<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Siapa Sebenarnya Etnis Rohingya? Berikut Jawaban dari 7 Pertanyaan Seputar Konflik di Myanmar</title><description>Berikut sejumlah jawaban atas sejumlah pertanyaan terkait krisis yang terjadi di Myanmar</description><link>https://news.okezone.com/read/2017/09/05/18/1769617/siapa-sebenarnya-etnis-rohingya-berikut-jawaban-dari-7-pertanyaan-seputar-konflik-di-myanmar</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2017/09/05/18/1769617/siapa-sebenarnya-etnis-rohingya-berikut-jawaban-dari-7-pertanyaan-seputar-konflik-di-myanmar"/><item><title>Siapa Sebenarnya Etnis Rohingya? Berikut Jawaban dari 7 Pertanyaan Seputar Konflik di Myanmar</title><link>https://news.okezone.com/read/2017/09/05/18/1769617/siapa-sebenarnya-etnis-rohingya-berikut-jawaban-dari-7-pertanyaan-seputar-konflik-di-myanmar</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2017/09/05/18/1769617/siapa-sebenarnya-etnis-rohingya-berikut-jawaban-dari-7-pertanyaan-seputar-konflik-di-myanmar</guid><pubDate>Selasa 05 September 2017 14:12 WIB</pubDate><dc:creator>Agregasi BBC Indonesia</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2017/09/05/18/1769617/siapa-sebenarnya-etnis-rohingya-berikut-jawaban-dari-7-pertanyaan-seputar-konflik-di-myanmar-F5gyHDnKPo.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Pengungsi Rohingya. (Foto: STR/AFP/Getty Images)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2017/09/05/18/1769617/siapa-sebenarnya-etnis-rohingya-berikut-jawaban-dari-7-pertanyaan-seputar-konflik-di-myanmar-F5gyHDnKPo.jpg</image><title>Pengungsi Rohingya. (Foto: STR/AFP/Getty Images)</title></images><description>SEKITAR 87.000 umat Muslim Rohingya mengungsi  ke Bangladesh untuk menyelamatkan diri dari kekerasan. BBC Indonesia mengumpulkan  pertanyaan soal krisis kemanusiaan di negara bagian Rakhine,  Myanmar ini. Kami  menerima lebih dari 200 pertanyaan dari pembaca tentang apa yang kini  tengah terjadi di Myanmar. Kami pilih tujuh pertanyaan yang sering  diajukan, dan berikut ini adalah jawabannya.
Bagaimana awal mula permasalahan etnis Rohingya dan latar belakang terjadinya konflik?
Sejak lebih dari sepekan lalu, kekerasan terbaru meletus di negara bagian Rakhine, Myanmar, yang banyak dihuni Muslim Rohingya. Gelombang  kekerasan baru ini menandai eskalasi dramatis sejak Oktober 2016 lalu  ketika milisi Rohingya melakukan serangan dengan skala yang lebih kecil.
Para pengungsi menuduh aparat keamanan Myanmar dan kelompok militan radikal Buddha membakar desa-desa mereka. Pemerintah  Myanmar berdalih, pasukan keamanan mereka sekadar mengambil langkah  balasan terhadap serangan bulan lalu terhadap lebih dari 20 pos polisi  oleh milisi Rohingya.
Bentrokan susulan sesudah itu membuat banyak  warga sipil baik Islam maupun Buddha, lari menyelamatkan diri dari  desa-desa mereka.
Setelah serangan milisi pada bulan Oktober 2016, militer melakukan  operasi pembalasan yang keras, dan banyak warga Rohingya menuduh bahwa  dalam operasi itu pasukan keamanan melakukan pemerkosaan, pembunuhan,  pembakaran desa dan penyiksaan.
PBB sudah menyebut serangan  balasan dari militer terhadap etnis Rohingya pada Oktober lalu sebagai  kejahatan terhadap kemanusiaan.
Militer Myanmar mengatakan mereka  sebisa mungkin akan menahan diri tapi juga menegaskan 'punya hak untuk  membela diri dari serangan-serangan teroris'.
PBB mendefinisikan  Rohingya sebagai minoritas agama dan bahasa dari Myanmar barat dan bahwa  Rohingya adalah salah satu dari minoritas yang paling dipersekusi atau  paling mendapat perlakuan buruk di dunia.
