<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>  Mengenal Sapeq, Alat Musik Tradisional Suku Dayak Bahau yang Masih Diminati</title><description>Gerimis turun di Kota Balikpapan, Kalimantan Timur sejak pagi hari itu.</description><link>https://news.okezone.com/read/2017/08/24/340/1761439/mengenal-sapeq-alat-musik-tradisional-suku-dayak-bahau-yang-masih-diminati</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2017/08/24/340/1761439/mengenal-sapeq-alat-musik-tradisional-suku-dayak-bahau-yang-masih-diminati"/><item><title>  Mengenal Sapeq, Alat Musik Tradisional Suku Dayak Bahau yang Masih Diminati</title><link>https://news.okezone.com/read/2017/08/24/340/1761439/mengenal-sapeq-alat-musik-tradisional-suku-dayak-bahau-yang-masih-diminati</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2017/08/24/340/1761439/mengenal-sapeq-alat-musik-tradisional-suku-dayak-bahau-yang-masih-diminati</guid><pubDate>Kamis 24 Agustus 2017 06:25 WIB</pubDate><dc:creator>Amir Sarifudin </dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2017/08/23/340/1761439/mengenal-sapeq-alat-musik-tradisional-suku-dayak-bahau-yang-masih-diminati-HmqJOpkrGg.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Abel Anyek memainkan sapeq (Amir Sarifuddin/Okezone) </media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2017/08/23/340/1761439/mengenal-sapeq-alat-musik-tradisional-suku-dayak-bahau-yang-masih-diminati-HmqJOpkrGg.jpg</image><title>Abel Anyek memainkan sapeq (Amir Sarifuddin/Okezone) </title></images><description>BALIKPAPAN - Gerimis turun di Kota Balikpapan, Kalimantan Timur sejak pagi hari itu. Jalanan menuju rumah Abel Anyeq (59) di RT 41 Klandasan Ulu, Kecamatan Balikpapan Kota, tampak basah. Abel Anyeq merupakan perajin sapeq, alat musik petik khas Suku Dayak Bahau.

Saat itu Abel Anyeq sedang asyik mengukir kayu plantang yang merupakan bahan pembuatan sapeq, dengan sebilah pisau cutter. Agak berbeda memang, karena biasanya para perajin menggunakan pahat untuk mengukir kayu.

&quot;Saya tidak mahir menggunakan alat pahat, jadi pakai pisau cutter untuk mengukir kayu plantang yang sudah mulus ini. Tapi harus hati-hati karena jari bisa terluka,&quot; kata Abel Anyeq.

Plantang merupakan jenis kayu dari pohon randu yang tekstur seratnya cukup lunak sehingga mudah diukir. Kayu itu khusus ia pesan dari seorang pemilik kebun karet di kawasan Waduk Manggar. Jaraknya berkisar 23 kilometer dari Klandasan Ulu yang berada di pusat kota Balikpapan.

Ukiran yang tentunya tidak asal-asalan. &quot;Kalau ukiran Dayak itu sumbernya dari alam seperti daun pakis yang bentuknya melengkung. Ada juga ukiran asoq lejao pada ujung kepala sapeq ini,&quot; ucapnya sembari mengukir secara teliti.

Asoq lejao merupakan ukiran berbentuk kepala anjing. Dia menambahkan, hampir di setiap rumah di desanya pasti ada ukuran asoq lejau. Kemudian ukiran kepala burung enggang juga biasa menghiasi sapeq.

&quot;Kalau sudah selesai diukir, dihaluskan lagi pakai amplas baru diberi varnish supaya mengilat dan tidak mudah basah, baru setelahnya dipasang freet, senar termasuk nut, tuner dan bridge-nya,&quot; kata Abel yang sesekali menyeruput kopi hitam yang disuguhkan istrinya.

Untuk membuat satu buah sapeq, ayah tiga anak ini membutuhkan waktu empat hari. Selanjutnya karyanya siap dijual dengan harga bervariasi. &quot;Biasanya Rp1 juta untuk satu sapeq. Ada juga yang Rp2 juta, tergantung ukuran dan kerumitan pembuatannya. Biasanya pemesan ada yang minta senar atau dawainya ditambah, atau dibuat agar bisa untuk musik dan lagu modern,&quot; ujarnya sambil melanjutkan mengukir.

Abel merupakan warga Kecamatan Long Pahangai, Kabupaten Mahakam Ulu. Tapi sejak 30 tahun kebelakang, dia menetap di Balikpapan. Mengenai kepiawannya membuat alat musik sapeq, Abel mengaku belajar secara otodidak.

