oprasi di angkat lidah&quot; kata dokter nya..
 
Ya Allah&amp;hellip; apa lagi ini? Diangkat lidah? Kenapa harus suamiku yang  mengalaminya? Kami pun pulang dengan perasaan yang tak tentu, nanti kita  periksa ke RS SILOAM ya bii, kita cari second opinion&quot;
 
Esoknya  kita periksa ke RS SILOAM,, dokter melakukan endoskopi, memasukan kabel  kecil yg ada kameranya melewati lubang hidungnya,, terlihat jelas kamera  menangkap gambar di monitor. &quot;Wahh, kanker nya sudah menyebar ke tenggorokan pak&quot; Memang terlihat banyak benjolan merah di dekat pita suara.
 
&quot;Kalo boleh tau sudah stadium berapa dok?&quot; &quot;Kalo ini sih sudah stadium 4&quot; &quot;Terus gimana dok? Tanyaku lirih,,  &amp;ldquo;Nanti bapak harus menjalani pengobatan kemoterapi 3 kali, langsung radiasi selama 30 kali.&amp;rdquo;
 
Wajah suamiku putih pucat, dia hanya terdiam, terbayang beratnya derita  dan kelelahan yang harus dialami suamiku. Belum lagi dengan kombinasi  pengobatan kemoterapy yang melemahkan fisik. Keluar dari ruang dokter  seolah semuanya jadi gelap, rasanya aku tak kuat menahan segala beban  ini. Segera aku beri kabar keluarga dan teman-teman dekatku, aku  kabarkan keadaan suamiku dan kumintakan do&amp;rsquo;a dari mereka. Tak terasa  bulir-bulir bening air mata bermunculan disudut mataku.
 
dengan  langkah lemas tak bertenaga seolah aku melayang, tulang-tulang terasa  tak mampu menyangga badanku yang kecil ini, aku melihat anakku yang  masih berusia 1 tahun, dia tersenyum ceria, ia tak mengerti beban berat  yang menimpa orangtuanya, akupun memeluknya erat sambil menangis  sejadinya.
 
Ketika kami di rumah, kami minta pendapat dari pihak  keluarga tentang pengobatan yang akan kami lakukan. Dengan berbagai  pertimbangan dan alasan pihak keluarga menyarankan agar kami tidak  menempuh jalan kemo dan radiasi. Kami disarankan untuk menjalani  pengobatan dengan cara alternatif dan pengobatan herbal.
 
Awal  september 2016 kami berencana pulang kampung ke tasik, dikarenakan  kondisi suami yang tak bisa lagi bekerja, untungnya dari pihak kantor  memberi cuti izin sakit sampai sembuh.
 
Akhirnya sejak saat itu  kami melakukan ikhtiar pegobatan dengan cara alternatif dan minum  obat-obat herbal. Karena saat itu suamiku sudah susah untuk menelan maka  obat herbal yang diberikan tidak berupa kapsul, melainkan berupa  rebusan dan cairan. Setiap hari suamiku harus minum ramuan dan rebusan  obat-obat herbal. Segala macam makanan buah2an dan sayuran dijus dan di  saring, Tapi aku lihat ia dengan telaten dan sabar rutin minum semuanya.
 &quot;Bii, kayaknya ummi udah lama g haid, &quot; suamiku hanya tersenyum, coba periksain mii, tespek&quot; katanya.. Aku terlalu sibuk mengurus suamiku yang sedang sakit, sampai tak sadar, 2 bulan lamanya aku tak datang bulan&quot; &quot;Positif bii...&quot; &quot;Alhamdulillah, zuma punya ade, mudah2an cwe ya miii, mudah2an pas bayinya lahir, abbi udah sehat,&quot; &quot;Abbi pasti sehat sayang...&quot;Terlihat senyumnya yang mengembang dan bersemangat. Semangatnya  untuk sembuh begitu besar. Doa pun tiada henti kupanjatkan siang dan  malam. Dan malam-malamku selalu ku habiskan dengan bersujud padaNya. Aku  mulai rajin mencari semua informasi yang berhubungan dengan kanker  lidah, mulai dari makanan, cara pengobatan, bahkan alamat klinik  pengobatan alternatif. Semua informasi aku cari melalui internet, koran  dan dari rekan-rekan. 
5 bulan pengobatan, tapi Allah sepertinya  belum memberi jalan kesembuhan dengan cara ini, akhirnya obat herbal aku  tinggalkan. Dan akupun mulai ragu, kondisi suami makin memburuk,  kamipun mulai putus asa. Aku yakinkan suamiku bahwa ini adalah memang  ujian dari Allah, &amp;ldquo;Bii.. semuanya atas kehendak Allah, bahkan jauh  sebelum kita lahir sudah tertulis takdir ini, usia segini abbi sakit,  berobat kesana-sini itu semua sudah ada dalam catatan Allah bii. Yang  penting sekarang kita jangan lelah berikhtiar dan abbi tetap harus  semangat untuk sembuh.&amp;rdquo; Ia mengangguk perlahan. &quot;Utun lahir, abbi pasti udah sembuh kan mii? Tanya nya  &quot;Pasti bii, g ada yg g mungkin kalo Allah sudah berkehendak, utun lahir, abbi udah sehat&quot;. Ia pun tersenyum
 
Berat badan suamiku mulai turun drastis karena tak ada asupan makanan,  sebelum sakit beratnya 65 Kg kini tinggal 40 Kg. Kondisinya makin parah  dan puncaknya ketika aku lihat setiap hari suami muntah darah terus  menerus. Ia pun terlihat lemas dan sangat pucat.
 
Januari 2017, aku bawa ke dokter spesialis Onkologi yang ada di tasik. Dokter menganjurkan untuk segera dibawa ke rumah sakit karena hasil HB  cuma 5, suamiku mengalami anemia berat. Kali ini aku membawanya ke RS  Jasa Kartini tempat dokter itu praktek. 4 labu darah yang sudah masuk ke tubuh suamiku, dokter menyarankan kemoterapi&quot; &quot;Kanker itu pengobatannya 3 rangkaian bu, kemoterapy, radiasi sama  oprasi, tanpa itu kanker susah ditangani, apalagi dengan pengobatan  alternatif dan herbal yang belum jelas&quot; kata dokternya
 
&quot;Mii, abbi mau berobat medis az, mau nurut apa kata dokter, mungkin ini jalan kesembuhan abbi&quot; kata suamiku Aku tak bisa berkata2,, baiklah kalo ini sudah keinginannya, aku hanya  bisa mengiyakan, semoga Allah memberikan kesembuhan untuk suamiku dengan  pengobatan medis.
 
