<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>HISTORIPEDIA: Didepak Malaysia, Singapura Jadi Negara Merdeka</title><description>Sejak meraih kemerdekaannya, Singapura telah betransformasi menjadi salah satu negara ekonomi besar dunia.</description><link>https://news.okezone.com/read/2017/08/09/18/1751871/historipedia-didepak-malaysia-singapura-jadi-negara-merdeka</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2017/08/09/18/1751871/historipedia-didepak-malaysia-singapura-jadi-negara-merdeka"/><item><title>HISTORIPEDIA: Didepak Malaysia, Singapura Jadi Negara Merdeka</title><link>https://news.okezone.com/read/2017/08/09/18/1751871/historipedia-didepak-malaysia-singapura-jadi-negara-merdeka</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2017/08/09/18/1751871/historipedia-didepak-malaysia-singapura-jadi-negara-merdeka</guid><pubDate>Rabu 09 Agustus 2017 06:01 WIB</pubDate><dc:creator>Rahman Asmardika</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2017/08/08/18/1751871/historipedia-didepak-malaysia-singapura-jadi-negara-merdeka-xKi4nswqoN.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Foto: Reuters</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2017/08/08/18/1751871/historipedia-didepak-malaysia-singapura-jadi-negara-merdeka-xKi4nswqoN.jpg</image><title>Foto: Reuters</title></images><description>DI AKHIR Perang Dunia II (PD II), Singapura diliputi kekacauan. Kekerasan dan penjarahan terjadi di mana-mana. Bahkan, kehadiran Inggris yang mengambil alih pemerintahan Singapura dari Jepang tidak banyak mengubah keadaan itu.
Kegagalan Inggris mempertahankan Singapura pada PD II membuat kredibilitas negara itu sebagai penguasa Singapura hancur di mata rakyat. Di tengah situasi tersebut, slogan &amp;ldquo;Merdeka&amp;rdquo; pun menggema di Negeri Singa.
Inggris sendiri tampaknya menyadari kondisi ini dan secara bertahap mulai mempersiapkan pemerintahan otonomi bagi Singapura dan Malaysia. Pada 1 April 1946, Pemukiman Selat, julukan untuk teritori Inggris di Asia Tenggara, secara resmi dibubarkan. Singapura akhirnya menjadi koloni kerajaan yang terpisah dengan dipimpin oleh seorang gubernur. Setahun kemudian, pada Juli 1947, dewan legislatif dan eksekutif Singapura yang terpisah dari kerajaan dibentuk.
Pada 1955, David Marshall, pimpinan partai berkuasa Singapura, Front Buruh, berangkat ke London untuk meminta Pemerintah Inggris menjadikan Singapura sebuah negara yang benar-benar merdeka. Setelah permintaan itu ditolak, Marshall memutuskan untuk mengundurkan diri dan digantikan oleh Lim Yew Hock.
Kebijakan Lim berhasil meyakinkan Inggris untuk memberikan kewenangan penuh bagi Singapura untuk menjalankan pemerintahannya sendiri kecuali untuk urusan pertahanan dan hubungan luar negeri. Dengan keputusan itu, meski tidak sepenuhnya merdeka, Singapura telah diakui sebagai sebuah negara yang dikepalai oleh Sir William Codrington Goode dengan gelar Yang di-Pertuan Negara. &amp;nbsp;

Keputusan itu juga menjadikan pemilihan umum (pemilu) 1959 sebagai  pemilu pertama yang digelar sejak Singapura menjadi negara dengan  pemerintahan sendiri. Partai Aksi Rakyat (People Action Party/PAP)  keluar sebagai pemenang dalam pemilu tersebut. Lee Kuan Yew tercatat  menjadi perdana menteri (PM) pertama Singapura.
Meski bisa dibilang sukses memerintah Singapura, para pimpinan PAP  merasa masa depan negeri Singa ada bersama Malaysia. Hubungan sejarah  dan ekonomi Singapura di Malaya dirasa terlalu kuat untuk diabaikan dan  melanjutkan Singapura sebagai sebuah negara yang terpisah.
