<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>OKEZONE FILES: Pernah ke Waduk Jatiluhur? Mesti Tahu Sejarah Pembangunannya</title><description>Berikut ini Okezone paparkan secara singkat sejarah pembangunan Waduk Jatiluhur di Purwakarta.</description><link>https://news.okezone.com/read/2017/08/25/337/1762532/okezone-files-pernah-ke-waduk-jatiluhur-mesti-tahu-sejarah-pembangunannya</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2017/08/25/337/1762532/okezone-files-pernah-ke-waduk-jatiluhur-mesti-tahu-sejarah-pembangunannya"/><item><title>OKEZONE FILES: Pernah ke Waduk Jatiluhur? Mesti Tahu Sejarah Pembangunannya</title><link>https://news.okezone.com/read/2017/08/25/337/1762532/okezone-files-pernah-ke-waduk-jatiluhur-mesti-tahu-sejarah-pembangunannya</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2017/08/25/337/1762532/okezone-files-pernah-ke-waduk-jatiluhur-mesti-tahu-sejarah-pembangunannya</guid><pubDate>Jum'at 25 Agustus 2017 07:31 WIB</pubDate><dc:creator>Hantoro</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2017/08/24/337/1762532/okezone-files-pernah-ke-waduk-jatiluhur-mesti-tahu-sejarah-pembangunannya-av3rPHwGxX.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Waduk Jatiluhur. (Foto: Ist)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2017/08/24/337/1762532/okezone-files-pernah-ke-waduk-jatiluhur-mesti-tahu-sejarah-pembangunannya-av3rPHwGxX.jpg</image><title>Waduk Jatiluhur. (Foto: Ist)</title></images><description>INDONESIA tidak pernah lekang dari jalan cerita sejarah. Sejumlah lokasi dan tempat bernilai tinggi ada di berbagai penjuru Tanah Air. Kisah menarik yang ada di baliknya pun wajib diketahui khalayak ramai. Lalu kali ini Okezone akan membahas sejarah singkat salah satu bangunan fasilitas umum di wilayah Jawa Barat, yakni Waduk Jatiluhur.

Jatiluhur merupakan waduk terbesar di Indonesia. Bangunan ini membendung aliran Sungai Citarum di Kecamatan Jatiluhur, Kabupaten Purwakarta, dan membentuk waduk dengan genangan seluas kira-kira 83 kilometer persegi (km2) dan keliling waduk 150 km pada elevasi muka air normal lebih dari 107 meter di atas permukaan laut (mdpl).

Bendungan dengan nama asli Waduk Ir H Djuanda ini mulai dibangun pada 1957 oleh perusahaan kontraktor asal Prancis Compagnie fran&amp;ccedil;aise d'entreprise. Pemberian nama Ir H Djuanda (Ir H R Djoeanda Kartawidjaja) yang merupakan perdana menteri terakhir RI yang memimpin Kabinet Karya (1957&amp;ndash;1959) adalah sebagai bentuk penghargaan terhadap beliau dalam memperjuangkan pembiayaan pembangunan Bendungan Jatiluhur.

(Baca: Jatiluhur, Waduk Serba Guna nan Eksotis)
 

Waduk Jatiluhur sendiri letaknya yang berada di Kabupaten Purwakarta dinilai cukup strategis untuk menopang pengairan di kota-kota sekitarnya. Waduk Jatiluhur memiliki luas 8.300 hektare dan potensi air sebesar 12,9 miliar meter kubik (m3) per tahun. Jatiluhur merupakan waduk serbaguna pertama di Indonesia, dan jadi yang terbesar.

Di bangunannya terpasang enam turbin dengan daya 187 megawatt dan produksi tenaga listrik rata-rata 1.000 juta kwh setiap tahunnya. Bendungan Jatiluhur bisa menyediakan air irigasi untuk sebanyak 242.000 hektare sawah dalam dua kali tanam di setiap tahunnya serta bahan baku air minum, budi daya perikanan, dan pengendali banjir yang dikelola Perum Jasa Tirta II.

Berdasarkan keterangan berbagai sumber yang dikutip Okezone, Jumat (25/8/2017), pembangunan Waduk Jatiluhur diawali usai Perang Dunia II. Seiring peningkatan populasi penduduk yang makin besar, kebutuhan pangan dan listrik untuk rumah tangga maupun industri meningkat pesat. Pemerintah Indonesia memutuskan membangun waduk besar di utara Provinsi Jawa Barat guna memenuhi kebutuhan tersebut.