Hari2 aku lewati, keluar masuk rumah sakit  mengantar suami berobat, zuma aku titipkan ke rumah orangtuaku, karena  waktuku habis dengan mengurus suamiku, penat rasanya,, hari2 dihabiskan  dengan perjalanan dari rumah ke rumah sakit, rasanya melelahkan, apalagi  dengan kondisi perutku yang semakin membesar.
 
dokter mengatakan,  &amp;ldquo;kita hanya bisa memperlambat pertumbuhan kankernya bukan mengobati.&amp;rdquo;  Seolah hitungan mundur kematian itu dimulai. Aku limbung dan hampir tak  sadarkan diri, sekuat tenaga aku mencoba untuk tetap tegar &amp;ldquo;Ya Allah&amp;hellip; begitu berat cobaan ini Kau timpakan pada kami&amp;rdquo; &amp;ldquo;Ma&amp;rsquo;afkan ummi, ummi tak mampu menjagamu selama ini&amp;hellip;&quot; Serangkaian pengobatan medis dilakukan 7 kali kemotherapi, sampai kemo  ke 3, kondisi suami sempat membaik, kemo ke 4,5,6,7... selama itu  kondisi suamiku semakin menurun..
 
&amp;ldquo;Aku ingin ketenangan aku butuh  pertolonganMu ya Robb. Kutumpahkan segala permohonan ini dihadapanMu  yaa Allah. Bisa saja dokter memfonis dengan analisanya, tapi Engkaulah  yang maha kuasa atas segala sesuatunya. Engkau maha menggenggam semua  takdir, sakit ini dariMu ya Allah dan padaMU juga aku mohon obat dan  kesembuhannya.&amp;rdquo;
 
Segala ikhtiar dan do&amp;rsquo;a tiada lelah kulakukan tuk  kesembuhan suamiku. Malam-malamku kulalui dengan solat tahajud.  Kubenamkan wajahku diatas sajadah lebih dalam lagi, tiba-tiba aku merasa  tak mimiliki kekuatan apapun, aku berada dalam kepasrahan dan  penghambaan yang lemah.
 
&amp;ldquo;Robb&amp;hellip;Engkau maha mengetahui, betapa  segala ikhtiar telah kami lakukan. Tiada menyerah kami melawan penyakit  ini, kini aku serahkan segalanya padaMu, tidak ada kekuatan yang sanggup  mengalahkan kekuatannMu yaa&amp;hellip;Robb, Tunjukkan pertolonganMu, beri  kesembuhan pada suamiku Ya..Allah.&amp;rdquo;
 
Rangkaian kemoterapi sudah  beres, suamiku disarankan melakukan pengobatan lanjutan, sinar radiasi  di RS santosa bandung, saat itupun kehamilanku sudah masuk usia 9 bulan,   &quot;Bii, maaf ummi g bisa antar abbi ke bdg, abbi sama mamah az ya,  takut brojol di jalan, nanti malah repot lagi&quot;. Akhirnya suami pergi  melakukan serangkaian pemeriksaan untuk radioterapi,  6 Juni 2017,,  hari ke 11 bulan ramadhan, anak yang kedua ku lahir,, tanpa kehadiran  abbi nya,, proses melahirkan yang kedua sangat lah mudah dan cepat,  alhamdulillah Allah telah memberikan kemudahan dan kelancaran, segera  aku vidio call suamiku, dia pun kaget karena tiba2 aku memperlihatkan  bayi kecil padanya,  &quot;Ummi udah lahiran bii&quot; &quot;Abbi pulang ke tasik sekarang jg mii, pemeriksaan simulatornya udah beres abbi di jadwalin radiasi nya nanti udah lebaran&quot;  Pulang lah ia ke tasik, datang dengan raut wajah ceria, alhamdulillah perempuan, &quot;mau abbi kasih nama &quot;Zahabiya Assyifa farid&quot; Emas permata yang menyembuhkan..insya allah dengan lahirnya biya, abbi diberi kesembuhan oleh Allah.
 
25 juni 2017, saat itu hari raya idul fitri,, tiba2 suami mengeluh sakit kepala,  Dan esoknya mengeluh sulit menelan dan sesak nafas, dilarikanlah  suamiku ke RS,, dan bayi ku yg baru 2 minggu aku bawa jg, menemani abbi  nya di rawat di RS. Pihak RS sempat menolak krn aku membawa bayi, tp  karena aku tak bisa meninggalkan keduanya, akhirnya diizinkan, walaupun  dengan membuat surat pernyataan bahwa pihak RS tidak bertanggung jawab  jika terjadi sesuatu pada bayiku..
 
Saat itu suamiku masih bisa  bicara meski dengan suara kurang jelas. Karena tenggorokannya pun sudah  menyempit tersumbat kanker, ia sangat kesulitan dalam bernafas. Masuk  minumanpun kesulitan, Untuk memasukan nutrisi ke tubuhnya, dokter  menyarankan oprasi gastrostomi, oprasi pasang selang dari perutnya, dan  mengantisipasi agar tidak tersumbat saluran nafasnya, dokter menyarankan  oprasi tracheostomy  dileher suamiku. Akupun menyetujuinya meskipun aku  tak tega, tapi hanya ini cara yang bisa diambil.
 
Suamiku pasrah,  dia minta aku menemaninya terus menerus, dan aku mengerti.. aku selalu  mendampinginya. Tak pernah jauh darinya...&amp;ldquo;Sebenarnya aku tak tega  melihatmu seperti ini bii, leher di bolongin,perut juga bolong, tapi  inilah yang terbaik untukmu saat ini.&amp;rdquo;
 
Selesai oprasi, bicaranya  sudah tak bersuara lagi. Sejak saat itu praktis komunikasi kami hanya  dengan isyarat atau terkadang suamiku menulisnya di hp, mengirimkan  lewat WA,, Tentu saja hal ini terasa capek baginya. Namun sekali lagi ia  terlihat tegar tak pernah aku mendengar ia mengeluh.
 
