<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Simak! Misteri Jejak Senjata Israel di Myanmar dan Pembantaian Etnis Rohingya</title><description>Parlemen Tel Aviv melawan untuk menghentikan ekspor senjata ke Myanmar.</description><link>https://news.okezone.com/read/2017/09/04/18/1768787/simak-misteri-jejak-senjata-israel-di-myanmar-dan-pembantaian-etnis-rohingya</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2017/09/04/18/1768787/simak-misteri-jejak-senjata-israel-di-myanmar-dan-pembantaian-etnis-rohingya"/><item><title>Simak! Misteri Jejak Senjata Israel di Myanmar dan Pembantaian Etnis Rohingya</title><link>https://news.okezone.com/read/2017/09/04/18/1768787/simak-misteri-jejak-senjata-israel-di-myanmar-dan-pembantaian-etnis-rohingya</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2017/09/04/18/1768787/simak-misteri-jejak-senjata-israel-di-myanmar-dan-pembantaian-etnis-rohingya</guid><pubDate>Senin 04 September 2017 11:41 WIB</pubDate><dc:creator>Agregasi Sindonews.com</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2017/09/04/18/1768787/simak-misteri-jejak-senjata-israel-di-myanmar-dan-pembantaian-etnis-rohingya-rSEy1blNjU.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Pengungsi Rohingya. (Foto: Reuters)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2017/09/04/18/1768787/simak-misteri-jejak-senjata-israel-di-myanmar-dan-pembantaian-etnis-rohingya-rSEy1blNjU.jpg</image><title>Pengungsi Rohingya. (Foto: Reuters)</title></images><description>TEL AVIV - Israel ikut dikritik karena diketahui terus  mengekspor senjatanya Myanmar di saat junta militer negara itu membantai  kelompok minoritas Muslim Rohingya di Rakhine. Meski belum ada  kepastian senjata Israel digunakan dalam kekerasan di Rakhine, tapi  parlemen Tel Aviv melawan untuk menghentikan ekspor senjata tersebut.
Kekerasan  terbaru pecah di Rakhine pada Kamis malam atau Jumat, 25 Agustus dini  hari lalu ketika sebuah kelompok gerilyawan menyerang pos-pos polisi  yang menewaskan 12 petugas. Kelompok Arakan Rohingya Salvation Army  (ARSA) mengklaim bertanggung jawab atas serangan itu dengan dalih  sebagai sikap pembelaan terhadap warga Rohingya.
(Baca juga: Nah! Bantah Klaim Militer Myanmar, Aktivis: 1.000 Muslim Rohingya Dibantai, Bukan 400!)Sebagai respons,  militer Myanmar menggelar operasi yang menewaskan ratusan orang,  termasuk warga sipil Rohingya. Data resmi yang diakui militer dan  pemerintah Myanmar menyatakan, ada 399 orang yang tewas dalam seminggu  ini. Mereka adalah 370 gerilyawan Rohingya, 13 aparat keamanan, dua  pejabat pemerintah dan 14 warga sipil.Tapi, data dari para  aktivis di Rakhine menyebutkan,&amp;nbsp; sekitar 130 orang, termasuk wanita dan  anak-anak Rohingya dibunuh dalam operasi militer. Pembantaian massal  dilaporkan terjadi di Desa Chut Pyin, dekat Kota Rathedaung, Myanmar  barat.Pelapor khusus PBB masih menyelidiki apa yang sebenarnya  terjadi di Rakhine, termasuk asal-usul senjata junta militer yang  digunakan untuk menindas kelompok minoritas Rohingya. Tapi, para periset  Universitas Harvard mengatakan bahwa kejahatan terus berlanjut karena  pemerintah Israel tetap menyediakan senjata ke rezim Myanmar.