Namun asal kata  Rohingya, dan bagaimana mereka muncul di Myanmar, menjadi isu  kontroversial. Sebagian sejarawan mengatakan kelompok ini sudah berasal  dari ratusan tahun lalu dan lainnya mengatakan mereka baru muncul  sebagai kekuatan identitas dalam seabad terakhir.
Pemerintah Myanmar berkeras bahwa mereka adalah pendatang baru dari  subkontinen India, sehingga konstitusi negara itu tidak memasukkan  mereka dalam kelompok masyarakat adat yang berhak mendapat  kewarganegaraan.
Mereka tinggal di salah satu negara bagian  termiskin di Myanmar, dan gerakan dan akses mereka terhadap pekerjaan  sangat dibatasi.
Secara historis, mayoritas penduduk Rakhine  membenci kehadiran Rohingya yang mereka pandang sebagai pemeluk Islam  dari negara lain dan ada kebencian meluas terhadap Rohingya di Myanmar.
Di sisi lain, penduduk Rohingya merasa bahwa mereka adalah bagian  dari Myanmar dan mengklaim mengalami persekusi oleh negara. Negara  tetangga Bangladesh sudah menerima ratusan ribu pengungsi dari Myanmar  dan tak mampu lagi menampung mereka.
Banyak warga Rohingya yang  tinggal di kamp penampungan sementara setelah dipaksa keluar dari desa  mereka oleh gelombang kekerasan komunal yang menyapu Rakhine pada tahun  2012.
Apa bantuan yang diberikan Indonesia terhadap muslim Rohingya?
Menteri  Luar Negeri Retno Marsudi sudah bertemu dengan Aung San Suu Kyi untuk  membicarakan upaya penyelesaian masalah Rohingya. Dalam pertemuan  tersebut, Menlu menyerahkan Formula 4+1, yang isinya:
(Baca juga: Salut! Sudah Sepekan Indonesia Berdiplomasi Hentikan Kekerasan Terhadap Etnis Rohingya)


- Mengembalikan stabilitas dan keamanan- Menahan diri secara maksimal dan tidak menggunakan kekerasan- Perlindungan kepada semua orang yang berada di negara bagian Rakhine, tanpa memandang suku dan agama- Pentingnya segera dibuka akses untuk bantuan keamanan


&quot;Saya hadir di Myanmar membawa amanah masyarakat Indonesia, yang  sangat khawatir terhadap krisis kemanusiaan di Rakhine dan agar  Indonesia membantu,&quot; jelas Menlu Retno kepada Aung San Suu Kyi, seperti  tertulis dalam pernyataan pers Kementerian Luar Negeri Indonesia.
&quot;Empat  elemen pertama merupakan elemen utama yang harus segera dilakukan agar  krisis kemanusian dan keamanan tidak semakin memburuk,&quot; jelas Menlu RI.
Apa langkah tegas PBB dalam menyikapi konflik ini dan solusi agar warga Rohingya bisa hidup dengan baik dan tidak merasa hidupnya terancam?
Pelapor khusus PBB soal hak asasi manusia untuk Myanmar, Yanghee Lee, sudah mengkritik pemimpin de facto negara itu, Aung San Suu Kyi, karena gagal melindungi minoritas Muslim Rohingya.
Menurut Yanghee Lee, situasi di Rakhine &quot;sangat gawat&quot; dan ini adalah waktunya bagi Suu Kyi untuk &quot;turun tangan&quot;.
Sementara  itu, berbagai lembaga pemantau Hak Asasi manusia (HAM) melanjutkan  desakan agar pemerintah Myanmar mengizinkan Tim Pencari Fakta (TPF) yang  dibentuk Dewan HAM PBB untuk masuk dan mengungkap kebenaran peristiwa  kekerasan di negara bagian Rakhine, tempat tinggal umat sebagian besar  Muslim Rohingya.
(Baca juga: Malala Yousafzai: Saya Menunggu Suu Kyi Kutuk Penyerangan terhadap Rohingya)
TPF kasus Rohingya, yang dibentuk Dewan HAM PBB pada Maret 2017,  sejauh ini belum mendapatkan izin melakukan tugasnya ke Myanmar, karena  otoritas negara itu menolak keberadaan tim tersebut.
Kenapa ASEAN tak ada respons untuk mendamaikan atau mencari solusi untuk mendamaikan? Bagaimana pembahasan Rohingya di forum resmi ASEAN? 
ASEAN sejauh ini belum mengeluarkan pernyataan apa pun terkait krisis kemanusiaan di Myanmar.