Sepanjang proses pengobatan tak hentinya kupanjatkan do&amp;rsquo;a dan dzikir dibantu dengan beberapa anggota keluarga.  Saat itu kondisinya sudah sangat menurun, sakit kepala hebat makin  sering terjadi,, hasil pemeriksaan ct scan didapatkan, kankernya sudah  menyebar ke otak,,  &quot;Ya Allah beri kekuatan pada suamiku&amp;hellip;!&amp;rdquo; Beri kesembuhan melalui ikhtiar selama ini ya Allah..&quot;
 
Dokter yang menangani nya sudah angkat tangan, ia menyarankan suamiku  untuk secepatnya pergi ke bandung untuk melakukan tindakan radiasi, tp  karena kondisinya yang semakin menurun, rencana itu kami undur karena  menunggu kondisinya membaik dulu..
 
Namun ternyata seminggu  setelah operasi, selang di perutnya mengalami kebocoran, keluar cairan  hitam pekat dari lubang di perut bekas oprasi,, &quot;Kenapa lagi ini?...&quot; &quot;Mii abbi mau minta dirujuk az ke RSCM jakarta, disini abbi g sembuh2&quot; kata suamiku..  Saat itupun aku meminta dokter untuk membuatkan surat rujukan ke RSCM  Jakarta,, dokter mengizinkan... jam 1 tengah malam mobil ambulan  mengantar kan kami berdua menuju Jakarta, ya.. hanya aku sendiri yang  mengantar suamiku.. hari mulai terang saat kami tiba disana..
 
Serangkaian pemeriksaan dilakukan.. kondisinya semakin menurun, tapi  masih bisa diajak komunikasi,, diapun mengambil hp dan mengetik sesuatu &quot;Mii, c juve meninggal di rscm kan?&quot; &quot;Iya&quot; &quot;Terus c yana zain jg meninggal mii, nanti giliran abbi ya mii&quot; &quot;Abbi pasti sembuh sayang,&quot; &quot;Mii, kalo abbi meninggal, abbi pengen dikuburin dekat anak2&quot; &quot;Apaan sih bi, jangan ngomong yg enggak2&quot; .. Tak kama kondisinya semakin menurun, memegang hp pun ia tak mampu.. Dia hanya bisa menahan kesakitan yg dirasa,, sambil melirik sesekali ke arahku, sambil berkata,, &quot;sakit mi...&quot;  &quot;Sabar sayang.. coba abbi dzikir dalam hati&quot; ..lailahailallah...
 
Kuhampiri suamiku yang tergolek lemah. Perawat memasang semua peralatan  pada tubuh suamiku, entah alat apa saja ini. Kuusap perlahan keningnya,  dingin sekali. Tangan dan kakinyapun sangat dingin. Hingga menjelang  asar, aku tak diperbolehkan beranjak dari sampingnya, tanganku ia  genggam erat. Tak hentinya mulut ini memanjatkan doa.
 
Tekanan  darahnya sangat tinggi, nadi nya pun cepat, menunjukan angka 200 di  layar monitornya. Berkali-kali dokter menyuntikkan obat anti sakit namun  hasilnya tetap sama tak berubah, suamiku masih mengeluh kesakitan.  Dokter memanggilku, perasaanku gelisah tak menentu, campur aduk antara  cemas, bimbang dan ketakutan yang amat sangat. Dugaanku benar Dokterpun  menyerah.
 
Melihat kondisinya yang terus menurun dokter  memberitahu bahwa kondisi suamiku sudah sangat melemah, secara medis  kondisi suami sudah tidak dapat ditolong lagi, lebih baik kita do&amp;rsquo;akan  saja.&amp;rdquo; Aku benar-benar lemas mendengarnya seluruh badanku gemetar  merinding. &amp;ldquo;benarkah tak ada lagi harapan.&amp;rdquo; Tiba-tiba aku merasakan  ketakutan yang luar biasa. Aku tak mau menyerah, aku tetap membisikan ke  telinga suamiku, bahwa ia jangan menyerah, ia pasti sembuh.
 
&amp;ldquo;Aku  tak mau kehilanganmu bii.&amp;rdquo; Ku pegang kuat jemarinya, &amp;ldquo;buka matamu bii  kubisikan lembut ditelinganya. Ia hanya tersenyum lemah...
 
Pukul  16.00, aku disodori surat pernyataan,, kata dokter ini adalah Surat  persetujuan untuk tidak dilakukan tindakan apapun jika terjadi apa2 sama  suamiku. Akupun pasrah &amp;ldquo;tak sanggup rasanya hati ini kehilanganmu, aku  ingin tetap menatap wajahmu, aku ingin tetap mendampingimu meski dalam  ketidakberdayaanmu.&amp;rdquo;
 
&quot;Abbi&amp;hellip;..inilah yang terbaik yang diberikan  Allah buat kita, maafkan ummi, tak bisa menjagamu selama ini. Ummi  ikhlas abbi pergi, ummi terima semua dengan ihklas..
 
Jangan khawatir bii, ummi akan menjaga dan merawat anak-anak kita,&amp;rdquo; kubisikan lirih ditelinga suamiku.
 
Dalam setiap rangkaian doaku tak pernah aku mengucapkan kata-kata  menyerah &amp;ldquo;kalo memang hendak Engkau ambil maka mudahkan,&amp;rdquo; tak pernah aku  menyebut kata-kata itu. Aku selalu minta kesembuhan, kesembuhan karena  aku memang menginginkan suamiku benar-benar sembuh.
 
Sepertinya  kini aku harus menyerah dan pasrah &amp;ldquo;Ya.. Robb jika memang Engkau  menentukan jalan lain aku ikhlas ya Allah&amp;hellip;., mudahkan jalan suamiku  untuk menghadapmu dengan khusnul khotimah.&amp;rdquo;
 
Kubimbing suamiku menyebut kalimat &amp;ldquo;LAAILAHA ILLALLAH MUHAMMADUR ROSULULLAH.. Kuulang hingga berkali-kali.. Dua bulir bening tersembul dari sudut matanya. Aku merasakan ia sanggup mengikuti kalimat ini..
 
