<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Okezone Story: Mansa Musa, Orang Terkaya dalam Sejarah yang Mencari Penebusan Dosa</title><description>Jumlah kekayaan Mansa Musa diperkirakan mencapai USD400 miliar dengan nilai mata uang saat ini.</description><link>https://news.okezone.com/read/2017/08/15/18/1755941/okezone-story-mansa-musa-orang-terkaya-dalam-sejarah-yang-mencari-penebusan-dosa</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2017/08/15/18/1755941/okezone-story-mansa-musa-orang-terkaya-dalam-sejarah-yang-mencari-penebusan-dosa"/><item><title>Okezone Story: Mansa Musa, Orang Terkaya dalam Sejarah yang Mencari Penebusan Dosa</title><link>https://news.okezone.com/read/2017/08/15/18/1755941/okezone-story-mansa-musa-orang-terkaya-dalam-sejarah-yang-mencari-penebusan-dosa</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2017/08/15/18/1755941/okezone-story-mansa-musa-orang-terkaya-dalam-sejarah-yang-mencari-penebusan-dosa</guid><pubDate>Selasa 15 Agustus 2017 08:01 WIB</pubDate><dc:creator>Rahman Asmardika</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2017/08/14/18/1755941/okezone-story-mansa-musa-orang-terkaya-dalam-sejarah-yang-mencari-penebusan-dosa-QwWdO1RpZ0.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Mansa Musa digambarkan dalam Atlas Catalan 1375, salah satu peta dunia terpenting pada abad pertengahan di Eropa. (Foto: Wikimedia Commons)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2017/08/14/18/1755941/okezone-story-mansa-musa-orang-terkaya-dalam-sejarah-yang-mencari-penebusan-dosa-QwWdO1RpZ0.jpg</image><title>Mansa Musa digambarkan dalam Atlas Catalan 1375, salah satu peta dunia terpenting pada abad pertengahan di Eropa. (Foto: Wikimedia Commons)</title></images><description>SAAT ini, jika kita berpikir mengenai orang terkaya di dunia, yang muncul dalam pikiran kita umumnya adalah Bill Gates, Jeff Bezos, Warren Buffet, Mark Zuckerberg atau seorang pangeran dari negara Arab. Tetapi orang terkaya yang pernah tercatat dalam sejarah ternyata adalah seorang penguasa Afrika bernama Musa Keita I.
Musa adalah seorang Mansa, gelar seperti sultan atau kaisar, Kerajaan Mali di abad ke-14. Lahir pada 1280, Mansa Musa memperluas wilayah kerajaannya dengan menaklukkan 24 kota dan wilayah sekitarnya.
Saat dia meninggal dunia, jumlah kekayaan Mansa Musa diperkirakan mencapai lebih dari USD400 miliar atau sekira Rp5.339 triliun. Jumlah ini jauh lebih besar dari harta kekayaan seluruh anggota keluarga Rothschild yang diperkirakan &amp;lsquo;hanya&amp;rsquo; mencapai USD350 miliar, Muammar Gaddafi dengan USD200 miliar dan Bill Gates yang memiliki USD168 miliar. &amp;nbsp;
Namun, jumlah itu hanyalah perkiraan karena tidak ada yang tahu pasti berapa jumlah harta Mansa Musa yang sebenarnya. Jacob Davidson dari majalah Time menulis: &quot;benar-benar tidak ada cara untuk memberi angka akurat pada kekayaannya.&quot;
Mansa Musa mendapatkan kekayaannya dari tambang emas dan garam di wilayah Afrika Barat. Di bawah kepemimpinan Musa, Kerajaan Mali didirikan dari sisa-sisa Kekaisaran Ghana mencapai puncak kejayaannya dengan wilayah yang membentang seluas 2.000 mil di sepanjang Afrika Barat, dari Samudera Atlantik ke Timbuktu, termasuk bagian dari Chad, Pantai Gading, Gambia, Guinea, Guinea-Bissau, Mali, Mauritania, Niger, Nigeria, dan Senegal. &amp;nbsp;
Selain menggabungkan banyak kota, terutama Timbuktu dan Gao, di bawah   pemerintahannya, Mansa Musa juga mengumpulkan upeti dari banyak wilayah   lainnya. Di saat Eropa berjuang untuk bertahan dari kelaparan, wabah,   dan perang kaum aristokrat, kerajaan-kerajaan Afrika justru berkembang   pesat.Dalam adat Bangsa Mali, seorang raja harus menunjuk seorang wakil  setiap kali dia melakukan ibadah haji ke tanah suci Makkah atau jika dia  melakukan perjalanan panjang lain. Jika raja tidak kembali, wakilnya  yang ditunjuk akan mengambil alih takhta.
