<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Astaga! Bunuh Seorang Pelajar Terkait Kasus Narkoba, Polisi Filipina Tuai Kecaman</title><description>Kepolisian Filipina menuai kecaman publik setelah dituding dengan sengaja membunuh seorang pelajar berusia 17 tahun.</description><link>https://news.okezone.com/read/2017/08/20/18/1759177/astaga-bunuh-seorang-pelajar-terkait-kasus-narkoba-polisi-filipina-tuai-kecaman</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2017/08/20/18/1759177/astaga-bunuh-seorang-pelajar-terkait-kasus-narkoba-polisi-filipina-tuai-kecaman"/><item><title>Astaga! Bunuh Seorang Pelajar Terkait Kasus Narkoba, Polisi Filipina Tuai Kecaman</title><link>https://news.okezone.com/read/2017/08/20/18/1759177/astaga-bunuh-seorang-pelajar-terkait-kasus-narkoba-polisi-filipina-tuai-kecaman</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2017/08/20/18/1759177/astaga-bunuh-seorang-pelajar-terkait-kasus-narkoba-polisi-filipina-tuai-kecaman</guid><pubDate>Minggu 20 Agustus 2017 05:05 WIB</pubDate><dc:creator>Rufki Ade Vinanda</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2017/08/20/18/1759177/astaga-bunuh-seorang-pelajar-terkait-kasus-narkoba-polisi-filipina-tuai-kecaman-ezWDt5SP4G.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Kian Loyd Delos Santos. (Foto: Daily Mail)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2017/08/20/18/1759177/astaga-bunuh-seorang-pelajar-terkait-kasus-narkoba-polisi-filipina-tuai-kecaman-ezWDt5SP4G.jpg</image><title>Kian Loyd Delos Santos. (Foto: Daily Mail)</title></images><description>MANILA - Kepolisian Filipina menuai kecaman publik setelah dituding dengan sengaja membunuh seorang pelajar berusia 17 tahun. Pembunuhan itu disebut berlangsung dalam perang melawan obat-obatan terlarang yang dicanangkan oleh Presiden Rodrigo Duterte.
Remaja yang diketahui bernama Kian Loyd Delos Santos menjadi satu dari sekurangnya 80 orang yang ditembak mati pekan ini dalam upaya pemberantasan narkoba di Filipina. Berdasarkan keterangan resmi Pemerintah Filipina, Santos ditembak karena melakukan perlawanan dan melepaskan tembakan terhadap polisi.
Namun, keterangan tersebut diragukan publik setelah sebuah saluran televisi lokal menampilkan rekaman cctv terkait kronologi kejadian. Rekaman cctv tersebut menunjukkan, Santos secara paksa dibawa oleh dua orang polisi ke sebuah wilayah di mana kemudian mayatnya ditemukan.
Melansir Daily Mail, Minggu (20/8/2017), seorang saksi mata mengklaim bahwa remaja tersebut sama sekali tidak memiliki senjata sebelum ditangkap. Saksi yang tak disebutkan identitasnya itu menyebut bahwa polisi justru memberikan sebuah pistol pada Santos dan memintanya melepaskan tembakan lalu menyuruhnya kabur.
Kepala Polisi Nasional, Ronald dela Rosa menyatakan, jika siswa kelas 11 sekolah menengah atas itu tidak terbukti menimbulkan ancaman maka petugas yang menembaknya akan dimintai pertanggungjawaban.&quot;Pikirkan saja ia hanyalah anak kecil. Dan bagaimana jika itu terjadi pada keluarga Anda? Kami akan menyelidiki kasus ini. Saya jamin itu,&quot; ujar Rosa.
Sementara itu, Kepala Polisi Metro Manila, Oscar Albayalde menyebut, ketiga polisi yang terlibat pembunuhan terhadap Santos telah dibebastugaskan. Penyelidikan juga mulai dilakukan di tempat kejadian perkara di distrik Caloocan di barat laut Ibu Kota Manila.
Pada awal pekan ini, polisi telah menembak mati 67 orang dan menangkap lebih dari 200 orang di Manila serta wilayah di sekitarnya. Penembakan tersebut dilakukan dalam program 'One-Time, Big-Time' untuk mengendalikan narkoba dan kejahatan jalanan.
Operasi tersebut biasa dilangsungkan di wilayah lingkungan kumuh dengan masyarakat berpenghasilan rendah. Sebagaimana diketahui pemberantasan Narkoba Presiden Duterte yang tak segan membunuh para pelakunya memang kerap mendapat protes dan kecaman dari Badan Hak Asasi Manusia (HAM) internasional. Namun, presiden kontroversial tersebut terkesan acuh dengan kritik yang dilontarkan padanya itu.

</description><content:encoded>MANILA - Kepolisian Filipina menuai kecaman publik setelah dituding dengan sengaja membunuh seorang pelajar berusia 17 tahun. Pembunuhan itu disebut berlangsung dalam perang melawan obat-obatan terlarang yang dicanangkan oleh Presiden Rodrigo Duterte.
Remaja yang diketahui bernama Kian Loyd Delos Santos menjadi satu dari sekurangnya 80 orang yang ditembak mati pekan ini dalam upaya pemberantasan narkoba di Filipina. Berdasarkan keterangan resmi Pemerintah Filipina, Santos ditembak karena melakukan perlawanan dan melepaskan tembakan terhadap polisi.
Namun, keterangan tersebut diragukan publik setelah sebuah saluran televisi lokal menampilkan rekaman cctv terkait kronologi kejadian. Rekaman cctv tersebut menunjukkan, Santos secara paksa dibawa oleh dua orang polisi ke sebuah wilayah di mana kemudian mayatnya ditemukan.
Melansir Daily Mail, Minggu (20/8/2017), seorang saksi mata mengklaim bahwa remaja tersebut sama sekali tidak memiliki senjata sebelum ditangkap. Saksi yang tak disebutkan identitasnya itu menyebut bahwa polisi justru memberikan sebuah pistol pada Santos dan memintanya melepaskan tembakan lalu menyuruhnya kabur.
Kepala Polisi Nasional, Ronald dela Rosa menyatakan, jika siswa kelas 11 sekolah menengah atas itu tidak terbukti menimbulkan ancaman maka petugas yang menembaknya akan dimintai pertanggungjawaban.&quot;Pikirkan saja ia hanyalah anak kecil. Dan bagaimana jika itu terjadi pada keluarga Anda? Kami akan menyelidiki kasus ini. Saya jamin itu,&quot; ujar Rosa.
Sementara itu, Kepala Polisi Metro Manila, Oscar Albayalde menyebut, ketiga polisi yang terlibat pembunuhan terhadap Santos telah dibebastugaskan. Penyelidikan juga mulai dilakukan di tempat kejadian perkara di distrik Caloocan di barat laut Ibu Kota Manila.
Pada awal pekan ini, polisi telah menembak mati 67 orang dan menangkap lebih dari 200 orang di Manila serta wilayah di sekitarnya. Penembakan tersebut dilakukan dalam program 'One-Time, Big-Time' untuk mengendalikan narkoba dan kejahatan jalanan.
Operasi tersebut biasa dilangsungkan di wilayah lingkungan kumuh dengan masyarakat berpenghasilan rendah. Sebagaimana diketahui pemberantasan Narkoba Presiden Duterte yang tak segan membunuh para pelakunya memang kerap mendapat protes dan kecaman dari Badan Hak Asasi Manusia (HAM) internasional. Namun, presiden kontroversial tersebut terkesan acuh dengan kritik yang dilontarkan padanya itu.

</content:encoded></item></channel></rss>