Pukul 16.40 ia menghembuskan nafasnya yg terakhir.. &amp;ldquo;bu, bapak sudah tidak ada.&amp;rdquo; ujar dokternya. aku tau maksudnya tapi aku  masih tak percaya. Kutengok layar monitor yang terhubung ketubuh  suamiku. Tak ada lagi yang bergerak disana.
 
kudekap tubuh lemas suamiku.. ku kecup bibirnya, dan ku usap matanya... &amp;ldquo;INNA LILLAAHI WAINNA ILAIHI ROOJIUUN.&amp;rdquo;  Aku termenung disampingnya tapi tak ada lagi air mata yang keluar.  &amp;ldquo;ummi ikhlas melepasmu bii, Allah telah memilihkan jalan terbaik buat  kita.&amp;rdquo;
 
Selamat Jalan suamiku Andrie K Farid &amp;hellip;&amp;hellip; jemput aku dan anak-anak nanti di pintu SurgaNya......</description><content:encoded>JAKARTA - Kisah pasangan ini berjuang melawan penyakit kanker lidah jadi peringatan ke banyak orang tentang pentingnya menjaga kesehatan. Rezy Selvia Dewi kehilangan suaminya karena kanker stadium 4 yang mendera. Awalnya penyakit itu diduga hanya sariawan.Kisah ini sudah dibagikan 191.372 kali dan dikomentari sebanyak 92 ribu kali. Netizen tak kuasa menahan haru mendengar kisah keluarga kecil yang berjuang sekuat tenaga untuk sembuh.Simak ceritanya berikut ini, seperti dikutip Okezone, Selasa (8/8/2017).
&quot;SELAMAT JALAN SUAMIKU&quot;
 
&quot;Mii, abbi sariawan nih lg g enak makan,,&quot; sepulang kerja, suamiku  menolak makan masakanku saat itu, padahal aku memasak ayam goreng kremes  kesukaannya,, &quot;besok2 masak sayur az ya mi &quot; aku hanya mengangguk tanda  meng iyakan&quot; ..
 
Setiap hari suami selalu mengeluhkan sariawan di  lidah nya yang g sembuh2,, sudah 2 minggu lebih,, tapi aku tak terlalu  menghiraukan keluhannya, aku pikir itu hanya sariawan biasa seperti pada  umumnya.
 
&quot;Mii, td di kantor ada medical chekup,, ini hasilnya.. &quot;  sambil menyodorkan selembar kertas hasil pemeriksaan,, aku ingat betul  saat itu bulan april 2016. &quot;kesehatan abbi g ada masalah mi, cuman kata  dokter, abbi kurang nutrisi, abbi kurang gizi nih g diperhatiin ummi,  ummi nya sibuk terus sama zuma, hehe&quot; canda suamiku saat itu. memang  anakku baru usia 1 tahun, sebagai ibu, aku berasa jd orang yg paling  repot karena anakku yang mulai aktif.
(Baca juga: Suara Melengking Duet Prajurit TNI saat Bernyanyi Pukau Netizen, Tonton Videonya!)
 
Aku memang terlalu sibuk,,  sampai tak memperhatikan suami, aku diam saja ketika suami merokok  terus2an, aku tak pernah marah ketika suami menolak sarapan pagi yg  sudah disiapkan, aku tak pernah marah ketika suami begadang terus2an  karena ngobrol di pos ronda dengan bapak2 komplek,, dan akupun tak  pernah tau, makanan apa yang dia makan saat di kantor,, makanan sehat  kah? Atau bukan... ya.. itulah kesalahan terbesarku...
 
&quot;Abbi olahraga gih biar sehat,, jalan2 keliling komplek,,&quot;  &quot;Enggak ah mi, abbi lg g enak badan, kepala sakit&quot; saat itu memang  weekend, dan suami lebih memilih tiduran seharian sambil nonton tv,,&quot;huh  pemalas banget nih suami, disuruh olahraga juga susah&quot; Ucapku dalam hati.
 
3 minggu berselang tapi sariawan di lidah belum juga hilang. Malah  katanya jadi ada sakit di kepala dan telinga. &amp;ldquo;abbi..besok periksa ke  dokter ya, biar diobatin sariawannya..suamipun mengangguk..
 
Keesokan harinya, suami memeriksakan ke RS JAKARTA, RS yang tempatnya paling dekat dengan kantornya.  Saat itu dokter bilang suamiku hanya kurang makan sayur dan buah,  dokter hanya memberi salep untuk luka sariawan di lidahnya. &quot;Kalo 2  minggu belum sembuh, periksa lagi ya&quot; kata dokternya. 2 minggu  kemudian suami periksa lagi, karena sariawan masih menetap, &quot;dokternya  hanya menambahkan antibiotik. Tapi sampai obatnya habis belum juga ada  tanda-tanda kesembuhan.
(Baca juga: Heboh Emak-Emak Berantem di Jalan, Pengguna Motor: Ini Daerah Saya!)
 
Kembalilah lagi ke RS untuk memeriksakan, &quot;mungkin bapak ada masalah di giginya, saya rujuk ke dr bedah mulut ya&quot;  Setelah diperiksa dr bedah mulut, dokter menyarankan di rontgen gigi,  saat itu hasilnya memang terlihat ada gigi bungsu yang posisinya miring.  &quot;Ohh, sariawan bapak karena ada gigi bungsu yg mau tumbuh, tp posisinya  abnormal, mungkin itu penyebab bapak sariawan dan sakit kepala terus  menerus, giginya harus di oprasi, harus di ambil ya pak..
 
Bulan  juni 2016, saat awal bulan ramadhan, suami tak puasa karena akan di  operasi gigi, di cabutlah gigi yang selama ini mengganggu,, seminggu  berlalu, sariawan masih menetap.. sakit di kepala makin menjadi. &quot; mi,  abbi sakit nelen, sakit kepala makin sering, kenapa ya padahal giginya  udah di cabut, terus lidah abbi jd g bisa digerakin ke kiri&quot; &quot;besok  periksa ke dokter lagi ya bii, sekalian kontrol gigi&quot;&quot;Giginya udah g ada masalah ya pak, kalo keluhan bapak sakit kepala,  baiknya bapa periksakan ke dr syaraf ya&quot; kata dr bedah mulut saat itu,,  diperiksalah suami ke dr syaraf, hanya diberi obat anti sakit..  dokterpun menyarankan fisioterapi lidah karena lidah yang tak bisa di  gerakan ke kiri, 6 kali pertemuan fisioterafi dan tak ada perubahan..  Dokter menyarankan pemeriksaan MRI, perkiraan pemeriksaan MRI saat itu sekitar 5-6 juta dan tak bisa dicover asuransi  &quot;periksa MRI nya nanti saja ya mii, bentar lagi kan kita mau mudik, lumayan uangnya buat bekal mudik ke tasik&quot;.
 
