<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>OKEZONE STORY: Kisah Serbuan Kelinci di Australia yang Ancam Kehidupan Manusia di Abad ke-18</title><description>Australia telah mengalami ledakan populasi kelinci yang mengancam keberlangsungan hidup makhluk lainnya pada abad ke-18 hingga abad 19.</description><link>https://news.okezone.com/read/2017/08/19/18/1758791/okezone-story-kisah-serbuan-kelinci-di-australia-yang-ancam-kehidupan-manusia-di-abad-ke-18</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2017/08/19/18/1758791/okezone-story-kisah-serbuan-kelinci-di-australia-yang-ancam-kehidupan-manusia-di-abad-ke-18"/><item><title>OKEZONE STORY: Kisah Serbuan Kelinci di Australia yang Ancam Kehidupan Manusia di Abad ke-18</title><link>https://news.okezone.com/read/2017/08/19/18/1758791/okezone-story-kisah-serbuan-kelinci-di-australia-yang-ancam-kehidupan-manusia-di-abad-ke-18</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2017/08/19/18/1758791/okezone-story-kisah-serbuan-kelinci-di-australia-yang-ancam-kehidupan-manusia-di-abad-ke-18</guid><pubDate>Sabtu 19 Agustus 2017 08:00 WIB</pubDate><dc:creator>Rufki Ade Vinanda</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2017/08/19/18/1758791/okezone-story-kisah-serbuan-kelinci-di-australia-yang-ancam-kehidupan-manusia-di-abad-ke-18-00pC6XJ1WV.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Teror kelinci di Australia. (Foto: The Vintage News)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2017/08/19/18/1758791/okezone-story-kisah-serbuan-kelinci-di-australia-yang-ancam-kehidupan-manusia-di-abad-ke-18-00pC6XJ1WV.jpg</image><title>Teror kelinci di Australia. (Foto: The Vintage News)</title></images><description>PADA 13 Mei 1787 sebanyak 11 kapal berlayar dari Inggris dengan membawa sejumlah narapidana. Rombongan kapal yang disebut dengan 'armada pertama' itu berlayar ke Rio de Janeiro, Brasil lalu menuju ke timur tepatnya ke Cape Town, Afrika hingga akhirnya sampai ke Botany Bay atau yang kini dikenal dengan Sydney, Australia.
Orang-orang dari kapal inilah yang kemudian menjadi masyarakat Australia. Dari total 11 kapal itu diketahui terdiri dari 2 kapal Angkatan Laut Kerajaan Inggris, 3 kapal dagang dan 6 kapal yang mengangkut narapidana. Rombongan ini tiba di Australia selama periode waktu pada 18 sampai dengan 20 Januari 1788. Tak hanya membawa narapidana, kapal-kapal tersebut juga membawa kelinci untuk dikembangkan.
Selama beberapa dekade, pengembangan ternak kelinci di Australia berjalan lancar tanpa ada masalah. Namun pada 1827, surat kabar Tasmania memuat sebuah artikel yang isinya menjelaskan bahwa Australia telah mengalami ledakan populasi kelinci. Memasuki 1840-an, kelinci menjadi hewan yang sangat umum ditemukan di Australia dan menjadi makanan pokok bagi masyarakat.
Kemudian memasuki akhir 1866 hal-hal tak terkendali mulai muncul akibat jumlah kelinci yang terus bertambah. Musim dingin ringan di Australia telah memungkinkan hewan lucu tersebut berkembang biak sepanjang tahun hingga jumlahnya tak mampu dihitung lagi. Ledakan populasi kelinci di Australia adalah penyebaran tercepat spesies mamalia sepanjang sejarah dunia dan belum pernah terjadi di belahan bumi manapun.
Hal ini tentunya berbahaya bagi ekosistem Australia dan makhluk lainnya. Pada 1887, situasi menjadi semakin parah sehingga Pemerintah New South Wales menawarkan hadiah sejumlah uang bagi siapa saja yang memiliki ide untuk memusnakan kelinci dalam jumlah banyak sekaligus. Kala itu, lebih dari seribu saran diajukan, namun belum ada yang bisa diterima.

Kelinci liar mulai mengganggu manusia dengan menghancurkan tanaman. Ini  tampaknya merupakan ancaman besar bagi hilangnya spesies makhluk hidup di seluruh  benua. Dengan memakan tanaman para kelinci itu membuat daratan menjadi  kering dan terbuka sehingga rentan terhadap erosi.
Pada 1893, pagar khusus untuk menghalangi kelinci masuk ke wilayah manusia dipasang di  Queensland dan terus diperpanjang tiap tahunnya. Namun kelinci selalu  menemukan jalannya. Pada akhir abad ke-19, virus mematikan untuk  membunuh kelinci ditemukan oleh para ahli di Uruguay. Virus itu disebut  dengan Myxomatosis dan memiliki efek mengerikan.
Kelinci yang terkena  virus itu akan menderita tumor kulit, kebutaan, dan kelelahan serta demam.  Kelinci akan meninggal dalam waktu dua minggu setelah tertular penyakit ini. Penemuan ini dianggap sebagai solusi yang paling tepat untuk  mengatasi teror kelinci di Australia.