Pembangunannya kemudian diketahui diberi nama 'Jatiluhur Multipurpose Project'. Setelah selesai, barulah dinamakan Bendungan dan Pembangkit Listrik Ir H Djuanda. Waduk Jatiluhur pada dasarnya dibuat untuk keperluan irigasi dan listrik, namun ternyata memiliki tujuan lain yakni memasok air baku, pengendalian banjir, perikanan darat, dan pariwisata.

Bendungan ini saat mulai dibangun ditandai dengan  peletakan batu pertama oleh presiden pertama RI Ir Soekarno. Tanggal 19 September 1965 merupakan kunjungan terakhir Bung Karno ke Bendungan Jatiluhur, yakni 11 hari sebelum pecahnya peristiwa G 30 S PKI. Dalam kesempatan tersebut sempat dilaksanakan Sidang Kabinet Dwikora. Tapi peristiwa ini juga berdampak dengan terhentinya penyelesaian pembangunan karena muncul pemberontakan.

(Baca: Atraksi Wisata yang Dapat Dinikmati saat Berlibur ke Waduk Jatiluhur)
 

Kemudian ternyata pekerja-pekerja dari Prancis tidak pernah menyelesaikan pembangunan Waduk Jatiluhur. Pada 15 Oktober 1965, atau 15 hari setelah pecah G 30 S PKI, mereka kembali ke negaranya. Ketika itu sebagian konstruksi menara pelimpah utama bagian atas belum selesai dan bendungan pelana Pasirgombong Barat dan Timur sama sekali belum dibuat. Penyelesaian pekerjaan yang tersisa tersebut dilaksanakan secara swakelola oleh tenaga ahli dari Indonesia dengan memanfaatkan peralatan yang ditinggalkan.

Selanjutnya saat peresmian Waduk Jatiluhur oleh Presiden Soeharto, pekerjaan masih belum selesai 100 persen. Pelimpah pembantu yang berada di tumpuan kiri Bendungan Pelana Ubrug belum sesuai rencana awal, yakni penggunaan pintu radial di kedua jendelanya. Hal itu disebabkan biaya untuk penyelesaian tidak ada lagi.

Supaya Bendungan Jatiluhur dapat beroperasi sesuai rencana, dilakukan inovasi-inovasi pembangunan, terutama terkait elevasi banjir maksimum. Lalu akhirnya peresmian dilakukan oleh presiden kedua RI, Jenderal HM Soeharto, pada 26 Agustus 1967. Diketahui, hingga pembangunan Bendungan Ir H Djuanda selesai jumlah biaya yang dikeluarkan mencapai USD230 juta. Biaya ini meliputi biaya dalam bentuk dolar dan rupiah.

&amp;lt;iframe width=&quot;560&quot; height=&quot;315&quot; src=&quot;https://www.youtube.com/embed/LPzm87Olnx4&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;</description><content:encoded>INDONESIA tidak pernah lekang dari jalan cerita sejarah. Sejumlah lokasi dan tempat bernilai tinggi ada di berbagai penjuru Tanah Air. Kisah menarik yang ada di baliknya pun wajib diketahui khalayak ramai. Lalu kali ini Okezone akan membahas sejarah singkat salah satu bangunan fasilitas umum di wilayah Jawa Barat, yakni Waduk Jatiluhur.

Jatiluhur merupakan waduk terbesar di Indonesia. Bangunan ini membendung aliran Sungai Citarum di Kecamatan Jatiluhur, Kabupaten Purwakarta, dan membentuk waduk dengan genangan seluas kira-kira 83 kilometer persegi (km2) dan keliling waduk 150 km pada elevasi muka air normal lebih dari 107 meter di atas permukaan laut (mdpl).

Bendungan dengan nama asli Waduk Ir H Djuanda ini mulai dibangun pada 1957 oleh perusahaan kontraktor asal Prancis Compagnie fran&amp;ccedil;aise d'entreprise. Pemberian nama Ir H Djuanda (Ir H R Djoeanda Kartawidjaja) yang merupakan perdana menteri terakhir RI yang memimpin Kabinet Karya (1957&amp;ndash;1959) adalah sebagai bentuk penghargaan terhadap beliau dalam memperjuangkan pembiayaan pembangunan Bendungan Jatiluhur.