Hal itu terjadi pada pendahulu Musa, Mansa Abubakari Keita II yang  &amp;nbsp;memulai pencarian untuk menemukan ujung Samudra Atlantik dan tidak  pernah terdengar lagi. Sebelum mengambil alih takhta di tahun 1312, Musa  I mengirimkan 2.000 kapal untuk mencari Abubakari Keita II. Ketika  tidak ada yang kembali, semua orang sepakat bahwa Musa I adalah Mansa  Mali yang sah.
Kekayaan Mansa Musa I hanyalah satu bagian dari warisannya. Dengan  mengendalikan rute perdagangan penting antara pantai Mediterania dan  Afrika Barat, Mansa Musa menjadikan Timbuktu sebagai pusat kebudayaan  dan pembelajaran Islam.
Dia membayar arsitek Andalus&amp;iacute;a dengan 200 kg emas untuk membangun  Masjid Djinguereber, yang masih berdiri sampai hari ini. Mansa Musa juga  mendirikan Universitas Timbuktu untuk menarik para ilmuwan dan seniman  dari seluruh dunia Islam. Di dalam Kekaisarannya, Mansa Musa I mendorong  urbanisasi dengan mendanai sekolah dan masjid.
Mansa Musa Saya pertama kali menarik perhatian dunia pada tahun 1324  saat dia melakukan ibadah haji ke Makkah. Dalam bukunya &amp;ldquo;Kisah sang  Pencari&amp;rdquo; pelajar Muslim Afrika, Mahmud Kati menuliskan mengenai  peristiwa yang mendorong Musa I untuk berhaji.
Kati menulis bahwa Mansa Musa merasa bersalah karena telah menewaskan  ibunya, Nana Kankan, secara tidak sengaja. Musa merasakan penyesalan  yang mendalam, bertobat dan takut akan pembalasan yang akan diterimanya  di hari akhir.
Untuk menebus kesalahan itu, Musa memberikan sumbangan dalam jumlah  sangat besar dan memperkuat niatnya untuk berpuasa seumur hidup. Dia  juga bertanya kepada ulama terkemuka di masanya, mengenai apa yang bisa  dia lakukan untuk menebus dosa besarnya tersebut. Ulama itu menjelaskan  bahwa Musa harus meminta pengampunan pada Nabi Allah dan meminta  perlindungannya.
&amp;ldquo;Anda harus mencari perlindungan dengan Nabi Allah, semoga Tuhan  memberkati dan menyelamatkannya. Pergilah kepadanya, letakkan dirimu di  bawah perlindungannya, dan mintalah dia untuk bersyafaat untukmu dengan  Tuhan, dan Tuhan akan menerima syafaatnya,&quot; demikian ditulis Kati dalam  bukunya sebagaimana dikutip dari Ancient Origin, Selasa (15/8/2017).
Maka pergilah Mansa Musa I menempuh perjalanan sejauh 4.000 mil ke  Makkah bersama dengan iring-iringan yang menunjukkan kekayaannya yang  luar biasa. Para sejarawan menceritakan iring-iringan Mansa Musa terdiri  dari puluhan ribu prajurit, warga sipil dan budak dengan karavan yang  memanjang sejauh mata memandang.Bersama Musa juga turut ikut istrinya, Inari Konte, 500 pelayan   perempuan Istrinya, 500 pembawa berita berpakaian sutra dan bertongkat   emas serta kuda dan unta yang membawa emas batangan.
Dia membangun masjid di sepanjang perjalanannya termasuk masjid di   Dukurey, Gundam, Direy, Wanko, dan Bako yang sebagian besar masih   berdiri sampai sekarang. Diceritakan, ketika dia sampai di Alexandria,   Mesir, Mansa Musa menghabiskan begitu banyak uang, memberikan emas pada   rakyat miskin, membeli makanan untuk pengikutnya dan membeli suvenir   untuk dibawa pulang ke rumah.
Saking banyaknya uang yang dihabiskan di sana, Musa menyebabkan   inflasi hebat di Alexandria yang membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk   dipulihkan. Penguasa Mali itu membutuhkan waktu lebih dari setahun  untuk  menyelesaikan perjalanannya dan kembali ke Mali.