Bagaimana sikap Aung San Suu Kyi sebagai pemenang Nobel Perdamaian atas keberadaan etnis Rohingya di Myanmar? 
Aung San Suu Kyi, sebagai pemimpin de facto Myanmar, telah banyak dikecam karena tidak mengeluarkan pernyataan atau  mengakui krisis yang terjadi di Rakhine terhadap etnis minoritas  Rohingya.
Pelapor khusus PBB soal hak asasi manusia untuk Myanmar  Yanghee Lee mengatakan bahwa Suu Kyi berada dalam posisi yang sulit  namun tetap mengkritiknya karena tidak mengecam kekerasan.
(Baca juga: Mencemaskan! Berikut Sejumlah Penderitaan yang Menimpa Etnis Rohingya)
&quot;Dia  terperangkap antara batu dan tempat yang keras, namun saya kira saatnya  baginya untuk ke luar dari sana sekarang,&quot; kata Yanghee Lee.
Tokoh lain yang mengecam Suu Kyi adalah peraih Nobel Perdamaian lain,  Malala Yousafzai, yang mengatakan bahwa dia dan dunia menunggu  pernyataan dari Suu Kyi.
Konflik antara pemerintah Myanmar dengan Rohingnya, apakah benar benar karena murni faktor agama atau karena faktor lainnya?
Ada sisi agama dalam konflik ini, namun juga ada ketegangan antaretnis dan ekonomi.
Komunitas  Rakhine merasa terdiskriminasi secara budaya, dieksploitasi secara  ekonomi dan terpinggirkan oleh pemerintah pusat yang didominasi oleh  etnis Burma.
Dalam situasi ini, etnis Rohingya, oleh orang  Rakhine dianggap sebagai pesaing dalam perebutan sumber daya, sehingga  menimbulkan ketegangan di negara bagian itu yang kemudian memicu konflik  dari dua kelompok etnis tersebut.
Myanmar juga memiliki sejarah panjang ketidakpercayaan antaretnis yang dibiarkan ada, dan kadang dieksploitasi, oleh militer.
Meski  sering disebut tidak ada hubungan langsung antara berbagai ketegangan  kelompok masyarakat, namun rasa tidak percaya anter-etnis tersebut kini  terbuka setelah ada kebebasan.
Pengamat mengatakan bahwa  pemerintah tidak cukup melakukan upaya mengatasi kekerasan dan karenanya  memunculkan risiko konflik lanjutan.
Bagaimana cara memberi bantuan ke pengungsi Rohingya?
Ada  banyak cara yang bisa dilakukan, dari mulai mengirimkan makanan dan  obat-obatan lewat Aliansi Kemanusiaan Indonesia untuk Myanmar (AKIM)  yang diresmikan Menteri Luar Negeri Retno Marsudi, Kamis (31/08) lalu,  meski akses bantuan belum terbuka.
Aksi demonstrasi pun termasuk bentuk memberikan bantuan, meski tak semua orang menganggap ini efektif.
Selain itu, sudah ada sekitar 12.000 pengungsi Rohingya di Indonesia yang membutuhkan bantuan Anda.
Atau malah menjadi relawan anti-hoax untuk tidak menyebarkan berbagai foto menyesatkan di media sosial.</description><content:encoded>SEKITAR 87.000 umat Muslim Rohingya mengungsi  ke Bangladesh untuk menyelamatkan diri dari kekerasan. BBC Indonesia mengumpulkan  pertanyaan soal krisis kemanusiaan di negara bagian Rakhine,  Myanmar ini. Kami  menerima lebih dari 200 pertanyaan dari pembaca tentang apa yang kini  tengah terjadi di Myanmar. Kami pilih tujuh pertanyaan yang sering  diajukan, dan berikut ini adalah jawabannya.
Bagaimana awal mula permasalahan etnis Rohingya dan latar belakang terjadinya konflik?
Sejak lebih dari sepekan lalu, kekerasan terbaru meletus di negara bagian Rakhine, Myanmar, yang banyak dihuni Muslim Rohingya. Gelombang  kekerasan baru ini menandai eskalasi dramatis sejak Oktober 2016 lalu  ketika milisi Rohingya melakukan serangan dengan skala yang lebih kecil.
Para pengungsi menuduh aparat keamanan Myanmar dan kelompok militan radikal Buddha membakar desa-desa mereka. Pemerintah  Myanmar berdalih, pasukan keamanan mereka sekadar mengambil langkah  balasan terhadap serangan bulan lalu terhadap lebih dari 20 pos polisi  oleh milisi Rohingya.