(Baca juga: Tiba di Naypyitaw, Menlu Retno Akan Bahas Pembangunan Rumah Sakit Indonesia)Melansir laporan Haaretz,  Senin (4/9/2017), salah satu petinggi junta militer, Jenderal Min Aung  Hlaing, diketahui mengunjungi Israel pada bulan September 2015 dalam  sebuah &amp;rdquo;perjalanan belanja&amp;rdquo; dari produsen militer Israel. Delegasinya  bertemu dengan Presiden Reuven Rivlin serta pejabat militer termasuk  kepala staf tentara Israel. Dia mengunjungi pangkalan militer dan  kontraktor pertahanan Elbit Systems dan Elta Systems.Kepala  Direktorat Kerja Sama Pertahanan Internasional Kementerian Pertahanan  Israel&amp;mdash;yang lebih dikenal dengan akronim berbahasa Ibrani SIBAT&amp;mdash;Michel  Ben-Baruch juga berkunjung ke Myanmar pada musim panas 2015. Dalam  kunjungan yang nyaris tak terendus media itu, pihak junta militer  Myanmar mengaku membeli kapal patroli Super Dvora dari Israel dan ada  pembicaraan tentang pembelian senjata tambahan.Pada bulan Agustus 2016, foto dipublikasikan di situs TAR Ideal Concepts,  sebuah perusahaan Israel yang mengkhususkan diri dalam memberikan  pelatihan dan peralatan militer, menunjukkan pelatihan dengan senapan  Corner Shot buatan Israel. Bersamaan dengan itu, muncul pernyataan bahwa  Myanmar telah mulai menggunakan senjata tersebut untuk operasional. Situs  tersebut mengatakan bahwa perusahaan tersebut dipimpin oleh mantan  Komisaris Polisi Israel Shlomo Aharonishki. Saat ini situs tersebut  tidak membuat referensi khusus ke Myanmar, namun yang hanya merujuk  secara umum ke Asia.Pengadilan Tinggi Israel dijadwalkan untuk  mendengar tuntutan pada akhir September dari sebuah petisi para aktivis  hak asasi manusia yang melawan penjualan senjata lanjutan ke Myanmar.
(Baca juga: VIDEO: Begini Kata Menlu Retno Jelang Pembahasan Konflik Rakhine)Dalam  tanggapan awal Maret lalu, Kementerian Pertahanan Israel berpendapat  bahwa pengadilan tersebut tidak memiliki hak terkait masalah yang  menurut kementerian itu &amp;ldquo;jelas-jelas urusan diplomatis&amp;rdquo;.
Pada tanggal 5 Juni, anggota Knesset (parlemen Israel) Tamar Zandberg  menanyakan ekspor senjata ke Myanmar. Menteri Pertahanan Avigdor  Lieberman menjawab bahwa Israel merupakan negara yang tunduk pada  negara-negara Barat, terutama Amerika Serikat terkait sebagai eksportir  senjata terbesar di dunia. &amp;rdquo;Kami tunduk pada mereka dan mempertahankan  kebijakan yang sama,&amp;rdquo; katanya.Tapi, pernyataan Lieberman salah.  AS dan Uni Eropa sejatinya telah memberlakukan embargo senjata ke  Myanmar. Tidak jelas apakah hal itu sebagai ketidaktahuan Lieberman atau  upayanya untuk membela diri dalam kebijakan ekspor senjata ke Myanmar.</description><content:encoded>TEL AVIV - Israel ikut dikritik karena diketahui terus  mengekspor senjatanya Myanmar di saat junta militer negara itu membantai  kelompok minoritas Muslim Rohingya di Rakhine. Meski belum ada  kepastian senjata Israel digunakan dalam kekerasan di Rakhine, tapi  parlemen Tel Aviv melawan untuk menghentikan ekspor senjata tersebut.
Kekerasan  terbaru pecah di Rakhine pada Kamis malam atau Jumat, 25 Agustus dini  hari lalu ketika sebuah kelompok gerilyawan menyerang pos-pos polisi  yang menewaskan 12 petugas. Kelompok Arakan Rohingya Salvation Army  (ARSA) mengklaim bertanggung jawab atas serangan itu dengan dalih  sebagai sikap pembelaan terhadap warga Rohingya.
