<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Kisah Horor Rohingya: Militer Minta Warga Masuk ke Rumah, Lalu Dibom!</title><description>Beberapa  orang, termasuk pria, mulai terisak tak terkendali. Tubuh  mereka  terengah-engah. Mereka seolah tak percaya masih hidup.</description><link>https://news.okezone.com/read/2017/09/08/18/1771970/kisah-horor-rohingya-militer-minta-warga-masuk-ke-rumah-lalu-dibom</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2017/09/08/18/1771970/kisah-horor-rohingya-militer-minta-warga-masuk-ke-rumah-lalu-dibom"/><item><title>Kisah Horor Rohingya: Militer Minta Warga Masuk ke Rumah, Lalu Dibom!</title><link>https://news.okezone.com/read/2017/09/08/18/1771970/kisah-horor-rohingya-militer-minta-warga-masuk-ke-rumah-lalu-dibom</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2017/09/08/18/1771970/kisah-horor-rohingya-militer-minta-warga-masuk-ke-rumah-lalu-dibom</guid><pubDate>Jum'at 08 September 2017 15:03 WIB</pubDate><dc:creator>Agregasi Sindonews.com</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2017/09/08/18/1771970/kisah-horor-rohingya-militer-minta-warga-masuk-ke-rumah-lalu-dibom-LSaMciMf06.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Reruntuhan bangunan di Rakhine. (Foto: Reuters)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2017/09/08/18/1771970/kisah-horor-rohingya-militer-minta-warga-masuk-ke-rumah-lalu-dibom-LSaMciMf06.jpg</image><title>Reruntuhan bangunan di Rakhine. (Foto: Reuters)</title></images><description>SHAMLAPUR - Sejumlah warga etnis Rohingya  dengan perahu tiba di kawasan pantai Shamlapur, Bangladesh. Mereka panik  dan menangis, kemudian menceritakan kekejaman tentara militer Myanmar di negara bagian Rakhine.Beberapa  orang, termasuk pria, mulai terisak tak terkendali. Tubuh mereka  terengah-engah. Mereka seolah tak percaya masih hidup. Beberapa dari  mereka disodori handphone oleh penduduk setempat sehingga cerita  mereka bisa terekam.Seorang wanita paruh baya, yang berpakaian  hitam, sedang mengamati cakrawala dengan cemas, melindungi matanya.  Wanita bernama Rohima Khatun itu sedang menunggu saudaranya. Desa mereka  di Distrik Maungdaw, Rakhine, Myanmar telah diserang lebih dari 10 hari  yang lalu. Dengan terburu-buru melarikan diri, mereka berpisah.  Dia berhasil menyeberang ke Bangladesh melalui jalur laut. Dia berharap  saudaranya, Nabi Hasan, termasuk di antara ratusan orang yang datang  melalui laut.
(Baca juga: Suu Kyi Kini Dikritik Desmond Tutu, Peraih Nobel Perdamaian yang 'Cinta' Padanya)Saat kapal keempat mencapai pantai, dia menjerit  dan mulai berlari. Seorang pemuda datang dengan terpincang-pincang di  seberang pantai dan keduanya saling berpelukan. Nabi Hasan dan Rohima Khatun nyaris tak percaya bahwa mereka masih hidup dan dipertemukan lagi.&amp;rdquo;Dia  ya Allah, dia Allah,&amp;rdquo; kata gumam Rohima Khatun dengan langkah maju  mundur. &amp;rdquo;Saya tidak berpikir bahwa saya akan melihat kamu,&amp;rdquo; balas Nabi  Hasan sambil menyeka air mata saudara perempuannya.&amp;rdquo;Desa kami  diserang oleh militer,&amp;rdquo; kata mereka. &amp;rdquo;Bersama dengan Mogs,&amp;rdquo; lanjut  mereka merujuk pada komunitas nasionalis Buddha yang tinggal di Rakhine.
