<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Laporan Terbaru! 47.500 Muslim Rohingya Melarikan Diri ke Bangladesh Sepekan Terakhir</title><description>Jumlah etnis Rohingya yang melarikan diri ke  Bangladesh terus bertambah dalam sepekan terakhir.</description><link>https://news.okezone.com/read/2017/09/01/18/1767554/laporan-terbaru-47-500-muslim-rohingya-melarikan-diri-ke-bangladesh-sepekan-terakhir</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2017/09/01/18/1767554/laporan-terbaru-47-500-muslim-rohingya-melarikan-diri-ke-bangladesh-sepekan-terakhir"/><item><title>Laporan Terbaru! 47.500 Muslim Rohingya Melarikan Diri ke Bangladesh Sepekan Terakhir</title><link>https://news.okezone.com/read/2017/09/01/18/1767554/laporan-terbaru-47-500-muslim-rohingya-melarikan-diri-ke-bangladesh-sepekan-terakhir</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2017/09/01/18/1767554/laporan-terbaru-47-500-muslim-rohingya-melarikan-diri-ke-bangladesh-sepekan-terakhir</guid><pubDate>Jum'at 01 September 2017 13:07 WIB</pubDate><dc:creator>Agregasi Sindonews.com</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2017/09/01/18/1767554/laporan-terbaru-47-500-muslim-rohingya-melarikan-diri-ke-bangladesh-sepekan-terakhir-sKsynf06kQ.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Pengungsi Rohingya. (Foto: Ilustrasi Sindonews)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2017/09/01/18/1767554/laporan-terbaru-47-500-muslim-rohingya-melarikan-diri-ke-bangladesh-sepekan-terakhir-sKsynf06kQ.jpg</image><title>Pengungsi Rohingya. (Foto: Ilustrasi Sindonews)</title></images><description>DHAKA - Jumlah etnis Rohingya yang melarikan diri ke  Bangladesh terus bertambah dalam sepekan terakhir. Diperkirakan 47.500  dari satu juta Rohingya di Myanmar telah melarikan diri ke Bangladesh  dalam sepekan terakhir.
PBB merilis angka terbaru menunjukkan  27.500 Rohingya berhasil melewati perbatasan sejak Jumat pekan lalu,  meningkat hampir 10.000 pada angka hari sebelumnya. 20.000 lainnya  diperkirakan terjebak tanpa pengakuan di antara kedua negara, karena  pertempuran antara pasukan keamanan Myanmar dan kelompok militan Arakan  Rohingya Salvation Army (ARSA) terus berlanjut seperti dikutip dari The National.ae, Jumat (1/9/2017).
Skala  eksodus saat ini jauh lebih besar daripada serangan yang diikuti pada  bulan Oktober lalu. Eksodus ini dimulai setelah ARSA meluncurkan  serangan mematikan terhadap pos keamanan pada 25 Agustus lalu.
(Baca juga: Ya Ampun! Dalam Sepekan, 130 Muslim Rohingya Diduga Dibunuh dan Dikubur Massal)
Pasukan  keamanan Myanmar kemudian menanggapi serangan tersebut dengan operasi  pembersihan brutal. PBB menanggapi aksi balasan militer Myanamar dengan  mengatakan kemungkinan terjadi kejahatan terhadap kemanusiaan dan  pembersihan etnis.Sebelumnya Dewan Keamanan (DK) PBB telah  melakukan pertemuan untuk membahas aksi kekerasan di Myanmar. Tidak ada  pernyataan resmi dari 15 anggota dewan setelah pertemuan tertutup  tersebut. Namun Duta Besar Inggris untuk PBB, Matthew Rycroft,  mengatakan bahwa ada seruan dari anggota dewan untuk deeskalasi. &quot;Kami  semua mengutuk kekerasan tersebut, kami semua meminta semua pihak untuk  menguranginya,&quot; kata Rycroft.
(Baca juga: Tegas! Erdogan Desak Para Pemimpin Negara Islam Tolong Muslim Rohingya)Rycroft mengatakan DK PBB masih  memberikan dukungannya kepada Aung San Suu Kyi, pemenang hadiah Nobel  dan ikon demokrasi yang sekarang memimpin pemerintah di Yangon.&quot;Banyak  dari kita adalah sekutu yang sangat mendukungnya yang telah mengikuti  kemajuannya dengan kekaguman dari kejauhan,&quot; katanya.&quot;Kami  memperhatikannya untuk menetapkan suara yang tepat dan untuk menemukan  kompromi dan deeskalasi yang diperlukan untuk menyelesaikan konflik  demi kebaikan semua orang di Myanmar,&quot; imbuhnya.</description><content:encoded>DHAKA - Jumlah etnis Rohingya yang melarikan diri ke  Bangladesh terus bertambah dalam sepekan terakhir. Diperkirakan 47.500  dari satu juta Rohingya di Myanmar telah melarikan diri ke Bangladesh  dalam sepekan terakhir.
PBB merilis angka terbaru menunjukkan  27.500 Rohingya berhasil melewati perbatasan sejak Jumat pekan lalu,  meningkat hampir 10.000 pada angka hari sebelumnya. 20.000 lainnya  diperkirakan terjebak tanpa pengakuan di antara kedua negara, karena  pertempuran antara pasukan keamanan Myanmar dan kelompok militan Arakan  Rohingya Salvation Army (ARSA) terus berlanjut seperti dikutip dari The National.ae, Jumat (1/9/2017).
Skala  eksodus saat ini jauh lebih besar daripada serangan yang diikuti pada  bulan Oktober lalu. Eksodus ini dimulai setelah ARSA meluncurkan  serangan mematikan terhadap pos keamanan pada 25 Agustus lalu.
(Baca juga: Ya Ampun! Dalam Sepekan, 130 Muslim Rohingya Diduga Dibunuh dan Dikubur Massal)
Pasukan  keamanan Myanmar kemudian menanggapi serangan tersebut dengan operasi  pembersihan brutal. PBB menanggapi aksi balasan militer Myanamar dengan  mengatakan kemungkinan terjadi kejahatan terhadap kemanusiaan dan  pembersihan etnis.Sebelumnya Dewan Keamanan (DK) PBB telah  melakukan pertemuan untuk membahas aksi kekerasan di Myanmar. Tidak ada  pernyataan resmi dari 15 anggota dewan setelah pertemuan tertutup  tersebut. Namun Duta Besar Inggris untuk PBB, Matthew Rycroft,  mengatakan bahwa ada seruan dari anggota dewan untuk deeskalasi. &quot;Kami  semua mengutuk kekerasan tersebut, kami semua meminta semua pihak untuk  menguranginya,&quot; kata Rycroft.
(Baca juga: Tegas! Erdogan Desak Para Pemimpin Negara Islam Tolong Muslim Rohingya)Rycroft mengatakan DK PBB masih  memberikan dukungannya kepada Aung San Suu Kyi, pemenang hadiah Nobel  dan ikon demokrasi yang sekarang memimpin pemerintah di Yangon.&quot;Banyak  dari kita adalah sekutu yang sangat mendukungnya yang telah mengikuti  kemajuannya dengan kekaguman dari kejauhan,&quot; katanya.&quot;Kami  memperhatikannya untuk menetapkan suara yang tepat dan untuk menemukan  kompromi dan deeskalasi yang diperlukan untuk menyelesaikan konflik  demi kebaikan semua orang di Myanmar,&quot; imbuhnya.</content:encoded></item></channel></rss>