Karena itulah walaupun mendapat tentangan dari sayap komunis di dalam PAP, mereka mengajukan usulan untuk melakukan merger atau penggabungan antara Malaysia dengan Singapura. Terlepas dari rasa  skeptis dari partai berkuasa Malaysia, United Malay National  Organisation (UMNO) gayung pun bersambut dan melalui hasil Referendum Merger 1962, pada 1963 Singapura bergabung dengan Federasi Malaysia.
Sayangnya, belum lama melakukan merger telah terjadi  perbedaan antara pemerintah pusat Malaysia dengan pemerintah Negara  Bagian Singapura dalam berbagai isu politik dan ekonomi. Ditambah lagi  sengketa komunal antara ras Melayu dan China yang melahirkan kerusuhan  rasial 1964 di Singapura.
Bergabungnya Singapura juga menimbulkan rasa permusuhan dari negara tetangga, Indonesia, yang menentang merger antara kedua negara. Puncaknya, pada 10 Maret 1965 dua prajurit Korps  Komando Operasi (KKO) Indonesia, Usman Bin Hj Mohd Ali dan Harun Said  melakukan aksi pengeboman di Gedung MacDonald House, Orchard Road,  Singapura yang menewaskan 3 orang dan melukai 33 lainnya. &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;
Berbagai perbedaan dalam bidang ideologi, ketidaksetaraan perlakuan,   hambatan dalam bidang ekonomi dan sejumlah faktor lainnya menimbulkan   hubungan kedua Malaysia dan Singapura memanas dan berpotensi berkembang   menjadi konflik yang lebih besar. Karena hal ini, pada 7 Agustus 1965,   PM Malaysia, Tunku Abdul Rahman melihat tidak ada jalan lain untuk   menghindari pertumpahan darah dan menyarankan parlemen untuk mendepak   Singapura dari Federasi Malaysia.
Akhirnya pada 9 Agustus 1965, Parlemen Malaysia tanpa kehadiran   delegasi Singapura memutuskan dengan suara bulat 126 banding 0 untuk   mengesahkan undang-undang pemisahan Singapura dari Malaysia. Negeri   Singa secara resmi mendapatkan kemerdekaannya sebagai Republik Singapura   dengan Lee Kuan Yew sebagai PM dan Yusof bin Ishak sebagai  presidennya.
Sampai hari ini, Singapura dianggap sebagai satu-satunya negara yang mendapatkan kemerdekaannya tanpa keinginan sendiri.</description><content:encoded>DI AKHIR Perang Dunia II (PD II), Singapura diliputi kekacauan. Kekerasan dan penjarahan terjadi di mana-mana. Bahkan, kehadiran Inggris yang mengambil alih pemerintahan Singapura dari Jepang tidak banyak mengubah keadaan itu.
Kegagalan Inggris mempertahankan Singapura pada PD II membuat kredibilitas negara itu sebagai penguasa Singapura hancur di mata rakyat. Di tengah situasi tersebut, slogan &amp;ldquo;Merdeka&amp;rdquo; pun menggema di Negeri Singa.
Inggris sendiri tampaknya menyadari kondisi ini dan secara bertahap mulai mempersiapkan pemerintahan otonomi bagi Singapura dan Malaysia. Pada 1 April 1946, Pemukiman Selat, julukan untuk teritori Inggris di Asia Tenggara, secara resmi dibubarkan. Singapura akhirnya menjadi koloni kerajaan yang terpisah dengan dipimpin oleh seorang gubernur. Setahun kemudian, pada Juli 1947, dewan legislatif dan eksekutif Singapura yang terpisah dari kerajaan dibentuk.