Hari idul fitri... suami lebih memilih tiduran di kamar dan tak ikut  bersilaturahmi ke rumah sanak saudara, sakit di kepala semakin sering,,  hari raya hanya dihabiskan dengan beristirahat tiduran di kamar..
 
Liburan lebaran pun telah usai, bersiaplah kita kembali ke ibukota.. &quot;Mii sebelum kita ke jakarta, ummi lepas KB nya ya, abbi pengen zuma  punya ade&quot;,,, &quot; duh bii, baru anak satu az ummi udah repot, gimana kalo  nambah&quot; .. &quot;biarin, nambah anak nambah rezeki, abbi pengen punya banyak  anak, hehehe&quot;  Kesal memang, tapi aku pun menurut, di lepas lah KB IUD yg setahun tertanam di rahimku..
(Baca juga: Maling Motor Hendak Dihajar, Warga: Jangan, Sudah Kejadian Kemarin Dibakar)
 
&quot;Mii, koq di lidah abbi jd ada benjolan, coba liat mii&quot;  Benar,, ada benjolan kecil sebesar biji jagung di lidah yang ada sariawannya, &quot;besok ke dokter lagi ya bi&quot;,,  &quot;Sejak kapan benjolannya ada pak&quot; tanya dokter. &quot;Baru 3 hari dok&quot;  &quot;Sakit gak?&quot; Sambil memencet benjolannya &quot;Enggak dok enggak sakit, tp kalo sariawannya masih sakit dok, menelan jg jd sakit,kepala juga makin sering sakit&quot; &quot;Harusnya bapak di periksa MRI biar tau sakitnya dari mana, kalo  benjolannya ini kemungkinan tumor jinak, bagaimana kalo di oprasi  benjolannya terus nanti kita periksakan hasilnya&quot; Suamiku hanya mengangguk, tanda setuju..
 
Awal agustus 2016, aku menemani suami di oprasi di RS JAKARTA,, zuma  aku titipkan pada mamahku, ketika tau kabar suami mau di oprasi, mamah  langsung berangkat ke jakarta.. Operasi berjalan lancar, 3 jam lamanya,,  &quot;Ini istrinya pak Andrie? Operasinya sudah beres, ini benjolan yg sudah  diambil mau diPA-kan dulu ya, hasilnya nanti 10 hari lagi..
 
Tanggal 13 agustus 2016, kami kembali menemui dokter, dokterpun menyampaikan hasilnya dan juga hasil PA dari laboratorium.
 
&amp;ldquo;bapak usianya berapa tahun?&amp;rdquo; &quot;28 dok&quot; &quot;Sudah punya anak?&quot; &quot;Sudah, baru usia setahun dok&quot;. Dokterpun menghela napas panjang...ada perasaan tak enak saat itu. &quot;Hasil pemeriksaannya kurang bagus, bapak positif terkena KANKER LIDAH,
 
Dek.. seolah detak jantungku berhenti &amp;ldquo;KANKER&amp;hellip;Dok?&amp;rdquo;
 
Tiba-tiba mataku jadi gelap, sebuah beban berat serasa menindih  badanku. Aku diam dan tak bisa berkata apa-apa, lama aku terdiam.
 
&amp;ldquo;Kanker..?&amp;rdquo; tanyaku,tapi kalimat itu tak mampu terucap hanya bersarang di kepalaku.  Sebuah penyakit yang selama ini hanya aku kenal lewat informasi dan  berita-berita, kini penyakit itupun menghampiri orang terdekatku orang  yang paling aku sayangi. Penyakit yang menakutkan itu menyerang suamiku.
 
Kutatap wajah suamiku, suamiku hanya terdiam, pucat...
 
bapak saya sarankan berobat ke RS DHARMAIS, karena disana rumah sakit  khusus menangani penyakit seperti bapak, harus cepat ya pak, sebelum  kankernya menyebar kemana2.
 
Segera kuambil surat pengantar dokter dan menuju RS DHARMAIS. Sungguh tak pernah terpikirkan sedikitpun sebelumnya, kini kami berada  dalam deretan orang-orang penderita kanker di ruang tunggu pasien. Aroma  kecemasan bahkan keputusasaan tergambar di wajah mereka. Sebenarnya ini  juga saya rasakan, tapi saya harus menyembunyikan raut ini di hadapan  suamiku. Aku harus tetap menyuguhkan energi penyemangat padanya.
 
Serangkaian pemeriksaan kami lakukan, lab, usg, rontgen, ct scan, bone scan. &quot;Dari hasil pemeriksaan, 3/4 lidah bapak sudah terkena kanker, bapak harus di oprasi di angkat lidah&quot; kata dokter nya..
 
Ya Allah&amp;hellip; apa lagi ini? Diangkat lidah? Kenapa harus suamiku yang  mengalaminya? Kami pun pulang dengan perasaan yang tak tentu, nanti kita  periksa ke RS SILOAM ya bii, kita cari second opinion&quot;
 
Esoknya  kita periksa ke RS SILOAM,, dokter melakukan endoskopi, memasukan kabel  kecil yg ada kameranya melewati lubang hidungnya,, terlihat jelas kamera  menangkap gambar di monitor. &quot;Wahh, kanker nya sudah menyebar ke tenggorokan pak&quot; Memang terlihat banyak benjolan merah di dekat pita suara.
 