(Baca juga: Nah! Bantah Klaim Militer Myanmar, Aktivis: 1.000 Muslim Rohingya Dibantai, Bukan 400!)Sebagai respons,  militer Myanmar menggelar operasi yang menewaskan ratusan orang,  termasuk warga sipil Rohingya. Data resmi yang diakui militer dan  pemerintah Myanmar menyatakan, ada 399 orang yang tewas dalam seminggu  ini. Mereka adalah 370 gerilyawan Rohingya, 13 aparat keamanan, dua  pejabat pemerintah dan 14 warga sipil.Tapi, data dari para  aktivis di Rakhine menyebutkan,&amp;nbsp; sekitar 130 orang, termasuk wanita dan  anak-anak Rohingya dibunuh dalam operasi militer. Pembantaian massal  dilaporkan terjadi di Desa Chut Pyin, dekat Kota Rathedaung, Myanmar  barat.Pelapor khusus PBB masih menyelidiki apa yang sebenarnya  terjadi di Rakhine, termasuk asal-usul senjata junta militer yang  digunakan untuk menindas kelompok minoritas Rohingya. Tapi, para periset  Universitas Harvard mengatakan bahwa kejahatan terus berlanjut karena  pemerintah Israel tetap menyediakan senjata ke rezim Myanmar.
(Baca juga: Tiba di Naypyitaw, Menlu Retno Akan Bahas Pembangunan Rumah Sakit Indonesia)Melansir laporan Haaretz,  Senin (4/9/2017), salah satu petinggi junta militer, Jenderal Min Aung  Hlaing, diketahui mengunjungi Israel pada bulan September 2015 dalam  sebuah &amp;rdquo;perjalanan belanja&amp;rdquo; dari produsen militer Israel. Delegasinya  bertemu dengan Presiden Reuven Rivlin serta pejabat militer termasuk  kepala staf tentara Israel. Dia mengunjungi pangkalan militer dan  kontraktor pertahanan Elbit Systems dan Elta Systems.Kepala  Direktorat Kerja Sama Pertahanan Internasional Kementerian Pertahanan  Israel&amp;mdash;yang lebih dikenal dengan akronim berbahasa Ibrani SIBAT&amp;mdash;Michel  Ben-Baruch juga berkunjung ke Myanmar pada musim panas 2015. Dalam  kunjungan yang nyaris tak terendus media itu, pihak junta militer  Myanmar mengaku membeli kapal patroli Super Dvora dari Israel dan ada  pembicaraan tentang pembelian senjata tambahan.Pada bulan Agustus 2016, foto dipublikasikan di situs TAR Ideal Concepts,  sebuah perusahaan Israel yang mengkhususkan diri dalam memberikan  pelatihan dan peralatan militer, menunjukkan pelatihan dengan senapan  Corner Shot buatan Israel. Bersamaan dengan itu, muncul pernyataan bahwa  Myanmar telah mulai menggunakan senjata tersebut untuk operasional. Situs  tersebut mengatakan bahwa perusahaan tersebut dipimpin oleh mantan  Komisaris Polisi Israel Shlomo Aharonishki. Saat ini situs tersebut  tidak membuat referensi khusus ke Myanmar, namun yang hanya merujuk  secara umum ke Asia.Pengadilan Tinggi Israel dijadwalkan untuk  mendengar tuntutan pada akhir September dari sebuah petisi para aktivis  hak asasi manusia yang melawan penjualan senjata lanjutan ke Myanmar.
(Baca juga: VIDEO: Begini Kata Menlu Retno Jelang Pembahasan Konflik Rakhine)Dalam  tanggapan awal Maret lalu, Kementerian Pertahanan Israel berpendapat  bahwa pengadilan tersebut tidak memiliki hak terkait masalah yang  menurut kementerian itu &amp;ldquo;jelas-jelas urusan diplomatis&amp;rdquo;.
Pada tanggal 5 Juni, anggota Knesset (parlemen Israel) Tamar Zandberg  menanyakan ekspor senjata ke Myanmar. Menteri Pertahanan Avigdor  Lieberman menjawab bahwa Israel merupakan negara yang tunduk pada  negara-negara Barat, terutama Amerika Serikat terkait sebagai eksportir  senjata terbesar di dunia. &amp;rdquo;Kami tunduk pada mereka dan mempertahankan  kebijakan yang sama,&amp;rdquo; katanya.Tapi, pernyataan Lieberman salah.  AS dan Uni Eropa sejatinya telah memberlakukan embargo senjata ke  Myanmar. Tidak jelas apakah hal itu sebagai ketidaktahuan Lieberman atau  upayanya untuk membela diri dalam kebijakan ekspor senjata ke Myanmar.</content:encoded></item></channel></rss>