Akhir hidup Mansa Musa I menjadi perdebatan di kalangan ahli sejarah   dan pelajar Arab yang mencatat sejarah Mali. Beberapa catatan   menyebutkan Mansa Musa I berkuasa selama 25 tahun sampai dia meninggal   pada 1332, sementara catatan lain menyatakan sang sultan berniat turun   tahta dan menyerahkan sepimpinan Mali kepada putranya Maghan, tetapi dia   meninggal tidak lama setelah kembali dari ibadah haji di Makkah pada   1325.
Sedangkan, menurut kesaksian dari sejarawan Arab, Ibnu Khaldun, Mansa   Musa masih hidup saat Kota Tlemcen di Aljazair ditaklukkan pada 1337.   Ibnu Khaldun mengatakan, Mansa Musa mengirimkan utusan ke Aljazair  untuk  memberi selamat atas kemenangan yang diraih para penakluk kota.</description><content:encoded>SAAT ini, jika kita berpikir mengenai orang terkaya di dunia, yang muncul dalam pikiran kita umumnya adalah Bill Gates, Jeff Bezos, Warren Buffet, Mark Zuckerberg atau seorang pangeran dari negara Arab. Tetapi orang terkaya yang pernah tercatat dalam sejarah ternyata adalah seorang penguasa Afrika bernama Musa Keita I.
Musa adalah seorang Mansa, gelar seperti sultan atau kaisar, Kerajaan Mali di abad ke-14. Lahir pada 1280, Mansa Musa memperluas wilayah kerajaannya dengan menaklukkan 24 kota dan wilayah sekitarnya.
Saat dia meninggal dunia, jumlah kekayaan Mansa Musa diperkirakan mencapai lebih dari USD400 miliar atau sekira Rp5.339 triliun. Jumlah ini jauh lebih besar dari harta kekayaan seluruh anggota keluarga Rothschild yang diperkirakan &amp;lsquo;hanya&amp;rsquo; mencapai USD350 miliar, Muammar Gaddafi dengan USD200 miliar dan Bill Gates yang memiliki USD168 miliar. &amp;nbsp;
Namun, jumlah itu hanyalah perkiraan karena tidak ada yang tahu pasti berapa jumlah harta Mansa Musa yang sebenarnya. Jacob Davidson dari majalah Time menulis: &quot;benar-benar tidak ada cara untuk memberi angka akurat pada kekayaannya.&quot;
Mansa Musa mendapatkan kekayaannya dari tambang emas dan garam di wilayah Afrika Barat. Di bawah kepemimpinan Musa, Kerajaan Mali didirikan dari sisa-sisa Kekaisaran Ghana mencapai puncak kejayaannya dengan wilayah yang membentang seluas 2.000 mil di sepanjang Afrika Barat, dari Samudera Atlantik ke Timbuktu, termasuk bagian dari Chad, Pantai Gading, Gambia, Guinea, Guinea-Bissau, Mali, Mauritania, Niger, Nigeria, dan Senegal. &amp;nbsp;
Selain menggabungkan banyak kota, terutama Timbuktu dan Gao, di bawah   pemerintahannya, Mansa Musa juga mengumpulkan upeti dari banyak wilayah   lainnya. Di saat Eropa berjuang untuk bertahan dari kelaparan, wabah,   dan perang kaum aristokrat, kerajaan-kerajaan Afrika justru berkembang   pesat.Dalam adat Bangsa Mali, seorang raja harus menunjuk seorang wakil  setiap kali dia melakukan ibadah haji ke tanah suci Makkah atau jika dia  melakukan perjalanan panjang lain. Jika raja tidak kembali, wakilnya  yang ditunjuk akan mengambil alih takhta.
Hal itu terjadi pada pendahulu Musa, Mansa Abubakari Keita II yang  &amp;nbsp;memulai pencarian untuk menemukan ujung Samudra Atlantik dan tidak  pernah terdengar lagi. Sebelum mengambil alih takhta di tahun 1312, Musa  I mengirimkan 2.000 kapal untuk mencari Abubakari Keita II. Ketika  tidak ada yang kembali, semua orang sepakat bahwa Musa I adalah Mansa  Mali yang sah.
Kekayaan Mansa Musa I hanyalah satu bagian dari warisannya. Dengan  mengendalikan rute perdagangan penting antara pantai Mediterania dan  Afrika Barat, Mansa Musa menjadikan Timbuktu sebagai pusat kebudayaan  dan pembelajaran Islam.