&quot;Kalo boleh tau sudah stadium berapa dok?&quot; &quot;Kalo ini sih sudah stadium 4&quot; &quot;Terus gimana dok? Tanyaku lirih,,  &amp;ldquo;Nanti bapak harus menjalani pengobatan kemoterapi 3 kali, langsung radiasi selama 30 kali.&amp;rdquo;
 
Wajah suamiku putih pucat, dia hanya terdiam, terbayang beratnya derita  dan kelelahan yang harus dialami suamiku. Belum lagi dengan kombinasi  pengobatan kemoterapy yang melemahkan fisik. Keluar dari ruang dokter  seolah semuanya jadi gelap, rasanya aku tak kuat menahan segala beban  ini. Segera aku beri kabar keluarga dan teman-teman dekatku, aku  kabarkan keadaan suamiku dan kumintakan do&amp;rsquo;a dari mereka. Tak terasa  bulir-bulir bening air mata bermunculan disudut mataku.
 
dengan  langkah lemas tak bertenaga seolah aku melayang, tulang-tulang terasa  tak mampu menyangga badanku yang kecil ini, aku melihat anakku yang  masih berusia 1 tahun, dia tersenyum ceria, ia tak mengerti beban berat  yang menimpa orangtuanya, akupun memeluknya erat sambil menangis  sejadinya.
 
Ketika kami di rumah, kami minta pendapat dari pihak  keluarga tentang pengobatan yang akan kami lakukan. Dengan berbagai  pertimbangan dan alasan pihak keluarga menyarankan agar kami tidak  menempuh jalan kemo dan radiasi. Kami disarankan untuk menjalani  pengobatan dengan cara alternatif dan pengobatan herbal.
 
Awal  september 2016 kami berencana pulang kampung ke tasik, dikarenakan  kondisi suami yang tak bisa lagi bekerja, untungnya dari pihak kantor  memberi cuti izin sakit sampai sembuh.
 
Akhirnya sejak saat itu  kami melakukan ikhtiar pegobatan dengan cara alternatif dan minum  obat-obat herbal. Karena saat itu suamiku sudah susah untuk menelan maka  obat herbal yang diberikan tidak berupa kapsul, melainkan berupa  rebusan dan cairan. Setiap hari suamiku harus minum ramuan dan rebusan  obat-obat herbal. Segala macam makanan buah2an dan sayuran dijus dan di  saring, Tapi aku lihat ia dengan telaten dan sabar rutin minum semuanya.
 &quot;Bii, kayaknya ummi udah lama g haid, &quot; suamiku hanya tersenyum, coba periksain mii, tespek&quot; katanya.. Aku terlalu sibuk mengurus suamiku yang sedang sakit, sampai tak sadar, 2 bulan lamanya aku tak datang bulan&quot; &quot;Positif bii...&quot; &quot;Alhamdulillah, zuma punya ade, mudah2an cwe ya miii, mudah2an pas bayinya lahir, abbi udah sehat,&quot; &quot;Abbi pasti sehat sayang...&quot;Terlihat senyumnya yang mengembang dan bersemangat. Semangatnya  untuk sembuh begitu besar. Doa pun tiada henti kupanjatkan siang dan  malam. Dan malam-malamku selalu ku habiskan dengan bersujud padaNya. Aku  mulai rajin mencari semua informasi yang berhubungan dengan kanker  lidah, mulai dari makanan, cara pengobatan, bahkan alamat klinik  pengobatan alternatif. Semua informasi aku cari melalui internet, koran  dan dari rekan-rekan. 
5 bulan pengobatan, tapi Allah sepertinya  belum memberi jalan kesembuhan dengan cara ini, akhirnya obat herbal aku  tinggalkan. Dan akupun mulai ragu, kondisi suami makin memburuk,  kamipun mulai putus asa. Aku yakinkan suamiku bahwa ini adalah memang  ujian dari Allah, &amp;ldquo;Bii.. semuanya atas kehendak Allah, bahkan jauh  sebelum kita lahir sudah tertulis takdir ini, usia segini abbi sakit,  berobat kesana-sini itu semua sudah ada dalam catatan Allah bii. Yang  penting sekarang kita jangan lelah berikhtiar dan abbi tetap harus  semangat untuk sembuh.&amp;rdquo; Ia mengangguk perlahan. &quot;Utun lahir, abbi pasti udah sembuh kan mii? Tanya nya  &quot;Pasti bii, g ada yg g mungkin kalo Allah sudah berkehendak, utun lahir, abbi udah sehat&quot;. Ia pun tersenyum
 
Berat badan suamiku mulai turun drastis karena tak ada asupan makanan,  sebelum sakit beratnya 65 Kg kini tinggal 40 Kg. Kondisinya makin parah  dan puncaknya ketika aku lihat setiap hari suami muntah darah terus  menerus. Ia pun terlihat lemas dan sangat pucat.
 
Januari 2017, aku bawa ke dokter spesialis Onkologi yang ada di tasik. Dokter menganjurkan untuk segera dibawa ke rumah sakit karena hasil HB  cuma 5, suamiku mengalami anemia berat. Kali ini aku membawanya ke RS  Jasa Kartini tempat dokter itu praktek. 4 labu darah yang sudah masuk ke tubuh suamiku, dokter menyarankan kemoterapi&quot; &quot;Kanker itu pengobatannya 3 rangkaian bu, kemoterapy, radiasi sama  oprasi, tanpa itu kanker susah ditangani, apalagi dengan pengobatan  alternatif dan herbal yang belum jelas&quot; kata dokternya
 
&quot;Mii, abbi mau berobat medis az, mau nurut apa kata dokter, mungkin ini jalan kesembuhan abbi&quot; kata suamiku Aku tak bisa berkata2,, baiklah kalo ini sudah keinginannya, aku hanya  bisa mengiyakan, semoga Allah memberikan kesembuhan untuk suamiku dengan  pengobatan medis.
 
Hari2 aku lewati, keluar masuk rumah sakit  mengantar suami berobat, zuma aku titipkan ke rumah orangtuaku, karena  waktuku habis dengan mengurus suamiku, penat rasanya,, hari2 dihabiskan  dengan perjalanan dari rumah ke rumah sakit, rasanya melelahkan, apalagi  dengan kondisi perutku yang semakin membesar.
 
dokter mengatakan,  &amp;ldquo;kita hanya bisa memperlambat pertumbuhan kankernya bukan mengobati.&amp;rdquo;  Seolah hitungan mundur kematian itu dimulai. Aku limbung dan hampir tak  sadarkan diri, sekuat tenaga aku mencoba untuk tetap tegar &amp;ldquo;Ya Allah&amp;hellip; begitu berat cobaan ini Kau timpakan pada kami&amp;rdquo; &amp;ldquo;Ma&amp;rsquo;afkan ummi, ummi tak mampu menjagamu selama ini&amp;hellip;&quot; Serangkaian pengobatan medis dilakukan 7 kali kemotherapi, sampai kemo  ke 3, kondisi suami sempat membaik, kemo ke 4,5,6,7... selama itu  kondisi suamiku semakin menurun..
 