(Baca juga: Tragedi Rohingya, Malala Yousafzai: Kita Tidak Bisa Diam, yang Mengungsi Sudah Ratusan Ribu!)&amp;rdquo;Kami adalah satu-satunya di keluarga kami yang memiliki 10 orang selamat,&amp;rdquo; imbuh mereka.Dil  Bahar, wanita berusia 60-an tahun, terisak tak terkendali. Suaminya,  Zakir Mamun, pria lemah dengan jenggot tipis, berdiri di belakangnya.Seorang  anak laki-laki remaja sedang bersama mereka, lengannya terbungkus kain  yang dililit tali. Lengan yang terbungkus kain itu merupakan akibat dari  tembakan peluru tentara Myanmar.Wajahnya berkerut kesakitan. &amp;rdquo;Dia cucuku, Mahbub,&amp;rdquo; kata Dil Bahar. &amp;rdquo;Dia ditembak di lengan,&amp;rdquo; ujarnya.&amp;rdquo;Ini pembantaian,&amp;rdquo; imbuh Zakir Mamun. Desa mereka berada di Buthidaung, sekitar 50km (30 mil) dari perbatasan Bangladesh.Serangan tersebut, menurut mereka, terjadi tanpa peringatan apapun. &amp;rdquo;Mereka  datang untuk kita,&amp;rdquo; kata Zakir. &amp;rdquo;Orang-orang diperintahkan masuk ke  dalam rumah melalui pengeras suara, oleh militer. Kemudian militer dan  massa melemparkan bom ke rumah kami, membakar mereka.&amp;rdquo;Ketika  penduduk desa yang selamat mencoba pergi, para penyerang melepaskan  tembakan. &amp;rdquo;Orang-orang jatuh terjerembab, saat mereka terkena,&amp;rdquo; kata  Zakir. &amp;rdquo;Kami berlari ke gunung dan bersembunyi,&amp;rdquo; imbuh dia, yang  dilansir BBC, Jumat (8/9/2017).Zakir Mamun mengatakan  tentara Myanmar menyerang desa mereka. Anaknya, ayah Mahbub, terbunuh.  &amp;rdquo;Sepanjang malam kita bisa mendengar penembakan tersebut, 'roket'  meledak,&amp;rdquo; kata Zakir.Keesokan paginya, mereka melihat desa  mereka berubah jadi reruntuhan bangunan. Asap membumbung dari  rumah-rumah yang membara. &amp;rdquo;Semuanya hilang,&amp;rdquo; katanya.Keluarga  tersebut mengumpulkan beberapa peralatan yang tidak rusak dan  mengumpulkan beberapa makanan mentah. Mereka berjalan kaki selama 12  hari, melintasi dua gunung dan kemudian melewati hutan.&amp;rdquo;Nasi kami habis pada hari kedelapan,&amp;rdquo; kata Zakir. &amp;rdquo;Kami tidak makan apa-apa, kami bertahan di tanaman dan air hujan.&amp;rdquo;Kekerasan  terbaru di Rakhine dimulai pada 25 Agustus 2017 setelah kelompok  gerilyawan Arakan Rohingya Salvation Army (ARSA) menyerang pos-pos  polisi yang menewaskan sekitar 12 petugas. Militer Myanmar kemudian  meluncurkan operasi brutal dan mengaku telah membunuh sekitar 370 yang  mereka klaim anggota gerilyawan Rohingya.Namun, laporan kredibel dari para aktivis menyebut sekitar 135 termasuk wanita dan anak-anak di satu desa di Rakhine dibantai.
Kelompok pengungsi Rohingya yang selamat itu kini dipindahkan ke sebuah  kamp pengungsi yang luas di Balukhali. Mahbub telah dibawa ke klinik  yang dikelola oleh International Organization of Migration.&amp;rdquo;Saya senang berada di Bangladesh,&amp;rdquo; kata Zakir. &quot;Ini negara Muslim, kami selamat di sini.&amp;rdquo;</description><content:encoded>SHAMLAPUR - Sejumlah warga etnis Rohingya  dengan perahu tiba di kawasan pantai Shamlapur, Bangladesh. Mereka panik  dan menangis, kemudian menceritakan kekejaman tentara militer Myanmar di negara bagian Rakhine.Beberapa  orang, termasuk pria, mulai terisak tak terkendali. Tubuh mereka  terengah-engah. Mereka seolah tak percaya masih hidup. Beberapa dari  mereka disodori handphone oleh penduduk setempat sehingga cerita  mereka bisa terekam.Seorang wanita paruh baya, yang berpakaian  hitam, sedang mengamati cakrawala dengan cemas, melindungi matanya.  Wanita bernama Rohima Khatun itu sedang menunggu saudaranya. Desa mereka  di Distrik Maungdaw, Rakhine, Myanmar telah diserang lebih dari 10 hari  yang lalu. Dengan terburu-buru melarikan diri, mereka berpisah.  Dia berhasil menyeberang ke Bangladesh melalui jalur laut. Dia berharap  saudaranya, Nabi Hasan, termasuk di antara ratusan orang yang datang  melalui laut.
