<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Remaja Ditemukan Tewas dengan 30 Tusukan, Perang Narkoba Duterte Kembali Makan Korban</title><description>Seorang remaja berusia 14 tahun dilaporkan tewas mengenaskan terkait dengan perang narkoba yang dicanangkan Presiden Filipina.</description><link>https://news.okezone.com/read/2017/09/07/18/1770857/remaja-ditemukan-tewas-dengan-30-tusukan-perang-narkoba-duterte-kembali-makan-korban</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2017/09/07/18/1770857/remaja-ditemukan-tewas-dengan-30-tusukan-perang-narkoba-duterte-kembali-makan-korban"/><item><title>Remaja Ditemukan Tewas dengan 30 Tusukan, Perang Narkoba Duterte Kembali Makan Korban</title><link>https://news.okezone.com/read/2017/09/07/18/1770857/remaja-ditemukan-tewas-dengan-30-tusukan-perang-narkoba-duterte-kembali-makan-korban</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2017/09/07/18/1770857/remaja-ditemukan-tewas-dengan-30-tusukan-perang-narkoba-duterte-kembali-makan-korban</guid><pubDate>Kamis 07 September 2017 03:17 WIB</pubDate><dc:creator>Rufki Ade Vinanda</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2017/09/07/18/1770857/remaja-ditemukan-tewas-dengan-30-tusukan-perang-narkoba-duterte-kembali-makan-korban-Mf8wBQfkSr.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Demo terhadap perang narkoba Duterte. (Foto: AP)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2017/09/07/18/1770857/remaja-ditemukan-tewas-dengan-30-tusukan-perang-narkoba-duterte-kembali-makan-korban-Mf8wBQfkSr.jpg</image><title>Demo terhadap perang narkoba Duterte. (Foto: AP)</title></images><description>MANILA - Seorang remaja berusia 14 tahun dilaporkan tewas mengenaskan terkait dengan perang narkoba yang dicanangkan Presiden Filipina, Rodrigo Duterte. Remaja bernama Guzman tersebut diketahui merupakan remaja ketiga yang meregang nyawa akibat aksi pemusnahan obat-obatan terlarang oleh polisi.
Biro Investigasi Nasional mengumumkan akan menyelidiki pembunuhan terhadap remaja malang tersebut. Guzman diketahui ditemukan tewas dengan 30 luka tusukan di tubuhnya. Berdasarkan keterangan polisi, jasad Guzman ditemukan di sebuah sungai kecil sekira 70 kilometer (km) dari rumahnya dengan kepala terbungkus plastik.
Baca Juga: Perang Terhadap Narkoba, Duterte: Polisi Bebas Bunuh Orang Idiot yang Menolak Ditangkap
Sebagaimana diberitakan, perang narkoba Duterte telah menewaskan ribuan orang dan dianggap merupakan bentuk kejahatan kemanusiaan. Dinukil dari South China Morning Post, Kamis (7/9/2017), kematian ketiga remaja tersebut telah memicu demonstrasi besar-besaran di Filipina. Para demonstran dari berbagai usia turun ke jalan dan memprotes kemungkinan adanya penyalahgunaan wewenang oleh polisi untuk membunuh seseorang.
&quot;Di bawah perang berdarah Presiden Duterte terhadap narkoba, ada pola membunuh terhadap anak muda dan miskin, terutama anak-anak yang tidak bersalah. Ada sebuah kebijakan untuk membunuh,&quot; ujar seorang Senator Oposisi Filipina, Risa Hontiveros.
Sebelum Guzman, remaja pertama yang tewas diketahui bernama  Carl Angelo Arnaiz. Pemuda berusia 19 tahun itu sempat hilang selama 20 hari dan diduga diculik polisi. Ia meninggal dengan cara ditembak oleh polisi yang menuduhnya telah merampok supir taksi.
Baca Juga: Astaga! Bunuh Seorang Pelajar Terkait Kasus Narkoba, Polisi Filipina Tuai Kecaman
Kemudian remaja kedua diketahui bernama Kian Loyd Delos Santos yang baru berusia 17 tahun. Berdasarkan keterangan resmi Pemerintah Filipina, Santos ditembak karena melakukan perlawanan dan melepaskan tembakan terhadap polisi. Namun, keterangan tersebut diragukan publik setelah sebuah saluran televisi lokal menampilkan rekaman cctv terkait kronologi kejadian. Rekaman cctv tersebut menunjukkan, Santos secara paksa dibawa oleh dua orang polisi ke sebuah wilayah di mana kemudian mayatnya ditemukan.
