<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Melihat Lebih Dalam Sembayang Leluhur Jing He Ping bagi Umat Konghucu</title><description>Umat Khonghucu Bangka Belitung mengadakan sembayang  leluhur. Sebuah acara yang digagas oleh Makin di Bangka Belitung.</description><link>https://news.okezone.com/read/2017/09/08/340/1771669/melihat-lebih-dalam-sembayang-leluhur-jing-he-ping-bagi-umat-konghucu</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2017/09/08/340/1771669/melihat-lebih-dalam-sembayang-leluhur-jing-he-ping-bagi-umat-konghucu"/><item><title>Melihat Lebih Dalam Sembayang Leluhur Jing He Ping bagi Umat Konghucu</title><link>https://news.okezone.com/read/2017/09/08/340/1771669/melihat-lebih-dalam-sembayang-leluhur-jing-he-ping-bagi-umat-konghucu</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2017/09/08/340/1771669/melihat-lebih-dalam-sembayang-leluhur-jing-he-ping-bagi-umat-konghucu</guid><pubDate>Jum'at 08 September 2017 07:31 WIB</pubDate><dc:creator>Arsan Mailanto</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2017/09/08/340/1771669/melihat-lebih-dalam-sembayang-leluhur-jing-he-ping-bagi-umat-konghucu-lZFwiw7mjJ.jpg" expression="full" type="image/jpeg"></media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2017/09/08/340/1771669/melihat-lebih-dalam-sembayang-leluhur-jing-he-ping-bagi-umat-konghucu-lZFwiw7mjJ.jpg</image><title></title></images><description>BANGKA - Umat Khonghucu Bangka Belitung mengadakan sembayang  leluhur. Sebuah acara yang digagas oleh Makin di Bangka Belitung. Sembayang Jing He Ping sembayang yang bermakna penghormatan untuk kedamaian para arwah dilaksanakan setiap bulan 7 Tgl.15 Kongzi Li / Imlek / Yinyang Li yang jatuh sekitar bulan 8 atau bulan 9 penanggalan .

Sembayang Jing He Ping ini telah lama dilakukan oleh umat agama Khonghucu, dahulu dikenal dengan nama Rujiao yaitu sejak zaman baginda Cheng Tang sekitar abad 18 Masehi.

Ketua Matakin Bangka Belitung Tjhia Tet Hian mengatakan, sembayang Jing He Ping dan sembayang Rebutan diadakan pada bulan 7 tgl 15 (Capgo) Kongzi Li /, karena dalam kitab Yi Jing atau Yak King bulan 7 tgl 15 Kongzi Li ini disimbolkan terwakili pada hexagram nomor 12.

Dengan kata lain diucapkannya, bahwa bulan 7 Kongzi Li ini disebut sebagai bulan kosong yaitu saat sifat Yin dan Yang pada bumi melemah pada titik yang paling nadir atau ekstrem. Hal ini menyebabkan pembatas antara alam Yin (non fisik) dan alam Yang (alam fisik/duniawi) menjadi tidak jelas atau tegas batasannya, berada pada titik yang paling lemah.

&quot;Unsur-unsur Yin (arwah) ini menjadi bebas berkeliaran di alam Yang (duniawi). Maka, pada bulan 7 Kongzi Li ini umat Khonghucu mengadakan upacara sembayang bagi para arwah terlantar yang tidak mendapat perhatian dari keluarga atau keturunannnya, dengan harapan arwah-arwah ini menjadi tenang,&quot; ujarnya kepada Okezone saat menghadiri acara sembayang leluhur agama di Desa Rebo, Sungailiat, Kabupaten Bangka, Kamis (7/9/2017).

Tjhia menyebutkan, arwah-arwah ini perlahan-lahan mampu melepas segala ikatan dan keinginan duniawi sehingga roh nya dapat dengan tenang kembali kepada Tian. Di dalam kitab Yi Jing (kitab perubahan) tersurat bahwa kehidupan adalah abadi, yaitu kehidupan di alam Xian Tian (alam rohani) maupun kehidupan di alam Hou Tian (alam duniawi). Bahwa, roh yang berasal dari Tian (Tuhan) di alam Xian Tian, dititahkan turun ke alam Hou Tian, lahir sebagai manusia dan setelah meninggal nantinya akan kembali ke alam Xian Tian.

&quot;Sembayang Jing He Ping adalah kegiatan keagama Khonghucu yang sangat memperhatikan kesusilaan, baik untuk yang hidup maupun yang sudah meninggal. Setiap upacara memakai Li (Kesusilaan) demikian pula dengan upacara kematian bagi umat Ru (Khonghucu) sembayang merupakan hal yang pokok atau akar daripada agama,&quot; tuturnya.

Dikatakan Tjhia, agama Khonghucu menuntun umatnya untuk senantiasa  hormat dan menjalankan ibadah sebagaimana mestinya, yang terutama  berlandaskan pada kitab Suci Li Ji (Catatan Kesusilaan). Dalam kitab  Khonghucu, Nabi Kongzi bersabda bahwa tidak perlu upacara yang mewah dan  menyolok tetapi lebih baik sederhana, dari pada meributkan perlengkapan  upacara lebih baik ada rasa sedih yang benar (Baca kitab Lunyu III: 4).