Bentrokan susulan sesudah itu membuat banyak  warga sipil baik Islam maupun Buddha, lari menyelamatkan diri dari  desa-desa mereka.
Setelah serangan milisi pada bulan Oktober 2016, militer melakukan  operasi pembalasan yang keras, dan banyak warga Rohingya menuduh bahwa  dalam operasi itu pasukan keamanan melakukan pemerkosaan, pembunuhan,  pembakaran desa dan penyiksaan.
PBB sudah menyebut serangan  balasan dari militer terhadap etnis Rohingya pada Oktober lalu sebagai  kejahatan terhadap kemanusiaan.
Militer Myanmar mengatakan mereka  sebisa mungkin akan menahan diri tapi juga menegaskan 'punya hak untuk  membela diri dari serangan-serangan teroris'.
PBB mendefinisikan  Rohingya sebagai minoritas agama dan bahasa dari Myanmar barat dan bahwa  Rohingya adalah salah satu dari minoritas yang paling dipersekusi atau  paling mendapat perlakuan buruk di dunia.
Namun asal kata  Rohingya, dan bagaimana mereka muncul di Myanmar, menjadi isu  kontroversial. Sebagian sejarawan mengatakan kelompok ini sudah berasal  dari ratusan tahun lalu dan lainnya mengatakan mereka baru muncul  sebagai kekuatan identitas dalam seabad terakhir.
Pemerintah Myanmar berkeras bahwa mereka adalah pendatang baru dari  subkontinen India, sehingga konstitusi negara itu tidak memasukkan  mereka dalam kelompok masyarakat adat yang berhak mendapat  kewarganegaraan.
Mereka tinggal di salah satu negara bagian  termiskin di Myanmar, dan gerakan dan akses mereka terhadap pekerjaan  sangat dibatasi.
Secara historis, mayoritas penduduk Rakhine  membenci kehadiran Rohingya yang mereka pandang sebagai pemeluk Islam  dari negara lain dan ada kebencian meluas terhadap Rohingya di Myanmar.
Di sisi lain, penduduk Rohingya merasa bahwa mereka adalah bagian  dari Myanmar dan mengklaim mengalami persekusi oleh negara. Negara  tetangga Bangladesh sudah menerima ratusan ribu pengungsi dari Myanmar  dan tak mampu lagi menampung mereka.
Banyak warga Rohingya yang  tinggal di kamp penampungan sementara setelah dipaksa keluar dari desa  mereka oleh gelombang kekerasan komunal yang menyapu Rakhine pada tahun  2012.
Apa bantuan yang diberikan Indonesia terhadap muslim Rohingya?
Menteri  Luar Negeri Retno Marsudi sudah bertemu dengan Aung San Suu Kyi untuk  membicarakan upaya penyelesaian masalah Rohingya. Dalam pertemuan  tersebut, Menlu menyerahkan Formula 4+1, yang isinya:
(Baca juga: Salut! Sudah Sepekan Indonesia Berdiplomasi Hentikan Kekerasan Terhadap Etnis Rohingya)


- Mengembalikan stabilitas dan keamanan- Menahan diri secara maksimal dan tidak menggunakan kekerasan- Perlindungan kepada semua orang yang berada di negara bagian Rakhine, tanpa memandang suku dan agama- Pentingnya segera dibuka akses untuk bantuan keamanan


&quot;Saya hadir di Myanmar membawa amanah masyarakat Indonesia, yang  sangat khawatir terhadap krisis kemanusiaan di Rakhine dan agar  Indonesia membantu,&quot; jelas Menlu Retno kepada Aung San Suu Kyi, seperti  tertulis dalam pernyataan pers Kementerian Luar Negeri Indonesia.
&quot;Empat  elemen pertama merupakan elemen utama yang harus segera dilakukan agar  krisis kemanusian dan keamanan tidak semakin memburuk,&quot; jelas Menlu RI.
Apa langkah tegas PBB dalam menyikapi konflik ini dan solusi agar warga Rohingya bisa hidup dengan baik dan tidak merasa hidupnya terancam?
Pelapor khusus PBB soal hak asasi manusia untuk Myanmar, Yanghee Lee, sudah mengkritik pemimpin de facto negara itu, Aung San Suu Kyi, karena gagal melindungi minoritas Muslim Rohingya.
Menurut Yanghee Lee, situasi di Rakhine &quot;sangat gawat&quot; dan ini adalah waktunya bagi Suu Kyi untuk &quot;turun tangan&quot;.