&amp;ldquo;Aku ingin ketenangan aku butuh  pertolonganMu ya Robb. Kutumpahkan segala permohonan ini dihadapanMu  yaa Allah. Bisa saja dokter memfonis dengan analisanya, tapi Engkaulah  yang maha kuasa atas segala sesuatunya. Engkau maha menggenggam semua  takdir, sakit ini dariMu ya Allah dan padaMU juga aku mohon obat dan  kesembuhannya.&amp;rdquo;
 
Segala ikhtiar dan do&amp;rsquo;a tiada lelah kulakukan tuk  kesembuhan suamiku. Malam-malamku kulalui dengan solat tahajud.  Kubenamkan wajahku diatas sajadah lebih dalam lagi, tiba-tiba aku merasa  tak mimiliki kekuatan apapun, aku berada dalam kepasrahan dan  penghambaan yang lemah.
 
&amp;ldquo;Robb&amp;hellip;Engkau maha mengetahui, betapa  segala ikhtiar telah kami lakukan. Tiada menyerah kami melawan penyakit  ini, kini aku serahkan segalanya padaMu, tidak ada kekuatan yang sanggup  mengalahkan kekuatannMu yaa&amp;hellip;Robb, Tunjukkan pertolonganMu, beri  kesembuhan pada suamiku Ya..Allah.&amp;rdquo;
 
Rangkaian kemoterapi sudah  beres, suamiku disarankan melakukan pengobatan lanjutan, sinar radiasi  di RS santosa bandung, saat itupun kehamilanku sudah masuk usia 9 bulan,   &quot;Bii, maaf ummi g bisa antar abbi ke bdg, abbi sama mamah az ya,  takut brojol di jalan, nanti malah repot lagi&quot;. Akhirnya suami pergi  melakukan serangkaian pemeriksaan untuk radioterapi,  6 Juni 2017,,  hari ke 11 bulan ramadhan, anak yang kedua ku lahir,, tanpa kehadiran  abbi nya,, proses melahirkan yang kedua sangat lah mudah dan cepat,  alhamdulillah Allah telah memberikan kemudahan dan kelancaran, segera  aku vidio call suamiku, dia pun kaget karena tiba2 aku memperlihatkan  bayi kecil padanya,  &quot;Ummi udah lahiran bii&quot; &quot;Abbi pulang ke tasik sekarang jg mii, pemeriksaan simulatornya udah beres abbi di jadwalin radiasi nya nanti udah lebaran&quot;  Pulang lah ia ke tasik, datang dengan raut wajah ceria, alhamdulillah perempuan, &quot;mau abbi kasih nama &quot;Zahabiya Assyifa farid&quot; Emas permata yang menyembuhkan..insya allah dengan lahirnya biya, abbi diberi kesembuhan oleh Allah.
 
25 juni 2017, saat itu hari raya idul fitri,, tiba2 suami mengeluh sakit kepala,  Dan esoknya mengeluh sulit menelan dan sesak nafas, dilarikanlah  suamiku ke RS,, dan bayi ku yg baru 2 minggu aku bawa jg, menemani abbi  nya di rawat di RS. Pihak RS sempat menolak krn aku membawa bayi, tp  karena aku tak bisa meninggalkan keduanya, akhirnya diizinkan, walaupun  dengan membuat surat pernyataan bahwa pihak RS tidak bertanggung jawab  jika terjadi sesuatu pada bayiku..
 
Saat itu suamiku masih bisa  bicara meski dengan suara kurang jelas. Karena tenggorokannya pun sudah  menyempit tersumbat kanker, ia sangat kesulitan dalam bernafas. Masuk  minumanpun kesulitan, Untuk memasukan nutrisi ke tubuhnya, dokter  menyarankan oprasi gastrostomi, oprasi pasang selang dari perutnya, dan  mengantisipasi agar tidak tersumbat saluran nafasnya, dokter menyarankan  oprasi tracheostomy  dileher suamiku. Akupun menyetujuinya meskipun aku  tak tega, tapi hanya ini cara yang bisa diambil.
 
Suamiku pasrah,  dia minta aku menemaninya terus menerus, dan aku mengerti.. aku selalu  mendampinginya. Tak pernah jauh darinya...&amp;ldquo;Sebenarnya aku tak tega  melihatmu seperti ini bii, leher di bolongin,perut juga bolong, tapi  inilah yang terbaik untukmu saat ini.&amp;rdquo;
 
Selesai oprasi, bicaranya  sudah tak bersuara lagi. Sejak saat itu praktis komunikasi kami hanya  dengan isyarat atau terkadang suamiku menulisnya di hp, mengirimkan  lewat WA,, Tentu saja hal ini terasa capek baginya. Namun sekali lagi ia  terlihat tegar tak pernah aku mendengar ia mengeluh.
 
Sepanjang proses pengobatan tak hentinya kupanjatkan do&amp;rsquo;a dan dzikir dibantu dengan beberapa anggota keluarga.  Saat itu kondisinya sudah sangat menurun, sakit kepala hebat makin  sering terjadi,, hasil pemeriksaan ct scan didapatkan, kankernya sudah  menyebar ke otak,,  &quot;Ya Allah beri kekuatan pada suamiku&amp;hellip;!&amp;rdquo; Beri kesembuhan melalui ikhtiar selama ini ya Allah..&quot;
 
Dokter yang menangani nya sudah angkat tangan, ia menyarankan suamiku  untuk secepatnya pergi ke bandung untuk melakukan tindakan radiasi, tp  karena kondisinya yang semakin menurun, rencana itu kami undur karena  menunggu kondisinya membaik dulu..
 