Dia membayar arsitek Andalus&amp;iacute;a dengan 200 kg emas untuk membangun  Masjid Djinguereber, yang masih berdiri sampai hari ini. Mansa Musa juga  mendirikan Universitas Timbuktu untuk menarik para ilmuwan dan seniman  dari seluruh dunia Islam. Di dalam Kekaisarannya, Mansa Musa I mendorong  urbanisasi dengan mendanai sekolah dan masjid.
Mansa Musa Saya pertama kali menarik perhatian dunia pada tahun 1324  saat dia melakukan ibadah haji ke Makkah. Dalam bukunya &amp;ldquo;Kisah sang  Pencari&amp;rdquo; pelajar Muslim Afrika, Mahmud Kati menuliskan mengenai  peristiwa yang mendorong Musa I untuk berhaji.
Kati menulis bahwa Mansa Musa merasa bersalah karena telah menewaskan  ibunya, Nana Kankan, secara tidak sengaja. Musa merasakan penyesalan  yang mendalam, bertobat dan takut akan pembalasan yang akan diterimanya  di hari akhir.
Untuk menebus kesalahan itu, Musa memberikan sumbangan dalam jumlah  sangat besar dan memperkuat niatnya untuk berpuasa seumur hidup. Dia  juga bertanya kepada ulama terkemuka di masanya, mengenai apa yang bisa  dia lakukan untuk menebus dosa besarnya tersebut. Ulama itu menjelaskan  bahwa Musa harus meminta pengampunan pada Nabi Allah dan meminta  perlindungannya.
&amp;ldquo;Anda harus mencari perlindungan dengan Nabi Allah, semoga Tuhan  memberkati dan menyelamatkannya. Pergilah kepadanya, letakkan dirimu di  bawah perlindungannya, dan mintalah dia untuk bersyafaat untukmu dengan  Tuhan, dan Tuhan akan menerima syafaatnya,&quot; demikian ditulis Kati dalam  bukunya sebagaimana dikutip dari Ancient Origin, Selasa (15/8/2017).
Maka pergilah Mansa Musa I menempuh perjalanan sejauh 4.000 mil ke  Makkah bersama dengan iring-iringan yang menunjukkan kekayaannya yang  luar biasa. Para sejarawan menceritakan iring-iringan Mansa Musa terdiri  dari puluhan ribu prajurit, warga sipil dan budak dengan karavan yang  memanjang sejauh mata memandang.Bersama Musa juga turut ikut istrinya, Inari Konte, 500 pelayan   perempuan Istrinya, 500 pembawa berita berpakaian sutra dan bertongkat   emas serta kuda dan unta yang membawa emas batangan.
Dia membangun masjid di sepanjang perjalanannya termasuk masjid di   Dukurey, Gundam, Direy, Wanko, dan Bako yang sebagian besar masih   berdiri sampai sekarang. Diceritakan, ketika dia sampai di Alexandria,   Mesir, Mansa Musa menghabiskan begitu banyak uang, memberikan emas pada   rakyat miskin, membeli makanan untuk pengikutnya dan membeli suvenir   untuk dibawa pulang ke rumah.
Saking banyaknya uang yang dihabiskan di sana, Musa menyebabkan   inflasi hebat di Alexandria yang membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk   dipulihkan. Penguasa Mali itu membutuhkan waktu lebih dari setahun  untuk  menyelesaikan perjalanannya dan kembali ke Mali.
Akhir hidup Mansa Musa I menjadi perdebatan di kalangan ahli sejarah   dan pelajar Arab yang mencatat sejarah Mali. Beberapa catatan   menyebutkan Mansa Musa I berkuasa selama 25 tahun sampai dia meninggal   pada 1332, sementara catatan lain menyatakan sang sultan berniat turun   tahta dan menyerahkan sepimpinan Mali kepada putranya Maghan, tetapi dia   meninggal tidak lama setelah kembali dari ibadah haji di Makkah pada   1325.
Sedangkan, menurut kesaksian dari sejarawan Arab, Ibnu Khaldun, Mansa   Musa masih hidup saat Kota Tlemcen di Aljazair ditaklukkan pada 1337.   Ibnu Khaldun mengatakan, Mansa Musa mengirimkan utusan ke Aljazair  untuk  memberi selamat atas kemenangan yang diraih para penakluk kota.</content:encoded></item></channel></rss>