(Baca: Jatiluhur, Waduk Serba Guna nan Eksotis)
 

Waduk Jatiluhur sendiri letaknya yang berada di Kabupaten Purwakarta dinilai cukup strategis untuk menopang pengairan di kota-kota sekitarnya. Waduk Jatiluhur memiliki luas 8.300 hektare dan potensi air sebesar 12,9 miliar meter kubik (m3) per tahun. Jatiluhur merupakan waduk serbaguna pertama di Indonesia, dan jadi yang terbesar.

Di bangunannya terpasang enam turbin dengan daya 187 megawatt dan produksi tenaga listrik rata-rata 1.000 juta kwh setiap tahunnya. Bendungan Jatiluhur bisa menyediakan air irigasi untuk sebanyak 242.000 hektare sawah dalam dua kali tanam di setiap tahunnya serta bahan baku air minum, budi daya perikanan, dan pengendali banjir yang dikelola Perum Jasa Tirta II.

Berdasarkan keterangan berbagai sumber yang dikutip Okezone, Jumat (25/8/2017), pembangunan Waduk Jatiluhur diawali usai Perang Dunia II. Seiring peningkatan populasi penduduk yang makin besar, kebutuhan pangan dan listrik untuk rumah tangga maupun industri meningkat pesat. Pemerintah Indonesia memutuskan membangun waduk besar di utara Provinsi Jawa Barat guna memenuhi kebutuhan tersebut.

Pembangunannya kemudian diketahui diberi nama 'Jatiluhur Multipurpose Project'. Setelah selesai, barulah dinamakan Bendungan dan Pembangkit Listrik Ir H Djuanda. Waduk Jatiluhur pada dasarnya dibuat untuk keperluan irigasi dan listrik, namun ternyata memiliki tujuan lain yakni memasok air baku, pengendalian banjir, perikanan darat, dan pariwisata.

Bendungan ini saat mulai dibangun ditandai dengan  peletakan batu pertama oleh presiden pertama RI Ir Soekarno. Tanggal 19 September 1965 merupakan kunjungan terakhir Bung Karno ke Bendungan Jatiluhur, yakni 11 hari sebelum pecahnya peristiwa G 30 S PKI. Dalam kesempatan tersebut sempat dilaksanakan Sidang Kabinet Dwikora. Tapi peristiwa ini juga berdampak dengan terhentinya penyelesaian pembangunan karena muncul pemberontakan.

(Baca: Atraksi Wisata yang Dapat Dinikmati saat Berlibur ke Waduk Jatiluhur)
 

Kemudian ternyata pekerja-pekerja dari Prancis tidak pernah menyelesaikan pembangunan Waduk Jatiluhur. Pada 15 Oktober 1965, atau 15 hari setelah pecah G 30 S PKI, mereka kembali ke negaranya. Ketika itu sebagian konstruksi menara pelimpah utama bagian atas belum selesai dan bendungan pelana Pasirgombong Barat dan Timur sama sekali belum dibuat. Penyelesaian pekerjaan yang tersisa tersebut dilaksanakan secara swakelola oleh tenaga ahli dari Indonesia dengan memanfaatkan peralatan yang ditinggalkan.

Selanjutnya saat peresmian Waduk Jatiluhur oleh Presiden Soeharto, pekerjaan masih belum selesai 100 persen. Pelimpah pembantu yang berada di tumpuan kiri Bendungan Pelana Ubrug belum sesuai rencana awal, yakni penggunaan pintu radial di kedua jendelanya. Hal itu disebabkan biaya untuk penyelesaian tidak ada lagi.

Supaya Bendungan Jatiluhur dapat beroperasi sesuai rencana, dilakukan inovasi-inovasi pembangunan, terutama terkait elevasi banjir maksimum. Lalu akhirnya peresmian dilakukan oleh presiden kedua RI, Jenderal HM Soeharto, pada 26 Agustus 1967. Diketahui, hingga pembangunan Bendungan Ir H Djuanda selesai jumlah biaya yang dikeluarkan mencapai USD230 juta. Biaya ini meliputi biaya dalam bentuk dolar dan rupiah.

&amp;lt;iframe width=&quot;560&quot; height=&quot;315&quot; src=&quot;https://www.youtube.com/embed/LPzm87Olnx4&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;</content:encoded></item></channel></rss>