&quot;Sewaktu masih remaja dulu di kampung, saya suka melihat laki-laki di sana membuat sapeq, setelah itu saya belajar sendiri. Kebetulan di rumah ada sapeq punya kakak. Kalau kakak pergi, pasti saya mainkan sapeqnya,&quot; ungkapnya mengenang masa lalu.

Abel Anyeq menunjukkan kebolehan. Dentingan dawai sapeq yang dipetiknya mengalun merdu di telinga. Tatapan Abel Anyeq menerawang jauh ke angkasa. Suasana ketika itu terasa syahdu. Tiba-tiba air mata menggenang di pelupuk mata Abel.

&quot;Sapeq ini ada di hati dan saya kalau sudah main seperti ini pasti teringat kampung di Long Pahangai. Baru sekali saya pulang. Biayanya ke sana mahal bisa habis puluhan juta rupiah. Orangtua juga sudah tidak ada (meninggal),&quot; kenangnya.
</description><content:encoded>BALIKPAPAN - Gerimis turun di Kota Balikpapan, Kalimantan Timur sejak pagi hari itu. Jalanan menuju rumah Abel Anyeq (59) di RT 41 Klandasan Ulu, Kecamatan Balikpapan Kota, tampak basah. Abel Anyeq merupakan perajin sapeq, alat musik petik khas Suku Dayak Bahau.

Saat itu Abel Anyeq sedang asyik mengukir kayu plantang yang merupakan bahan pembuatan sapeq, dengan sebilah pisau cutter. Agak berbeda memang, karena biasanya para perajin menggunakan pahat untuk mengukir kayu.

&quot;Saya tidak mahir menggunakan alat pahat, jadi pakai pisau cutter untuk mengukir kayu plantang yang sudah mulus ini. Tapi harus hati-hati karena jari bisa terluka,&quot; kata Abel Anyeq.

Plantang merupakan jenis kayu dari pohon randu yang tekstur seratnya cukup lunak sehingga mudah diukir. Kayu itu khusus ia pesan dari seorang pemilik kebun karet di kawasan Waduk Manggar. Jaraknya berkisar 23 kilometer dari Klandasan Ulu yang berada di pusat kota Balikpapan.

Ukiran yang tentunya tidak asal-asalan. &quot;Kalau ukiran Dayak itu sumbernya dari alam seperti daun pakis yang bentuknya melengkung. Ada juga ukiran asoq lejao pada ujung kepala sapeq ini,&quot; ucapnya sembari mengukir secara teliti.

Asoq lejao merupakan ukiran berbentuk kepala anjing. Dia menambahkan, hampir di setiap rumah di desanya pasti ada ukuran asoq lejau. Kemudian ukiran kepala burung enggang juga biasa menghiasi sapeq.

&quot;Kalau sudah selesai diukir, dihaluskan lagi pakai amplas baru diberi varnish supaya mengilat dan tidak mudah basah, baru setelahnya dipasang freet, senar termasuk nut, tuner dan bridge-nya,&quot; kata Abel yang sesekali menyeruput kopi hitam yang disuguhkan istrinya.

Untuk membuat satu buah sapeq, ayah tiga anak ini membutuhkan waktu empat hari. Selanjutnya karyanya siap dijual dengan harga bervariasi. &quot;Biasanya Rp1 juta untuk satu sapeq. Ada juga yang Rp2 juta, tergantung ukuran dan kerumitan pembuatannya. Biasanya pemesan ada yang minta senar atau dawainya ditambah, atau dibuat agar bisa untuk musik dan lagu modern,&quot; ujarnya sambil melanjutkan mengukir.

Abel merupakan warga Kecamatan Long Pahangai, Kabupaten Mahakam Ulu. Tapi sejak 30 tahun kebelakang, dia menetap di Balikpapan. Mengenai kepiawannya membuat alat musik sapeq, Abel mengaku belajar secara otodidak.

&quot;Sewaktu masih remaja dulu di kampung, saya suka melihat laki-laki di sana membuat sapeq, setelah itu saya belajar sendiri. Kebetulan di rumah ada sapeq punya kakak. Kalau kakak pergi, pasti saya mainkan sapeqnya,&quot; ungkapnya mengenang masa lalu.

Abel Anyeq menunjukkan kebolehan. Dentingan dawai sapeq yang dipetiknya mengalun merdu di telinga. Tatapan Abel Anyeq menerawang jauh ke angkasa. Suasana ketika itu terasa syahdu. Tiba-tiba air mata menggenang di pelupuk mata Abel.

&quot;Sapeq ini ada di hati dan saya kalau sudah main seperti ini pasti teringat kampung di Long Pahangai. Baru sekali saya pulang. Biayanya ke sana mahal bisa habis puluhan juta rupiah. Orangtua juga sudah tidak ada (meninggal),&quot; kenangnya.
</content:encoded></item></channel></rss>