Pada 1955, David Marshall, pimpinan partai berkuasa Singapura, Front Buruh, berangkat ke London untuk meminta Pemerintah Inggris menjadikan Singapura sebuah negara yang benar-benar merdeka. Setelah permintaan itu ditolak, Marshall memutuskan untuk mengundurkan diri dan digantikan oleh Lim Yew Hock.
Kebijakan Lim berhasil meyakinkan Inggris untuk memberikan kewenangan penuh bagi Singapura untuk menjalankan pemerintahannya sendiri kecuali untuk urusan pertahanan dan hubungan luar negeri. Dengan keputusan itu, meski tidak sepenuhnya merdeka, Singapura telah diakui sebagai sebuah negara yang dikepalai oleh Sir William Codrington Goode dengan gelar Yang di-Pertuan Negara. &amp;nbsp;

Keputusan itu juga menjadikan pemilihan umum (pemilu) 1959 sebagai  pemilu pertama yang digelar sejak Singapura menjadi negara dengan  pemerintahan sendiri. Partai Aksi Rakyat (People Action Party/PAP)  keluar sebagai pemenang dalam pemilu tersebut. Lee Kuan Yew tercatat  menjadi perdana menteri (PM) pertama Singapura.
Meski bisa dibilang sukses memerintah Singapura, para pimpinan PAP  merasa masa depan negeri Singa ada bersama Malaysia. Hubungan sejarah  dan ekonomi Singapura di Malaya dirasa terlalu kuat untuk diabaikan dan  melanjutkan Singapura sebagai sebuah negara yang terpisah.
Karena itulah walaupun mendapat tentangan dari sayap komunis di dalam PAP, mereka mengajukan usulan untuk melakukan merger atau penggabungan antara Malaysia dengan Singapura. Terlepas dari rasa  skeptis dari partai berkuasa Malaysia, United Malay National  Organisation (UMNO) gayung pun bersambut dan melalui hasil Referendum Merger 1962, pada 1963 Singapura bergabung dengan Federasi Malaysia.
Sayangnya, belum lama melakukan merger telah terjadi  perbedaan antara pemerintah pusat Malaysia dengan pemerintah Negara  Bagian Singapura dalam berbagai isu politik dan ekonomi. Ditambah lagi  sengketa komunal antara ras Melayu dan China yang melahirkan kerusuhan  rasial 1964 di Singapura.
Bergabungnya Singapura juga menimbulkan rasa permusuhan dari negara tetangga, Indonesia, yang menentang merger antara kedua negara. Puncaknya, pada 10 Maret 1965 dua prajurit Korps  Komando Operasi (KKO) Indonesia, Usman Bin Hj Mohd Ali dan Harun Said  melakukan aksi pengeboman di Gedung MacDonald House, Orchard Road,  Singapura yang menewaskan 3 orang dan melukai 33 lainnya. &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;
Berbagai perbedaan dalam bidang ideologi, ketidaksetaraan perlakuan,   hambatan dalam bidang ekonomi dan sejumlah faktor lainnya menimbulkan   hubungan kedua Malaysia dan Singapura memanas dan berpotensi berkembang   menjadi konflik yang lebih besar. Karena hal ini, pada 7 Agustus 1965,   PM Malaysia, Tunku Abdul Rahman melihat tidak ada jalan lain untuk   menghindari pertumpahan darah dan menyarankan parlemen untuk mendepak   Singapura dari Federasi Malaysia.
Akhirnya pada 9 Agustus 1965, Parlemen Malaysia tanpa kehadiran   delegasi Singapura memutuskan dengan suara bulat 126 banding 0 untuk   mengesahkan undang-undang pemisahan Singapura dari Malaysia. Negeri   Singa secara resmi mendapatkan kemerdekaannya sebagai Republik Singapura   dengan Lee Kuan Yew sebagai PM dan Yusof bin Ishak sebagai  presidennya.
Sampai hari ini, Singapura dianggap sebagai satu-satunya negara yang mendapatkan kemerdekaannya tanpa keinginan sendiri.</content:encoded></item></channel></rss>