Pada akhir Agustus, polisi telah menembak mati 67 orang dan menangkap lebih dari 200 orang di Manila serta wilayah di sekitarnya. Penembakan tersebut dilakukan dalam program 'One-Time, Big-Time' untuk mengendalikan narkoba dan kejahatan jalanan.
Operasi tersebut biasa dilangsungkan di wilayah lingkungan kumuh dengan masyarakat berpenghasilan rendah. Sebagaimana diketahui pemberantasan Narkoba Presiden Duterte yang tak segan membunuh para pelakunya memang kerap mendapat protes dan kecaman dari Badan Hak Asasi Manusia (HAM) internasional. Namun, presiden kontroversial tersebut terkesan acuh dengan kritik yang dilontarkan padanya itu.</description><content:encoded>MANILA - Seorang remaja berusia 14 tahun dilaporkan tewas mengenaskan terkait dengan perang narkoba yang dicanangkan Presiden Filipina, Rodrigo Duterte. Remaja bernama Guzman tersebut diketahui merupakan remaja ketiga yang meregang nyawa akibat aksi pemusnahan obat-obatan terlarang oleh polisi.
Biro Investigasi Nasional mengumumkan akan menyelidiki pembunuhan terhadap remaja malang tersebut. Guzman diketahui ditemukan tewas dengan 30 luka tusukan di tubuhnya. Berdasarkan keterangan polisi, jasad Guzman ditemukan di sebuah sungai kecil sekira 70 kilometer (km) dari rumahnya dengan kepala terbungkus plastik.
Baca Juga: Perang Terhadap Narkoba, Duterte: Polisi Bebas Bunuh Orang Idiot yang Menolak Ditangkap
Sebagaimana diberitakan, perang narkoba Duterte telah menewaskan ribuan orang dan dianggap merupakan bentuk kejahatan kemanusiaan. Dinukil dari South China Morning Post, Kamis (7/9/2017), kematian ketiga remaja tersebut telah memicu demonstrasi besar-besaran di Filipina. Para demonstran dari berbagai usia turun ke jalan dan memprotes kemungkinan adanya penyalahgunaan wewenang oleh polisi untuk membunuh seseorang.
&quot;Di bawah perang berdarah Presiden Duterte terhadap narkoba, ada pola membunuh terhadap anak muda dan miskin, terutama anak-anak yang tidak bersalah. Ada sebuah kebijakan untuk membunuh,&quot; ujar seorang Senator Oposisi Filipina, Risa Hontiveros.
Sebelum Guzman, remaja pertama yang tewas diketahui bernama  Carl Angelo Arnaiz. Pemuda berusia 19 tahun itu sempat hilang selama 20 hari dan diduga diculik polisi. Ia meninggal dengan cara ditembak oleh polisi yang menuduhnya telah merampok supir taksi.
Baca Juga: Astaga! Bunuh Seorang Pelajar Terkait Kasus Narkoba, Polisi Filipina Tuai Kecaman
Kemudian remaja kedua diketahui bernama Kian Loyd Delos Santos yang baru berusia 17 tahun. Berdasarkan keterangan resmi Pemerintah Filipina, Santos ditembak karena melakukan perlawanan dan melepaskan tembakan terhadap polisi. Namun, keterangan tersebut diragukan publik setelah sebuah saluran televisi lokal menampilkan rekaman cctv terkait kronologi kejadian. Rekaman cctv tersebut menunjukkan, Santos secara paksa dibawa oleh dua orang polisi ke sebuah wilayah di mana kemudian mayatnya ditemukan.
Pada akhir Agustus, polisi telah menembak mati 67 orang dan menangkap lebih dari 200 orang di Manila serta wilayah di sekitarnya. Penembakan tersebut dilakukan dalam program 'One-Time, Big-Time' untuk mengendalikan narkoba dan kejahatan jalanan.
Operasi tersebut biasa dilangsungkan di wilayah lingkungan kumuh dengan masyarakat berpenghasilan rendah. Sebagaimana diketahui pemberantasan Narkoba Presiden Duterte yang tak segan membunuh para pelakunya memang kerap mendapat protes dan kecaman dari Badan Hak Asasi Manusia (HAM) internasional. Namun, presiden kontroversial tersebut terkesan acuh dengan kritik yang dilontarkan padanya itu.</content:encoded></item></channel></rss>