&quot;Kita memakai Sansheng adalah makanan sajian, menyajikan makanan  adalah juga salah satu bentuk pernyataan kasih anak yang berduka atau  bersembahyang. Ikan dan daging itu beraroma sedap maka mempersembahkan  itu menunjukkan cinta kepada leluhur,&quot; paparnya.

Menurutnya, menyajikan Sansheng itu tidak harus, tapi jika mempunyai  kemampuan untuk menyajikan tentunya lebih baik. Dan untuk membakar  kertas Perak (Yinzhi) adalah simbol bakti dan kasih anak kepada  leluhurnya. Khonghucu mengenal upacara kematian dan pemakaman. Agama  Khonghucu yang dikenal dengan nama Rujiao sudah mengenal upacara  kematian dan pemakaman sejak Nabi Shen Nong (2838 SM - 2698 SM).

&quot;Tak hanya itu dalam Khonghucu juga meyakini akan adanya kehidupan  setelah kematian, keyakinan akan adanya roh-roh para leluhur. Semua yang  dilahirkan pasti mengalami kematian yang mengalami kematian pasti  pulang kepada tanah inilah yang berkaitan dengan Gui,&quot; imbuhnya.

Dikesempatan yang sama, Hermanto Phoeng turut berpartisipasi dalam  kegiatan sembayang leluhur agama Jing He Ping memberi bantuan ke  Kelenteng Setia Dharma Pedindang, Kelenteng Lambau, Kelenteng Pasir  Putih dan Sungailiat, Kabupaten Bangka, Provinsi Bangka Belitung.

&quot;Kegiatan sembayang Jing He Ping, kita turut berpartisipasi memberi  bantuan ke Kelenteng. Memang diketahui sembayang leluhur agama ini  bermakna sembayang atau penghormatan untuk kedamaian para arwah yang  biasanya dilaksanakan setiap bulan 7 Kongzi Li / Imlek yang jatuh  sekitar bulan 8 atau bulan 9 penanggalan masehi,&quot; ucapnya.

Pria yang akrab disapa Ko Aliong yang juga Ketua DPW Partai Perindo  Bangka Belitung tersebut juga menceritakan, sembayang leluhur yang  diakukan selama ini adalah bagian dari ajaran dan keimanan Khonghucu,  karena semuanya tertulis di kitab suci agama Khonghucu khususnya kitab  Li Ji, jelaslah bahwa sembayang leluhur itu adalah suatu kegiatan yang  sangat penting dalam agama Khonghucu.

Maka dari itu dirinya berharap, supaya kegiatan keagamaan seperti ini  juga mendapat perhatian dan support dari Pemerintah dan Dinas  Pariwisata menjadikannya suatu agenda wisata yang bisa menarik wisatawan  berkunjung. Sama seperti acara kegiatan keagamaan di Bali yang  diorganisir dengan sangat baik dan terarah.

&quot;Saya harap kegiatan keagamaan ini bisa jadi daya tarik wisatawan  yang berkunjung sama seperti kegiatan keagamaan di Bali yang dikelola  dengan sangat baik dan terarah,&quot; tandas Hermanto.
</description><content:encoded>BANGKA - Umat Khonghucu Bangka Belitung mengadakan sembayang  leluhur. Sebuah acara yang digagas oleh Makin di Bangka Belitung. Sembayang Jing He Ping sembayang yang bermakna penghormatan untuk kedamaian para arwah dilaksanakan setiap bulan 7 Tgl.15 Kongzi Li / Imlek / Yinyang Li yang jatuh sekitar bulan 8 atau bulan 9 penanggalan .

Sembayang Jing He Ping ini telah lama dilakukan oleh umat agama Khonghucu, dahulu dikenal dengan nama Rujiao yaitu sejak zaman baginda Cheng Tang sekitar abad 18 Masehi.

Ketua Matakin Bangka Belitung Tjhia Tet Hian mengatakan, sembayang Jing He Ping dan sembayang Rebutan diadakan pada bulan 7 tgl 15 (Capgo) Kongzi Li /, karena dalam kitab Yi Jing atau Yak King bulan 7 tgl 15 Kongzi Li ini disimbolkan terwakili pada hexagram nomor 12.

Dengan kata lain diucapkannya, bahwa bulan 7 Kongzi Li ini disebut sebagai bulan kosong yaitu saat sifat Yin dan Yang pada bumi melemah pada titik yang paling nadir atau ekstrem. Hal ini menyebabkan pembatas antara alam Yin (non fisik) dan alam Yang (alam fisik/duniawi) menjadi tidak jelas atau tegas batasannya, berada pada titik yang paling lemah.