Sementara  itu, berbagai lembaga pemantau Hak Asasi manusia (HAM) melanjutkan  desakan agar pemerintah Myanmar mengizinkan Tim Pencari Fakta (TPF) yang  dibentuk Dewan HAM PBB untuk masuk dan mengungkap kebenaran peristiwa  kekerasan di negara bagian Rakhine, tempat tinggal umat sebagian besar  Muslim Rohingya.
(Baca juga: Malala Yousafzai: Saya Menunggu Suu Kyi Kutuk Penyerangan terhadap Rohingya)
TPF kasus Rohingya, yang dibentuk Dewan HAM PBB pada Maret 2017,  sejauh ini belum mendapatkan izin melakukan tugasnya ke Myanmar, karena  otoritas negara itu menolak keberadaan tim tersebut.
Kenapa ASEAN tak ada respons untuk mendamaikan atau mencari solusi untuk mendamaikan? Bagaimana pembahasan Rohingya di forum resmi ASEAN? 
ASEAN sejauh ini belum mengeluarkan pernyataan apa pun terkait krisis kemanusiaan di Myanmar.

Bagaimana sikap Aung San Suu Kyi sebagai pemenang Nobel Perdamaian atas keberadaan etnis Rohingya di Myanmar? 
Aung San Suu Kyi, sebagai pemimpin de facto Myanmar, telah banyak dikecam karena tidak mengeluarkan pernyataan atau  mengakui krisis yang terjadi di Rakhine terhadap etnis minoritas  Rohingya.
Pelapor khusus PBB soal hak asasi manusia untuk Myanmar  Yanghee Lee mengatakan bahwa Suu Kyi berada dalam posisi yang sulit  namun tetap mengkritiknya karena tidak mengecam kekerasan.
(Baca juga: Mencemaskan! Berikut Sejumlah Penderitaan yang Menimpa Etnis Rohingya)
&quot;Dia  terperangkap antara batu dan tempat yang keras, namun saya kira saatnya  baginya untuk ke luar dari sana sekarang,&quot; kata Yanghee Lee.
Tokoh lain yang mengecam Suu Kyi adalah peraih Nobel Perdamaian lain,  Malala Yousafzai, yang mengatakan bahwa dia dan dunia menunggu  pernyataan dari Suu Kyi.
Konflik antara pemerintah Myanmar dengan Rohingnya, apakah benar benar karena murni faktor agama atau karena faktor lainnya?
Ada sisi agama dalam konflik ini, namun juga ada ketegangan antaretnis dan ekonomi.
Komunitas  Rakhine merasa terdiskriminasi secara budaya, dieksploitasi secara  ekonomi dan terpinggirkan oleh pemerintah pusat yang didominasi oleh  etnis Burma.
Dalam situasi ini, etnis Rohingya, oleh orang  Rakhine dianggap sebagai pesaing dalam perebutan sumber daya, sehingga  menimbulkan ketegangan di negara bagian itu yang kemudian memicu konflik  dari dua kelompok etnis tersebut.
Myanmar juga memiliki sejarah panjang ketidakpercayaan antaretnis yang dibiarkan ada, dan kadang dieksploitasi, oleh militer.
Meski  sering disebut tidak ada hubungan langsung antara berbagai ketegangan  kelompok masyarakat, namun rasa tidak percaya anter-etnis tersebut kini  terbuka setelah ada kebebasan.
Pengamat mengatakan bahwa  pemerintah tidak cukup melakukan upaya mengatasi kekerasan dan karenanya  memunculkan risiko konflik lanjutan.
Bagaimana cara memberi bantuan ke pengungsi Rohingya?
Ada  banyak cara yang bisa dilakukan, dari mulai mengirimkan makanan dan  obat-obatan lewat Aliansi Kemanusiaan Indonesia untuk Myanmar (AKIM)  yang diresmikan Menteri Luar Negeri Retno Marsudi, Kamis (31/08) lalu,  meski akses bantuan belum terbuka.
Aksi demonstrasi pun termasuk bentuk memberikan bantuan, meski tak semua orang menganggap ini efektif.
Selain itu, sudah ada sekitar 12.000 pengungsi Rohingya di Indonesia yang membutuhkan bantuan Anda.
Atau malah menjadi relawan anti-hoax untuk tidak menyebarkan berbagai foto menyesatkan di media sosial.</content:encoded></item></channel></rss>