Namun ternyata seminggu  setelah operasi, selang di perutnya mengalami kebocoran, keluar cairan  hitam pekat dari lubang di perut bekas oprasi,, &quot;Kenapa lagi ini?...&quot; &quot;Mii abbi mau minta dirujuk az ke RSCM jakarta, disini abbi g sembuh2&quot; kata suamiku..  Saat itupun aku meminta dokter untuk membuatkan surat rujukan ke RSCM  Jakarta,, dokter mengizinkan... jam 1 tengah malam mobil ambulan  mengantar kan kami berdua menuju Jakarta, ya.. hanya aku sendiri yang  mengantar suamiku.. hari mulai terang saat kami tiba disana..
 
Serangkaian pemeriksaan dilakukan.. kondisinya semakin menurun, tapi  masih bisa diajak komunikasi,, diapun mengambil hp dan mengetik sesuatu &quot;Mii, c juve meninggal di rscm kan?&quot; &quot;Iya&quot; &quot;Terus c yana zain jg meninggal mii, nanti giliran abbi ya mii&quot; &quot;Abbi pasti sembuh sayang,&quot; &quot;Mii, kalo abbi meninggal, abbi pengen dikuburin dekat anak2&quot; &quot;Apaan sih bi, jangan ngomong yg enggak2&quot; .. Tak kama kondisinya semakin menurun, memegang hp pun ia tak mampu.. Dia hanya bisa menahan kesakitan yg dirasa,, sambil melirik sesekali ke arahku, sambil berkata,, &quot;sakit mi...&quot;  &quot;Sabar sayang.. coba abbi dzikir dalam hati&quot; ..lailahailallah...
 
Kuhampiri suamiku yang tergolek lemah. Perawat memasang semua peralatan  pada tubuh suamiku, entah alat apa saja ini. Kuusap perlahan keningnya,  dingin sekali. Tangan dan kakinyapun sangat dingin. Hingga menjelang  asar, aku tak diperbolehkan beranjak dari sampingnya, tanganku ia  genggam erat. Tak hentinya mulut ini memanjatkan doa.
 
Tekanan  darahnya sangat tinggi, nadi nya pun cepat, menunjukan angka 200 di  layar monitornya. Berkali-kali dokter menyuntikkan obat anti sakit namun  hasilnya tetap sama tak berubah, suamiku masih mengeluh kesakitan.  Dokter memanggilku, perasaanku gelisah tak menentu, campur aduk antara  cemas, bimbang dan ketakutan yang amat sangat. Dugaanku benar Dokterpun  menyerah.
 
Melihat kondisinya yang terus menurun dokter  memberitahu bahwa kondisi suamiku sudah sangat melemah, secara medis  kondisi suami sudah tidak dapat ditolong lagi, lebih baik kita do&amp;rsquo;akan  saja.&amp;rdquo; Aku benar-benar lemas mendengarnya seluruh badanku gemetar  merinding. &amp;ldquo;benarkah tak ada lagi harapan.&amp;rdquo; Tiba-tiba aku merasakan  ketakutan yang luar biasa. Aku tak mau menyerah, aku tetap membisikan ke  telinga suamiku, bahwa ia jangan menyerah, ia pasti sembuh.
 
&amp;ldquo;Aku  tak mau kehilanganmu bii.&amp;rdquo; Ku pegang kuat jemarinya, &amp;ldquo;buka matamu bii  kubisikan lembut ditelinganya. Ia hanya tersenyum lemah...
 
Pukul  16.00, aku disodori surat pernyataan,, kata dokter ini adalah Surat  persetujuan untuk tidak dilakukan tindakan apapun jika terjadi apa2 sama  suamiku. Akupun pasrah &amp;ldquo;tak sanggup rasanya hati ini kehilanganmu, aku  ingin tetap menatap wajahmu, aku ingin tetap mendampingimu meski dalam  ketidakberdayaanmu.&amp;rdquo;
 
&quot;Abbi&amp;hellip;..inilah yang terbaik yang diberikan  Allah buat kita, maafkan ummi, tak bisa menjagamu selama ini. Ummi  ikhlas abbi pergi, ummi terima semua dengan ihklas..
 
Jangan khawatir bii, ummi akan menjaga dan merawat anak-anak kita,&amp;rdquo; kubisikan lirih ditelinga suamiku.
 
Dalam setiap rangkaian doaku tak pernah aku mengucapkan kata-kata  menyerah &amp;ldquo;kalo memang hendak Engkau ambil maka mudahkan,&amp;rdquo; tak pernah aku  menyebut kata-kata itu. Aku selalu minta kesembuhan, kesembuhan karena  aku memang menginginkan suamiku benar-benar sembuh.
 
Sepertinya  kini aku harus menyerah dan pasrah &amp;ldquo;Ya.. Robb jika memang Engkau  menentukan jalan lain aku ikhlas ya Allah&amp;hellip;., mudahkan jalan suamiku  untuk menghadapmu dengan khusnul khotimah.&amp;rdquo;
 
Kubimbing suamiku menyebut kalimat &amp;ldquo;LAAILAHA ILLALLAH MUHAMMADUR ROSULULLAH.. Kuulang hingga berkali-kali.. Dua bulir bening tersembul dari sudut matanya. Aku merasakan ia sanggup mengikuti kalimat ini..
 
Pukul 16.40 ia menghembuskan nafasnya yg terakhir.. &amp;ldquo;bu, bapak sudah tidak ada.&amp;rdquo; ujar dokternya. aku tau maksudnya tapi aku  masih tak percaya. Kutengok layar monitor yang terhubung ketubuh  suamiku. Tak ada lagi yang bergerak disana.
 
kudekap tubuh lemas suamiku.. ku kecup bibirnya, dan ku usap matanya... &amp;ldquo;INNA LILLAAHI WAINNA ILAIHI ROOJIUUN.&amp;rdquo;  Aku termenung disampingnya tapi tak ada lagi air mata yang keluar.  &amp;ldquo;ummi ikhlas melepasmu bii, Allah telah memilihkan jalan terbaik buat  kita.&amp;rdquo;
 
Selamat Jalan suamiku Andrie K Farid &amp;hellip;&amp;hellip; jemput aku dan anak-anak nanti di pintu SurgaNya......</content:encoded></item></channel></rss>