&quot;Unsur-unsur Yin (arwah) ini menjadi bebas berkeliaran di alam Yang (duniawi). Maka, pada bulan 7 Kongzi Li ini umat Khonghucu mengadakan upacara sembayang bagi para arwah terlantar yang tidak mendapat perhatian dari keluarga atau keturunannnya, dengan harapan arwah-arwah ini menjadi tenang,&quot; ujarnya kepada Okezone saat menghadiri acara sembayang leluhur agama di Desa Rebo, Sungailiat, Kabupaten Bangka, Kamis (7/9/2017).

Tjhia menyebutkan, arwah-arwah ini perlahan-lahan mampu melepas segala ikatan dan keinginan duniawi sehingga roh nya dapat dengan tenang kembali kepada Tian. Di dalam kitab Yi Jing (kitab perubahan) tersurat bahwa kehidupan adalah abadi, yaitu kehidupan di alam Xian Tian (alam rohani) maupun kehidupan di alam Hou Tian (alam duniawi). Bahwa, roh yang berasal dari Tian (Tuhan) di alam Xian Tian, dititahkan turun ke alam Hou Tian, lahir sebagai manusia dan setelah meninggal nantinya akan kembali ke alam Xian Tian.

&quot;Sembayang Jing He Ping adalah kegiatan keagama Khonghucu yang sangat memperhatikan kesusilaan, baik untuk yang hidup maupun yang sudah meninggal. Setiap upacara memakai Li (Kesusilaan) demikian pula dengan upacara kematian bagi umat Ru (Khonghucu) sembayang merupakan hal yang pokok atau akar daripada agama,&quot; tuturnya.

Dikatakan Tjhia, agama Khonghucu menuntun umatnya untuk senantiasa  hormat dan menjalankan ibadah sebagaimana mestinya, yang terutama  berlandaskan pada kitab Suci Li Ji (Catatan Kesusilaan). Dalam kitab  Khonghucu, Nabi Kongzi bersabda bahwa tidak perlu upacara yang mewah dan  menyolok tetapi lebih baik sederhana, dari pada meributkan perlengkapan  upacara lebih baik ada rasa sedih yang benar (Baca kitab Lunyu III: 4).

&quot;Kita memakai Sansheng adalah makanan sajian, menyajikan makanan  adalah juga salah satu bentuk pernyataan kasih anak yang berduka atau  bersembahyang. Ikan dan daging itu beraroma sedap maka mempersembahkan  itu menunjukkan cinta kepada leluhur,&quot; paparnya.

Menurutnya, menyajikan Sansheng itu tidak harus, tapi jika mempunyai  kemampuan untuk menyajikan tentunya lebih baik. Dan untuk membakar  kertas Perak (Yinzhi) adalah simbol bakti dan kasih anak kepada  leluhurnya. Khonghucu mengenal upacara kematian dan pemakaman. Agama  Khonghucu yang dikenal dengan nama Rujiao sudah mengenal upacara  kematian dan pemakaman sejak Nabi Shen Nong (2838 SM - 2698 SM).

&quot;Tak hanya itu dalam Khonghucu juga meyakini akan adanya kehidupan  setelah kematian, keyakinan akan adanya roh-roh para leluhur. Semua yang  dilahirkan pasti mengalami kematian yang mengalami kematian pasti  pulang kepada tanah inilah yang berkaitan dengan Gui,&quot; imbuhnya.

Dikesempatan yang sama, Hermanto Phoeng turut berpartisipasi dalam  kegiatan sembayang leluhur agama Jing He Ping memberi bantuan ke  Kelenteng Setia Dharma Pedindang, Kelenteng Lambau, Kelenteng Pasir  Putih dan Sungailiat, Kabupaten Bangka, Provinsi Bangka Belitung.

&quot;Kegiatan sembayang Jing He Ping, kita turut berpartisipasi memberi  bantuan ke Kelenteng. Memang diketahui sembayang leluhur agama ini  bermakna sembayang atau penghormatan untuk kedamaian para arwah yang  biasanya dilaksanakan setiap bulan 7 Kongzi Li / Imlek yang jatuh  sekitar bulan 8 atau bulan 9 penanggalan masehi,&quot; ucapnya.

Pria yang akrab disapa Ko Aliong yang juga Ketua DPW Partai Perindo  Bangka Belitung tersebut juga menceritakan, sembayang leluhur yang  diakukan selama ini adalah bagian dari ajaran dan keimanan Khonghucu,  karena semuanya tertulis di kitab suci agama Khonghucu khususnya kitab  Li Ji, jelaslah bahwa sembayang leluhur itu adalah suatu kegiatan yang  sangat penting dalam agama Khonghucu.

Maka dari itu dirinya berharap, supaya kegiatan keagamaan seperti ini  juga mendapat perhatian dan support dari Pemerintah dan Dinas  Pariwisata menjadikannya suatu agenda wisata yang bisa menarik wisatawan  berkunjung. Sama seperti acara kegiatan keagamaan di Bali yang  diorganisir dengan sangat baik dan terarah.

&quot;Saya harap kegiatan keagamaan ini bisa jadi daya tarik wisatawan  yang berkunjung sama seperti kegiatan keagamaan di Bali yang dikelola  dengan sangat baik dan terarah,&quot; tandas Hermanto.
</content:encoded></item></channel></rss>