(Baca juga: Suu Kyi Kini Dikritik Desmond Tutu, Peraih Nobel Perdamaian yang 'Cinta' Padanya)Saat kapal keempat mencapai pantai, dia menjerit  dan mulai berlari. Seorang pemuda datang dengan terpincang-pincang di  seberang pantai dan keduanya saling berpelukan. Nabi Hasan dan Rohima Khatun nyaris tak percaya bahwa mereka masih hidup dan dipertemukan lagi.&amp;rdquo;Dia  ya Allah, dia Allah,&amp;rdquo; kata gumam Rohima Khatun dengan langkah maju  mundur. &amp;rdquo;Saya tidak berpikir bahwa saya akan melihat kamu,&amp;rdquo; balas Nabi  Hasan sambil menyeka air mata saudara perempuannya.&amp;rdquo;Desa kami  diserang oleh militer,&amp;rdquo; kata mereka. &amp;rdquo;Bersama dengan Mogs,&amp;rdquo; lanjut  mereka merujuk pada komunitas nasionalis Buddha yang tinggal di Rakhine.
(Baca juga: Tragedi Rohingya, Malala Yousafzai: Kita Tidak Bisa Diam, yang Mengungsi Sudah Ratusan Ribu!)&amp;rdquo;Kami adalah satu-satunya di keluarga kami yang memiliki 10 orang selamat,&amp;rdquo; imbuh mereka.Dil  Bahar, wanita berusia 60-an tahun, terisak tak terkendali. Suaminya,  Zakir Mamun, pria lemah dengan jenggot tipis, berdiri di belakangnya.Seorang  anak laki-laki remaja sedang bersama mereka, lengannya terbungkus kain  yang dililit tali. Lengan yang terbungkus kain itu merupakan akibat dari  tembakan peluru tentara Myanmar.Wajahnya berkerut kesakitan. &amp;rdquo;Dia cucuku, Mahbub,&amp;rdquo; kata Dil Bahar. &amp;rdquo;Dia ditembak di lengan,&amp;rdquo; ujarnya.&amp;rdquo;Ini pembantaian,&amp;rdquo; imbuh Zakir Mamun. Desa mereka berada di Buthidaung, sekitar 50km (30 mil) dari perbatasan Bangladesh.Serangan tersebut, menurut mereka, terjadi tanpa peringatan apapun. &amp;rdquo;Mereka  datang untuk kita,&amp;rdquo; kata Zakir. &amp;rdquo;Orang-orang diperintahkan masuk ke  dalam rumah melalui pengeras suara, oleh militer. Kemudian militer dan  massa melemparkan bom ke rumah kami, membakar mereka.&amp;rdquo;Ketika  penduduk desa yang selamat mencoba pergi, para penyerang melepaskan  tembakan. &amp;rdquo;Orang-orang jatuh terjerembab, saat mereka terkena,&amp;rdquo; kata  Zakir. &amp;rdquo;Kami berlari ke gunung dan bersembunyi,&amp;rdquo; imbuh dia, yang  dilansir BBC, Jumat (8/9/2017).Zakir Mamun mengatakan  tentara Myanmar menyerang desa mereka. Anaknya, ayah Mahbub, terbunuh.  &amp;rdquo;Sepanjang malam kita bisa mendengar penembakan tersebut, 'roket'  meledak,&amp;rdquo; kata Zakir.Keesokan paginya, mereka melihat desa  mereka berubah jadi reruntuhan bangunan. Asap membumbung dari  rumah-rumah yang membara. &amp;rdquo;Semuanya hilang,&amp;rdquo; katanya.Keluarga  tersebut mengumpulkan beberapa peralatan yang tidak rusak dan  mengumpulkan beberapa makanan mentah. Mereka berjalan kaki selama 12  hari, melintasi dua gunung dan kemudian melewati hutan.&amp;rdquo;Nasi kami habis pada hari kedelapan,&amp;rdquo; kata Zakir. &amp;rdquo;Kami tidak makan apa-apa, kami bertahan di tanaman dan air hujan.&amp;rdquo;Kekerasan  terbaru di Rakhine dimulai pada 25 Agustus 2017 setelah kelompok  gerilyawan Arakan Rohingya Salvation Army (ARSA) menyerang pos-pos  polisi yang menewaskan sekitar 12 petugas. Militer Myanmar kemudian  meluncurkan operasi brutal dan mengaku telah membunuh sekitar 370 yang  mereka klaim anggota gerilyawan Rohingya.Namun, laporan kredibel dari para aktivis menyebut sekitar 135 termasuk wanita dan anak-anak di satu desa di Rakhine dibantai.
Kelompok pengungsi Rohingya yang selamat itu kini dipindahkan ke sebuah  kamp pengungsi yang luas di Balukhali. Mahbub telah dibawa ke klinik  yang dikelola oleh International Organization of Migration.&amp;rdquo;Saya senang berada di Bangladesh,&amp;rdquo; kata Zakir. &quot;Ini negara Muslim, kami selamat di sini.&amp;rdquo;</content:encoded></item></channel></rss>