Apalagi virus ini akan menular  jika hewan saling melakukan kontak langsung. Tes Virus pertama kali  disebar pada 1938 di Australia, dan pada 1950 barulah virus ini disebar  dalam skala yang penuh di negara lain. Virus Myxo ternyata sangat efektif untuk mengurangi  jumlah kelinci yang tadinya 600 juta ekor menjadi 100 juta dalam kurun waktu dua  tahun.
Pada 1991, populasi kelinci di Australia mengalami regenerasi,  mencapai 200 sampai 300 juta. Tidak seperti di Australia, proyek Myxomatosis gagal di negara tetangga Selandia Baru, tapi berhasil di negara lain. Ketika diperkenalkan  di Prancis pada tahun 1950-an, virus ini membunuh 90% kelinci liar di  negara ini.
Myxo kemudian menyebar ke seluruh Eropa juga. Di Inggris virus myxo membunuh 99% populasi kelinci. Kisah ini  mampu mengingatkan manusia jika bermain dengan alam adalah sesuatu hal yang berbahaya dan  selalu ada hal yang tak terduga.
</description><content:encoded>PADA 13 Mei 1787 sebanyak 11 kapal berlayar dari Inggris dengan membawa sejumlah narapidana. Rombongan kapal yang disebut dengan 'armada pertama' itu berlayar ke Rio de Janeiro, Brasil lalu menuju ke timur tepatnya ke Cape Town, Afrika hingga akhirnya sampai ke Botany Bay atau yang kini dikenal dengan Sydney, Australia.
Orang-orang dari kapal inilah yang kemudian menjadi masyarakat Australia. Dari total 11 kapal itu diketahui terdiri dari 2 kapal Angkatan Laut Kerajaan Inggris, 3 kapal dagang dan 6 kapal yang mengangkut narapidana. Rombongan ini tiba di Australia selama periode waktu pada 18 sampai dengan 20 Januari 1788. Tak hanya membawa narapidana, kapal-kapal tersebut juga membawa kelinci untuk dikembangkan.
Selama beberapa dekade, pengembangan ternak kelinci di Australia berjalan lancar tanpa ada masalah. Namun pada 1827, surat kabar Tasmania memuat sebuah artikel yang isinya menjelaskan bahwa Australia telah mengalami ledakan populasi kelinci. Memasuki 1840-an, kelinci menjadi hewan yang sangat umum ditemukan di Australia dan menjadi makanan pokok bagi masyarakat.
Kemudian memasuki akhir 1866 hal-hal tak terkendali mulai muncul akibat jumlah kelinci yang terus bertambah. Musim dingin ringan di Australia telah memungkinkan hewan lucu tersebut berkembang biak sepanjang tahun hingga jumlahnya tak mampu dihitung lagi. Ledakan populasi kelinci di Australia adalah penyebaran tercepat spesies mamalia sepanjang sejarah dunia dan belum pernah terjadi di belahan bumi manapun.
Hal ini tentunya berbahaya bagi ekosistem Australia dan makhluk lainnya. Pada 1887, situasi menjadi semakin parah sehingga Pemerintah New South Wales menawarkan hadiah sejumlah uang bagi siapa saja yang memiliki ide untuk memusnakan kelinci dalam jumlah banyak sekaligus. Kala itu, lebih dari seribu saran diajukan, namun belum ada yang bisa diterima.

Kelinci liar mulai mengganggu manusia dengan menghancurkan tanaman. Ini  tampaknya merupakan ancaman besar bagi hilangnya spesies makhluk hidup di seluruh  benua. Dengan memakan tanaman para kelinci itu membuat daratan menjadi  kering dan terbuka sehingga rentan terhadap erosi.
Pada 1893, pagar khusus untuk menghalangi kelinci masuk ke wilayah manusia dipasang di  Queensland dan terus diperpanjang tiap tahunnya. Namun kelinci selalu  menemukan jalannya. Pada akhir abad ke-19, virus mematikan untuk  membunuh kelinci ditemukan oleh para ahli di Uruguay. Virus itu disebut  dengan Myxomatosis dan memiliki efek mengerikan.
Kelinci yang terkena  virus itu akan menderita tumor kulit, kebutaan, dan kelelahan serta demam.  Kelinci akan meninggal dalam waktu dua minggu setelah tertular penyakit ini. Penemuan ini dianggap sebagai solusi yang paling tepat untuk  mengatasi teror kelinci di Australia.
Apalagi virus ini akan menular  jika hewan saling melakukan kontak langsung. Tes Virus pertama kali  disebar pada 1938 di Australia, dan pada 1950 barulah virus ini disebar  dalam skala yang penuh di negara lain. Virus Myxo ternyata sangat efektif untuk mengurangi  jumlah kelinci yang tadinya 600 juta ekor menjadi 100 juta dalam kurun waktu dua  tahun.
Pada 1991, populasi kelinci di Australia mengalami regenerasi,  mencapai 200 sampai 300 juta. Tidak seperti di Australia, proyek Myxomatosis gagal di negara tetangga Selandia Baru, tapi berhasil di negara lain. Ketika diperkenalkan  di Prancis pada tahun 1950-an, virus ini membunuh 90% kelinci liar di  negara ini.
Myxo kemudian menyebar ke seluruh Eropa juga. Di Inggris virus myxo membunuh 99% populasi kelinci. Kisah ini  mampu mengingatkan manusia jika bermain dengan alam adalah sesuatu hal yang berbahaya dan  selalu ada hal yang tak terduga.
</content:encoded></item></channel></rss>
